LOGIN"Reza, gue nggak lagi bercanda!" Ruby menjejakkan kakinya ke lantai dengan frustrasi.
Ia kembali melompat lebih tinggi, melupakan segala akal sehatnya. Sisa harga dirinya yang tertulis di dalam catatan itu harus diselamatkan. Ruby terus bergerak mencari celah dari pertahanan Reza untuk meraih ponselnya.
Cowok itu hanya tertawa pelan, menikmati kekacauan Ruby. Sangat mudah rupanya membuat gadis yang biasanya tak tersentuh itu kini kehilangan ketenangannya.
“Ya jelasin lah apanya yang besar?”
"Lo kalau lagi marah gini ternyata lucu juga ya, Bi," komentar Reza seenaknya. Tubuhnya condong ke belakang untuk menghindari terjangan Ruby dengan mudah.
"Diam lo! Sini!"
Ruby membuat lompatan terakhir, mengerahkan seluruh tenaga sambil berjinjit. Jari-jarinya hampir menyentuh ujung ponselnya. Namun, ia melupakan satu detail krusial—ia hanya memakai sehelai handuk.
Gerakan tiba-tiba itu membuat lilitan handuk di atas dadanya kehilangan pegangan. Dalam satu detik yang terasa melambat, Ruby merasakan kain tebal itu mengendur. Handuknya merosot beberapa sentimeter, mengekspos bahu dan sebagian belahan dadanya yang sebelumnya tertutup rapat.
Ruby tercekat dengan napas tertahan. Ia langsung menyilangkan lengan di depan dada, mencengkeram handuknya erat-erat agar tidak jatuh sepenuhnya ke lantai.
Tubuh Ruby seketika membeku. Ia berdiri mematung di hadapan Reza dengan wajah memerah padam hingga ke telinga. Jantungnya berdebar kencang karena rasa malu yang menamparnya telak, membuatnya tak berani menatap cowok itu.
Di sisi lain, tawa renyah Reza berhenti seketika. Suasana kamar yang tadinya dipenuhi ketegangan komikal berubah drastis dalam hitungan detik. Hening turun menyergap, tebal dan mengintimidasi, hanya menyisakan deru napas keduanya yang saling bersahutan.
Reza masih berdiri dengan tangan terangkat di udara. Ponsel rose gold itu masih dalam genggamannya, tapi matanya tak lagi fokus pada layar. Niatnya untuk menjahili Ruby menguap tak berbekas.
Tatapan gelap Reza kini terpaku pada sosok setengah basah di depannya. Matanya menelusuri bahu Ruby yang terbuka dan tetesan air yang jatuh dari ujung rambutnya. Air itu mengalir lambat menuruni leher jenjangnya, melewati tulang selangka, lalu menghilang di balik batas handuk.
Wangi sabun jeruk bercampur aroma alami tubuh Ruby menyerbak memenuhi penciuman Reza. Wangi yang tanpa sadar memabukkan dan mulai mengacaukan kewarasannya.
Udara di kamar itu tiba-tiba terasa menipis. Reza menelan ludah susah payah, jakunnya bergerak naik turun menahan debar. Ia bisa merasakan darahnya berdesir lebih cepat, memompa suhu panas ke seluruh tubuhnya.
Sialan, ia mendadak merasa sangat kegerahan. Reza menurunkan tangannya perlahan, tak lagi mempedulikan ponsel tersebut. Otot-otot rahangnya menegang keras saat mencoba mengendalikan diri.
Ia tahu Ruby selalu cantik di balik kemeja kebesarannya. Namun, melihat gadis itu sedekat ini dengan kondisi setengah basah meruntuhkan benteng pertahanan Reza. Niat awalnya yang murni ingin menggoda kini merosot menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap dan intens.
Melihat Reza diam saja, Ruby memberanikan diri mendongak. Ia bersiap mengusir cowok itu, mencaci makinya agar segera pergi. Namun, makian di ujung lidahnya mati seketika saat pandangan mereka bertemu.
Kilat jahil menyebalkan milik Reza telah menghilang tanpa sisa. Sebagai gantinya, mata cowok itu menatapnya dengan kelaparan yang primitif dan membahayakan. Intensitas tatapan itu sukses membuat lutut Ruby mendadak lemas.
Gadis itu refleks melangkah mundur, instingnya meneriakkan bahaya. Namun, bagian belakang lututnya menabrak tepian ranjang. Jalur mundurnya terpotong total.
"Re... Reza..." panggil Ruby dengan bisikan parau. "Keluar. Sekarang."
Bukannya mematuhi, Reza justru mengambil satu langkah maju. Jarak di antara mereka terkikis habis. Tubuh tinggi tegap cowok itu menjulang, melemparkan bayangan yang menaungi dan mengurung Ruby sepenuhnya.
Reza menundukkan kepala, memangkas jarak hingga embusan napas hangatnya menerpa wajah Ruby. Mata cowok itu bergerak lambat menyusuri wajah panik di bawahnya. Sudut bibirnya kemudian terangkat, membentuk senyum miring yang sarat akan bahaya.
"Gue nggak nyangka isi kepala lo seliar ini, By," bisik Reza serak. Kata-katanya mengalun pelan seperti godaan iblis di telinga Ruby. Pandangannya menggelap, turun menatap bibir Ruby yang sedikit terbuka. "Gimana kalau gue bantu?”
Udara di kamar seolah menguap tak bersisa. Ruby berdiri kaku, sementara dada bidang Reza kini berada hanya beberapa inci darinya, memancarkan panas yang membakar. Kepala Ruby mendadak kosong mencerna implikasi dari ucapan cowok itu.
Secara refleks, tangan Ruby semakin erat mencengkeram ujung handuk. Gerakan kecil itu memancing tatapan Reza turun. Ia memperhatikan jemari Ruby yang memucat bergetar, lalu matanya kembali naik menyusuri leher jenjang gadis itu.
Terdengar bunyi tumpul di atas karpet. Ponsel rose gold di tangan Reza baru saja dijatuhkan begitu saja, seolah benda itu tak lagi penting
"Za..." Suara Ruby bergetar, nyaris tak terdengar. Ia mencoba memundurkan wajah, tapi ia sudah terjebak di ujung kasur.
Jemari besar Reza perlahan terangkat menyentuh pipi Ruby. Ibu jarinya mengusap rahang bawah gadis itu dengan gerakan lambat yang menyiksa. Sentuhan hangat dan sedikit kasar itu membuat Ruby menahan napas, seluruh tubuhnya meremang.
"Tulisan lo bagus, Bi," bisik Reza tepat di depan wajahnya, hingga puncak hidung mereka bersentuhan. "Tapi lo melewatkan satu detail penting."
Tangan Reza yang lain turun. Jemarinya dengan lembut menutupi punggung tangan Ruby yang sedang gemetar menahan handuknya di dada. Usapan pelan dari ibu jari Reza di sana menyiratkan peringatan yang membuat sisa kewarasan Ruby nyaris luruh.
"Teori aja nggak cukup..." bisik Reza lagi, matanya mengunci manik mata Ruby lekat-lekat. "...lo butuh praktiknya."
"Keluar." Suara Ruby bergetar, terdengar sangat tajam dan dingin. Ia kembali mencengkeram handuknya erat-erat sebagai bentuk perlindungan diri. "Keluar dari kamar gue sekarang, Reza!"
Reza perlahan menoleh. Reza sadar ia baru saja melewati batas yang sangat fatal. Niat awalnya hanya ingin menggoda, tapi aroma jeruk dari kulit Ruby membuat otaknya berhenti berfungsi. Melihat Ruby yang gemetar di depannya, rasa bersalah langsung menghantam dadanya.
"Bi..." Reza memulai dengan suara penuh penyesalan. Ia mengambil satu langkah ragu ke depan.
"Jangan maju selangkah lagi atau gue teriak beneran!" ancam Ruby keras sambil menunjuk wajah Reza. Ia menolak terlihat lemah, meskipun air matanya nyaris jatuh.
"Ambil hape lo, taruh hape gue di kasur, dan keluar," desis Ruby dengan nada final. "Gue nggak mau lihat muka lo seharian ini. “
Reza terdiam sejenak sebelum mengangguk patuh. Namun, insting usilnya rupanya terlalu kuat untuk mati begitu saja. Reza memutar tubuhnya kembali, menatap Ruby yang masih berbalut handuk putih. Sikap menyesalnya memudar, digantikan senyum miring tipis yang sangat provokatif.
Tatapan Reza turun sejenak, sengaja berhenti di bagian dada Ruby yang masih naik turun karena emosi. Senyumnya melebar, lebih berbahaya dari sebelumnya.
"Tapi akui aja, Bi... adegan barusan jauh lebih panas daripada semua fantasi yang lo tulis di draf itu, kan? Terutama bagian lo desah nama gue."
********
Kebingungan di mata Ruby terlihat begitu murni, begitu tak berdosa. Raut wajah polos tanpa cacat itu seolah menjeritkan ketidaktahuannya akan apa yang tengah terjadi. Namun bagi Reza, ketidaktahuan itu justru terasa seperti racun yang menyiksa. Di dalam kepalanya, memori visual tentang video ciuman di dalam mobil dan deretan foto keintiman istrinya bersama Dimas berputar terus di otaknya.Ia tidak bisa berlama-lama di sini. Dinding-dinding pertahanan psikologis yang ia bangun mulai retak saat melihat bulir air mata jatuh melintasi pipi pucat Ruby. Ada satu bagian dalam jiwanya yang meronta, bagian yang ingin mempercayai wanita di depannya, bagian yang berbisik bahwa ia sanggup memaafkan segalanya—bahkan jika harus berlutut di depan kaki Ruby, memeluk lutut istrinya, dan berderai air mata memohon agar wanita itu mau menggugurkan janin di dalam kandungannya demi memulai segalanya dari nol.Ketakutan akan kelumpuhan emosional itu memicu insting bertahan hidup terdasar dalam diri Reza. Ia
Suasana di lantai bawah rumah persembunyian itu kini tidak lagi terasa seperti tempat perlindungan. Ruangan itu telah berubah menjadi ruangan kedap udara yang menyesakkan, tempat di mana sisa-sisa kepercayaan seorang Reza dihancurkan hingga menjadi kepingan debu.Reza bangkit dari lantai kayu. Wajahnya yang beberapa menit lalu hancur oleh air mata dan keputusasaan, kini telah berubah mengeras, sedingin bongkahan es di kutub terdalam. Segala rasa cinta, kelembutan, dan insting melindunginya telah mati rasa, tergantikan oleh kekosongan yang mengerikan.Dengan gerakan mekanis dan rahang terkatup rapat, Reza berjalan menuju tas ransel taktis hitamnya. Ia mulai memasukkan barang-barangnya. Ia hanya mengambil barang-barang yang benar-benar miliknya. Reza bahkan sengaja mengeluarkan sebuah kemeja flanel pemberian Ruby dari dalam tas itu, membuangnya ke lantai seolah kemeja itu dipenuhi oleh bisa racun yang mematikan.Ia tidak akan membalas dendam pada Ruby. Ia tidak akan menyakiti wanita itu
Mata Reza terbelalak lebar. Jantungnya serasa berhenti berdetak selama beberapa detik. Oksigen di ruang tengah itu seolah tersedot habis.Anakku... yang tengah Ruby kandung saat ini.Otak Reza langsung memutar kembali kejadian beberapa menit yang lalu. Mual yang sangat tiba-tiba. Penolakan ekstrem terhadap bau badan. Tubuh yang lemas tanpa sebab yang jelas. Itu bukan sekadar stres lambung. Itu adalah morning sickness. Ruby sedang hamil.Tapi yang membuat dada Reza terasa seperti ditikam menggunakan pisau berkarat adalah klaim Dimas. Pewarisku."Brengsek..." desis Reza, tangannya gemetar memegang ponsel. Ia berusaha menggunakan logika intelijennya, berusaha meyakinkan dirinya bahwa ini hanyalah manipulasi Dimas, taktik kotor untuk menghancurkan mentalnya.Namun, sebelum Reza bisa merasionalkan pikirannya, dua buah pesan lanjutan masuk secara berurutan. Kali ini bukan berupa teks, melainkan lampiran berkas multimedia. Sebuah video dan sederet tautan foto.Dengan napas yang mulai memburu
Setelah tombol Kirim ditekan dan surel pengunduran diri itu melesat membelah jaringan maya menuju kotak masuk Genta Pustaka, keheningan yang tersisa di ruang tengah rumah persembunyian itu terasa berbeda. Ada beban berat yang seolah baru saja terangkat dari pundak Ruby. Rantai kasat mata yang selama ini mengikat lehernya perlahan melonggar.Ruby menghela napas panjang, menutup layar laptopnya, dan menyandarkan punggungnya ke sofa. Reza, yang sejak tadi duduk bersila di sampingnya, meraih laptop itu dan meletakkannya di atas meja. Pria itu kemudian beringsut mendekat, menarik tubuh mungil istrinya ke dalam pelukannya."Sudah selesai," bisik Reza lembut, mengecup puncak kepala Ruby berulang kali. "Kamu bebas sekarang, By."Ruby mengangguk pelan di ceruk leher suaminya. Aroma maskulin yang menguar dari tubuh Reza—selalu berhasil menjadi penenang terbaik bagi Ruby. Di tengah segala kekacauan dan pelarian ini, pelukan Reza adalah satu-satunya tempat di mana Ruby merasa dunia kembali normal
Mendengar penjelasan suaminya yang masuk akal dan merasakan perlindungan posesif yang begitu nyata dari pria itu, pertahanan ego profesional Ruby runtuh. Reza benar. Tidak ada gunanya mempertahankan karier cemerlang jika harus bekerja di bawah tatapan mata seorang predator yang telah menanam kamera di dalam kamar tidurnya sendiri.Ruby mengangguk pelan. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian, lalu meletakkan kesepuluh jemarinya di atas keyboard.Tanpa ragu lagi, Ruby mulai mengetik. Jari-jarinya menari di atas tuts dengan suara ketukan yang konstan memecah keheningan ruang tengah.Reza memperhatikan setiap kata yang diketik istrinya dalam diam.Yth. Manajemen Genta Pustaka dan Bapak Bramantyo,Menanggapi surel penyesuaian jadwal ini, bersamaan dengan ini saya, Ruby, selaku Penulis Genta Pustaka, menyatakan pengunduran diri saya secara resmi dari perusahaan, terhitung mulai hari ini dan detik ini juga.Keputusan ini saya ambil demi alasan keselamatan dan kesehatan pribad
Mobil SUV hitam pekat itu perlahan mulai bergerak dari bahu jalan. Mesin bertenaga besarnya berputar begitu halus nyaris tanpa getaran, meluncur membelah genangan air hujan di atas aspal dengan senyap. Tidak ada decitan ban, tidak ada lampu sorot yang menyilaukan, dan tidak ada jejak intimidasi yang ditinggalkan di depan pagar kayu rumah persembunyian tersebut.Kendaraan mewah itu melaju perlahan meninggalkan pinggiran kota, berbelok di persimpangan sepi, dan menghilang ke dalam kegelapan malam ibu kota—membawa serta seorang pria yang memilih untuk menyimpan amarahnya di dalam lemari es, mengubah perburuan brutal menjadi sebuah catur psikologis yang lambat, elegan, dan jauh lebih mematikan dari apa pun yang pernah dibayangkan oleh Ruby maupun suaminya.***Sinar matahari pagi menyusup masuk melalui celah tirai jendela di lantai dua rumah persembunyian itu, melukis garis-garis keemasan di atas lantai kayu berlapis pelitur. Suasana di kawasan pinggiran kota itu begitu damai, hanya terde
Ruby mengumpat habis-habisan begitu pintu kamarnya tertutup rapat."Gue nggak mau ketemu lo lagi. sama lo, Za!" desisnya sambil mengusap bibirnya kasar dengan punggung tangan.Ia melempar bantal ke arah pintu dengan tenaga sisa, seolah bantal itu bisa menembus kayu dan mengenai wajah menyebalkan Re
"Nyari ini, By?"Bulu kuduk Ruby serentak berdiri mendengar suara berat dan serak itu. Dia berputar cepat, nyaris terpeleset lantai kamar mandi yang masih basah.Di sana, Reza bersandar dengan santai di kusen pintu kamarnya seolah itu markas pribadinya.Tetangga sebelah rumah yang selama ini cuma R
"Kurang dapet, By. Masih hambar."Ruby nyaris menjatuhkan ponselnya saat Mbak Tari, editor senior di tempatnya menulis, menggeser tablet dengan raut wajah tidak puas."Hambar gimana, Mbak? Itu view-nya paling tinggi di minggu ini, lho," sahut Ruby, mencoba membela diri meski suaranya agak bergetar.
Aroma aspal basah yang menguap setelah hujan mendadak kalah oleh bau anyir yang pekat. Ruby berdiri dengan lutut gemetar di atas rumput taman lobi yang basah. Matanya melebar, terkunci pada sosok Dimas yang terkapar beberapa meter di depannya. Kemeja putih yang beberapa puluh menit lalu diganti Dim







