เข้าสู่ระบบNaomi membuang muka kala melihat mobil Brilly sudah mulai menjauh dan pria itu pun membunyikan klakson padanya sebelum benar-benar keluar dari pagar rumah. Benar apa yang ia pikirkan tadi. Brilly pasti berpikir jika dia sudah baikan dengan Lian. Padahal itu semua karena terpaksa dan dipaksa. Bukan karena suka. Akh sial! Naomi merasa sangat murah sekali hatinya di depan Brilly. Bagaimana tidak jika semalam mengadu pada pria itu sambil menangis dan mengajak selingkuh tetapi paginya ketahuan sedang berhubungan badan dengan Lian. Sungguh Naomi sangat malu sekali. Naomi pun masuk ke rumah untuk mengambil tas. Namun langkahnya terhenti kala melihat adanya Lian yang tengah berbicara pada Maryam. Dengan cepat dia bersembunyi di balik pintu dan merangkak mendekati sofa agar lebih dekat mendengar apa yang sedang dua orang itu bicarakan. "Apa sich kamu kok ngambek begitu? Jangan marah! Nanti malam aku kasih jatah. Apa yang semalam kurang atau kamu sedang ingin beli sesuatu? Aku
"Sedang sarapan. Aku mau mandi dulu, Mas." Naomi segera masuk kamar mandi dan tidak memperdulikan tatapan Lian yang penuh gairah. Dia sebisa mungkin menghindari tetapi tangan Lian menghalangi. Lian begitu iseng menyentuh dadanya hingga dirinya tersentak. "Mau aku bantu mandinya, Sayang?" bisik Lian. "Tidak usah, Mas. Aku sedang buru-buru, Gwen menungguku di bawah," tolaknya dengan lantang dan tegas kemudian menampik tangan Lian. Naomi segera masuk kamar mandi dan tidak lupa menutup pintu kemudian menguncinya agar Lian tidak berkesempatan untuk masuk. Bener saja, baru juga dikunci, dorongan dari luar dan pergerakan daun pintu membuat kedua mata Naomi menyipit melihat itu. "Terserah kamu, Mas! Kalau memang sudah tidak tahan, kamu gesek saja punyamu dengan daun pintu itu atau minta pada selingkuhanmu sana! Untungnya tadi belum sampai masuk." "Jijik aku membayangkan milikmu keluar masuk punya pembantu murahan seperti Maryam. Sepertinya nanti aku harus perawatan karena s
"Mas hentikan!" Naomi menahan pergerakan Lian tetapi apalah daya saat pakaiannya justru dilucuti hingga menyisakan dua kain tipis saja yang menutupi bagian intinya. Semua yang ada pada dirinya terpampang jelas dan Lian terlihat sangat menginginkan sekali hingga terus berusaha untuk menggodanya. Tatapan pria itu berkabut gairah yang Naomi yakini sedang sangat horny saat ini. "Mas aku sedang tidak enak badan. Lagian kamu sudah lama tidak meminta. Kanapa tiba-tiba merusuh sekali seperti ini. Apa kamu tidak kerja?" Lian meraih apa-apa yang membuat suara lenguhan Naomi terdengar indah. Nafas Naomi memburu, hingga tak mampu lagi bertahan dan semakin sulit melepaskan diri dari pria itu. Sebenarnya tidaklah salah jika Lian meminta. Toh Lian suaminya tetapi pengkhianatan dan apa yang Lian lakukan bersama Maryam semalam membuat Naomi semakin enggan. Apalagi membayangkan mulut Lian mendamba tubuh Maryam dengan kata-kata yang sangat frontal. Najis dia membiarkan tubuhnya menjadi
Naomi berdiri di depan jendela kamar seraya menatap langit malam dengan menikmati secangkir coklat yang mampu menghangatkan tubuhnya. Sakit hatinya terasa sampai ke tulang. Hembusan nafas berat begitu sangat menyiksa. Namun Naomi dipaksa tetap bertahan di tengah pengkhianatan yang terjadi di rumah besar ini. Dia bertahan bukan untuk menikmati kesakitan, tetapi bertahan karena ada yang dia perjuangkan. Naomi merasakan tubuhnya sangat lelah. Kegiatan yang padat, air mata yang terkuras, dan hati yang babak belur membuatnya butuh waktu untuk istirahat panjang. Namun mulai malam ini rasanya tubuh sangat berat untuk kembali menikmati ranjangnya. Itu karena Naomi tak minat satu ranjang dengan Lian, tapi tidak mungkin juga dia berpindah ke tempat lain. Apa alasannya? Tentu saja Lian akan bertanya. Ingatan akan kegilaan yang Lian lakukan bersama dengan Maryam begitu mengganggu pikiran hingga menumpuk rasa benci di hatinya. Sampai akhirnya Naomi memutuskan tetap singgah di pera
Naomi menghela nafas kesal melihat apa yang ia bawa. Tidak pernahnya begini, biasanya ia gunakan saat bermain dengan Lian dan hanya untuk fantasi saja tapi kali ini dia terkesan ingin menggunakannya sendiri. Gila! Main sendiri? Sudah seperti tidak memiliki suami saja. Naomi menanggalkan pakaian tipisnya kemudian menghadap ke cermin. Naomi menatap dirinya dari pantulan cermin tersebut dan mengangkat mainan yang ia bawa. "Kurang apa aku, Mas?" Kedua mata Naomi terpejam kuat dan melempar mainan untuk memuaskan dirinya itu begitu saja. Namun tak lama Naomi menoleh menatap benda itu. "Tapi dibanding kamu, aku lebih baik memuaskan diriku dengan mainanku. Kamu yang memilih pembantu itu, Mas. Maka jangan harap kamu bisa mendapatkannya juga dariku. Seujung kuku pun aku tidak akan membiarkan kamu menyentuhku lebih dalam lagi." Sementara di bawah, Brilly batu saja masuk ke dalam rumah setelah dipikir sudah cukup waktu yang diberikan untuk memberi jeda. Orang pertama yang menyapa te
"Sayangnya aku tidak perduli, Kak. Aku sakit, bahkan aku sudah lama tidak dia sentuh lagi. Apa aku masih harus setia jika sudah diperlakukan seperti ini? Tidak, Kak! Katakan aku gila, aku tidak perduli itu. Kalau Kakak tidak mau ya sudah. Aku akan mencari pria lain yang mau denganku," ujar Naomi kemudian keluar dari mobil itu. Dia berlari menuju mobilnya tapi dengan cepat Brilly pun mengejar dan menahan Naomi yang hendak masuk ke dalam mobil. "Lepas, Kak! Aku ingin mencari kesenanganku sendiri seperti adikmu mencari kesenangannya! Jangan ganggu aku kalau Kakak tidak mau membantuku! Aku ingin bersenang-senang seperti dia yang bersenang-senang di belakangku!" Naomi bersikeras pergi dari sana tetapi Brilly lagi-lagi menggagalkannya. Pria itu merebut kunci mobil Naomi agar tidak bisa pergi. Bukan apa, Brilly tidak ingin Naomi tersesat. Ada Gwen yang masih sangat membutuhkan ibunya. Bagaimana jika Naomi nekat tapi justru dimanfaatkan oleh orang lain? Apalagi Naomi yang memiliki segalan







