Home / Horor / TEROR SINDEN GHAIB / BAB 185 - HUTAN YANG MENGINGAT

Share

BAB 185 - HUTAN YANG MENGINGAT

Author: Vika moon
last update publish date: 2026-03-28 13:13:49

Langkah mereka semakin dalam.

Tidak ada yang berbicara.

Bukan karena tidak ingin—

tetapi karena suasana di depan mereka tidak memberi ruang untuk suara.

Hutan berubah.

Perubahan itu halus.

Namun terasa jelas.

Pohon-pohon tampak sama.

Tanah tetap lembap.

Namun ada sesuatu yang hilang.

Suara.

Tidak ada burung.

Tidak ada serangga.

Tidak ada angin.

Seolah semua kehidupan—

ditarik pergi.

Aruna berjalan paling depan.

Langkahnya lebih pelan dari biasanya.

Lebih hati-hati.

Matanya tidak hanya melihat—

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 186 - KESADARAN YANG MENYATU DENGAN AKAR

    Bukan hanya karena denyut merah di dinding yang menyerupai urat—tetapi karena sesuatu di dalamnya benar-benar mengamati.Mengawasi.Menilai.Aruna berdiri di depan.Tatapannya tidak lepas dari sosok yang berdiri di tengah ruang itu.Sosok yang mengatakan—bahwa ia adalah hutan itu sendiri.Pelangi berdiri di sampingnya.Tangannya sedikit gemetar, namun tetap menggenggam lengan Aruna.Bima dan Bagas berdiri di belakang, waspada.Embun hampir tidak berani melihat langsung.Hileon menatap dengan serius.Zareth—diam.Namun matanya tajam.Menghitung.Menganalisis.Sosok itu bergerak.Langkahnya pelan.Namun setiap langkah—membuat lantai bergetar halus.Tidak keras.Namun terasa.Seperti sesuatu yang sangat besar bergerak di bawah mereka.“Kalian berbeda…”Suaranya menggema.Namun tidak berasal dari satu arah.Seperti datang dari seluruh ruangan.Aruna tidak mundur.“Apa yang kamu inginkan?”Sosok itu berhenti.Sedikit memiringkan kepala.Seolah mencoba memahami pertanyaan itu.“Ingin…?”

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 185 - HUTAN YANG MENGINGAT

    Langkah mereka semakin dalam.Tidak ada yang berbicara.Bukan karena tidak ingin—tetapi karena suasana di depan mereka tidak memberi ruang untuk suara.Hutan berubah.Perubahan itu halus.Namun terasa jelas.Pohon-pohon tampak sama.Tanah tetap lembap.Namun ada sesuatu yang hilang.Suara.Tidak ada burung.Tidak ada serangga.Tidak ada angin.Seolah semua kehidupan—ditarik pergi.Aruna berjalan paling depan.Langkahnya lebih pelan dari biasanya.Lebih hati-hati.Matanya tidak hanya melihat—tetapi merasakan.Pelangi di sampingnya menggenggam lengannya.“Kita masih bisa mundur…”bisiknya pelan.Aruna tidak langsung menjawab.Ia menatap ke depan.Lalu menggeleng.“Tidak.”Bima menghela napas pelan di belakang.“Ya… aku juga tahu jawabannya bakal itu…”Embun berjalan sangat dekat dengan Bagas.Hampir menempel.“Aku nggak suka tempat ini…”Bagas menatap ke sekeliling.“Ini bukan sekadar tempat.”Ia berkata pelan.“…ini seperti… sesuatu yang hidup.”Hileon mengangguk.“Dia benar.”Semua

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 183 - JEJAK YANG TERTINGGAL

    Langit sore menyelimuti hutan Sumberrejo dengan warna keemasan yang lembut.Untuk pertama kalinya sejak semuanya terjadi—hutan itu terlihat… damai.Burung-burung kembali berkicau.Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah basah yang menenangkan.Namun bagi mereka—kedamaian itu terasa rapuh.Seperti kaca tipis yang bisa pecah kapan saja.Aruna masih terbaring.Tubuhnya dipindahkan ke sebuah rumah kosong di pinggir desa.Rumah kayu sederhana.Namun cukup untuk melindunginya.Pelangi duduk di sampingnya.Sejak mereka kembali—ia tidak pernah meninggalkan Aruna.Tangannya menggenggam tangan Aruna erat.Seolah takut jika ia melepaskan—Aruna akan benar-benar pergi.“Bangun…”Bisiknya pelan.Tidak ada jawaban.Hanya napas pelan yang masih terasa.Bima berdiri di dekat jendela.Menatap ke luar.“Udah dua hari…”Ia bergumam.Bagas menyandarkan punggung ke dinding.“Tubuhnya masih hidup.”“Tapi kesadarannya?” tanya Bima.Bagas tidak menjawab.Hileon berdiri di sudut ruangan.Matanya tertutu

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 182 - SETELAH GERBANG TERTUTUP

    Sunyi.Bukan sunyi yang menenangkan—melainkan sunyi yang terasa asing.Seperti dunia baru saja berhenti bernafas, lalu perlahan mencoba hidup kembali.Di tengah ruang yang kini stabil—Aruna terbaring.Tubuhnya tidak bergerak.Matanya tertutup.Wajahnya pucat.Zareth masih menopangnya.Untuk beberapa detik—ia hanya diam.Menatap wajah Aruna dengan ekspresi yang sulit dibaca.Tidak ada senyum.Tidak ada ejekan.Hanya… diam.“Manusia bodoh…”Ia berbisik pelan.Namun suaranya tidak lagi terdengar dingin seperti biasanya.Lebih… datar.Lebih dalam.Ia menoleh ke arah inti.Permukaan batu itu kini benar-benar tenang.Tidak ada retakan.Tidak ada denyut.Tidak ada suara.Seolah semua yang terjadi barusan—hanya ilusi.Namun Zareth tahu—itu nyata.Sangat nyata.Dan—itu belum berakhir.Ia kembali menatap Aruna.“Kalau kamu mati sekarang…”Ia berkata pelan.“…semua ini sia-sia.”Tidak ada jawaban.Hanya napas pelan—yang nyaris tidak terdengar.Zareth menghela napas.Kemudian—ia mengangka

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 181 - HARGA DARI KESEIMBANGAN

    Cahaya perlahan meredup.Ledakan energi yang sebelumnya mengguncang seluruh ruang kini hanya menyisakan getaran halus, seperti gema yang belum sepenuhnya hilang.Di dalam inti—retakan itu hampir tertutup.Hampir.Namun celah kecil masih ada.Kecil—tapi cukup untuk mengingatkan bahwa ancaman itu belum benar-benar pergi.Aruna berdiri di depannya.Tubuhnya gemetar.Napasnya berat.Namun ia masih bertahan.Cahaya dan bayangan di tubuhnya kini tidak lagi liar.Mereka berputar pelan.Seimbang.Namun—stabilitas itu terasa rapuh.Seperti sesuatu yang bisa runtuh kapan saja.Zareth berdiri beberapa langkah di belakang.Diam.Tidak menyerang.Tidak berbicara.Hanya memperhatikan.Aruna menatap inti itu.“Kamu masih di sana…”Ia berbisik pelan.Dari dalam celah itu—sesuatu masih bergerak.Namun tidak sekuat sebelumnya.Seperti tertahan.Dipaksa kembali.Namun tidak sepenuhnya terkunci.“Aku… belum selesai…”Suara itu terdengar lemah.Namun tetap menggetarkan.Aruna menghela napas panjang.“

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 180 - GERBANG YANG MENOLAK TERTUTUP

    Ledakan itu masih bergema.Bukan hanya di dalam ruang gelap itu—tetapi sampai ke dunia luar.Tanah di hutan Sumberrejo berguncang hebat.Pepohonan berderak.Daun-daun berguguran seperti hujan.Pelangi terjatuh ke tanah.Tangannya mencengkeram tanah dengan kuat.“ARUNA!!”Suaranya hampir tenggelam oleh gemuruh.Bima mencoba berdiri.Namun kembali kehilangan keseimbangan.“Ini gila… ini bukan sekadar gerbang lagi!”Bagas menatap ke arah batu raksasa.Wajahnya tegang.“Ini seperti… dunia lain yang memaksa masuk.”Embun sudah menangis.“Aku bilang kita pulang aja dari awal…”Hileon tetap berdiri.Meski tubuhnya juga terdorong oleh tekanan energi.Matanya tidak lepas dari gerbang itu.“Dia masih di dalam…”Makhluk batu raksasa mengaum keras.Retakan di tubuhnya semakin banyak.Namun cahaya di dalamnya justru semakin terang.Seolah ia mencoba menahan sesuatu.Namun tidak cukup.Kembali ke dalam—Aruna terengah.Tubuhnya hampir tidak mampu berdiri.Namun ia memaksakan diri.Di depannya—int

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status