Beranda / Horor / TEROR SINDEN GHAIB / Bab 19 - Tatapan Di Antara Gending

Share

Bab 19 - Tatapan Di Antara Gending

Penulis: Vika moon
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-04 09:19:40

Motor-motor itu akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan luas dengan pendopo terbuka. Atapnya tinggi, ditopang tiang-tiang kayu tua yang menghitam dimakan usia. Dari dalam, suara gamelan mengalun pelan—gendhing Jawa yang ritmenya teratur, namun entah kenapa terasa berat di telinga.

“Mungkin ini sanggarnya,” ucap Bagas, turun dari motor sambil meregangkan badan.

Pak Wiryo sudah berdiri di depan pendopo, mengenakan beskap sederhana. Wajahnya ramah, senyumnya hangat, seolah benar-benar telah men
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab - 137 Malam yang Tidak Memiliki Jejak

    Kabut turun terlalu cepat sore itu.Aruna berdiri di depan gerbang kayu tua yang sudah miring, menatap papan nama berlumut yang hampir tak terbaca. Desa itu terlihat seperti desa biasa rumah-rumah kayu, jalan tanah, sawah membentang. Namun ada satu hal yang membuatnya tidak nyaman.Tidak ada bayangan.Matahari masih ada. Cahaya masih jatuh di tanah. Tapi tubuh mereka… tidak membentuk bayangan di tanah.“Lu lihat ini, kan?” bisik Pelangi dengan suara gemetar.Embun menelan ludah. “Gue pikir cuma gue yang ngerasa aneh…”Bulan mengangkat tangan ke arah sinar matahari. Tangannya terang, jelas, tapi di tanah—tidak ada siluetnya.Bima mencoba bercanda seperti biasa. “Mungkin cuma ilusi optik.”Namun bahkan suaranya terdengar tidak yakin.Hileon memandang sekitar dengan sorot mata tajam. “Ini bukan ilusi.”Alvaro terdiam. Bagas memotret dengan ponselnya. Saat hasil foto muncul, semuanya membeku.Di foto itu, mereka punya bayangan.Di dunia nyata—tidak.Pak Seno yang berdiri agak jauh akhirny

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 136 – Tembang yang Tidak Selesai

    Malam turun tanpa suara.Desa tempat mereka KKN terasa berbeda sejak beberapa hari terakhir. Bukan karena angin lebih kencang, bukan karena langit lebih gelap—melainkan karena ada sesuatu yang tidak terlihat, namun terasa mengendap di udara.Aruna berdiri di teras rumah Pak Seno. Lampu kuning kecil menggantung di atas pintu, cahayanya redup dan bergetar pelan diterpa angin.“Kamu dengar itu?” bisik Pelangi.Semua terdiam.Dan di sela suara jangkrikTerdengar lirih.Suara sinden.Tipis. Jauh.Seperti berasal dari balik kabut.Bukan gamelan utuh.Hanya suara perempuan yang menyanyikan satu bait tembang Jawa lama.Namun baitnya… terputus.Seolah ada bagian yang hilang.Embun merinding.“Itu lagi…”Bulan menggenggam lengan Aruna.“Semakin jelas.”Bima berdiri lebih dekat ke pagar kayu.“Arah sawah belakang.”Hileon menutup mata, mencoba membaca getaran udara.“Itu bukan suara biasa.”Aruna tidak menjawab. Ia memejamkan mata.Dan di sanaIa tidak hanya mendengar suara.Ia melihat bayangan

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 135 – Bayangan di Balik Resonansi

    Sejak gudang kosong itu, suasana berubah.Bukan karena jaringan melemah.Justru sebaliknya.Resonansi tiga simpul taman, sungai, dan rumah sakit lama kini terasa lebih padu. Jalur cahaya di bawah tanah tidak lagi tipis seperti benang, melainkan lebih tebal, lebih stabil, seperti akar yang saling mengunci.Namun ada satu hal yang tidak bisa Aruna abaikan.Seseorang telah mencoba menyentuh jaringan.Dan mereka tidak tahu apa yang sedang mereka sentuh.Malam itu Aruna tidak langsung tidur. Ia duduk di lantai kamarnya, lampu dimatikan, hanya cahaya kota yang masuk lewat jendela.Ia menutup mata.Jaringan langsung hadir.Simpul taman berdenyut stabil. Simpul sungai terasa tenang. Simpul rumah sakit memancarkan cahaya yang lebih lembut dari sebelumnya.Namun di antara jalur-jalur itu, Aruna kini bisa merasakan sesuatu yang baruBekas goresan.Seperti jalur alami yang sempat ditarik paksa.“Siapa kamu…” bisiknya dalam hati.Tidak ada jawaban.Namun jauh di barat kotaSatu kilatan kecil muncu

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 134 – Resonansi yang Menyebar

    Tiga simpul telah bangun.Taman.Sungai.Rumah sakit lama.Dan sejak hari itu, kota tidak lagi terasa seperti kota biasa bagi Aruna.Ia tidak perlu lagi mencari denyut jaringan. Denyut itu kini selalu ada seperti napas kedua yang hidup berdampingan dengan napasnya sendiri.Namun malam itu, sesuatu berubah lagi.Aruna terbangun bukan karena mimpi buruk.Melainkan karena kesunyian yang terlalu dalam.Jam menunjukkan pukul 02.47.Biasanya, di jam seperti ini, ia masih bisa merasakan aliran lembut jaringan. Stabil. Tenang.Tapi sekarangSepi.Bukan hilang.Melainkan seperti ditahan.Ia duduk perlahan di tempat tidur, menutup mata.Simpul taman… masih ada.Simpul sungai… ada.Simpul rumah sakit… ada.Tapi di antara ketiganya—Ada jarak.Seperti ada lapisan tipis yang menghalangi resonansi.“Bukan retakan…” bisiknya.Ini berbeda.Keesokan paginya, ia langsung menemui Hana dan Raka.Mereka bertemu di taman, seperti biasa. Pelangi, Embun, Bulan, Bima, Bagas, Alvaro, dan Hileon ikut berkumpul.

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 133 – Simpul Ketiga

    Pertemuan dengan Hana mengubah segalanya.Bukan karena ada kekuatan baru yang muncul secara dramatis, bukan karena retakan besar tiba-tiba menganga di langit kota. Justru sebaliknya karena semuanya terasa lebih tenang.Terlalu tenang.Aruna berdiri di balkon kos pada suatu malam, memandang lampu-lampu kota yang berkedip di kejauhan. Di bawah permukaan tanah, ia bisa merasakan jaringan itu berdenyut stabil. Simpul taman. Simpul sungai. Keduanya saling terhubung seperti dua jantung yang berdetak selaras.Namun di balik kestabilan itu, ada ruang kosong.Seperti kursi yang belum terisi.Ia menutup mata.Dan di sanalah ia merasakannya lagi.Simpul ketiga.“Rumah sakit lama,” gumam Aruna keesokan paginya.Mereka berkumpul di taman seperti biasa—Pelangi dengan wajah penasaran, Embun dan Bulan saling berbisik, Bima dan Bagas terlihat siaga, Alvaro tenang seperti biasa, Hileon mengamati dalam diam. Hana juga hadir, berdiri sedikit canggung namun tak lagi sendirian.“Kamu yakin?” tanya Hileon.

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 132 – Panggilan dari Simpul Lain

    Bab 133 – Panggilan dari Simpul LainSejak malam ketika Aruna bermimpi melihat siluet-siluet berdiri di simpul yang berbeda, tidur tak lagi terasa seperti jeda. Ia bukan hanya beristirahat ia seolah menyeberang.Dan malam itu, penyeberangan itu menjadi lebih jelas.Aruna berdiri di dalam ruang yang bukan taman, bukan gedung tua, bukan kos. Ia berdiri di hamparan gelap yang luas, namun tidak menakutkan. Di bawah kakinya, jaringan cahaya membentang seperti sungai-sungai tipis yang saling terhubung.Simpul tempat ia berdiri berpendar stabil.Namun di kejauhan sebuah simpul lain berkedip cepat.Bukan retakan.Bukan pertumbuhan liar.Melainkan panggilan.Aruna melangkah satu langkah ke arah cahaya itu—dan ruang di sekitarnya berubah.Ia tidak lagi melihat jaringan dari atas.Ia berdiri di tepi sungai tua di bagian utara kota.Airnya gelap, arusnya pelan, namun di bawah permukaan ada cahaya yang bergetar.Dan di seberang sungai—Seorang gadis berdiri.Rambutnya panjang, tergerai diterpa ang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status