Home / Romansa / TETANGGA TAPI PANAS / Bab 2 Butuh bantuan?

Share

Bab 2 Butuh bantuan?

Author: Penulis Hoki
last update publish date: 2026-02-26 13:42:58

"Reza, gue nggak lagi bercanda!" Ruby menjejakkan kakinya ke lantai dengan frustrasi.

Ia kembali melompat lebih tinggi, melupakan segala akal sehatnya. Sisa harga dirinya yang tertulis di dalam catatan itu harus diselamatkan. Ruby terus bergerak mencari celah dari pertahanan Reza untuk meraih ponselnya.

Cowok itu hanya tertawa pelan, menikmati kekacauan Ruby. Sangat mudah rupanya membuat gadis yang biasanya tak tersentuh itu kini kehilangan ketenangannya.

“Ya jelasin lah apanya yang besar?”

"Lo kalau lagi marah gini ternyata lucu juga ya, Bi," komentar Reza seenaknya. Tubuhnya condong ke belakang untuk menghindari terjangan Ruby dengan mudah.

"Diam lo! Sini!"

Ruby membuat lompatan terakhir, mengerahkan seluruh tenaga sambil berjinjit. Jari-jarinya hampir menyentuh ujung ponselnya. Namun, ia melupakan satu detail krusial—ia hanya memakai sehelai handuk.

Gerakan tiba-tiba itu membuat lilitan handuk di atas dadanya kehilangan pegangan. Dalam satu detik yang terasa melambat, Ruby merasakan kain tebal itu mengendur. Handuknya merosot beberapa sentimeter, mengekspos bahu dan sebagian belahan dadanya yang sebelumnya tertutup rapat.

Ruby tercekat dengan napas tertahan. Ia langsung menyilangkan lengan di depan dada, mencengkeram handuknya erat-erat agar tidak jatuh sepenuhnya ke lantai.

Tubuh Ruby seketika membeku. Ia berdiri mematung di hadapan Reza dengan wajah memerah padam hingga ke telinga. Jantungnya berdebar kencang karena rasa malu yang menamparnya telak, membuatnya tak berani menatap cowok itu.

Di sisi lain, tawa renyah Reza berhenti seketika. Suasana kamar yang tadinya dipenuhi ketegangan komikal berubah drastis dalam hitungan detik. Hening turun menyergap, tebal dan mengintimidasi, hanya menyisakan deru napas keduanya yang saling bersahutan.

Reza masih berdiri dengan tangan terangkat di udara. Ponsel rose gold itu masih dalam genggamannya, tapi matanya tak lagi fokus pada layar. Niatnya untuk menjahili Ruby menguap tak berbekas.

Tatapan gelap Reza kini terpaku pada sosok setengah basah di depannya. Matanya menelusuri bahu Ruby yang terbuka dan tetesan air yang jatuh dari ujung rambutnya. Air itu mengalir lambat menuruni leher jenjangnya, melewati tulang selangka, lalu menghilang di balik batas handuk.

Wangi sabun jeruk bercampur aroma alami tubuh Ruby menyerbak memenuhi penciuman Reza. Wangi yang tanpa sadar memabukkan dan mulai mengacaukan kewarasannya.

Udara di kamar itu tiba-tiba terasa menipis. Reza menelan ludah susah payah, jakunnya bergerak naik turun menahan debar. Ia bisa merasakan darahnya berdesir lebih cepat, memompa suhu panas ke seluruh tubuhnya.

Sialan, ia mendadak merasa sangat kegerahan. Reza menurunkan tangannya perlahan, tak lagi mempedulikan ponsel tersebut. Otot-otot rahangnya menegang keras saat mencoba mengendalikan diri.

Ia tahu Ruby selalu cantik di balik kemeja kebesarannya. Namun, melihat gadis itu sedekat ini dengan kondisi setengah basah meruntuhkan benteng pertahanan Reza. Niat awalnya yang murni ingin menggoda kini merosot menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap dan intens.

Melihat Reza diam saja, Ruby memberanikan diri mendongak. Ia bersiap mengusir cowok itu, mencaci makinya agar segera pergi. Namun, makian di ujung lidahnya mati seketika saat pandangan mereka bertemu.

Kilat jahil menyebalkan milik Reza telah menghilang tanpa sisa. Sebagai gantinya, mata cowok itu menatapnya dengan kelaparan yang primitif dan membahayakan. Intensitas tatapan itu sukses membuat lutut Ruby mendadak lemas.

Gadis itu refleks melangkah mundur, instingnya meneriakkan bahaya. Namun, bagian belakang lututnya menabrak tepian ranjang. Jalur mundurnya terpotong total.

"Re... Reza..." panggil Ruby dengan bisikan parau. "Keluar. Sekarang."

Bukannya mematuhi, Reza justru mengambil satu langkah maju. Jarak di antara mereka terkikis habis. Tubuh tinggi tegap cowok itu menjulang, melemparkan bayangan yang menaungi dan mengurung Ruby sepenuhnya.

Reza menundukkan kepala, memangkas jarak hingga embusan napas hangatnya menerpa wajah Ruby. Mata cowok itu bergerak lambat menyusuri wajah panik di bawahnya. Sudut bibirnya kemudian terangkat, membentuk senyum miring yang sarat akan bahaya.

"Gue nggak nyangka isi kepala lo seliar ini, By," bisik Reza serak. Kata-katanya mengalun pelan seperti godaan iblis di telinga Ruby. Pandangannya menggelap, turun menatap bibir Ruby yang sedikit terbuka. "Gimana kalau gue bantu?”

Udara di kamar seolah menguap tak bersisa. Ruby berdiri kaku, sementara dada bidang Reza kini berada hanya beberapa inci darinya, memancarkan panas yang membakar. Kepala Ruby mendadak kosong mencerna implikasi dari ucapan cowok itu.

Secara refleks, tangan Ruby semakin erat mencengkeram ujung handuk. Gerakan kecil itu memancing tatapan Reza turun. Ia memperhatikan jemari Ruby yang memucat bergetar, lalu matanya kembali naik menyusuri leher jenjang gadis itu.

Terdengar bunyi tumpul di atas karpet. Ponsel rose gold di tangan Reza baru saja dijatuhkan begitu saja, seolah benda itu tak lagi penting

"Za..." Suara Ruby bergetar, nyaris tak terdengar. Ia mencoba memundurkan wajah, tapi ia sudah terjebak di ujung kasur.

Jemari besar Reza perlahan terangkat menyentuh pipi Ruby. Ibu jarinya mengusap rahang bawah gadis itu dengan gerakan lambat yang menyiksa. Sentuhan hangat dan sedikit kasar itu membuat Ruby menahan napas, seluruh tubuhnya meremang.

"Tulisan lo bagus, Bi," bisik Reza tepat di depan wajahnya, hingga puncak hidung mereka bersentuhan. "Tapi lo melewatkan satu detail penting."

Tangan Reza yang lain turun. Jemarinya dengan lembut menutupi punggung tangan Ruby yang sedang gemetar menahan handuknya di dada. Usapan pelan dari ibu jari Reza di sana menyiratkan peringatan yang membuat sisa kewarasan Ruby nyaris luruh.

"Teori aja nggak cukup..." bisik Reza lagi, matanya mengunci manik mata Ruby lekat-lekat. "...lo butuh praktiknya."

"Keluar." Suara Ruby bergetar, terdengar sangat tajam dan dingin. Ia kembali mencengkeram handuknya erat-erat sebagai bentuk perlindungan diri. "Keluar dari kamar gue sekarang, Reza!"

Reza perlahan menoleh. Reza sadar ia baru saja melewati batas yang sangat fatal. Niat awalnya hanya ingin menggoda, tapi aroma jeruk dari kulit Ruby membuat otaknya berhenti berfungsi. Melihat Ruby yang gemetar di depannya, rasa bersalah langsung menghantam dadanya.

"Bi..." Reza memulai dengan suara penuh penyesalan. Ia mengambil satu langkah ragu ke depan.

"Jangan maju selangkah lagi atau gue teriak beneran!" ancam Ruby keras sambil menunjuk wajah Reza. Ia menolak terlihat lemah, meskipun air matanya nyaris jatuh.

"Ambil hape lo, taruh hape gue di kasur, dan keluar," desis Ruby dengan nada final. "Gue nggak mau lihat muka lo seharian ini. “

Reza terdiam sejenak sebelum mengangguk patuh. Namun, insting usilnya rupanya terlalu kuat untuk mati begitu saja. Reza memutar tubuhnya kembali, menatap Ruby yang masih berbalut handuk putih. Sikap menyesalnya memudar, digantikan senyum miring tipis yang sangat provokatif.

Tatapan Reza turun sejenak, sengaja berhenti di bagian dada Ruby yang masih naik turun karena emosi. Senyumnya melebar, lebih berbahaya dari sebelumnya.

"Tapi akui aja, Bi... adegan barusan jauh lebih panas daripada semua fantasi yang lo tulis di draf itu, kan? Terutama bagian lo desah nama gue."

********

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 7 Foto 21+

    Suasana di lorong sempit itu mendadak jauh lebih berbahaya daripada ancaman satpam di luar sana. Cahaya senter tetangga akhirnya menjauh, diikuti suara gerutu dan pintu yang dibanting menutup. Keheningan malam kembali turun, namun napas mereka berdua justru semakin menderu.Reza tidak segera melepaskan tangannya. Ia justru menurunkan telapak tangannya perlahan, membiarkan jemarinya mengusap dagu Ruby hingga berhenti di leher gadis itu yang berdenyut kencang.Dalam jarak nol milimeter, Ruby bisa merasakan sesuatu yang keras dan tegang menekan pangkal paha bawahnya. Mata Ruby membelalak, menyadari bahwa apa yang baru saja mereka tonton memberikan efek yang sangat nyata pada tubuh pria di depannya.Reza terkekeh rendah, suara seraknya bergetar langsung di dada Ruby. Ia sengaja sedikit menggerakkan pinggulnya, mempertegas tekanan yang membuat Ruby nyaris kehilangan napas."Gimana, By?" bisik Reza, bibirnya nyaris menyentuh daun telinga Ruby yang sudah panas membara. "Lebih besar yang mana

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 6 Ngintip

    "Ahhh... Mmmhh..."Suara desahan panjang, serak, dan sangat sensual itu kembali terdengar. "Ah....""Ah...."Jelas sekali. Tapi kali ini, suaranya bukan berasal dari dalam rumah Reza yang gelap.Keduanya tersentak. Reza dan Ruby serentak menoleh ke arah yang sama. Bukan menatap dinding pembatas di antara rumah mereka, melainkan ke arah tembok belakang yang berbatasan langsung dengan paviliun tetangga blok sebelah.Tangan Ruby yang tadi menunjuk dada Reza perlahan turun. Wajahnya yang semula merah karena amarah, kini berubah pias karena kebingungan."Itu... bukan dari rumah lo?" cicit Ruby, suaranya nyaris hilang ditiup angin malam.Reza menaikkan sebelah alisnya, senyum miringnya semakin tercetak jelas. "Gue bilang juga apa. Imajinasi lo terlalu jauh mikirin gue, Bi."Tanpa banyak bicara, Reza tiba-tiba meraih pergelangan tangan Ruby. Bukannya marah, pria itu justru menarik Ruby untuk melangkah mengendap-ngendap menuju area belakang rumahnya, menyusuri lorong taman kecil yang membat

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 5 Suara aneh

    “Bukan urusan lo!” ujarnya ketus.Reza membalas dengan senyum miring yang selalu berhasil membuat Ruby emosi.Tatapan Reza yang mengunci gerakannya membuat lidahnya mendadak kelu. Ia merasa seperti buronan yang tertangkap basah, padahal ini adalah pintu rumahnya sendiri."Lo ngagetin tau nggak! Lagian ngapain lo di sini malam-malam?!" Ruby mencoba mengatur napasnya, meskipun aroma mint dari tubuh Reza mulai mengacaukan fokusnya.Reza tidak bergerak mundur, ia justru semakin mencondongkan tubuhnya, memaksa Ruby kembali mepet ke pintu kayu di belakangnya. “Terus kenapa lo tadi lari-lari?”"Bukan urusan lo! Udah ah, minggir! Gue mau masuk!" Ruby mencoba mendorong dada Reza, tapi cowok itu tetap kokoh seperti batu karang."Bentar, By. Kayaknya ada yang beda sama lo hari ini," bisik Reza, matanya mulai menelusuri wajah Ruby yang memerah di bawah lampu teras yang temaram."Gak ada yang beda! Minggir nggak! Gue banyak kerjaan!" Ruby menarik baju Reza dengan paksa agar Reza menyingkir, lalu d

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 4 Kurang hot

    "Kurang dapet, By. Masih hambar."Ruby nyaris menjatuhkan ponselnya saat Mbak Tari, editor senior di tempatnya menulis, menggeser tablet dengan raut wajah tidak puas."Hambar gimana, Mbak? Itu view-nya paling tinggi di minggu ini, lho," sahut Ruby, mencoba membela diri meski suaranya agak bergetar.Mbak Tari menghela napas, kacamatanya melorot ke ujung hidung. "Angka memang tinggi karena orang penasaran, tapi eksekusinya nggak sebanding sama tensi yang lo bangun dari awal. Di bab delapan belas ini, lo nulis adegan di meja kerja, kan?"Ruby menelan ludah. "Iya, Mbak.""Deskripsinya kayak robot, Ruby. Terlalu teknis," Mbak Tari mengetuk-ngetuk layar. "Gue butuh emosi. Gue butuh pembaca ngerasa kalau mereka itu si kepanasan.""Mungkin... seleranya emang yang pelan-pelan gitu, Mbak?" gumam Ruby asal."Gabisa. Cowok di naskah lo ini tipenya dominan, kan? Dia nggak akan nanya 'boleh nggak aku cium kamu?'. Dia harus langsung hajar," Mbak Tari menatap Ruby tajam. "Lo punya masalah sama riset,

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 3 Ahh...

    Ruby mengumpat habis-habisan begitu pintu kamarnya tertutup rapat."Gue nggak mau ketemu lo lagi. sama lo, Za!" desisnya sambil mengusap bibirnya kasar dengan punggung tangan.Ia melempar bantal ke arah pintu dengan tenaga sisa, seolah bantal itu bisa menembus kayu dan mengenai wajah menyebalkan Reza. Jantungnya masih berdegup gila, seolah-olah Reza masih ada di sana, menghimpitnya hingga napasnya habis.Namun, sensasi panas dari pagutan Reza tadi masih tertinggal di sana, membekas kuat seperti stempel permanen. Ruby berjalan gontai menuju meja kerjanya, masih berbalut handuk yang kini terasa mulai lembap dan tidak nyaman.Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum membuka ponselnya yang tadi sempat dijamah Reza.Jemari Ruby bergetar saat ia menyentuh trackpad. Ia segera membuka dokumen naskah yang menjadi rahasia terbesarnya selama ini. Matanya dengan cepat memindai baris demi baris kata, sementara ketakutan mulai merayap di dadanya."Gila... kalau dia sampe baca semu

  • TETANGGA TAPI PANAS   Bab 2 Butuh bantuan?

    "Reza, gue nggak lagi bercanda!" Ruby menjejakkan kakinya ke lantai dengan frustrasi.Ia kembali melompat lebih tinggi, melupakan segala akal sehatnya. Sisa harga dirinya yang tertulis di dalam catatan itu harus diselamatkan. Ruby terus bergerak mencari celah dari pertahanan Reza untuk meraih ponselnya.Cowok itu hanya tertawa pelan, menikmati kekacauan Ruby. Sangat mudah rupanya membuat gadis yang biasanya tak tersentuh itu kini kehilangan ketenangannya.“Ya jelasin lah apanya yang besar?”"Lo kalau lagi marah gini ternyata lucu juga ya, Bi," komentar Reza seenaknya. Tubuhnya condong ke belakang untuk menghindari terjangan Ruby dengan mudah."Diam lo! Sini!"Ruby membuat lompatan terakhir, mengerahkan seluruh tenaga sambil berjinjit. Jari-jarinya hampir menyentuh ujung ponselnya. Namun, ia melupakan satu detail krusial—ia hanya memakai sehelai handuk.Gerakan tiba-tiba itu membuat lilitan handuk di atas dadanya kehilangan pegangan. Dalam satu detik yang terasa melambat, Ruby merasaka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status