ホーム / Horor / TEROR SINDEN GHAIB / Bab 16 Pantulan yang Bukan Dirinya

共有

Bab 16 Pantulan yang Bukan Dirinya

作者: Vika moon
last update 公開日: 2026-01-03 11:10:51

Aruna berdiri di depan cermin kecil di kamarnya.

Rambutnya yang masih lembap ia keringkan perlahan dengan handuk, gerakannya hati-hati agar tangan yang terluka tidak terlalu banyak bergerak. Udara pagi yang dingin membuat bulu kuduknya sedikit meremang, tapi ia mengabaikannya Ia menghela napas pelan.

Tenang… fokus, batinnya Setelah rambutnya cukup kering, Aruna mengambil sisir. Ia mulai menyisir rambutnya dari atas ke bawah, perlahan, teratur. Wajah di cermin menatapnya balikpucat, sedikit lela
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 224 - ARAH YANG TUMBUH DARI DALAM

    Langkah Aruna kali ini terasa berbeda. Bukan karena ruang di sekitarnya berubah secara drastis, tetapi karena ia sendiri yang berubah. Ia tidak lagi melangkah dengan tujuan menemukan sesuatu di depan. Ia melangkah karena ia tahu bahwa setiap langkah itu sendiri adalah bagian dari pembentukan arah.Pelangi mengikuti di sampingnya. Wajahnya tidak lagi dipenuhi rasa ragu seperti sebelumnya. Ia masih belum sepenuhnya mengerti semua yang terjadi, tetapi ia tidak lagi merasa perlu untuk mengerti semuanya sekaligus.“Aku dulu selalu mikir kalau harus tahu dulu baru jalan,” katanya pelan.Aruna menoleh sedikit. “Sekarang?”Pelangi tersenyum kecil. “Sekarang aku jalan dulu… baru ngerti belakangan.”Aruna mengangguk. Itu bukan jawaban yang sempurna, tetapi itu cukup. Karena pemahaman tidak selalu datang di awal.Bentuk di depan mereka terus bergerak dengan ritme yang konsisten. Ia tidak lagi berhenti setiap saat seperti sebelumnya. Ada kesinambungan dalam langkahnya. Seperti ia telah menemukan

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB - 223 KETIKA PILIHAN MENJADI ARAH

    Ruang itu perlahan menjadi tenang kembali. Tidak ada lagi tarikan kuat seperti sebelumnya. Tidak ada juga perubahan mendadak yang membuat mereka harus bersiap. Namun justru dalam ketenangan itu, sesuatu terasa lebih dalam dari sebelumnya.Aruna berdiri dengan napas yang lebih stabil. Ia tidak lagi mencoba mencari apa yang akan terjadi berikutnya. Ia hanya merasakan apa yang sudah ada di sekitarnya. Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa ketenangan ini bukan sekadar jeda, melainkan bagian dari perjalanan itu sendiri.Pelangi menggerakkan tangannya perlahan. Ia seperti mencoba memastikan bahwa semua yang ia rasakan tadi benar benar terjadi. Wajahnya masih menyimpan sedikit kebingungan, namun kini tidak lagi disertai ketakutan.“Aneh ya,” katanya pelan. “Dulu aku takut sama hal hal yang nggak jelas. Sekarang malah… aku mulai terbiasa.”Aruna tersenyum kecil. Ia tidak langsung menjawab, karena ia tahu perasaan itu tidak bisa dijelaskan dengan kata kata sederhana. Itu harus dirasaka

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 222- YANG DATANG TANPA DIKETAHUI

    Keheningan itu tidak kosong.Ia penuh.Padat.Seolah sesuatu sedang menunggu waktu yang tepat—untuk benar-benar muncul.Aruna berdiri tanpa bergerak.Matanya tidak lepas dari satu titik di depan.Bukan karena ia melihat sesuatu dengan jelas.Namun karena ia merasakan—ada sesuatu di sana.Pelangi di sampingnya menahan napas.“Aku nggak suka perasaan ini…”Ia berbisik.Bukan karena takut—namun karena… tidak tahu.Dan ketidaktahuan itu—terasa lebih dalam dari apa pun yang pernah mereka hadapi.Bentuk di depan mereka tetap berdiri.Namun kini—tidak lagi hanya stabil.Ia… siap.Getarannya tidak gelisah.Tidak juga ragu.Namun waspada.Sosok besar di belakang mereka tidak bergerak.Namun untuk pertama kalinya—ia tidak mencoba memahami dengan cepat.Ia membiarkan.Menunggu.Dan itu—adalah pilihan.Ruang di depan mereka perlahan berubah.Namun bukan seperti sebelumnya.Tidak ada cahaya.Tidak ada garis.Tidak ada bentuk yang langsung muncul.Namun… kedalaman.Seperti ruang itu menjadi

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB - 221 DIANTARA YANG TIDAK TERSISA

    Nyanyian itu mereda. Bukan hilang. Namun menyatu. Seperti menjadi bagian dari udara— yang kini terasa lebih hangat. Lebih hidup. Aruna berdiri diam sejenak. Merasakan sisa getaran itu. Tidak lagi kuat. Namun tetap ada. Seperti gema— yang tidak ingin benar-benar pergi. Pelangi menarik napas panjang. Perlahan. “Aku… ngerasa lebih ringan…” Ia berbisik. Aruna mengangguk. “Iya.” Ia berkata pelan. “Karena kamu tidak lagi menahan.” Sunyi. Bentuk di samping mereka berdiri tegak. Lebih jelas dari sebelumnya. Tidak lagi samar. Tidak lagi goyah. Ia kini benar-benar… ada. Dan itu terasa. Sosok besar itu juga tidak bergerak. Namun perubahannya— paling terlihat. Ia tidak lagi hanya mengamati. Namun mulai… mengalami. Dan itu— sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya. “Integrasi internal meningkat…” Ia berkata. Namun kali ini— tidak terdengar seperti laporan. Melainkan… kesadaran. Aruna menatapnya sekilas. “Kamu tidak

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 220 - LAGU YANG MENGIKAT WAKTU

    Nyanyian itu tidak benar-benar berhenti.Ia hanya… berubah.Menjadi lebih pelan.Lebih dalam.Seperti mengalir di bawah kesadaran—tanpa perlu didengar secara langsung.Aruna berdiri diam.Namun pikirannya bergerak.Bukan untuk menganalisis.Namun untuk memahami.Pelangi di sampingnya masih terpaku.Matanya mengikuti setiap gerakan sosok itu.“Aku masih merinding…”Ia berbisik.Sosok sinden itu tidak menjawab.Ia berjalan perlahan.Tidak menyentuh apa pun.Namun setiap langkahnya—membuat jejak-jejak yang menyala tadi berubah.Lebih teratur.Lebih… tersusun.Seperti potongan-potongan yang akhirnya menemukan tempatnya.Bentuk di depan Aruna ikut bergerak.Namun tidak mendahului.Ia mengikuti.Namun bukan karena tidak tahu arah.Melainkan karena… menghormati.Sosok besar itu tetap di belakang.Namun tidak jauh.Matanya terus mengamati.Namun kini—tidak mencari celah.Tidak mencari pola untuk dikendalikan.Ia hanya… belajar.“Sinkronisasi baru terbentuk…”Ia berkata pelan.Aruna menoleh

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 219 - SUARA YANG TIDAK PERNAH HILANG

    Langkah mereka melambat.Bukan karena lelah.Namun karena sesuatu—memanggil.Bukan dengan suara yang jelas.Bukan dengan kata.Namun dengan getaran halus—yang terasa sampai ke dalam.Aruna berhenti.Matanya menyipit.“Ada sesuatu…”Ia berbisik.Pelangi langsung waspada.“Apa lagi sekarang…”Namun kali ini—tidak ada tekanan.Tidak ada ancaman.Hanya… panggilan.Bentuk di samping mereka langsung bereaksi.Getarannya berubah.Lebih kuat.Lebih… terarah.Seperti mengenali sesuatu.Sosok besar itu juga berhenti.Ia tidak bergerak.Namun jelas—ia merasakan hal yang sama.“Sinyal tidak teridentifikasi…”Ia berkata.Sunyi.Namun Aruna menggeleng pelan.“Bukan sinyal.”Ia berkata.“Ini… suara.”Pelangi mengernyit.“Suara? Tapi aku nggak denger apa-apa…”Aruna menutup matanya sejenak.Membiarkan dirinya benar-benar fokus.Dan di dalam—ia mendengarnya.Pelan.Jauh.Namun jelas.Seperti nyanyian.Namun bukan lagu biasa.Lebih dalam.Lebih… tua.“Ini…”Ia membuka mata perlahan.“…dia.”Sunyi.

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 72 – Jejak yang Bangkit dari Tanah

    Malam turun perlahan, membawa hawa lembap yang menyelinap ke sela-sela jendela rumah Pak Seno. Lampu-lampu dinyalakan lebih awal dari biasanya, seolah semua orang sepakat bahwa gelap tak boleh diberi ruang sedikit pun. Di ruang tengah, anak-anak KKN duduk berdekatan. Tak ada tawa, tak ada canda. Ya

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 71 – Jejak yang Tak Terlihat

    Pagi itu desa belum sepenuhnya terbangun, namun Aruna sudah duduk di teras rumah Pak Seno dengan punggung tegak dan mata kosong menatap halaman. Embun masih menggantung di ujung daun, dan udara dingin menyusup perlahan ke kulit. Semalam hampir tak ada yang benar-benar tidur nyenyak. Kata pintu teru

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 70 – Yang Tidak Ikut Pulang

    Pagi datang tanpa benar-benar membawa terang Cahaya matahari merambat pelan melewati celah jendela rumah Pak Seno, namun udara di dalam tetap terasa dingin, seperti sisa malam yang enggan pergi. Aruna terbangun dengan kepala berat dan dada sesak, seolah ia baru saja berlari jauh dalam mimpi yang ti

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 69 – Malam yang Memilih Korban

    Malam turun lebih cepat dari biasanya.Langit desa menghitam tanpa sisa jingga senja, seolah matahari enggan memberi perpisahan. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan daun tua. Di rumah Pak Seno, lampu-lampu dinyalakan lebih awal, tapi cahaya itu terasa tidak cukup untuk mengusir baya

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status