Home / Fantasi / TERLAHIR KEMBALI UNTUK MENGUBAH TAKDIR / Bab 6: mimpi bukan hanya soal berhasil atau tidak.

Share

Bab 6: mimpi bukan hanya soal berhasil atau tidak.

Author: SURGAVERSE
last update Last Updated: 2025-08-06 12:12:10

Arga: "Menurutku... mimpi itu bukan soal berhasil atau tidak. Yang penting adalah kita mencoba dan berusaha. Kalau gagal, setidaknya kita tahu sudah berusaha."

Hina: tersenyum tipis "Jadi, mimpi apa yang ingin kamu coba wujudkan, Arga?"

Arga: menatap lurus ke depan "Aku ingin membangun sesuatu yang bisa bertahan lama. Mungkin rumah, mungkin gedung... atau sesuatu yang lebih dari sekadar bangunan. Aku ingin meninggalkan sesuatu yang bisa diingat."

Hina menoleh ke Arga dengan tatapan penuh perhatian. Angin sepoi-sepoi membuat helaian rambutnya sedikit berantakan, tapi ia tidak peduli.

Hina: "Itu terdengar seperti mimpi yang indah."

Arga: tersenyum "Kalau kamu sendiri? Apa mimpimu?"

Hina: tertawa kecil "Aku?" lalu menatap lurus ke depan "Aku ingin hidup bebas. Tidak terikat oleh apa pun. Aku ingin bisa pergi ke mana saja, melihat dunia, dan merasakan setiap momen tanpa harus takut akan masa depan."

Arga memperhatikan ekspresi Hina yang tampak serius. Ada sesuatu di matanya yang sulit dijelaskan, seperti seseorang yang ingin berlari, tapi tidak tahu ke mana harus pergi.

Arga: "Itu juga mimpi yang bagus."

Hina: tersenyum lembut "Tapi... aku juga ingin tetap bersama orang yang berharga bagiku. Karena, percuma bisa ke mana saja kalau sendirian."

Arga terdiam, menatap gadis di sampingnya. Rasanya ada sesuatu dalam kata-kata Hina yang menusuk hatinya, sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak. Ia ingin mengatakan sesuatu, tapi kata-katanya terhenti di tenggorokan, tidak tau ingin berbicara apa.

Angin kembali bertiup, membawa kelopak bunga sakura yang perlahan jatuh di pangkuan mereka.

Arga: dengan suara pelan "Hina... kamu pasti akan menemukan kebebasan yang kamu cari."

Hina: menatap Arga dengan mata yang bersinar lembut "Dan kamu pasti akan membangun sesuatu yang akan diingat selamanya."

Mereka terdiam dalam keheningan yang nyaman, menikmati momen itu seolah ingin mengabadikannya dalam ingatan selamanya.

"Kalau aku bisa memilih, aku ingin melihat bunga Flamboyan setiap tahun," kata Hina sambil mengulurkan tangannya untuk menangkap kelopak yang jatuh.

Arga tersenyum kecil. "Kenapa?"

"Karena mereka tidak pernah benar-benar pergi. Mereka jatuh, menghilang, lalu kembali lagi di tahun berikutnya. Indah, kan?" Hina menoleh padanya dengan mata berbinar.

Merekapun melanjutkan perjalanan. Saat mereka berjalan lebih jauh ke pusat kota, Arga tiba-tiba merasa pusing. Pandangannya sedikit kabur, dan dalam sekejap, sebuah gambaran asing melintas di pikirannya.

Dia melihat bayangan seorang gadis berdiri di bawah cahaya lilin. Gaun putih panjangnya melambai, dan suara lembutnya memanggil namanya dengan nada sendu.

"Arga..."

Arga tersentak, kembali ke realitas. Dia terengah-engah dan menatap sekeliling. Hina berdiri di sampingnya dengan tatapan khawatir.

"Kau tidak apa-apa?" tanyanya.

Arga mengusap kepalanya. "Aku... aku baik-baik saja. Hanya merasa sedikit pusing."

Hina menatapnya lebih lama, seolah mencoba mencari tahu sesuatu. Namun, dia tidak bertanya lebih lanjut.

Mereka melanjutkan perjalanan, tetapi perasaan aneh itu tidak sepenuhnya hilang dari benak Arga. Dia tidak tahu apa yang baru saja dia lihat, tapi satu hal yang pasti-kehadiran Hina mulai mengusik sesuatu yang terkubur jauh di dalam dirinya.

---

Setelah berjalan cukup lama, mereka tiba di sebuah kafe kecil di sudut jalan. Arga mengajak Hina masuk, dan mereka duduk di dekat jendela besar yang memperlihatkan pemandangan jalanan kota.

Hina menatap menu di meja dengan penuh kebingungan. "Banyak sekali pilihan..." gumamnya.

Arga tersenyum. "Mau aku pilihkan sesuatu untukmu?"

Hina mengangguk cepat. "Aku tidak tahu apa yang enak."

Arga memesan kopi untuk dirinya sendiri dan cokelat panas untuk Hina, bersama dengan beberapa camilan ringan. Saat pesanan tiba, Hina menatap cangkir cokelat panasnya dengan penasaran sebelum meniup permukaannya dan menyeruput perlahan. Mata gadis itu membesar seketika.

"Hangat... dan manis!" ujarnya dengan antusias.

Arga terkekeh. "Senang mendengarnya."

Selama beberapa saat, mereka hanya duduk menikmati minuman masing-masing. Namun, Arga tidak bisa mengabaikan perasaan aneh yang masih tersisa sejak tadi. Seolah ada sesuatu dalam dirinya yang berusaha mengingat, tapi tidak bisa dijangkau.

"Arga..." panggil Hina tiba-tiba.

"Hmm?"

Gadis itu menatapnya ragu-ragu. "Kau yakin kita belum pernah bertemu sebelumnya?"

Arga terdiam. "Kenapa kau berpikir begitu?"

Hina mengaduk cokelat panasnya dengan sendok kecil. "Aku tidak tahu. Tapi setiap kali aku menatapmu, ada sesuatu yang terasa familiar. Seperti... aku pernah mengenalmu di suatu tempat."

Arga menggenggam cangkir kopinya dengan erat. Dia tidak bisa berbohong-dia juga merasakan hal yang sama.

Sebelum dia sempat menjawab, suara dentingan bel pintu masuk kafe menarik perhatian mereka. Seorang wanita tua dengan keranjang penuh bunga masuk, berjalan ke meja-meja untuk menawarkan dagangannya.

Hina tampak tertarik dan memperhatikan wanita itu dengan saksama. Ketika si wanita tua mendekat, dia tersenyum ramah. "Mau membeli bunga, anak muda? Mawar merah melambangkan cinta, lili melambangkan kemurnian..."

Hina menatap bunga-bunga itu dengan mata berbinar. "Bunga ini sangat indah..." bisiknya.

Arga mengeluarkan beberapa lembar uang dan membeli setangkai lili putih. Dia menyerahkannya pada Hina. "Ini untukmu."

Hina menerimanya dengan wajah terkejut, lalu tersenyum lembut. "Terima kasih... Aku merasa bunga ini mengingatkanku pada sesuatu, tapi aku belum tahu apa."

Arga memperhatikannya dalam diam. Meskipun gadis itu tampak menikmati dunia modern dengan kekaguman polosnya, ada sesuatu di balik tatapannya-seperti perasaan kehilangan yang dalam.

Di luar, matahari mulai tenggelam, mewarnai langit dengan semburat jingga keemasan. Arga tahu, ini baru permulaan. Ada begitu banyak pertanyaan yang belum terjawab, dan dia tidak bisa mengabaikan perasaan aneh yang terus menghantuinya sejak bertemu Hina.

Tanpa mereka sadari, sesuatu dari masa lalu mulai bergerak, perlahan tapi pasti.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TERLAHIR KEMBALI UNTUK MENGUBAH TAKDIR    Bab 82: TURNING LIFE 2: Pahlawan tombak.

    Perjalanan menuju pasar Evernight dimulai sejak fajar belum sepenuhnya pecah. Kabut tipis masih menggantung rendah di antara pepohonan ketika Arga mengendalikan kuda tua yang menarik gerobak kayu di belakangnya. Roda berdecit pelan setiap kali melewati batu atau akar yang mencuat dari tanah. Di dalam gerobak, karung-karung kecil berisi hasil dagangan Hendrickson tersusun rapi—herbal kering, kain kasar, alat logam sederhana. Barang-barang biasa. Terlalu biasa untuk menarik perhatian. Ia mengenakan pakaian yang sudah ia sesuaikan semampunya: kaus lengan pendek yang ia kenakan saat pertama kali kesini dibuat berwarna kusam, celana kain tebal, sepatu kulit sederhana. Tapi tetap saja ada yang terasa janggal. Potongannya sedikit terlalu rapi. Jahitannya terlalu simetris. Bagi mata orang-orang Evernight, itu cukup untuk menimbulkan kecurigaan. Ia menghembuskan napas perlahan, mencoba mengingat ulang semua nasihat Hendrickson. Hendrickson tidak bisa ikut kali ini karena dia ada kesibuka

  • TERLAHIR KEMBALI UNTUK MENGUBAH TAKDIR    Bab 81: TURNING LIFE 2: Rekan.

    Halaman belakang rumah Hendrickson terletak sedikit lebih rendah dari bangunan utama, seperti cekungan alam yang sengaja dibiarkan apa adanya. Tanahnya padat dan keras, bercampur pasir kasar dan akar pohon tua yang menyembul ke permukaan. Bekas goresan pedang, cekungan pijakan kaki, dan noda gelap yang sudah lama mengering menjadi saksi bahwa tempat itu bukan sekadar halaman—melainkan arena. Arga berdiri di tepi, punggungnya sedikit menempel pada pagar kayu rendah. Dari posisinya, ia bisa melihat keseluruhan lapangan latihan, namun ia merasa seolah berdiri terlalu dekat. Terlalu terekspos. Udara terasa aneh. Tidak berat, tidak panas, tetapi menegang—seperti sebelum hujan badai pecah. Asta dan Saki berdiri berhadapan. Asta bertelanjang dada, hanya mengenakan celana panjang lusuh dan ikat kain di pinggang. Topeng kertas yang selalu menutupi wajahnya tetap terpasang, lubang mata itu gelap dan tidak memberi petunjuk apa pun tentang ekspresinya. Pedang di tangannya tidak besar, tap

  • TERLAHIR KEMBALI UNTUK MENGUBAH TAKDIR    Bab 80, TURNING LIFE 2: Adaptasi.

    Hari-hari setelah Arga tiba di rumah Hendrickson mengalir dengan ritme yang asing baginya, namun perlahan terasa masuk akal. Rumah itu berdiri di pinggir desa terpencil, cukup besar untuk ukuran pedesaan, terbuat dari kayu tua dan batu yang disusun rapi. Di sekelilingnya, ladang hijau terbentang, diselingi pepohonan tinggi yang seolah menjadi penjaga bisu antara desa dan hutan. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan—sesuatu yang jarang Arga rasakan di dunia modernnya yang penuh beton dan suara mesin. Setiap pagi, Arga bangun lebih awal dari kebiasaannya. Bukan karena disuruh, melainkan karena tubuhnya seakan menyesuaikan diri dengan dunia ini. Tidak ada suara alarm, tidak ada notifikasi ponsel. Yang ada hanya kokok ayam jauh di kejauhan dan cahaya matahari yang menembus celah jendela kayu. Hendrickson tidak banyak bicara. Pria tua itu bergerak dengan tenang, langkahnya stabil, matanya tajam namun lelah oleh waktu. Ia memperlakukan Arga bukan sebagai tamu, bu

  • TERLAHIR KEMBALI UNTUK MENGUBAH TAKDIR    Bab 79, TURNING LIFE 2: Kenyataan.

    Di rumah kayu gelap itu, suasana makin pekat seiring cerita Hendrickson mengalir. Angin dari celah dinding membawa aroma tanah basah dan rumput liar, seakan dunia ingin ikut mendengarkan. Arga duduk diam, tangannya menggenggam cangkir teh yang sudah mendingin. Saki memperhatikan setiap perubahan ekspresi Arga, sementara Asta bersandar di tembok, topeng kertasnya menghadap ke lantai seperti sedang mendengarkan juga. Hendrickson berhenti bicara sejenak. Matanya fokus pada Arga, terlalu lama untuk dianggap tatapan biasa. “Ada sesuatu yang ingin kau tanyakan?” tanya Arga, canggung. Hendrickson menggeleng perlahan. “Bukan bertanya. Aku hanya mengamati.” “Kenapa?” “Ada sesuatu pada dirimu—cara kau bereaksi saat kusebut nama Julian. Cara napasmu tertahan ketika aku bicara tentang ramalan itu.” Ia menyipitkan mata. “Seolah kau bukan hanya tahu… tapi kau terhubung.” Arga merasakan tubuhnya menegang. Asta langsung berdiri menegakkan badan, seakan situasi berubah penting dalam sekejap.

  • TERLAHIR KEMBALI UNTUK MENGUBAH TAKDIR    Bab 78, TURNING LIFE 2: Kebenaran.

    Rumah ini tampak jauh lebih besar ketika dilihat dari dalam. Letaknya berada di sisi desa terpencil yang berbatasan langsung dengan hutan. Bangunannya terbuat dari kayu tua berwarna gelap, dengan jendela-jendela kecil dan atap yang sedikit miring seperti menahan beban usia. Meski sederhana, ada aura misterius yang menenangkan—serasa tempat yang menyimpan banyak cerita. Hendrickson mengamati Arga lama sekali. “Kau terlihat muda untuk seseorang yang membawa aroma ketakutan sedalam itu,” katanya datar. Arga terdiam. Hanya bisa menelan ludah. Asta tiba-tiba nyeletuk sambil menunjuk Arga. “Dan dia belum bayar jasa penyelamatanku.” “Aku tidak punya uang,” balas Arga lirih, nyaris memohon. “Aku… bahkan tidak punya rumah.” Asta hendak menjawab, tapi… “Asta, jangan nakut-nakutin tamu,” tegurnya sambil menjewer telinga Asta tanpa ampun. “A-Aw! Saki! Sakit!” “Bagus. Biar kapok.” Dia menatap Arga dan tersenyum kecil. “Ikut saja tinggal di sini. Setidaknya sampai kami tahu siap

  • TERLAHIR KEMBALI UNTUK MENGUBAH TAKDIR    Bab 77, TURNING LIFE 2: Pertemuan.

    Arga belum sempat membalas ketika Asta memajukan wajah—atau lebih tepatnya, topengnya—ke depan sambil menunjuk-nunjuk seperti anak kecil yang kehabisan argumen. “Dia tidak punya apa-apa!” ulang Asta keras, suaranya menggema di halaman rumah yang sunyi. “Bagaimana dia mau bayar? Apa dia pikir udara bisa dimakan?!” “Asta.” Nada gadis itu turun setengah oktaf. Tenang, tajam, dan memiliki kekuatan entah dari mana. Asta langsung berhenti bicara. Gadis itu menatapnya sebentar. Lalu… menjewer telinganya. “Au—au—au! Saki! Berhenti! Hentikan! Itu sakit!” Untuk pertama kalinya sejak Arga mengenalnya, Asta berteriak. Tidak berwibawa. Tidak dingin. Murni seperti bocah yang ketahuan bolos. Arga membeku. “Kau… ternyata bisa kesakitan juga.” “Diam kau, ayam hilang kepala!” teriak Asta sambil meringis, berusaha melepaskan diri. Saki mencubit telinganya lebih keras. “Kau tidak mengusir orang yang kau bawa pulang sendiri. Itu aturan rumah. Mengerti?” “A–aku hanya… au! Mengerti! L

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status