LOGINAlya dikhianati dan meninggal, lalu jiwanya masuk ke tubuh Alya Adiputra, istri yang tidak dicintai. Di keluarga yang sedingin es, hanya Ibu Rani yang menganggapnya menantu. Tapi kenapa foto mendiang ibu Rayhan ada di kotak kayu milik ayahnya? Dan mampukah Alya bertahan saat suaminya sendiri yang paling membencinya?
View MoreNamaku Alya Pramudita. Umur 21 tahun. Mahasiswi semester akhir.
Hidupku membosankan. IPK pas-pasan, kerja part-time di cafe untuk bayar kos. Satu-satunya pelarianku adalah membaca novel di GoodNovel di sela skripsi. Novel favoritku minggu ini berjudul "Cinta Mafia Untuk Sang Pengganti". Tentang Bos Mafia bernama Rayhan Adiputra. Umur 28 tahun, ganteng, kaya raya, tapi hatinya sedingin es. Dia dipaksa menikah dengan wanita bernama Alya juga. Kebetulan namanya sama denganku. Alya di novel itu manja, bodoh, dan matre. Dia menikah karena dijodohkan. Rayhan sangat membencinya. Di novel itu, Alya mati tragis di Bab 10. Dibunuh oleh selingkuhan Rayhan, Clarissa, model cantik. Rayhan bahkan tidak menangis, dia hanya berkata, "Buang saja mayatnya." Siang itu, 15 September. Hujan deras. Aku baru selesai shift di cafe dan berlari sambil membaca Bab 10 di HP. Mataku fokus di layar. Aku tidak melihat truk yang melaju kencang dari kanan. "ALYA AWAS!" BRUKKK!!! Sakit. Gelap. Darah hangat mengalir. Yang kupikirkan hanya, "Skripsiku belum selesai." Lalu semuanya gelap. Aku pikir aku sudah mati. Tapi tidak. Aku merasakan kasur empuk dan wangi. Aku mencium aroma disinfektan bercampur parfum mahal. Pelan-pelan aku membuka mata. Langit-langit mewah dengan lampu kristal raksasa. Ini bukan kosanku yang tripleknya bolong. "Akh..." Suara yang keluar bukan suaraku. Lebih lembut. Aku menoleh ke jendela. Di pantulan kaca ada bayanganku. Aku membeku. Wanita itu bukan aku. Wajahnya sangat cantik, kulit putih mulus, rambut panjang bergelombang, memakai gaun tidur sutra putih mahal. Tapi matanya sembab dan di lehernya ada bekas lebam. Ini wajah Alya di novel! Seorang pria tinggi besar masuk. Dia memakai jas hitam yang rapi, kemejanya terbuka dua kancing di atas memperlihatkan dadanya yang bidang. Wajahnya... ya Tuhan. Wajahnya adalah wajah Rayhan Adiputra. Bos Mafia kejam itu. Tampan. Sangat tampan. Tapi sorot matanya... sorot matanya penuh dengan kebencian yang begitu dalam, seolah-olah dia ingin membunuhku saat ini juga. "Kamu sudah bangun, Nyonya?" Suaranya berat dan dingin. Aku menggeleng panik. "Bu... bukan... aku tidak..." Dia berjalan mendekatiku dengan langkah yang pelan tapi mengancam. Setiap langkahnya membuat lantai kayu berderit pelan. Rayhan menyipitkan mata. "Kamu berbeda. Alya yang dulu kalau bangun pasti menangis histeris dan memohon. Tapi tatapanmu... seperti orang lain. Jelaskan." Jantungku berhenti. Dia menyadarinya! Dengan otakku yang 21 tahun, aku berusaha tenang. "Kalau aku memang berbeda, kenapa? Kamu keberatan, Tuan Rayhan?" Rayhan tertegun. Untuk pertama kalinya istrinya berani menatap balik. "Menarik," gumamnya. Ada ketertarikan aneh di wajahnya. "Besok Ibu akan datang. Ibu selalu membelamu, jadi jangan buat drama lagi. Mengerti?" Suaranya berat dan dingin. Lebih dingin dari es batu."Aku sudah bilang berkali-kali. Jangan pernah mencoba bunuh diri lagi untuk mencari perhatianku. Itu menjijikkan." Rayhan menatapku dari atas ke bawah dengan tatapan jijik. "Lihat dirimu yang cengeng seperti drama queen kamu pikir dengan menangis seperti itu aku akan kasihan padamu? Dengarkan aku baik-baik, Alya Pramudita." Bunuh diri? Alya di novel memang pernah mencoba bunuh diri di Bab 3 karena Rayhan tidak pulang selama seminggu. Dia membungkuk, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajahku. Aku bisa mencium aroma parfum mahalnya yang maskulin, bercampur dengan aroma rokok yang samar. Dia meletakkan amplop coklat di atas kasur. Isinya foto-foto dia memeluk mesra Clarissa. "Di luar kamu tetap istriku di atas kertas Jangan sentuh barang-barangku. Mulai besok, pindah ke gudang belakang. Aku tidak mau melihat wajahmu di kamar utama ini lagi." Dia berbalik dan pergi. Pintu tertutup pelan. Aku memeluk lututku. Realita menghantamku. Aku, Alya 21 tahun, sudah mati dan jiwaku masuk ke tubuh istri mafia. Dan aku ingat jelas, aku akan mati di Bab 10 dibunuh Clarissa. Tidak. Aku tidak mau mati lagi. Aku menghapus air mataku dan menatap cermin. "Dengar ya, Alya. Mulai hari ini aku yang akan mengendalikan tubuh ini. Aku tidak akan jadi istri cengeng lagi. Aku akan bertahan hidup." Di luar jendela, hujan masih deras. Dari lantai bawah, aku mendengar tawa wanita. Clarissa sudah datang. Aku menoleh ke pintu yang terbuka sedikit. Dari celahnya, aku melihat Rayhan belum pergi. Dia berdiri di luar, diam-diam mengawasiku sambil menelpon seseorang. "Selidiki istriku. Alya yang sekarang bukan Alya yang dulu." --- Setiap kata-katanya seperti pisau yang menusuk jantungku. Sakitnya luar biasa. Jadi ini rasanya menjadi Alya. Aku ditinggalkan sendirian di kamar yang luas dan dingin itu. Hanya suara isak tangisku yang terdengar. Tidak. Aku tidak mau mati lagi. Aku baru saja mati sekali, rasanya sangat sakit dan menakutkan. Aku tidak mau mati untuk kedua kalinya dengan cara yang lebih tragis. Aku menghapus air mataku dengan kasar. Oke, Alya. Berpikir. Kamu seorang mahasiswa dari baca novel Kamu tahu semua alur cerita ini. Kamu tahu semua kelemahan Rayhan. Kamu tahu kapan Clarissa akan datang. Kamu tahu segalanya. Kalau Alya yang asli bodoh dan hanya bisa menangis dan mengejar cinta Rayhan, maka aku tidak akan seperti itu. Tujuanku sekarang bukan untuk membuat Rayhan mencintaiku. Tujuanku adalah satu: BERTAHAN HIDUP. Aku harus kabur dari rumah neraka ini sebelum Bab 10 tiba. Aku turun dari kasur dengan kaki yang masih gemetar. Aku berjalan ke arah cermin besar di sudut kamar. Kulihat wajah cantik itu. Wajah yang akan mati sia-sia kalau aku tidak melakukan apa-apa. Aku menatap pantulan diriku sendiri dan berkata dengan suara pelan tapi penuh tekad. "Dengar ya, Alya. Mulai hari ini, aku yang akan mengendalikan tubuh ini. Aku tidak akan menjadi istri bodoh yang cengeng lagi. Aku akan menjadi istri yang akan membuat mafia kejam itu berlutut."Aku bangun jam 5 pagi bukan karena alarm, tapi karena bau jahe menyengat dari dapur. Bukan bau jahe baru direbus, tapi bau sisa rebusan semalam.Semalam jam 11 malam, setelah kami tempel Kontrak Versi 2 di kulkas, Bunda Ratna tidak bisa tidur dan bikin teh jahe sendiri. Panci bekas rebusannya tidak dicuci, masih nangkring di kompor. Aroma jahe keringnya masih nempel, naik ke kamar atas karena ventilasi dapur kami langsung ke tangga.Makanya hidungku yang sensitif langsung kebangun. Dari kecil memang begitu, kena uap jahe saja langsung bentol.Aku raba sebelahku, kosong. Rayhan sudah tidak ada di kasur. Tapi selimutnya masih hangat dan di gantungan pintu kamar mandi handuknya masih basah. Berarti dia sudah mandi subuh.Di atas bantal ada post-it kuning, tulisan jeleknya:_Jam 5 sore ingat pakai sarung tangan pink. - Mas Mafia_Aku senyum sendiri. Padahal baru 8 jam lalu kami tanda tangan Kontrak Seumur Hidup.Aku turun ke dapur. Bunda Ratna sudah duduk pakai daster bunga di meja makan,
Malam itu setelah perang pelabuhan dimulai, aku dan Rayhan belum tidur. Bunda Ratna sudah tidur. Rayhan membuka laci dan mengeluarkan map hitam Kontrak Pernikahan Versi 1. "Alya, Kontrak Versi 1 habis besok. Tepat 1 tahun." Aku diam. Kontrak itu isinya: Nikah 1 tahun lalu cerai. Dulu aku senang, sekarang aku tidak mau. Rayhan sobek Kontrak Versi 1 di depanku. "Mas...?" Aku kaget. "Aku tidak mau cerai," katanya. "Bunda bilang mata bengkak tidak boleh." Dia keluarkan map baru. Map merah. Tulis tangan jelek tapi niat. Aku buka. Isinya sudah aku revisi karena aku alergi jahe: _KONTRAK PERNIKAHAN VERSI 2 - RAYHAN & ALYA_ _Berlaku: Seumur Hidup_ _Pasal 1: Tidak ada kata cerai. Kalau berantem, yang kalah harus buatin teh jahe untuk Bunda & Rayhan. Yang menang harus temenin minum. Kecuali Alya, karena Alya alergi jahe, jadi Alya cukup buatin, tidak wajib minum._ _Pasal 2: Bunda Ratna adalah ibu kandung kita berdua. Bukan ibu tiri. Wajib hormat, wajib pijitin kalau capek arisan.
Setelah Rayhan bilang foto itu editan AI murahan, Bunda masih berdiri di depan kamar. Wajahnya merah antara malu dan marah."Maafkan Bunda, Alya..." Bunda akhirnya berkata pelan. "Bunda langsung percaya foto dari Clarissa."Itu pertama kalinya dalam setahun Bunda minta maaf.Aku mengangguk sambil nangis, "Tidak apa-apa, Bun..."Setelah Bunda hapus foto dari grup arisan, dia tidak langsung pergi. Dia berdiri lebih lama di depan pintu, meremas ujung kebayanya."Alya... ikut Bunda sebentar ke kamar Bunda. Ada sesuatu yang harusnya Bunda kasih dari 10 tahun lalu."Aku ikut Bunda ke kamar utamanya yang selama ini terkunci.Bunda membuka lemari besi kecil dan mengeluarkan kotak kayu jati yang sudah tua. Di atasnya tertulis:_Untuk Alya - Dari Ayah - Titip Bunda Ratna_Tanganku gemetar. Itu tulisan tangan Ayahku. Hendra Pramudita."Buka," kata Bunda.Aku buka kotak itu. Di dalamnya ada surat menguning, foto Ayah menggendong aku umur 3 tahun, dan sebuah flashdisk.Aku baca suratnya:_Alya say
Setelah kalimat "50 juta" dari Rayhan, satu ballroom berbisik.Clarissa berdiri kaku. Senyumnya dipaksakan."Rayhan, kamu bercanda ya," katanya. "Alya, sini peluk. Aku kangen."Aku mundur selangkah. Aku tahu dari novel asli, ini jebakan pelukan."Maaf, Kak Clarissa, gaunku takut kotor," jawabku pelan.Clarissa memberi kode ke pelayan di belakangku. Pelayan itu maju membawa nampan wine merah dan sengaja menabrakku.Aku sudah siap. Aku menarik gaunku dan menghindar.BYUR!Wine itu tidak kena gaunku, tapi kena gaun merah Clarissa sendiri!"Gaunku! Gaunku 80 juta!" jerit Clarissa. "Kamu bodoh! Matamu di mana!"Itu kesalahan besar. Bunda Adiputra yang dari tadi diam akhirnya bersuara, "Clarissa, jaga bicara kamu. Pelayan di sini bukan untuk kamu bentak."Clarissa malu. Dia mengambil gelas wine satunya dan mendekatiku."Alya, sini biar aku bersihkan..."Aku memejamkan mata. Tapi Rayhan bergerak lebih cepat.Sebelum wine itu kena gaunku, Rayhan mengambil botol wine utuh dari meja dan...BYU
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.