LOGIN"Papi itu sedang sakit, Nak. Jadi tidak bisa semua omongan Papi Gwen terima. Gwen harus tanya dulu sama Mami ya. Mana saja yang boleh dan tidak boleh. Gwen dengarkan. Oke!" Gwen dengan tatapan polos dan wajah lugunya kemudian menganggukkan kepala. Naomi lega melihat itu. Semoga Gwen tidak terpengaruh jika Lian memasukkan omongan yang tidak sesuai dengan kenyataan. "Pintar anak Mami." Sampai malam, Naomi tidak membiarkan Gwen keluar kamar. Beruntung mainan full di kamar Gwen sehingga Gwen tetap happy meskipun hanya main sendirian di dalam sana. Naomi pun memastikan Gwen belajar sampai semua perlengkapan Gwen yang akan digunakan besok sekolah sudah siap. Naomi juga memindahkan pakaiannya dari kamar utama ke kamar Gwen. Tidak semuanya karena memang cukup banyak dan hanya beberapa saja khususnya yang belum pernah dia kenakan. Itu semua juga Naomi lakukan untuk menghilangkan jejak Lian karena semua pakaian yang sudah di pakai pasti ada kenangan tersendiri bersama Lian dan i
"Aku tidak memaksa kamu harus mempercayai aku atau tidak tapi aku akan mengusahakan kamu tetap mendapatkan hakmu. Sakit boleh, tapi jangan terlalu hanyut di dalam ombak yang menyakiti kamu, Naomi." Kalau besok mau kembali kerja, silahkan! Gwen bisa ikut denganku jika memang kamu sibuk." "Kak aku tidak mau merepotkanmu, biar aku saja yang membawa Gwen. Aku yang akan antar jemput sekolahnya. Aku sadar, kalau aku berlarut-larut dalam kesedihan dan kalut. Gwen tetap akan menjadi korban. Aku nggak mau itu terjadi Kak." Brilly menganggukkan kepala kemudian mengusap pipinya tetapi Naomi bergerak menghindari. "Maaf." "Aku yang harusnya minta maaf, Kak." "Tidak, aku yang harusnya sadar diri karena tidak semestinya begini. Aku membantumu tanpa pamrih. Lupakan yang semalam!" Brilly mengacak lagi rambut Naomi kemudian beranjak dari hadapannya. Naomi terdiam mendengar penuturan Brilly dan mengikuti pergerakan pria itu. "Kasihan kamu, Kak. Aku tau, kamu pasti berkecil hati karen
Brilly melepaskan pelukannya dengan perlahan kemudian menatap wajah Naomi yang terlihat memucat. Brilly menarik nafas dalam kemudian mengusap pipi Naomi yang basah. "Sakitnya memang sampai ke tulang tetapi percayalah, banyak orang yang sayang padamu Naomi." "Kenapa kamu bisa tidak sampai membunuh Lian, Kak?" Karena ada hal yang membuat aku hancur lebih dari apa yang aku katahui atas perselingkuhan mereka." Kedua alis Naomi menukuk mendengar itu dan menatap penuh tanya pada Brilly yang terlihat sangat menahan beban. "Kak katakan ada apa?" tanya Naomi dan Brilly menggelangkan kepala. "Aku belum bisa menceritakannya padamu, Naomi." Brilly mengusap kasar wajahnya kemudian melangkah menjauh dari sana. Naomi pun menoleh mengikuti langkah Brilly seraya mengusap wajahnya yang basah. "Kak? Terlalu banyak hal yang kamu tutupi dari aku Kak. Harusnya jangan begitu! Kamu tau semua itu berkaitan denganku tetapi kamu malah menutupinya dari aku. Kenapa sich, Kak? kalau kamu termasuk
"Mi...." Naomi memeluk ibu mertuanya dengan erat. Air mata pun tak bisa dihindarkan bahkan isakan itu terdengar sangat menyayat hati. Kedua mata Naomi pun memejam kuat kala usapan tangan Ibu mertua menyentuh relung hati. "Sabar, Nak! Maafkan anak Mami." "Mi, sakit sekali. Mas Lian sudah menghancurkan hatiku, Bu." "Iya Nak, iya, maaf ya. Mami dan Daddy pun sudah tau semuanya. Lian menang sangat kurang ajar sekali. Kita akan membahas ini, Sayang. Mami nggak mungkin diam saja. Mami pasti membela kamu." Naomi menganggukkan kepalanya mendengar janji yang mertuanya berikan. Tantu saja ini menjadi angin segar untuknya, terutama Gwen. Naomi akan meminta hak Gwen sepenuhnya. "Dad." Naomi beralih memeluk Gwen. Pelukan seorang pria yang menjadi ayah selama beberapa tahun menikah dengan Lian. Pelukan Ayah yang sudah lama tidak dia rasakan. "Jangan khawatir! Kamu akan mendapatkan keadilan." "Maafkan aku jika merepotkan Daddy. Aku memikirkan Gwen, Dad. Kalau tidak karena G
"Duh tapi gimana dengan Gwen kalau aku tinggal pergi?" Naomi menggigit ujung tangannya seraya mondar mandir di balkon kamar. Jangan sampai Gwen ditinggal kemudian Maryam bertemu dengan putrinya. Naomi tidak mau sampai Gwen mendengar apa yang mungkin nanti bisa berdampak buruk pada putrinya. Naomi kembali menuju ranjang Gwen. Putrinya begitu sangat nyenyak sekali. Dilihat saja sangat melegakan. Naomi tersenyum melihat wajah polos itu tetapi sepintas teringat akan Lian. "Bagaimana jika kamu tau semuanya? Akh aku lupa, Mami menungguku. Bagaimana ini? Nggak mungkin aku menolak. Jauh-jauh beliau datang untuk bertemu." Naomi memejamkan kedua mata seraya mendongak merasakan kebingungan dan kegundahan di hatinya. Namun suara ketukan pintu membuatnya menoleh memperhatikan benda persegi itu. Segera Naomi mendekati dan membuka pintu kamar Gwen. Naomi tertegun melihat adanya Brilly berdiri tepat di hadapannya. "Ada apa, Kak?" "Biar Gwen sama aku. Mami sudah menunggumu." Nao
"Sudah Nyonya, sudah!" Namun bunyi mesin cukur terus menggema di ruangan tengah yang kini disaksikan oleh kakak beradik yang memiliki kemiripan dari segi wajah hampir delapan puluh persen. Lian nampak tercengang melihat pertunjukkan itu sedangkan Brilly menyilangkan tangan di dada dengan tatapan yang sangat puas. Melihat Naomi yang seperti ini tentu saja sangat membuat Lian tak menyangka. Pasalnya Naomi adalah istri penurut, istri yang sangat lemah lembut dan tidak pernah kasar pada siapapun. Namun siang ini, di depan mata Lian melihat Naomi begitu sangat menggila. "Sayang apa yang kamu lakukan?" "Sekali lagi panggil aku sayang, kepala kamu pun aku botakin, Mas!" ancam Naomi seraya mengulurkan mesin pencukur di tangannya. Naomi tidak main-main. Jika memang Lian berani melakukan itu maka dia akan benar-benar menggunduli kepala Lian. Maryam saja saat ini menangis melihat nasibnya yang tak selamat oleh Naomi. Ampun-ampunan wanita itu berteriak tetapi tidak digubris sa







