Beranda / Horor / TEROR SINDEN GHAIB / Bab - 6 Kopi yang Mengungkap Pilihan

Share

Bab - 6 Kopi yang Mengungkap Pilihan

Penulis: Vika moon
last update Tanggal publikasi: 2026-01-02 16:16:39

Langit sudah benar-benar gelap ketika mereka kembali duduk di ruang tamu rumah Mbah Karso. Lampu minyak menggantung di tengah ruangan, cahayanya bergetar pelan seiring hembusan angin malam yang menyelinap lewat celah dinding kayu Tak ada suara jangkrik Tak ada angin Keheningan terasa terlalu sempurna, seolah malam menahan napas Mbah Karso berdiri di dekat tungku kecil di sudut ruangan. Tangannya yang keriput bergerak pelan, menyiapkan delapan cangkir kopi hitam di atas nampan kayu tua. Aroma pahitnya langsung memenuhi ruangan tajam, pekat, menusuk hidung.

“Iki dudu kopi biasa,” ucapnya tanpa menoleh.

(Ini bukan kopi biasa.)

Delapan pasang mata menatap punggungnya dengan perasaan tak menentu.

Bagas menggeser duduknya, wajahnya tegang meski berusaha santai. “Mbah… kopinya kok baunya kayak… kuat banget?”

Mbah Karso terkekeh pelan. “Amarga pancen kudu kuwat.”

(Karena memang harus kuat.)

Ia membawa nampan itu ke tengah ruangan, lalu meletakkannya perlahan. Delapan cangkir berjejer rapi, hitam legam tanpa gula, tanpa aroma manis sedikit pun Mbah Karso duduk di hadapan mereka.

“Saiki rungokno apik-apik,” katanya tegas.

(Sekarang dengarkan baik-baik.)

“Kopi iki kanggo ndeleng sapa sing mung liwat… lan sapa sing wis didelok luwih dhisik.”

Pelangi menelan ludah. “Maksudnya…?”

“Minumlah,” potong Mbah Karso. “Ngombe sak sloki wae.”Ia menatap satu per satu wajah mereka, lalu pandangannya berhenti pada Aruna.

“Nduk, kowe sing terakhir.”

(Kamu yang terakhir.)

Aruna mengangguk pelan. Dadanya berdebar semakin kencang. Sejak masuk ke rumah ini, ia merasakan tekanan halus di sekitar kepalanya, seolah ada banyak mata tak kasatmata yang memperhatikannya dari balik dinding.

Satu per satu, mereka mengangkat cangkir.

Hileon meneguk pertama. Wajahnya tetap datar, namun alisnya sedikit berkerut. “Pahit,” katanya singkat Embun menyusul. Ia meringis kecil. “Pahit banget, Mbah.”

Bulan mengangguk pelan setelah meneguk. “Pahit.”

Alex meminum dengan hati-hati. Wajahnya menegang, lalu ia menghela napas. “Pahit.”

Pelangi hampir tersedak. “Ya ampun, ini pahitnya kayak… niat banget,” gumamnya, membuat suasana sedikit mencair.

Lalu giliran Bagas.

Baru seteguk, wajahnya langsung berubah.

“UGH—!”

Bagas memuntahkan kopi itu ke lantai, batuk keras sambil memegangi perutnya. “Ya ampun, Mbah! Ini pahitnya kebangetan! Kayak lumpur neraka!”Mbah Karso tidak marah. Ia hanya mengangguk pelan. “Ora kuat atine.”

(Hatinya tidak kuat.)

Bagas mendumel sambil mengelap mulutnya. “Kopi apa racun sih…” Giliran Alvaro.

Ia meneguk dengan wajah tenang namun hanya satu detik kemudian, rahangnya mengeras. Ia menutup mulutnya, berdiri cepat, lalu memuntahkan kopi itu ke luar jendela.

“Maaf,” katanya pendek. “Pahit.”

Hileon melirik Alvaro tajam. Ada sesuatu dalam ekspresi Alvaro bukan hanya tidak kuat, tapi seolah tubuhnya menolak Mbah Karso kembali mengangguk Kini, tinggal satu cangkir.

Cangkir di depan Aruna Ruangan terasa semakin sunyi saat Aruna mengangkat cangkir itu. Uap tipis mengepul, membelai wajahnya. Aroma pahitnya masih sama, namun entah kenapa—ada sesuatu yang berbeda Tangannya sedikit gemetar.

“Run… kalau kamu nggak yakin—” bisik Hileon.

Aruna menggeleng pelan. “Aku harus.”

Ia meneguk kopi itu Dan dunia seakan berhenti.

Tak ada rasa pahit Tak ada rasa terbakar di tenggorokan Yang ia rasakan justru hangat, lembut, dan… manis Manis yang aneh. Manis yang dalam. Seperti gula aren yang meleleh perlahan di lidahnya, meninggalkan rasa nyaman yang menipu Aruna membeku.

“Ini…” bisiknya lirih. “Manis.”

Kalimat itu jatuh seperti batu ke dalam air tenang.

Pelangi menatap Aruna dengan mata membelalak. “Manis?!”

Hileon berdiri refleks. “Mbah.”

Alvaro menoleh tajam. “Apa artinya itu?”

Mbah Karso menutup matanya perlahan.

Tarikan napasnya panjang, berat.

“Kaya sing tak wedeni.”

(Sesuai yang aku khawatirkan.)

Aruna menatap cangkir di tangannya. Jantungnya berdegup liar. “Mbah… maksudnya apa?”

Mbah Karso membuka matanya, menatap Aruna dalam-dalam.

“Kopi iki pahit kanggo wong sing mung tamu,” katanya pelan.

“Nanging dadi manis kanggo sing… wis diakoni.”

“Diakoni siapa?” suara Aruna nyaris bergetar.

“Sing ora katon.”

Embun menutup mulutnya. Pelangi mundur selangkah. Alex menatap Aruna dengan campuran takut dan khawatir.

Hileon berdiri tepat di samping Aruna. “Kalau begitu, bantu dia, Mbah.”

Mbah Karso mengangguk pelan. “Aku janji mau bantu. Tapi ora kabeh bisa dicegah.”

Ia berdiri, lalu berjalan menuju lemari kayu tua di sudut ruangan. Dari dalamnya, ia mengeluarkan beberapa jimat gelang, kalung kecil, dan kain berlipat Ia membagikannya satu per satu.

Untuk Hileon, gelang hitam dengan simpul merah.

“Kanggo nguatke tekadmu,” katanya.

(Untuk menguatkan tekadmu.)

Untuk Embun, kain kecil berisi rajah.

“Supaya sing katon ora mlebu ati.”

(Agar yang terlihat tidak masuk ke hati.)

Untuk Pelangi dan Bulan, masing-masing kalung benang.

“Kanggo perlindungan dhasar.”

Untuk Alex dan Alvaro, gelang kayu sederhana.

“Kanggo wates.”

Terakhir, ia berdiri di depan Aruna.

Namun tak ada jimat di tangannya.

“Lho, Mbah?” tanya Bagas. “Aruna nggak dapat?”

Mbah Karso menggeleng perlahan. “Dheweke ora iso diparingi sing padha.”

(Dia tidak bisa diberi yang sama.)

“Mbah,” suara Aruna bergetar. “Terus saya bagaimana?”

Mbah Karso menatapnya lama.

“Sing ngedemeni kowe… ora arep nglarani,” katanya pelan.

“Tapi ora kabeh sing tresna kuwi ngerti wates.”

Kata-kata itu membuat tengkuk Aruna dingin.

Mbah Karso kemudian mengeluarkan sebuah cermin kecil yang dibungkus kain hijau pudar. Ia menyerahkannya pada Aruna.

“Yen kowe krungu nyanyian, aja nyahut,” katanya tegas.

“Deloken cermin iki. Yen bayangane ora padha… mlayua.”

Aruna menerima cermin itu. Tangannya bergetar hebat Di permukaan cermin, sekilas ia melihat pantulan lain bukan wajahnya Seorang perempuan berkebaya hijau tersenyum lembut di belakangnya Aruna menjerit kecil dan menjatuhkan cermin itu Namun saat cermin menyentuh lantai, pantulan itu hilang Ruangan kembali sunyi Mbah Karso menarik napas panjang.

“Wengi iki, aja ana sing metu kamar,” katanya tegas.

“Apa wae sing krungu… aja dibukak.”

“Kalau ada yang melanggar?” tanya Alvaro.

Mbah Karso menatap mereka satu per satu.

“Sendang bakal njaluk tumbal.”

Di luar rumah, angin tiba-tiba berembus kencang.Dan dari kejauhan suara sinden kembali terdengar.

Memanggil satu nama dengan lembut.

“Aruna…”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 252 - JANJI YANG HAMPIR SELESAI

    Jarak itu kini tinggal seujung rasa. Tidak lagi terbentang luas seperti sebelumnya, tidak lagi dipenuhi kabut yang membingungkan. Kini hanya tersisa ruang tipis yang memisahkan dua sosok yang perlahan kembali saling mengenali.Pelangi berdiri diam, namun hatinya terasa penuh. Ia bisa merasakan semuanya dengan sangat jelas. Getaran emosi dari dua sisi itu tidak lagi bertabrakan, melainkan mulai selaras dalam satu aliran yang sama.“Aku ngerasa… ini bener bener udah dekat banget…” katanya pelan.Aruna mengangguk.“Iya. Ini titik yang paling menentukan.”Sosok besar berdiri di sisi mereka.“Konvergensi hampir selesai,” katanya.Pelangi menoleh.“Kamu kalau ngomong itu bikin deg degan tau.”Sosok besar tidak menjawab, namun tidak juga membantah.Di depan mereka, sosok itu dan perempuan itu kini berdiri saling berhadapan. Tidak lagi samar seperti sebelumnya. Bentuk mereka mulai lebih jelas, meskipun masih diliputi cahaya yang lembut.Sosok itu menatap perempuan itu dengan mata yang penuh k

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 251 - SAAT INGATAN MENJADI JEMBATAN

    Getaran yang sebelumnya terasa rapuh kini mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih stabil. Tidak lagi hanya sekadar sambungan tipis, melainkan seperti jembatan yang perlahan terbentuk di antara dua sisi yang selama ini terpisah.Pelangi masih berada di titik itu. Ia bisa merasakan keduanya dengan jelas. Di satu sisi perempuan yang selama ini menunggu, di sisi lain sosok yang perlahan mulai mengingat.Dan di tengah itu semua, ia menjadi penghubung.“Aku masih di sini… kalian berdua juga…” bisiknya pelan.Aruna berdiri dengan tenang, mengawasi tanpa mengganggu.“Biarkan prosesnya berjalan,” katanya lembut.Sosok besar tetap memperhatikan setiap perubahan.“Stabilitas meningkat. Risiko menurun,” ucapnya.Pelangi tersenyum tipis.“Nah… ini baru kabar baik.”Di hadapannya, sosok itu kini tidak lagi tampak kosong. Matanya bergerak lebih hidup, seperti seseorang yang sedang mengumpulkan potongan potongan ingatan yang tercecer.“Aku… ingat suara itu…” katanya pelan.Pelangi langsung merespon.

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 250 - SUARA YANG KEMBALI DIINGAT

    Kontak itu tidak langsung berubah menjadi sesuatu yang jelas. Justru sebaliknya, ia terasa rapuh, seperti benang tipis yang baru saja ditemukan setelah lama hilang. Namun meskipun rapuh, keberadaannya tidak bisa disangkal.Pelangi masih berdiri di batas itu. Kesadarannya berada di dua sisi sekaligus. Di belakangnya, Aruna, sosok besar, dan perempuan penjaga. Di depannya, sosok yang selama ini hilang.Ia menahan napas, takut jika terlalu banyak bergerak, semuanya akan kembali menghilang.“Aku… masih di sini…” bisiknya pelan.Sosok itu tidak langsung menjawab. Namun tatapannya tidak lagi kosong seperti sebelumnya. Ada gerakan kecil, seperti seseorang yang baru saja terbangun dari tidur yang sangat panjang.“Aku… mendengar…” suara itu kembali terdengar, sangat pelan, hampir seperti bisikan yang tertahan.Pelangi menahan air matanya.“Kamu beneran dengar…” katanya.Di belakangnya, Aruna memperhatikan dengan penuh fokus.“Pertahankan koneksinya,” ucapnya lembut.Sosok besar menambahkan.“S

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 249 - SAAT DUA DUNIA SALING MENYENTUH

    Getaran itu semakin jelas. Tidak lagi hanya terasa sebagai jarak yang menyusut, tetapi seperti dua sisi yang mulai saling mengenali keberadaan satu sama lain. Ruang di antara mereka tidak lagi kosong. Ia dipenuhi oleh aliran yang bergerak pelan namun pasti, seperti sesuatu yang selama ini terpisah akhirnya menemukan arah pulang. Pelangi berdiri dengan mata terpejam, napasnya teratur, namun jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. “Aku masih ngerasain dia…” katanya pelan. Aruna tetap di sampingnya. “Pertahankan.” Sosok besar berdiri dengan fokus penuh. “Koneksi stabil, namun belum sempurna,” katanya. Pelangi membuka matanya sedikit. “Dia masih jauh… tapi nggak sejauh tadi…” Perempuan itu melangkah lebih dekat, hampir sejajar dengan Pelangi. “Dia… mulai mendengar…” suaranya bergetar halus. Nyanyian dari dua arah itu kini tidak lagi bertabrakan. Mereka mulai selaras, meskipun belum sepenuhnya menyatu. Ada harmoni yang terbentuk, rapuh namun nyata. Pelangi men

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB - 248 JARAK YANG MULAI MENYUSUT

    Jejak itu tidak lagi terasa samar seperti sebelumnya. Kini, keberadaannya semakin jelas, seolah setiap langkah yang mereka ambil membuat jarak yang tadinya begitu jauh mulai perlahan menyusut. Ruang di sekitar mereka juga ikut berubah, tidak lagi terasa seperti satu tempat yang diam, melainkan seperti aliran yang terus bergerak mengikuti arah tujuan mereka.Pelangi berdiri dengan napas sedikit lebih cepat. Bukan karena lelah, tetapi karena sesuatu di dalam dirinya ikut bergetar semakin kuat.“Aku ngerasa… kita makin dekat,” katanya pelan.Aruna mengangguk tanpa ragu.“Iya. Resonansinya semakin kuat.”Sosok besar berdiri di sisi mereka, kali ini tidak lagi hanya mencatat, tetapi juga terlihat lebih fokus dari sebelumnya.“Jarak emosional menurun,” katanya.Pelangi menoleh sambil tersenyum kecil.“Kamu kalau ngomong itu… kayak pakai bahasa ilmiah terus.”Sosok besar berhenti sejenak, lalu berkata lebih sederhana.“Kita… semakin dekat dengannya.”Pelangi mengangguk.“Nah… itu lebih gampa

  • TEROR SINDEN GHAIB    BAB 247- JEJAK YANG MASIH TERSISA

    Ruang itu terasa berbeda setelah kesadaran tentang sosok yang hilang mulai muncul. Tidak lagi hanya berputar di antara penjaga dan inti, kini ada arah baru yang terbentuk, seolah sesuatu yang selama ini tersembunyi mulai memanggil dari kejauhan.Pelangi berdiri dengan mata sedikit menyipit, mencoba merasakan sesuatu yang belum sepenuhnya terlihat.“Aku ngerasa… ada arah lain sekarang,” katanya pelan.Aruna mengangguk.“Iya. Karena kita tidak lagi hanya melihat yang ada di sini.”Sosok besar berdiri lebih dekat, posisinya kini hampir sejajar dengan mereka berdua.“Fokus bergeser ke entitas kedua,” katanya.Pelangi menoleh.“Yang tadi… orang itu…”Aruna menatap ke depan.“Iya. Dia bagian dari kunci.”Perempuan itu berdiri tidak jauh dari inti. Tatapannya tidak lagi hanya tertuju pada cahaya itu, melainkan mulai mengikuti arah yang sama dengan mereka.“Jejaknya… masih ada…” katanya pelan.Sunyi.Namun sunyi itu bukan kosong.Ia seperti jalan yang belum dilalui.Pelangi menarik napas panj

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 74 – Jejak yang Mulai Terbuka

    Malam itu turun dengan lebih berat dari biasanya. Langit desa diselimuti awan kelabu, menutup bintang-bintang yang biasanya menjadi penenang bagi Aruna. Angin berembus dingin, membawa aroma tanah lembap dan daun basah, seakan memberi pertanda bahwa sesuatu sedang bergerak pelan, tapi pasti.Di ruan

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 73 – Jejak yang Tak Ingin Pergi

    Pagi itu datang dengan cahaya pucat yang menembus sela-sela jendela rumah singgah. Udara desa masih basah oleh embun, menyisakan aroma tanah yang lembap dan dedaunan yang baru saja tersentuh fajar. Aruna terbangun lebih awal dari biasanya. Matanya terbuka, menatap langit-langit kamar dengan napas p

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 72 – Jejak yang Bangkit dari Tanah

    Malam turun perlahan, membawa hawa lembap yang menyelinap ke sela-sela jendela rumah Pak Seno. Lampu-lampu dinyalakan lebih awal dari biasanya, seolah semua orang sepakat bahwa gelap tak boleh diberi ruang sedikit pun. Di ruang tengah, anak-anak KKN duduk berdekatan. Tak ada tawa, tak ada canda. Ya

  • TEROR SINDEN GHAIB    Bab 71 – Jejak yang Tak Terlihat

    Pagi itu desa belum sepenuhnya terbangun, namun Aruna sudah duduk di teras rumah Pak Seno dengan punggung tegak dan mata kosong menatap halaman. Embun masih menggantung di ujung daun, dan udara dingin menyusup perlahan ke kulit. Semalam hampir tak ada yang benar-benar tidur nyenyak. Kata pintu teru

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status