LOGINDeinna Amalia is a walking daydream. Maganda, mabait, masunurin at higit sa lahat, masayahin. She grew up in a very loving home. Her Mama and Papa were loving parents. She spend her childhood and teenage years having her parents, and when her dad left her, it became to uneasy for her and for her family to recover. She's a very sentimental person. She also values marriage and love. She has her own principles. When a man suddenly came into her quiet life, her life changed. Craile Arvin , a known- businessman asks her for marriage. . . A business marriage. A marriage for the sake of his shares on their companies. No love involved; no affection at all. Sa pagdating niya sa buhay ni Amalia ay natutunan ng dalaga na maaari rin pala siyang umibig kahit na sa umpisa'y wala siyang nararamdaman para sa lalaki. She also learned the feeling of being hurt by someone you love. She learned that love is not always about the dreams; that love is also about nightmares. She's a walking daydream, but what if she's also a walking nightmare? Well, wether she's a dream or a nightmare, she'll be love by her man. “I'm a nightmare dressed like a daydream.“
View More“Aku ingin membatalkan pernikahan kita! Aku ingin putus!”
"Putus? Membatalkan pernikahan? Tapi kenapa?” tanya Lintang menatap sang kekasih. “Kamu memang berasal dari keluarga kaya raya, tapi aku juga wanita normal. Aku tidak ingin menikah dengan pria yang nantinya hanya akan memberikan aku penderitaan. Aku mau menjadi istri yang dilayani, bukannya pengasuh yang selalu setia dua puluh empat jam untuk pria seperti dirimu! Kamu itu membutuhkan perawat, bukan istri!” ketus sang kekasih, Stela. “Apa kamu yakin ingin mengakhiri hubungan kita?” tanya Lintang dengan suara berat. “Untuk apa aku berada disamping pria yang sebentar lagi bahkan tidak bisa bangun sendiri? Jangankan untuk bangun, bahkan untuk makan saja kamu nanti akan membutuhkan bantuan! Aku bukan gadis bodoh yang dibutakan oleh yang namanya cinta!” ‘Apa Stela akan melakukan hal yang sama kalau tahu penyakitku yang sebenarnya? Atau apa yang dikatakan ayah dan ibu benar, Stela akan mempercepat pernikahan itu?’ gumam Lintang. Ya! Selama ini Lintang menyembunyikan kondisi sebenarnya dari Stela. Stela hanya tahu, kalau Lintang menderita penyakit langka. Stela sama sekali tidak tahu, kalau dia menderita sirosis hati stadium akhir. “Apa kau sudah menemukan lelaki penggantiku? Apakah dia pria yang baik?” tanya Lintang berusaha keras menahan rasa perih di hatinya. “Kamu tidak perlu mengkhawatirkan diriku, khawatirkan saja dirimu sendiri! Dia pria yang baik, tampan, dan mapan. Satu hal yang pasti, dia berbeda denganmu, karena dia tidak akan menjadi beban untukku kelak. Hanya saja aku masih punya rasa kemanusiaan, aku ingin mengakhiri hubungan yang lama, sebelum memulai hubungan yang baru. Aku ke sini hanya ingin resmi putus darimu, juga membatalkan pernikahan kita. Orang tuaku juga sudah tahu!” “Kalau itu membuatmu bahagia, aku ikhlas,” jawab Lintang menatap kekasihnya dengan perasaan hancur. Walaupun ikhlas tapi Lintang sama sekali tak membayangkan kalau rasanya akan sesakit ini. Dilahirkan dari pasangan suami istri yang hidupnya serba berkelebihan, membuat Lintang selalu mendapatkan apa yang diinginkannya dengan uang. Namun, matanya kini terbuka lebar. Tak semua bisa diselesaikan dengan uang. Terutama nyawa seseorang. “Seandainya umurku tinggal menghitung hari, bersediakah kau menikah denganku?” tanya Lintang. “Kalau memang umurmu tinggal menghitung hari, maka aku bersedia menikahimu sekarang juga, agar warisan mu akan menjadi milikku seutuhnya. Sayangnya, sebelum ke sini aku telah menemui dokter terlebih dahulu. Usiamu bisa bertahan sampai enam puluh tahun dan selama itu juga kau akan di kursi roda. Bukan hanya itu, kau juga memerlukan biaya pengobatan yang tidak sedikit!” ketus Stela kesal. “Aku tidak berbohong, Stela. Usiaku tinggal menghitung hari, aku sekarat. Apakah kau mau menemaniku sampai ajal menjemputku?” mohon Lintang. “Aku bukan wanita bodoh, Lintang. Aku ingin melangkah di altar penikahan, aku ingin diteguhkan selayaknya pernikahan pada umumnya. Aku ingin resepsi yang megah. Bukannya menikah sambil mendorong kursi roda!” ketus Stela benar-benar marah. Lintang memukul kepalanya pelan. Astaga … ada apa denganku? Kenapa aku bersikap egois? Bukankah ini lah yang aku inginkan? Stela bisa melupakan aku dan memulai hidup baru tanpa adanya penyesalan. Melihatmu seperti ini, maka tak ada penyesalan lagi dalam hidupku. “Stela.” Stela memutar badannya menatap Lintang dan berbicara dengan ketus, “Seberapa keras kamu memohon untuk tetap di sisimu, sekeras itu juga aku akan pergi dari hidupmu! Setidaknya sadar diri itu perlu, Lintang. Kau sama sekali tak layak untukku!” “Selamat memulai hidup baru, semoga kau selalu bahagia. Ini hadiah untukmu, terima kasih pernah menjadi bagian dari hari-hariku,” ujar Lintang menyodorkan kotak segi empat. Melihat kotak perhiasan, Stela langsung saja berjalan dengan cepat dan membuka isinya. “Kalung Berlian?” Stela terkejut sambil memperhatikannya dengan teliti. Kini dia yakin itu berlian asli dengan nilai fantastis. Lintang tersenyum bahagia melihat mantan kekasihnya kegirangan. Berlian yang seharusnya menjadi hadiah pernikahan mereka, akhirnya diberikan begitu saja oleh Lintang sebagai kado perpisahan. “Terima kasih,” ujar Stela dan langsung meninggalkan ruangan itu. Lintang menatap kepergian mantan kekasihnya sampai menghilang dari padangan mata. Dia tahu Stela tidak akan percaya kalau usianya tinggal menghitung hari, karena sebelumnya dia sendiri yang meminta dokter untuk merahasiakan kondisi sesungguhnya dari Stela. Stela bukanlah orang biasa, tapi dia adalah putri bungsu dari salah satu keluarga konglomerat di kota itu. Selang beberapa menit setelah kepergian Stela. Orangtua Lintang datang menemuinya. “Bagaimana kondisimu, Nak? Mana yang sakit?” tanya sang ibu menatap putranya. Walaupun hatinya sakit tapi dia berusaha keras untuk tegar. Lintang tersenyum lirih. Haruskah aku jujur, sekarang hatiku terasa sakit? Benar-benar sakit. Rasanya seperti ada pisau tajam yang baru saja dihunuskan oleh orang yang aku cintai. “Tetaplah semangat, Nak. Ayah tidak pernah berhenti mencari pendonor untukmu, jadi jangan menyerah. Anak buah ayah bahkan mencari sampai di rumah sakit kecil,” ujar sang ayah berusaha untuk kuat. “Aku tidak ingin di operasi, Yah, Bu,” ujar Lintang putus asa. “Tidak! Kau harus di operasi!” tegas sang ibu berusaha keras menahan air matanya agar tidak jatuh. “Untuk apa, Bu? Bukankah sudah jelas hidupku tidak akan lama lagi. Aku ingin ayah dan ibu menemaniku, itu saja.” Meskipun marah dengan keputusan Lintang, tapi mengingat kondisi sang anak, wanita paruh baya itu memegang telapak tangan Lintang dan berkata dengan lembut, “Apa semua ini karena Stela? Lupakan Stela, Nak. Bertahan hidup lah demi kami, orang tuamu.” Sesungguhnya yang Lintang lakukan semua demi orang tuanya, bukan Stela. Dia hanya tidak ingin menjadi beban bagi ayah dan ibunya. Berat badan ayah dan ibunya yang terus menurun karena kelelahan mencari donor, membuat tubuh mereka menjadi lemah dan terlihat lebih tua dari seusianya. Namun, Lintang sadar tak mudah membuat ayah dan ibunya menyerah dengan kondisinya. “Lintang ingin menikah dengan gadis cantik, asal usul yang jelas, terutama bukan dari kalangan kelas bawah. Minimal gadis itu memiliki pekerjaan, seorang manager sebuah Perusahaan besar juga tidak masalah,” kata Lintang tak masuk akal. Pasangan suami istri itu terkejut mendengar permintaan yang tidak masuk akal dari anak tunggalnya. Bagi mereka menikahkan Lintang dengan gadis cantik bukanlah hal yang sulit, karena mereka mempunyai banyak uang untuk membayar orang. Namun, jika persyaratannya seperti itu, jelas-jelas mustahil. Tidak mungkin ada wanita yang berasal dari kalangan kelas atas yang bersedia menikahi lelaki yang hidupnya tidak jelas. Mereka tidak akan pernah mau menyandang status janda. Lintang tertawa pelan, “Bukankah ayah dan ibu tidak yakin bisa mendapatkan wanita seperti itu? Jadi lupakan saja, Yah, Bu. Ikhlaskan aku jika kelak pergi.” Perkataan Lintang seperti pisau tajam yang menancap tepat mengenai jantung sang ibu, hingga mengeluarkan darah tak terlihat. Kamu bertanya adakah yang bersedia mengorbankan nyawa untuk kelangsungan hidupmu? Ada. Kami orang tuamu, Lintang. Tapi apa yang bisa kami lakukan ketika hasil tes justru menyatakan kalau ayah dan ibu sama-sama tidak bisa menjadi pendonor untukmu? “Kenapa diam? Bukankah ibu sendiri tidak bisa memberikan jawaban?” ujar Lintang memejamkan mata.Napangiti naman siya sa sinabi ko. Nagulat ako ng may bigla siyang kunin sa likod ng kaniyang sasakyan.Napapiksi ako ng bigla niyang hawakan ang aking kamay at kuhanin ang isang singsing na mula sa isang itim at maliit na kahon.Wow, the ring is so beautiful! It has diamonds on its edge. It also has a swan carved in the middle. I think, the swan was made out of diamonds as well. Bakit may singsing agad siya? Hindi ba mahal ito? B-Bakit ganito kaganda ang binili niya? Okay lang naman sa akin ang mumurahin lalo na't peke naman itong kasal.Pumayag lang ako sa gusto niya dahil kailangan ko ng pera. Medyo tumatanda na kasi si Mama at gusto ko na siyang patigilin sa pagtatrabaho.Malaki ang kinikita ko sa trabaho ko pero hindi iyon sapat para sa aming tatlo.Ang makulit kong Mama ay nagtetake na ng maintenance niya samantalang si Miro naman ay malapit nang pumasok sa Senior High. May binabayaran pa rin kaming renta at nangangamba ako na kapusin kami sa budget dahil medyo matumal ang mg
“My leave had passed! Back to work na ulit!” sigaw ko noong nakagising na ako.Hayy, here we go again. Andito na naman tayo sa punto ng buhay natin na gusto na naman natin ng leave. Charr.Dali-dali akong lumabas ng kuwarto ko upang magluto ng agahan. Alas kuwatro na ngayon ng umaga at alam kong kailangan ko nang gawin ang obligasyon ko sa umaga.Agad-agad akong nagsaing pagkatapos ay nagluto ng 3 hotdog. Nagpainit din ako ng tubig dahil alam kong magkakape si Miro at si Mama mamaya. Pagkatapos kong magluto ay agad-agad kong ginising si Mama at Miro para kumain ng almusal.Alas singko na kasi ngayon at alam kong may pasok pa si Miro. Medyo traffic pa naman kaya't kailngan niyang gumising ng maaga. Alas siyete kasi ang oras ng klase nila.“Miro! Gumising ka na, may pasok ka pa.“ malakas kong sigaw sa kaniya.Tulog-mantika rin kasi ang isang ito at kailangang lagi pang sigawan para bumangon.Nakita ko namang hindi pa siya umiibo. Aba! “ALMIRO CREIVEN! Tanghali na, bumangon ka na riyan
Ginugol ko ang isang araw kong leave sa pagtulong sa pagtitinda ng mga gulay sa aming maliit na puwesto sa may palengke.Noong bata pa ako, all I ever dreamed was for our family to have a comfortable life. All I ever dreamed was for my parents to live an easy and stress-free life. Pangarap ko ring makapagtapos ng pag-aaral para matulungan ko sila. Sa mura kong edad, ay mayroon na akong mga priorities sa buhay.Sinabi ko noon na kapag nakapagtapos ako ng pag-aaral ay madali na lang ang yumaman at makapagtrabaho, pero ngayong nakatapos na ako, mali pala lahat ng iyon.I'm a college graduate pero aminado akong nahirapan ako sa pag-aapply sa iba't ibang mga kompanya.Biruin mo 'yon, college graduate ako tapos nag-apply akong maging dishwasher sa isang kainan? At ang masaklap pa, hindi rin ako natanggap kasi marami na raw silang empleyado.Naisipan ko pa ngang mag-abroad na lang ngunit ng naalala kong 14 years old pa lang ang kapatid ko at may edad na si Mama ay hindi ko na itinuloy.Ayaw
“Uhm, Sir! Pwede po bang pag-isipan ko muna? Medyo nakakaloka naman po kasi 'yong offer niyo! Medyo nahihilo pa po ako sa mga nangyayari!“ wika ko habang sapo-sapo ang aking noo. Nagulat naman ako ng bigla niyang hawakan ang aking kamay.“Are you okay? May masakit ba sa'yo?“ wika niya. He looks so concern and affected.Luh? Nagd-drama lang naman ako eh. Chozz“Ah. . . Eh. . . Okay lang po ako Sir! Medyo nahilo lang po ako sa mga sinabi niyo. Kagigising ko lang po eh, medyo wala pa po ako sa tamang wisyo tapos bigla-bigla na lang po kayong nanggugulat gamit 'yang marriage contract na 'yan. Hehe“ wika ko.Totoo naman kasing nakakagulat ang mga sinabi niya!Kapag ikaw ba inalok ng kasal, tas hindi mo naman boyfriend, hindi ka ba mabibigla?Nakita ko namang parang medyo na-guilty siya sa ginawa niya.“Uhm, sorry. Pasensya na kung nabigla kita. I'ts just. . . It's just urgent.“ wika niya.Urgent? Atat na atat na ba siyang mag-asawa?“Urgent po? Bakit po? Ganoon na po ba kayo kadesperado






Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.