LOGINRahang Dimas mengeras. Urat-urat di pelipisnya menonjol hingga nyaris meledak. Penyusupan. Sabotase terencana. Otak brilian sang CEO langsung berusaha berpikir cepat.Sabotase listrik tingkat tinggi ini terjadi persis ketika ia sedang berada di tangga darurat, sibuk menghajar Vico habis-habisan. Pemadaman ini jelas bukan ulah kebetulan, melainkan sebuah taktik pengalihan isu yang sangat rapi. Dan di dunia ini, hanya ada satu bajingan yang memiliki motif, dendam, dan akses dana tak terbatas untuk menyewa komplotan bayaran demi mengacaukan sistem keamanan Genta Pustaka malam ini.Vico. Saudara tirinya itu pasti sudah merencanakan semuanya."Di mana Vico?!" bentak Dimas dengan suara bariton yang menggelegar, membuat kepala keamanan itu terlonjak kaget dan mundur selangkah."M-maksud Bapak, Tuan Vico?" jawab pria berseragam safari itu dengan suara gemetar."Kumpulkan sepuluh orangmu yang paling tangkas sekarang juga! Bawa senjata lengkap. Ikut aku ke lantai atas!" perintah Dimas mutlak, t
Setiap kali kaki Ruby ragu untuk memijak anak tangga, Reza akan menahannya dengan sabar, memberikan kode berupa remasan lembut di telapak tangannya agar istrinya itu tetap tenang. Pria itu bergerak menuruni tangga dengan kelincahan dan kesunyian yang tidak wajar untuk ukuran seorang mekanik bengkel biasa. Langkah kakinya seringan kucing, napasnya teratur tanpa suara, seolah kegelapan adalah teman lama yang sangat ia kenal.Ruby terus mengikuti langkah suaminya dalam diam. Adrenalin yang sejak tadi membakar urat nadinya kini mulai bercampur dengan rasa lelah yang luar biasa. Namun, genggaman tangan Reza yang hangat dan kokoh menjadi satu-satunya jangkar kewarasannya saat ini. Pertanyaan demi pertanyaan berputar di kepala Ruby.Bagaimana Reza bisa mendapatkan kemampuan bergerak layaknya seorang agen operasi khusus? Namun, Ruby menelan semua pertanyaan itu. Ia tahu ini bukan saatnya menuntut penjelasan.Setelah menuruni entah berapa puluh anak tangga dalam keheningan yang menegangkan, la
"Reza?" panggil Ruby dengan suara bergetar, nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.Sebuah helaan napas lega terdengar dari sosok di depannya. Kedua lengan kokoh itu kemudian merengkuh tubuh mungil Ruby, menariknya ke dalam pelukan yang luar biasa hangat dan protektif. Wajah pria itu tenggelam di ceruk leher Ruby, mengecupnya berkali-kali dengan penuh kerinduan dan rasa syukur."Iya, ini aku, By. Maaf aku bikin kamu ketakutan setengah mati. Aku harus bergerak cepat dan tanpa suara supaya keparat di atas sana tidak menyadari keberadaanku," ucap Reza, suaranya terdengar sedikit serak menahan emosi.Tangis Ruby akhirnya pecah. Ia membalas pelukan suaminya dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya di dada bidang Reza. Tangannya meremas kemeja flanel yang dikenakan pria itu seolah takut Reza akan menghilang jika ia melepaskannya. Seluruh rasa takut, teror, dan keputusasaan yang menyiksanya sejak sore tadi menguap begitu saja digantikan oleh rasa aman yang luar biasa. Su
Kembali ke ruang tangga yang gelap gulita. Ketegangan antara dua saudara beda ibu yang saling membenci itu terasa sangat mematikan. Umpatan anak haram dari mulut Vico tidak membuat genggaman Dimas mengendur, justru sebaliknya. Cengkeraman tangan Dimas di pergelangan Vico semakin menguat hingga terdengar bunyi retakan kecil dari tulang sendi pria itu.Vico meringis kesakitan, namun tawanya masih belum berhenti."Kau mencuri ayahku. Kau mencuri posisiku di perusahaan ini. Dan sekarang, kau pikir kau bisa memiliki wanita itu sendirian?" ejek Vico dengan mata yang menyala-nyala di tengah kegelapan, menantang maut yang berada tepat di depan wajahnya. "Aku sudah menyelidikinya, Dimas. Aku tahu Ruby bukan siapa-siapamu. Dia sudah bersuami. Tapi kau sangat terobsesi padanya, bukan? Kau menginginkan wanita itu lebih dari apa pun. Sama seperti ayahmu yang terobsesi pada ibumu."Dimas semakin menekan lengan Vico ke dinding beton. Otot-otot di rahangnya menonjol keras. Ia tidak terpancing untuk m
"Dengar baik-baik, Vico," desis Dimas dengan suara yang sangat rendah, berat, dan bergetar karena menahan amarah yang sudah mencapai puncaknya. "Jika kau berani menyentuh Ruby walau hanya seujung rambutnya saja, jika kau sampai membuat satu lecet pun di kulitnya... aku bersumpah atas segala iblis di neraka, aku tidak akan segan-segan untuk membongkar isi perutmu dan menjadikan ususmu sebagai pajangan di lobi gedung ini. Di mana kau menyembunyikan wanitaku?"Mendengar ancaman kejam tersebut, Vico yang sedang terpojok dan kesakitan justru tidak menunjukkan rasa gentar. Alih-alih memohon ampun, bahu Vico perlahan bergetar. Sebuah tawa yang sangat sumbang, parau, dan berlumuran darah keluar dari celah bibirnya yang hancur. Tawa itu semakin lama semakin keras, menggema mengerikan di dalam rongga tangga, seolah mengejek seluruh kekuasaan dan ancaman yang baru saja diucapkan oleh sang CEO.Vico menatap Dimas dengan senyum sinis yang penuh dengan kebencian dan dendam kesumat yang sudah mengak
Kesunyian yang mencekam di dalam ruang tangga darurat itu mendadak pecah. Saat Dimas masih mengarahkan cahaya senternya ke arah bordes atas yang kosong, indra pendengarannya yang tajam menangkap sebuah desiran angin halus tepat dari arah titik buta di belakang tubuhnya. Sebuah pergerakan yang sangat cepat dan mematikan membelah kegelapan.BUGH!Satu hantaman benda tumpul yang luar biasa keras menghantam punggung Dimas, tepat di antara kedua tulang belikatnya. Benturan itu begitu kuat hingga menciptakan gema tumpul yang mengerikan di dinding beton. Dimas mengerang tertahan, suaranya serak menahan rasa sakit yang luar biasa.Tubuhnya yang kokoh dan tegap terdorong paksa ke depan, hampir saja terjerembab menuruni rentetan anak tangga curam di bawahnya. Namun, dengan insting keseimbangan seorang predator, Dimas berhasil mencengkeram erat pegangan tangga besi yang berkarat, menahan bobot tubuhnya agar tidak jatuh terguling.Napas Dimas mendesis melalui sela-sela giginya. Rasa panas menjala
Di sebuah kafe kecil yang letaknya hanya terpaut dua ruko dari bengkel "Reza Jaya Motor", Dina duduk dengan anggun. Jilbabnya yang berwarna pastel tersampir rapi, kontras dengan noda hitam tipis yang sengaja ia biarkan ada di ujung jarinya—sisa dari drama mesin mogok yang ia mainkan tadi siang.Din
Keheningan dini hari di dalam kamar itu pecah oleh getaran konsisten dari atas nakas. Lampu layar ponsel Reza menyala, membiaskan cahaya biru yang menyakitkan mata di tengah kegelapan. Ruby, yang memang tidak pernah benar-benar terlelap sejak permainan semalam, hanya menatap benda itu dengan tatapa
Suara langkah kaki Dimas perlahan menjauh dari pintu depan, berganti dengan bunyi langkah yang menuruni anak tangga teras. Tak lama kemudian, ponsel Ruby yang tergeletak di atas meja makan bergetar pendek. Sebuah notifikasi pesan masuk muncul di layar yang menyala.Ruby melirik cepat, dan jantungny
Pagi itu, sinar matahari yang menerobos masuk melalui celah gorden terasa seperti ejekan bagi Ruby. Matanya sembab, kepalanya berdenyut nyeri setelah menghabiskan sisa malam dengan menangis hingga tertidur di balik pintu.Ruby memaksakan diri bangun. Hari ini ia ada janji penting dengan editornya d







