MasukLian beranjak dari tidurnya kemudian melirik Monic yang kini tengah berdiri di hadapan pria itu dengan kedua tangan bersilang di dada. Lian berdecih kemudian meraih tangan Monic tetapi ditampik begitu saja oleh wanita itu. "Tidak perlu menyentuhku lagi, Mas! Bukankah kamu sudah membuangku? Kenapa kembali setelah terusir? Kamu tuh seperti laki-laki pecundang, Mas! Kamu. munafik!" "Diam, Monic! Jangan merasa aku sangat membutuhkanmu! Setidaknya kamu memiliki rasa ingin berbalas Budi padaku. Bukankah aku yang dulu selalu menemanimu saat kamu merasa gelisah dan galau? Aku yang menemanimu di titik terendahmu! Lupa kamu?" "Jangan mengungkit, Mas! Aku nggak minta kamu untuk melakukan itu. Kamu yang membawaku di titik itu. Malu, Mas! Sekarang setelah melarat kamu kembali padaku. Pergi sana, Mas!" Lian beranjak dari ranjang kemudian menatap penuh wajah Monic. Lian tidak mengatakan apapun tapi dari wajah pria itu terlihat sangat gereget sekali pada Monic. Tangan Lian pun mencengkeram
"Panggil Naomi aja. Lagian kita belum jadian." "Terus yang tadi di kamar, kamu pikir apa, hhm? Kamu memang suka sekali memancingku, Naomi!" sahut Brilly seraya menarik pinggul Naomi hingga membuat kedua matanya terbelalak kemudian mendorong dada Brilly yang begitu menempel dengannya seraya menoleh memperhatikan Mami dan Papi. "Kak! Iya, iya, kamu nich! Nanti mereka lihat loh! Lagian nggak sabaran banget sich? Aku belum selesai cerai, Kak." "Belum tapi milikmu pun sudah meminta bukan? Jangan salahkan aku jika aku nekat!" "Iya, kamu mah ngancem terus sekarang! Kalem dan sikap dinginnya sudah hilang?" tanya Naomi dengan menatap kedua mata Brilly. "Bukan hilang tapi denganmu aku nyaman." Naomi mengulum senyum mendengar apa yang Brilly katakan tetapi dia tetap melerai pelukan Brilly agar segera lepas dari pria itu. "Jangan begini, Kak! Nanti dilihat Mami dan Daddy. Lepas dulu! Aku ke Gwen ya. Terserah kamu mau panggil aku apa aja tapi jangan yang tadi! Seng? Seng apa?
Pandangan mata Mami dan Daddy terpusat pada celana Brilly yang basah. Terlihat jelas sekali apalagi Brilly mengenakan celana yang tak mudah kering. Naomi pun semakin menundukkan kepalanya melihat itu. "Iya Brilly, kamu tuh kalau habis dari kamar mandi nggak dikeringkan dulu. Lihat! sampai basah begitu," kata Mami tetapi Daddy menatap penuh selidik bahkan Daddy sama sekali tidak mengalihkan pandangan beliau dari yang lain." Brilly yang diselidiki tetapi Naomi yang dibuat ketar ketir. Pria itu selalu saja membuat jantung Naomi berdebar kencang. Sungguh tidak bisa tenang kalau ada di dekat Brilly. Sekarang Brilly bukan lagi seperti dulu. Brilly terlalu mendebarkan untuknya. "Biasa Dad," jawab Brilly santai kemudian menoleh ke arah Mami kemudian mengusap pipi beliau. "Mami tentu tau, kalau sedang buru-buru pasti begini. Maafkan anakmu yang ceroboh Mi." Cup Brilly mengecup kening Mami dan Daddy berdecak melihat itu sedangkan Naomi diam memperhatikan dengan tatapan penasara
"Kak... Ahhh.... Sssttt... Maaf tapi aku hanya ingin melegakanmu juga. Lepaskan tanganmu, Kak!" "Jangan berharap apapun setelah aku mengikatmu, Sayang! Aku tidak mau menggunakan tangan, tapi aku ingin langsung memakanmu. Dia sudah sangat mengeras sekali. Itu akan lebih mudah untuk masuk." Naomi meremang sebadan-badan. Dia menarik nafas dalam kemudian memejamkan kedua mata dengan sangat rapat. Bagaimana ingin menolak jika di bawah sana masih berkedut tanda ingin lagi, tetapi Naomi tidak mau kalau sampai menghasilkan sesuatu yang akan menjadi bom waktu. "Kak ampun! Aku tidak akan menggodamu lagi. Lepaskan aku! Sudah, Kak! Aku sudah puas," kata Naomi dengan kedua kaki yang kemudian dirapatkan kembali. "Sudah?" tanya Brilly dengan kedua alis terangkat meminta jawaban yang pasti dari Naomi. "Sudah, Kak. Lepaskan aku!" "Oke, lain kali kalau kamu menginginkan itu. Kamu sudah tau bukan pada siapa kamu meminta?" "Iya tapi aku usahakan untuk tidak lagi meminta." Naomi m
Jilatan lidah Brilly mulai merangkak dan bergerak naik menyusuri kaki mulus Naomi. Gigitan kecil semakin membuat Naomi tak karuan menahan diri. Pria itu membuat jantung Naomi berdebar semakin kencang dan nafas Naomi semakin memburu. Baru pemanasan sudah dibuat tak karuan. Suara desahan dan lenguhan manja keluar begitu saja dari mulut Naomi yang kemudian menggigit bibirnya kala teringat keduanya ilegal. "Akh... Kak. Geli sekali, lidah kamu. Hentikan, Kak!" Tangan Naomi menjambak rambut Brilly kala pria itu berhenti tepat di pangkal pahanya. Sungguh ini sangat memabukkan sekali. Bahkan Naomi sama sekali tidak melarang kala Brilly menjamah miliknya. Naomi menarik nafas dalam dan membusungkan dada saat tangan Brilly mulai menyibak kedua bibir bawah Naomi dan lidah pria itu menyusup masuk mencari mencari daging lembut yang sejak tadi berkedut meminta sentuhan. Hembusan nafas tak teratur semakin menjadi saat Brilly menyesap dan sedikit menarik daging kecil itu hingga Naomi sema
Naomi mendinginkan hasrat yang masih tersisa. Dia menikmati rendaman air hangat dengan aroma therapy yang sangat menenangkan. Desisan terkadang keluar tanpa dia bisa menahan. Kedua mata merapat tapi tubuh meminta hingga kedua kaki Naomi rapatkan agar kedutan di bawah sana bisa dia tahan. Hanya saja, semua seakan sia-sia. "Aku harus apa?" Terhitung sudah lebih satu tahun dia tidak dijamah oleh Lian. Sungguh ini hal yang sangat menggelikan bagi Naomi tapi dia hanya manusia biasa yang bisa saja terpancing gairah. Pagi ini hasratnya benar-benar diuji oleh Brilly. Lama Naomi di kamar mandi. Sungguh badannya sangat tidak enak sekali saat ini. Brilly ini memang sangat tidak bertanggung jawab sekali. Setelah memancing, dia ditinggal tidur. Naomi menggerutu seraya melangkah keluar kamar mandi. "Badan aku. Akh tidak enak sekali. Ini semua karena Kak Brilly. Memang laki-laki itu sangat meresahkan l. Kesal aku jadinya!" gumam Naomi dengan ocehan-ocehan kecil yang mengarah pada Brilly
Naomi tertegun kala Brilly menurunkannya dan dia baru sadar jika hubungan keduanya sangatlah berlebihan. Naomi diam menatap wajah Brilly dengan jarak yang amat dekat. Tatapan mata pria itu sangat teduh sekali, sangat menghangatkan hatinya yang sedang ditikam habis-habisan oleh kelakuan suaminya.
"Maaf Kak, ini pesenannya." Sontak Naomi menoleh ke arah karyawan yang kini memberikan makanan pesanannya. Naomi menganggukkan kepala kemudian beranjak dari sana. "Makasih ya, Mbak." "Sama-sama, Kak." Karyawan tersebut pun segera kembali. Naomi kembali melihat ke arah Lian. Dia tidak me
"Duh aku harus telepon Tuan ini! Kok Nyonya sampai marah begitu ya? Nggak biasanya sampai begitu sama aku. Apa benar kata Tuan, kalau Nyonya sudah curiga dengan hubungan kami?" Maryam pun segera berlari masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponsel yang di simpan di dalam sana. Wanita itu segera m
"Mi, Om Brilly tidak bisa dihubungi. Sepertinya Om Brilly juga kerja ya, Mi?" "Mungkin iya, Sayang. Ya sudah jalan berdua saja sama Mami memangnya kenapa? Kurang seru? Kita main ke kebun binatang saja gimana? Mumpung masih agak pagi, Sayang. Jarang loh Mami bisa ajak kamu jalan-jalan begini. Yuk







