Share

Bab 26

Author: Dinwa
last update publish date: 2026-07-11 20:15:27

Persiapan ulang tahun ke-18 atau yang secara resmi disebut sebagai Hari Penyingkapan Mawar kini telah mengubah suasana istana menjadi sarang kesibukan yang gila.

Namun, di dalam ruang ganti pribadi Paviliun Mawar udara tidak dipenuhi oleh sukacita pesta melainkan oleh ketegangan yang sangat pekat dan menggairahkan.

​Hari ini adalah jadwal pencocokan gaun ritual. Dan karena dekrit Karantina Elemen yang sialan tapi menguntungkan itu.


Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 46

    ​Kini, ruangan kerja basal hitam hanya menyisakan aku sendirian. Namun, tiba-tiba Vincent muncul kembali dari balik tirai kegelapan setelah menyelesaikan tugasnya. Suasana ruangan mendadak bergeser, dinginnya malam terasa lebih menekan, dan pendar emas di bahuku berdenyut lebih cepat saat Vincent melangkah mendekat tanpa suara. ​Dia berhenti tepat di hadapanku. Penguasa Orde Bayangan yang biasanya kaku dan dingin itu tiba-tiba berlutut di depan kursiku, bukan sebagai pelayan yang patuh, melainkan sebagai seorang pria yang terobsesi pada sebuah misteri besar yang kini berada di depannya. Tangannya yang sedingin es merayap naik, mencengkeram pergelangan kakiku yang telanjang dengan pegangan yang erat, posesif, dan tidak mengizinkanku untuk menjauh. ​"Vincent, sayang... apa yang sedang kau lakukan, hmm?" tanyaku dengan nada merayu yang teramat seksi, sama sekali tidak berniat menarik kakiku dari genggamannya. Aku justru memi

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 45

    Gema fluks komunikasi sihir di dalam kepalaku perlahan menyurut, meninggalkan keheningan yang janggal di dalam ruangan kerja basal hitam Paviliun Kekaisaran. ​Di luar jendela, kabut kelabu dari utara masih tertahan oleh barikade cahaya suci Alaric, namun atmosfer di dalam ruangan ini sama sekali tidak mendingin. Sentuhan posesif Adrian di pinggangku terasa kian menuntut. Sapuan napasnya yang sepanas bara api menerpa ceruk leherku, membakar sisa-sisa aroma mawar hitam yang menguar dari kulit porselenku. ​"Lavinia..." Adrian berbisik parau, bibirnya yang basah mulai mengecup bahuku yang dihiasi segel emas berdenyut redup. Tangannya yang besar merayap turun, meremas pinggulku dengan ketat hingga aku memekik pelan. "Karantina wilayah utara sudah berjalan sesuai maumu. Sekarang, biarkan aku membantumu mengunci sisa elemen api ini ke dalam inti energimu. Tubuhmu masih terlalu dingin, Countess." ​"

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 44

    ​Melalui fluks komunikasi di kepala Alaric, aku membisikkan perintahku dengan nada suara yang sengaja kubuat manja, berpadu kontras dengan instruksiku yang dingin. "Alaric, sayang... kau melakukan pekerjaan yang hebat dan terlihat sangat tampan di sana. Tapi jangan membuang energimu untuk memurnikan boneka-boneka rusak itu satu per satu, ya? Fokus saja pada pembendungan wilayah. Anggap mereka sebagai bad debts (kerugian macet) yang tidak perlu diselamatkan harganya. Pertahankan saja dinding itu sampai fajar tiba, mengerti?" ​Alaric yang mendengar suaraku langsung menegang di tengah medan pertempuran. Matanya yang jernih berkilat gila oleh rasa pengabdian yang fanatik karena diberi perhatian di tengah kepungan mayat hidup. Sambil menahan hantaman sihir hitam dari luar, ia berbisik ke udara kosong, "Apapun untukmu, Countess-ku... jiwaku, cahayaku, dan setiap tetes darahku adalah modal yang bi

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 43

    Layar proyeksi sistem yang menampilkan visualisasi pengawal perbatasan tanpa lidah itu akhirnya lenyap, berganti dengan kilatan matriks data yang terus memperbarui angka kerugian logistik di wilayah utara. Kamar kerja utama Paviliun Kekaisaran kini terasa seperti sebuah ruang kendali krisis di tengah malam yang buta. Udara yang semula pengap oleh aroma sisa keintiman magis antara aku dan Adrian, kini bertransformasi menjadi dingin dan kaku. ​Kehadiran Adrian di sisiku tidak lagi membawa kehangatan yang menenangkan, melainkan sebuah tekanan hawa panas yang menuntut pertumpahan darah. Pria raksasa itu berdiri bersedekap di samping meja basal hitam, matanya yang merah menyala menatap lurus ke peta proyeksi wilayah Whitmore. Urat-urat di lengan besarnya berdenyut kemerahan, melepaskan gelombang fluks elemen api yang berkali-kali menciptakan desis uap tipis saat berbenturan dengan h

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 42

    Aroma belerang dan sisa-sisa gairah yang membara di atas sofa kulit hitam Paviliun Kekaisaran tersapu bersih dalam sekejap, digantikan oleh hawa sedingin es yang merayap masuk dari celah jendela. Malam belum sepenuhnya larut, namun kegelapan yang menggantung di langit ibu kota terasa jauh lebih pekat dan berbobot daripada beberapa jam lalu. Di sudut pandangku, layar antarmuka sistem masih terus berkedip merah konstan, memantulkan cahaya neon digital yang kontras pada permukaan marmer ruangan yang gelap gulita. ​[PERINGATAN KRITIS: Jaringan Mana Distrik Utara Terkontaminasi.] [Laju Kerugian Logistik: Berjalan pada kecepatan 1,8% per menit.] [Rekomendasi: Isolasi total atau sistem akan mengalami defisit mana massal.] ​"Sialan," aku mengumpat pelan di dalam hati, buru-buru memungut gaun tidur sutra hitamku yang teronggok di lantai

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 41

    CRASH! ​Aku menjerit kencang, mendongakkan kepalaku ke belakang saat intinya yang sepanas bara api kembali menjajah pusat keintimanku yang masih sensitif pasca ritual semalam. Sensasinya begitu intens, cairan gairah dan sisa esensi yang tertahan di dalam rahimku seolah diaduk kembali oleh terjangan Elemen Api Adrian. ​Dinding rahimku terasa terbakar, namun rasa sakit itu segera berganti dengan kenikmatan intens yang memabukkan saat sistem di kepalaku mulai mencatat adanya aliran data mana yang masuk secara teratur. ​[Sistem: Sinkronisasi Elemen Api Dimulai.] [Kapasitas Api Meningkat: 50%... 55%... 60%] [Stabilisasi Wadah: Berjalan Optimal.] ​Adrian tidak memberiku waktu untuk bernapas. Ia mulai bergerak dari bawah dengan ritme yang cepat dan mendomina

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 2

    Tubuhku terasa seperti sedang dipanggang di atas bara api yang tak kasat mata. Setiap embusan napas yang keluar dari bibirku terasa panas, dan setiap inci kulitku mendambakan sentuhan dingin untuk meredakan gejolak ini.Kutukan Whitmore benar-benar bukan lelucon. Ini bukan sekadar n

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 1

    Sinar matahari pagi menembus jendela kaca patri kediaman Whitmore, memantulkan warna-warna pelangi di atas meja rias kayuku yang mahal. Aku sudah duduk di sini selama hampir dua jam. Jika di kehidupan nyataku sebagai Celestine aku hanya punya waktu lima menit untuk memakai pelembap sebelum lari me

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Prolog

    Dunia ini tidak adil. Kalimat itu adalah hal terakhir yang terlintas di benakku, Celestine Montclair. Saat tubuhku terlempar ke aspal yang keras. Suara decitan ban truk yang menghantamku masih terngiang, memekakkan telinga sebelum semuanya mendadak sunyi. Aku mati di usia 24 tahun hanya karena m

  • THE VILLAINESS FINAL EMBRACE   Bab 4

    Sore itu, cakrawala di atas ibu kota kekaisaran tampak terbakar. Warna langit berubah dari jingga menjadi ungu kemerahan yang pekat, persis seperti warna mataku di cermin saat kutukan ini mulai berdenyut. Tepat ketika aku sedang menyesuaikan napas untuk menahan gejolak panas di perut ba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status