Masuk"Kak... Ahhh.... Sssttt... Maaf tapi aku hanya ingin melegakanmu juga. Lepaskan tanganmu, Kak!" "Jangan berharap apapun setelah aku mengikatmu, Sayang! Aku tidak mau menggunakan tangan, tapi aku ingin langsung memakanmu. Dia sudah sangat mengeras sekali. Itu akan lebih mudah untuk masuk." Naomi meremang sebadan-badan. Dia menarik nafas dalam kemudian memejamkan kedua mata dengan sangat rapat. Bagaimana ingin menolak jika di bawah sana masih berkedut tanda ingin lagi, tetapi Naomi tidak mau kalau sampai menghasilkan sesuatu yang akan menjadi bom waktu. "Kak ampun! Aku tidak akan menggodamu lagi. Lepaskan aku! Sudah, Kak! Aku sudah puas," kata Naomi dengan kedua kaki yang kemudian dirapatkan kembali. "Sudah?" tanya Brilly dengan kedua alis terangkat meminta jawaban yang pasti dari Naomi. "Sudah, Kak. Lepaskan aku!" "Oke, lain kali kalau kamu menginginkan itu. Kamu sudah tau bukan pada siapa kamu meminta?" "Iya tapi aku usahakan untuk tidak lagi meminta." Naomi m
Jilatan lidah Brilly mulai merangkak dan bergerak naik menyusuri kaki mulus Naomi. Gigitan kecil semakin membuat Naomi tak karuan menahan diri. Pria itu membuat jantung Naomi berdebar semakin kencang dan nafas Naomi semakin memburu. Baru pemanasan sudah dibuat tak karuan. Suara desahan dan lenguhan manja keluar begitu saja dari mulut Naomi yang kemudian menggigit bibirnya kala teringat keduanya ilegal. "Akh... Kak. Geli sekali, lidah kamu. Hentikan, Kak!" Tangan Naomi menjambak rambut Brilly kala pria itu berhenti tepat di pangkal pahanya. Sungguh ini sangat memabukkan sekali. Bahkan Naomi sama sekali tidak melarang kala Brilly menjamah miliknya. Naomi menarik nafas dalam dan membusungkan dada saat tangan Brilly mulai menyibak kedua bibir bawah Naomi dan lidah pria itu menyusup masuk mencari mencari daging lembut yang sejak tadi berkedut meminta sentuhan. Hembusan nafas tak teratur semakin menjadi saat Brilly menyesap dan sedikit menarik daging kecil itu hingga Naomi sema
Naomi mendinginkan hasrat yang masih tersisa. Dia menikmati rendaman air hangat dengan aroma therapy yang sangat menenangkan. Desisan terkadang keluar tanpa dia bisa menahan. Kedua mata merapat tapi tubuh meminta hingga kedua kaki Naomi rapatkan agar kedutan di bawah sana bisa dia tahan. Hanya saja, semua seakan sia-sia. "Aku harus apa?" Terhitung sudah lebih satu tahun dia tidak dijamah oleh Lian. Sungguh ini hal yang sangat menggelikan bagi Naomi tapi dia hanya manusia biasa yang bisa saja terpancing gairah. Pagi ini hasratnya benar-benar diuji oleh Brilly. Lama Naomi di kamar mandi. Sungguh badannya sangat tidak enak sekali saat ini. Brilly ini memang sangat tidak bertanggung jawab sekali. Setelah memancing, dia ditinggal tidur. Naomi menggerutu seraya melangkah keluar kamar mandi. "Badan aku. Akh tidak enak sekali. Ini semua karena Kak Brilly. Memang laki-laki itu sangat meresahkan l. Kesal aku jadinya!" gumam Naomi dengan ocehan-ocehan kecil yang mengarah pada Brilly
Naomi keluar dari kamar dengan penampilan sangat berantakan. Di mengendap-endap takut ada yang melihat tetapi benar kata Brilly tadi. Sepi..... Di luar aman, hanya saja saat hendak masuk ke dalam kamar Gwen. Naomi mendengar suara Mami di sana. Kedua mata Naomi pun terbelalak melihat Mami yang tengah membantu Gwen berpakaian kemudian menoleh ke arah pintu. "Ya ampun! Ibu macam apa aku. Bukannya mengurus anak malah menyusui ayahnya anakku. Ikh! Kak Brilly nich! Mana masih sakit lagi karena gigitannya," keluh Naomi yang kemudian memilih untuk segera bersembunyi. Tadi tuh untuk bisa keluar saja sulit. Naomi harus benar-benar merayu dulu dan membiarkan Brilly puas menyusu padanya. Pria itu mendadak seperti bayi yang kahausan. Untungnya mereka masih sama-sama bisa menahan meskipun sudah di ambang batas. Naomi merasa sangat tidak nyaman tepat di bawah sana dan ingin segera mandi. Sebenarnya juga masih ada seperti yang menggelitik pada miliknya. Ingin sekali Naomi memberikan u
"Kak kamu kok sudah sampai sini? Bagaimana kalau Mami dan Daddy tau kita berdua di kamar ini? Harusnya jangan masuk dulu sampai aku keluar, Kak. Aku nggak enak kalau mereka sampai melihat kita berduaan di sini." Naomi duduk kemudian membuka selimut hendak beranjak dari ranjangnya tetapi ditahan oleh Brilly yang kemudian meraih tangannya. Naomi menoleh kembali menatap Brilly yang mendongak memperhatikan. Dia pun mencoba melepaskan tangannya tetapi Brilly terus menahan. "Mau kemana? Mami dan Daddy tidak tau kalau kamu tidur di kamarku. Lagian tidak masalah bukan kalau aku masuk kamarku sendiri? Aku rindu penghuni baru di sini." "Kak kamu tuh!" Naomi merapatkan bibirnya setelah mengatakan itu dan benar-benar beranjak setelah sedikit menyentak tangan Brilly tetapi agaknya pria itu tidak kehabisan akal. Brilly meraih tubuh Naomi hingga terduduk di atas pangkuan pria itu. "Kak ya ampun! Aku benar-benar takut ketahuan Mami dan Daddy. Mami sudah memperingatkan aku untuk menunggu sa
Brilly menegang melihat Naomi membuka kimono tidurnya dan meletakkan begitu saja di ujung ranjang. Ponsel yang tadi digunakan Naomi diletakkan di nakas hingga dengan mudah Brilly melihat pergerakan Naomi di kamar pria itu. Naomi bergerak menaiki ranjang dengan gaya yang sensual di mata Brilly. Dalam pandangan pria itu, gerakan Naomi amat sangat menggoda. Tatapan mata Brilly pun menyipit kala Naomi melirik ke arah ponsel yang memperlihatkan wajahnya. "Kak ternyata ranjang kamu nyaman." "Lebih nyaman lagi kalau aku ada di sana." "Kalau itu aku tidak yakin akan aman." Brilly berdecak dan terdengar sampai ke telinga Naomi yang membuat Naomi terkekeh kemudian Dia mengambil ponsel dan mengarahkan ke wajahnya. "Kenapa begitu?" "Karena kamu pasti akan menerkamku. Matamu sedang menahan sesuatu, Kak. Aku tau itu." "Kamu sudah pintar membacaku, Naomi." "Ya dan kamu pintar membuatku menjadi hiburan di matamu, Kak. Ranjangmu selalu wangi. Aku suka." Naomi memejamkan k
"Duh tapi gimana dengan Gwen kalau aku tinggal pergi?" Naomi menggigit ujung tangannya seraya mondar mandir di balkon kamar. Jangan sampai Gwen ditinggal kemudian Maryam bertemu dengan putrinya. Naomi tidak mau sampai Gwen mendengar apa yang mungkin nanti bisa berdampak buruk pada putrinya. N
"Ini hasilnya Tuan." Brilly tersenyum sinis melihat hasil yang sudah ada di tangan. Apa yang pria itu minta sudah ada di tangan dan akan di uji lab. Entah firasat itu benar atau tidak. Yang jelas semua membutuhkan bukti yang akurat. Selama menunggu hasil, Brilly menahan agar Naomi tidak pergi.
"Shit! Kamu menggodaku Maryam. Apa yang kamu lakukan sialand? Tanganmu lancang, Wanita murahan!" umpat Lian kala tangan Maryam bergerak dan mulai meraba menimbulkan rasa yang luar biasa hingga membangkitkan gairah pria itu. Lian marah saat Maryam senakal sebelumnya. Maryam tidak berhenti dan ter
"Mau bagaimana pun aku, mereka ini orang-orang penting bagiku. Jadi tidak perlu menceramahiku, Brilly! Jika aku pergi, harusnya kamu pun ikut pergi." "Bagaimana kalau aku tidak mau, hhm?" tanya Brilly dengan kedua tangan menyilang di dada. Brilly justru menantang Lian dan akan tetap tinggal d







