Share

Bab 61. Melumat

Author: weni3
last update publish date: 2026-02-23 04:59:14

"Eugh...." Naomi melenguh saat ciuman Brilly semakin dalam menerobos masuk indera perasanya. Lidah Brilly mengabsen semua sisi tanpa ada yang terlewatkan.

Jantung keduanya berdebar kencang apalagi Brilly yang terlihat sangat emosi sekali, seolah apa yang mereka lakukan ini adalah sebuah pelampiasan akan amarah yang tak sepenuhnya keluar.

Masih dengan posisi yang sama Brilly tidak sama sekali melepaskan hingga Naomi semakin mengeratkan kedua tangannya di leher pria itu.

Kedua mata Naomi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 155. Tiga Bulan Lagi

    Naomi terdiam di ambang pintu ruangannya melihat Gwen yang tengah tertidur dengan memeluk boneka. Entah boneka dari mana asalnya tetapi rasa hati saat ini amat sangat berantakan sekali. Padahal tadi sudah sangat lega saat putusan pengadilan keluar, tetapi setelah melihat Gwen, Naomi teringat akan keputusan itu. Naomi mencengkeram kuat berkas yang ia bawa. Kedua matanya basah kemudian menunduk melihat surat yang ada dalam genggaman. "Maafkan Mami, Nak. Maaf kalau Mami dan Papi sudah benar-benar pisah. Mami janji akan tetap membahagiakan kamu walaupun kita hanya tinggal berdua saja. Tetap sama Mami ya, Sayang. Tetap sayang sama Mami. Mami melakukan ini juga untuk kebaikan Gwen." "Dok, kenapa diam saja di sini? Saya sudah belikan makanan untuk dokter. Makan dulu, Dok! Tadi Gwen sudah makan." "Eh iya, Cha. Makasih banyak ya. Kamu sudah perhatian sekali sama anak saja. Makasih juga makanannya." Naomi mengambil bungkusan yang Icha berikan padanya. Dia pun memilih untuk tidak

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 154. Akta Cerai

    Selepas Naomi pergi, seseorang yang sejak tadi memantau pergerakan Naomi dalam posisi terduduk meminta-minta di pinggir jalan depan pengadilan agama, menatap mendung kepergian sang mantan istri. Tak ada momen yang terlewatkan dari mulai Naomi datang sampai Naomi pergi lagi dengan membawa berkas di tangannya. Pria itu semakin terlihat gemetar mengetahui hasil putusan. Tangan yang semula menengadah meminta belas kasih orang-orang sekitar seketika lemas melihat apa yang Naomi bawa. "Jadi surat itu sudah dia dapatkan. Akta cerai sudah diberikan? Jadi dia bukan lagi istriku sekarang? Naomi padahal aku masih sangat mencintaimu, Sayang. Kenapa kamu juga pergi meninggalkan aku? Kenapa kamu nggak bisa menerima aku apa adanya? Sebegitukah kamu membenciku?" Mungkin Lian lupa berapa banyak pengkhianatan yang pria itu berikan pada Naomi. Seberapa banyak luka yang dibiarkan menganga dan seberapa banyak air mata yang dibiarkan mengalir sia-sia. Tangan Lian memukul dadanya sendiri. Lian

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 153. Sidang Akhir

    "Maaf Nyonya jika saya lancang. Saya siap menjadi saksi di persidangan Nyonya dangan Tuan jika memang saya dibutuhkan." Naomi menghentikan kunyahannya saat mendengar apa yang Maryam katakan. Naomi tidak langsung menjawab melainkan menoleh dulu pada Gwen yang baru saja menyelesaikan makannya. "Kalau sudah, Gwen bisa segera kembali ke kamar, Sayang! Nanti Mami menyusul," kata Naomi pada Gwen yang kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya, Mami. Gwen mau mengerjakan PR." "Pintar anak Mami. Kerjakan nanti Mami akan mengeceknya kalau sudah selesai makan. Sini Mami sayang dulu!" Naomi kemudian memeluk Gwen dan mengecup pipi putrinya sebelum anak itu meninggalkan meja makan. "Iya, Mi. Dadah Mami!" Gwen pun segera menaiki tangga dan Naomi memperhatikan sampai Gwen benar-benar tak lagi terlihat dan sudah masuk ke dalam kamar. Naomi menoleh kembali pada Maryam yang kini menunduk di hadapannya. Naomi menyeringai melihat itu kemudian menganggukkan kepala. "Oke. Ide yang bagus.

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 152. Gembel

    Lian sama sekali tidak mengeluarkan suara. Sekarang Lian bukan saja menjadi gelandangan tetapi berpura-pura tidak bisa bicara. Bukan hanya itu, terkadang Lian pun berpura-pura bodoh dan tuli. Itu semua dilakukan oleh Lian sebagai cara untuk menutupi identitas agar tidak mudah diketahui oleh polisi. Akalnya cukup cerdik. Bahkan Lian tidak sama sekali menunjukkan badan tegapnya. Lian berjalan dengan sedikit membungkuk dan langkah yang terlihat terpincang-pincang padahal sehat dan tak ada kekurangan. "Sana! Ngapain malah lihatin gue aja? Kerja! Kita gelandangan tapi butuh makan. Kita orang nggak punya dan tetap harus usaha, tapi terserah kalau loe mau mati sia-sia. Jangan lagi di sini! Sana pergi!" Orang tersebut mendorong tubuh Lian hingga terjatuh ke tanah. Padahal bisa saja Lian bertahan tetapi penyamaran Lian begitu sangat sempurna. Lian menjadi orang yang amat sangat lemah. Rambut yang sudah sedikit panjang dibiarkan berantakan hingga gimbal dan kumis juga jenggot yang tak

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 151. Bukan Mantan-mantanan

    "Ikh Gwen terlalu kecil untukmu jadikan Intel, Kak. Jangan begitu! Nggak ada yang nyaman sama laki-laki lain. Lagian aku nggak mudah jatuh cinta kok. Kalau mau mungkin sejak dulu kami jadian. Apalagi dari tampan dan baik sama aku tapi memang kamu nggak saling suka. Kami hanya berteman. Eh kebetulan ketemu tadi, ya sudah kami minum bareng aja. Kayaknya yang harusnya curiga tuh aku loh. Mantan yang tadi datang tuh ya jelas mantan. Bukan mantan-mantanan." Gantian Naomi yang menyindir Brilly. Kalau dia jelas ada buktinya dan memang benar yang datang menemui Brilly adalah mantan istri. Bukan hanya tuduhan tak mendasar. Bibir Naomi sudah merengut saja menatap wajah Brilly di layar ponselnya. Tatapan keduanya bertemu sebatas layar. Namun tembus sampai mata dan hati keduanya. "Aku tidak memperdulikannya." "Tapi dia datang jelas-jelas menggodamu, Kak. Aku santai saja sich. Kalau mau silahkan kembali!" kata Naomi. Begitulah kalau wanita sudah cemburu. Gengsi untuk mengakui padaha

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 150. Mantan

    "Pak Ridwan, Om. Dia itu guru matematika yang ganteng sekali. Kalau di sekolah juga baik. Nggak pernah marah-marah sama Gwen dan teman-teman. Pak Ridwan juga baik sama Mami. Tadi membelikan Mami minum dan mengajak Mami ngobrol. Jadi Mami nggak bosan menunggu Gwen." "Oh gitu.... Mami mana, Nak?" " Duh mati aku! Gwen kenapa juga curhatnya sampai ke sana." Naomi meringis kemudian menghindari. Dia memilih kembali ke ruang praktik tanpa ketahuan oleh Gwen. Naomi diam-diam menutup kembali pintu ruangannya agar Gwen tidak memberikan ponsel itu padanya. "Gwen kamu tuh! Yang ada Kak Brilly salah paham dan .... Akh! Yang ada aku dituduh selingkuh. Belum-belum sudah membuat pria itu ragu." Bukan Naomi takut, tapi Naomi pun tidak ingin Brilly berpikiran macam-macam dengannya. Apalagi di saat pria itu dalam keadaan yang seperti sekarang. Naomi takut, Brilly mengira dia tidak mau atau sengaja dekat dengan laki-laki lain karena kondisi Brilly yang buruk. Hanya saja, untuk menjelask

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 50. Menciumnya

    "Kamu bisa memerintah tetapi kamu sendiri tidak menghabiskan makananmu. Dimana letak contohnya?" Itulah bisikan dari Brilly yang membuat Naomi tadi sampai malu. Naomi kira hendak menciumnya ternyata menegur karena apa yang dia katakan pada Gwen tadi. "Aku mau ke kamar, Kak. Nanti... Nanti Mar

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 49. Meresahkan Sekali

    Naomi meletakkan makanan yang Brilly tunjuk tadi di atas piring milik pria itu. Dia melirik Brilly yang kemudian menarik piring tersebut agar lebih dekat dan segera menikmati makanan itu tadi. Naomi meringis setelahnya kemudian menunduk seraya menarik nafas berulang kali dan membuangnya perlahan

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 48. Kenapa Diam?

    "Kak aku ke kamar dulu!" kata Naomi dengan suara terbata dan Brilly tidak menjawab, hanya diam memperhatikan hingga Naomi memutuskan untuk bergegas beranjak dari sana dan membiarkan Gwen bersama Brilly dulu. Naomi mendadak gerah sekali. Apalagi mendengar apa yang Brilly katakan tadi. Kok ya menda

  • TERPERANGKAP PESONA KAKAK IPAR   Bab 47. Mas Aku Ingin Sampai!

    "Sssttt.... Belum mau sudah." "Tapi aku sudah harus pulang, Baby! Jangan tahan aku lagi! Apa kurang sejak kemarin malam kita bercinta, hhm? Sekarang pun aku sudah membuatmu menggeliat berulang kali. Aku kasih satu kali lagi tapi setelah itu kita pulang ya." "Nggak mau! Kamu tuh gitu! Janjinya s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status