로그인Jilatan lidah Brilly mulai merangkak dan bergerak naik menyusuri kaki mulus Naomi. Gigitan kecil semakin membuat Naomi tak karuan menahan diri. Pria itu membuat jantung Naomi berdebar semakin kencang dan nafas Naomi semakin memburu. Baru pemanasan sudah dibuat tak karuan. Suara desahan dan lenguhan manja keluar begitu saja dari mulut Naomi yang kemudian menggigit bibirnya kala teringat keduanya ilegal. "Akh... Kak. Geli sekali, lidah kamu. Hentikan, Kak!" Tangan Naomi menjambak rambut Brilly kala pria itu berhenti tepat di pangkal pahanya. Sungguh ini sangat memabukkan sekali. Bahkan Naomi sama sekali tidak melarang kala Brilly menjamah miliknya. Naomi menarik nafas dalam dan membusungkan dada saat tangan Brilly mulai menyibak kedua bibir bawah Naomi dan lidah pria itu menyusup masuk mencari mencari daging lembut yang sejak tadi berkedut meminta sentuhan. Hembusan nafas tak teratur semakin menjadi saat Brilly menyesap dan sedikit menarik daging kecil itu hingga Naomi sema
Naomi mendinginkan hasrat yang masih tersisa. Dia menikmati rendaman air hangat dengan aroma therapy yang sangat menenangkan. Desisan terkadang keluar tanpa dia bisa menahan. Kedua mata merapat tapi tubuh meminta hingga kedua kaki Naomi rapatkan agar kedutan di bawah sana bisa dia tahan. Hanya saja, semua seakan sia-sia. "Aku harus apa?" Terhitung sudah lebih satu tahun dia tidak dijamah oleh Lian. Sungguh ini hal yang sangat menggelikan bagi Naomi tapi dia hanya manusia biasa yang bisa saja terpancing gairah. Pagi ini hasratnya benar-benar diuji oleh Brilly. Lama Naomi di kamar mandi. Sungguh badannya sangat tidak enak sekali saat ini. Brilly ini memang sangat tidak bertanggung jawab sekali. Setelah memancing, dia ditinggal tidur. Naomi menggerutu seraya melangkah keluar kamar mandi. "Badan aku. Akh tidak enak sekali. Ini semua karena Kak Brilly. Memang laki-laki itu sangat meresahkan l. Kesal aku jadinya!" gumam Naomi dengan ocehan-ocehan kecil yang mengarah pada Brilly
Naomi keluar dari kamar dengan penampilan sangat berantakan. Di mengendap-endap takut ada yang melihat tetapi benar kata Brilly tadi. Sepi..... Di luar aman, hanya saja saat hendak masuk ke dalam kamar Gwen. Naomi mendengar suara Mami di sana. Kedua mata Naomi pun terbelalak melihat Mami yang tengah membantu Gwen berpakaian kemudian menoleh ke arah pintu. "Ya ampun! Ibu macam apa aku. Bukannya mengurus anak malah menyusui ayahnya anakku. Ikh! Kak Brilly nich! Mana masih sakit lagi karena gigitannya," keluh Naomi yang kemudian memilih untuk segera bersembunyi. Tadi tuh untuk bisa keluar saja sulit. Naomi harus benar-benar merayu dulu dan membiarkan Brilly puas menyusu padanya. Pria itu mendadak seperti bayi yang kahausan. Untungnya mereka masih sama-sama bisa menahan meskipun sudah di ambang batas. Naomi merasa sangat tidak nyaman tepat di bawah sana dan ingin segera mandi. Sebenarnya juga masih ada seperti yang menggelitik pada miliknya. Ingin sekali Naomi memberikan u
"Kak kamu kok sudah sampai sini? Bagaimana kalau Mami dan Daddy tau kita berdua di kamar ini? Harusnya jangan masuk dulu sampai aku keluar, Kak. Aku nggak enak kalau mereka sampai melihat kita berduaan di sini." Naomi duduk kemudian membuka selimut hendak beranjak dari ranjangnya tetapi ditahan oleh Brilly yang kemudian meraih tangannya. Naomi menoleh kembali menatap Brilly yang mendongak memperhatikan. Dia pun mencoba melepaskan tangannya tetapi Brilly terus menahan. "Mau kemana? Mami dan Daddy tidak tau kalau kamu tidur di kamarku. Lagian tidak masalah bukan kalau aku masuk kamarku sendiri? Aku rindu penghuni baru di sini." "Kak kamu tuh!" Naomi merapatkan bibirnya setelah mengatakan itu dan benar-benar beranjak setelah sedikit menyentak tangan Brilly tetapi agaknya pria itu tidak kehabisan akal. Brilly meraih tubuh Naomi hingga terduduk di atas pangkuan pria itu. "Kak ya ampun! Aku benar-benar takut ketahuan Mami dan Daddy. Mami sudah memperingatkan aku untuk menunggu sa
Brilly menegang melihat Naomi membuka kimono tidurnya dan meletakkan begitu saja di ujung ranjang. Ponsel yang tadi digunakan Naomi diletakkan di nakas hingga dengan mudah Brilly melihat pergerakan Naomi di kamar pria itu. Naomi bergerak menaiki ranjang dengan gaya yang sensual di mata Brilly. Dalam pandangan pria itu, gerakan Naomi amat sangat menggoda. Tatapan mata Brilly pun menyipit kala Naomi melirik ke arah ponsel yang memperlihatkan wajahnya. "Kak ternyata ranjang kamu nyaman." "Lebih nyaman lagi kalau aku ada di sana." "Kalau itu aku tidak yakin akan aman." Brilly berdecak dan terdengar sampai ke telinga Naomi yang membuat Naomi terkekeh kemudian Dia mengambil ponsel dan mengarahkan ke wajahnya. "Kenapa begitu?" "Karena kamu pasti akan menerkamku. Matamu sedang menahan sesuatu, Kak. Aku tau itu." "Kamu sudah pintar membacaku, Naomi." "Ya dan kamu pintar membuatku menjadi hiburan di matamu, Kak. Ranjangmu selalu wangi. Aku suka." Naomi memejamkan k
"Mami maafkan aku ya. Mungkin Mami akan berpikir kenapa aku malah dekat dengan Kak Brilly. Aku..." "Sssttt.... Sudah Nak! Jangan kamu khawatirkan itu! Mami senang kamu dekat dengan siapa saja. Dengan Brilly pun tidak mengapa. Apalagi kalian yang ternyata memiliki ikatan dari Gwen. Hanya saja, dijaga dulu! Kamu belum selesai dengan masalah yang ada." "Itu yang aku pikirkan, Mi. Aku takut orang berpikirnya kalau aku serakah. Aku nggak tau aturan. Aku malah memiliki hubungan dengan kakakk ipar padahal perpisahan sedang dalam proses. Aku paham, Mi. Kami juga belum ada hubungan yang mengikat." Naomi menundukkan kepalanya. Kedua pipinya merona membayangkan apa yang sudah terjadi dengannya dan Brilly. Apa begitu masih bisa dikatakan belum ada ikatan atau memang mereka melakukannya tanpa ikatan? Namun Naomi tidak memungkiri jika Brilly sudah serius padanya. Hanya memang Naomi yang masih ragu pada pria itu. "Pasti anak Mami yang menggebu untuk menjalin hubungan sama kamu, ya 'ka
"Dasar perempuan gatal!" Deg Maryam terbelalak kala mendengar suara dari luar. Bergegas wanita itu bergerak untuk mematikan video yang tadi tengah merekam kegiatan panas untuk memuaskan diri dan juga memancing Lian agar cepat pulang. Maryam mengambil pakaian yang berserakan di lantai dan se
Naomi tertegun mendengar apa yang Brilly katakan padanya. Dia pun tersenyum tipis kemudian menarik tangannya. Begitu pun Brilly yang segara beranjak dari tidurnya. Pria itu mengusap wajah kemudian mendongak memperhatikan Naomi lagi. Tatapan mereka kembali bertemu dan Naomi memutuskan untuk seger
"Dari belakang kok kayak Mas Lian, tapi ini nomor siapa? Mas Lian sama siapa? Wanita itu.... Seperti tidak asing bagiku. Dari belakang wanita itu seperti yang aku lihat di cafe tadi." Naomi mengingat kembali gaya rambut, bentuk tubuh, dan juga cara wanita itu duduk. Semua sama dengan yang dia lih
"Apa masih pantas kamu menanyakan istrimu, Lian? Sekarang aku yang tanya. Dimana kamu?" "Kak aku ada kerjaan. Bukankah Naomi juga sudah bilang? Lagian Kakak tidak perlu campur tangan urusanku!" "Oh begitu hahahahah... Lantas saat kamu pergi, mengapa kamu menitipkan istri dan anakmu padaku? De







