ホーム / Horor / TEROR SINDEN GHAIB / BAB - 144 BISIKAN DI BALIK AIR

共有

BAB - 144 BISIKAN DI BALIK AIR

作者: Vika moon
last update 公開日: 2026-03-06 10:20:58
Malam turun perlahan di Desa Sumberrejo.

Langit yang sejak pagi tampak cerah kini kembali diselimuti awan tipis yang bergerak pelan seperti sesuatu yang hidup. Angin berhembus lebih dingin dari biasanya, membuat daun-daun pohon trembesi di halaman rumah Pak Seno berdesir panjang.

Aruna duduk di tangga pendopo.

Sejak kejadian di hutan siang tadi saat sosok yang terbuang tersedot kembali ke dalam pintu akar tidak ada yang benar-benar merasa lega. Semua memang selamat. Desa memang kembali ten
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 218- JEJAK YANG DITINGGALKAN

    Struktur itu tidak bergerak.Namun kehadirannya—terasa lebih berat dari apa pun yang mereka temui sebelumnya.Bukan karena kekuatan.Namun karena… waktu.Aruna berdiri di depannya.Diam.Matanya menelusuri setiap pola.Setiap garis.Setiap hubungan yang terbentuk.Dan semakin lama ia melihat—semakin jelas satu hal.Ini bukan sesuatu yang muncul secara acak.Ini… sengaja dibuat.Pelangi berdiri sedikit di belakang.“Ini kayak… bangunan ya…”Ia berkata pelan.“Tapi bukan dari benda…”Sunyi.Aruna mengangguk.“Iya.”Ia berkata.“Ini terbentuk dari jejak.”Pelangi mengernyit.“Jejak siapa?”Sunyi.Pertanyaan itu menggantung.Namun jawabannya—tidak langsung datang.Bentuk di samping mereka mendekat sedikit lagi.Getarannya berubah.Lebih… terhubung.Seperti ada sesuatu di dalam struktur itu—yang ia pahami.Meski belum sepenuhnya.Sosok besar itu berdiri diam.Namun kali ini—ia tidak hanya mengamati.Ia mencoba membaca.Namun—tidak seperti sebelumnya.“Pola tidak linear…”Ia berkata.

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 217 - JEJAK YANG MENJADI NYATA

    Langkah mereka tidak lagi terasa ringan.Bukan karena beban.Namun karena makna.Setiap langkah—menciptakan sesuatu.Dan sesuatu itu—tidak hilang.Aruna berjalan paling depan.Namun bukan sebagai pemimpin.Ia hanya… yang pertama melangkah.Pelangi di sampingnya.Lebih tenang dari sebelumnya.Meski masih ada rasa ragu—namun kini tidak lagi menguasai.Bentuk di sisi lain mereka berjalan dengan ritme sendiri.Tidak lagi mengikuti.Tidak juga tertinggal.Ia berjalan—sebagai dirinya.Sosok besar di belakang.Namun tidak jauh.Tidak juga dekat.Ia menjaga jarak.Namun tetap… hadir.Ruang di sekitar mereka berubah.Perlahan.Jejak yang mereka tinggalkan—tidak hanya menjadi garis.Namun mulai membentuk struktur.Tipis.Namun nyata.Seperti sesuatu yang mulai mengingat.Pelangi menoleh ke belakang lagi.Dan kali ini—ia terdiam.“Aruna…”Ia berbisik.Aruna menoleh sedikit.Dan ia melihatnya.Jejak mereka—tidak lagi sekadar jalur.Namun mulai… terhubung.Membentuk pola.Tidak teratur.Nam

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 216 - YANG LAHIR TANPA NAMA

    Sesuatu itu— tidak langsung menjadi jelas. Ia tidak muncul dengan bentuk yang pasti. Tidak memiliki garis yang tegas. Namun— ia ada. Dan keberadaannya terasa. Seperti napas pertama— di ruang yang belum pernah hidup. Aruna melangkah perlahan. Matanya tidak lepas dari titik di kejauhan itu. Bukan karena ancaman. Namun karena… keingintahuan. Pelangi berjalan di sampingnya. Langkahnya lebih hati-hati. “Aku nggak bisa nebak ini bakal jadi apa…” Ia berbisik. Aruna mengangguk. “Karena ini belum memilih.” Sunyi. Bentuk di samping mereka bergerak lebih dekat. Getarannya stabil. Namun lebih… peka. Seperti merasakan sesuatu yang mirip dengan dirinya sendiri. Sosok besar itu berjalan sedikit di belakang. Namun tidak tertinggal. Ia tetap mengamati. Namun kini— tidak mencoba mengendalikan. Ia hanya… hadir. Dan itu— perubahan yang sangat besar. Di depan mereka— sesuatu itu mulai bergerak. Tidak cepat. Namun cukup untuk menunjukkan—

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 215 - DIAMBANG YANG BARU

    Langkah pertama itu— tidak terasa seperti masuk ke tempat lain. Tidak ada kilatan cahaya. Tidak ada perubahan mendadak. Namun ada satu hal yang berbeda— heningnya. Bukan hening kosong. Namun hening yang… luas. Seperti ruang yang belum pernah disentuh. Aruna berdiri di dalamnya. Ia tidak langsung bergerak. Tidak langsung berbicara. Ia hanya… merasakan. Pelangi melangkah masuk beberapa detik setelahnya. Langkahnya ragu di awal— namun begitu ia melewati batas itu— ia berhenti. Matanya membesar. “Ini…” Ia berbisik. “…kosong banget.” Sunyi. Namun Aruna menggeleng pelan. “Bukan kosong.” Ia berkata. “Belum terisi.” Perbedaan kecil— namun berarti besar. Bentuk di belakang mereka ikut masuk. Langkahnya lebih stabil sekarang. Tidak lagi goyah. Tidak lagi ragu. Ia berhenti di sisi Aruna. Seperti tahu— di sinilah ia harus berada. Sosok besar adalah yang terakhir masuk. Ia berdiri di ambang sejenak. Seolah mempertimbangkan.

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 214 - ARAH YANG TERBUKA

    Tidak ada yang langsung runtuh.Tidak ada yang langsung berubah drastis.Namun semuanya… bergeser.Seperti dunia ini mengambil napas panjang—setelah terlalu lama menahan diri.Aruna berdiri diam.Namun ia bisa merasakan perbedaan itu.Lebih jelas dari sebelumnya.Lebih luas.Lebih dalam.Bukan hanya di sekitar mereka.Namun di seluruh ruang yang bisa ia jangkau.Pelangi memandang ke arah kejauhan.Matanya menyipit.“Aku nggak tahu kenapa…”Ia berkata pelan.“…tapi rasanya kayak semuanya jadi… bebas.”Sunyi.Aruna mengangguk.“Iya.”Ia berkata.“Karena tidak ada lagi satu arah yang mengikat semuanya.”Bentuk di samping mereka berdiri tegak.Kini jauh lebih stabil.Tidak lagi bergetar tanpa arah.Namun juga belum sepenuhnya tetap.Seperti sesuatu yang masih berkembang.Namun sudah tahu—ke mana ia ingin melangkah.Sosok besar di depan mereka—yang sebelumnya menjadi pusat—kini tidak lagi memancarkan tekanan yang sama.Ia masih kuat.Masih padat.Namun tidak lagi memaksa.Tidak lagi me

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 213 - TITIK YANG TIDAK BISA DI KEMBALIKAN

    Perubahan itu tidak berhenti.Ia tidak meledak.Tidak juga runtuh.Namun—menyebar.Perlahan.Tanpa suara.Namun terasa di setiap bagian.Aruna bisa merasakannya lebih jelas sekarang.Bukan hanya di sekitar mereka.Namun jauh.Melintasi batas yang sebelumnya tidak bisa ia jangkau.Seperti sesuatu yang dulu terkunci—kini mulai terbuka.Pelangi memegang dadanya.“Kenapa rasanya… aneh…”Ia berbisik.Aruna menatap ke arah kejauhan.“Kamu merasakan perubahan.”Ia berkata.Sunyi.Bentuk di samping mereka juga bergetar.Namun tidak panik.Tidak kacau.Seperti menyadari sesuatu—yang belum bisa dijelaskan.Sosok besar di depan mereka berdiri diam.Namun tidak seperti sebelumnya.Garis energi di tubuhnya—tidak lagi mengalir sempurna.Ada jeda.Ada gangguan.Ada… pilihan.Dan itu—mengubah segalanya.“Sinkronisasi menurun…”Ia berkata pelan.Namun tidak ada usaha untuk memperbaiki.Tidak ada perintah untuk kembali seperti semula.Ia hanya… mencatat.Dan itu saja—sudah berbeda.Pelangi menata

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 35– Latihan yang Dipisahkan

    Halaman sanggar tari Pak Wiryo sudah ramai saat rombongan anak KKN tiba. Dari luar, suara gamelan terdengar samar tidak keras, tidak pula lembutnseperti detak jantung yang berdenyut perlahan namun pasti. Udara di sekitar sanggar terasa lebih dingin dibandingkan jalan desa yang baru saja mereka lew

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab - 34 Cahaya Yang Menipu

    Setelah semuanya siap, halaman rumah Pak Seno kembali dipenuhi suara mesin motor yang dinyalakan satu per satu. Matahari sudah naik lebih tinggi, cahayanya jatuh terang di tanah, seolah hari ini tidak menyisakan apa pun dari kegelapan semalam Namun bagi Aruna, terang itu terasa menipu Ia berdiri se

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 33- Ketenangan Yang Datang Pagi Hari

    Bu Seno datang dengan langkah pelan dari arah dapur. Di tangannya ada secangkir kecil berisi cairan cokelat keemasan yang masih mengepulkan uap tipis. Aroma rempahnya lembut jahe, sereh, dan entah apa lagi—membuat udara pagi terasa lebih ramah. “Nduk Aruna,” panggilnya lirih. “Iki wedang kanggo k

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 32 – Firasat yang Datang Tanpa Nama

    Aruna terbangun dengan dada terasa sesak. Bukan karena mimpi. Bukan pula karena rasa sakit di tubuhnya. Perasaan itu datang begitu saja tiba-tiba, menekan, seolah ada sesuatu yang salah namun tak bisa ia sebutkan. Langit-langit kamar Pak Seno terlihat buram di matanya. Lampu temaram menggantung d

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status