Share

BAB 4 VIDEO TERLARANG

Author: Incik
last update publish date: 2026-09-16 14:59:35

_"Rayhan, maafkan Mama harus meninggalkanmu..."_

Suara wanita di video itu bergetar. Tangannya mengelus bayi kecil di gendongannya dengan penuh cinta.

Rayhan membeku di depan laptop. Wajahnya yang biasanya dingin dan datar, kini pucat. Rahangnya mengeras.

Aku menahan napas. Aku tidak menyangka isi USB itu adalah video, bukan dokumen saham seperti yang dikatakan spoiler di kolom komentar novel yang kubaca dulu

Video itu berlanjut. Wanita itu menatap ke kamera, air matanya jatuh.

_"Jika kamu melihat video ini, berarti Ayahmu sudah berbohong padamu selama 20 tahun. Mama tidak selingkuh, Nak. Mama dipaksa pergi karena Mama tahu rahasia busuk keluarga Adiputra. Ayahmu dan keluarga Pramudita... mereka..."_

Srett!

Rayhan langsung menutup laptop dengan kasar. Nafasnya memburu.

"Dari mana ayahmu dapat video ini?" tanyanya dengan suara rendah, nyaris berbisik. Tapi aku tahu, dia sedang menahan amarah yang sangat besar.

Aku menggeleng pelan. "Aku tidak tahu, Mas. Kotak itu... ayahku bilang jangan pernah buka sebelum benar-benar terdesak. Aku baru menemukannya hari ini di paviliun."

Rayhan menatapku lama. Matanya merah.

Selama 6 bulan pernikahan, Alya yang lama selalu melihat Rayhan sebagai monster. Tapi kali ini, aku melihatnya sebagai anak kecil yang baru tahu ibunya tidak pernah meninggalkannya.

Tanpa sadar, aku melangkah mendekat. "Mas..."

"Jangan sentuh aku," potongnya dingin. Dia memunggungiku. "Keluar."

Aku tertegun. "Mas?"

"KELUAR! KEMBALI KE PAVILIUN!" bentaknya. Bukan bentakan benci padaku, tapi bentakan orang yang terluka.

Aku tidak membantah. Aku keluar dari ruang kerja dengan cepat. Di belakangku, kudengar suara barang dibanting dari dalam ruang kerja.

Aku kembali ke paviliun dengan jantung berdebar. Aku duduk di atas ranjang single dan memeluk lututku. Kotak kayu itu sudah kosong, isinya ada di meja Rayhan. USB, dokumen saham 30% Pramudita Group, dan foto itu.

Apa yang harus aku lakukan sekarang?

Tok... tok...

Pintu paviliun diketuk lagi. Ibu Rani masuk dengan wajah cemas membawa sup hangat.

"Nak Alya, Ibu dengar suara bentakan dari ruang kerja. Rayhan marah padamu lagi?" tanyanya sambil duduk di sampingku.

Aku menggeleng. "Tidak, Bu. Dia tidak marah pada saya."

Ibu Rani mengelus rambutku. "Rayhan itu memang begitu kalau sedang ada masalah dengan ayahnya. Kamu jangan takut. Ibu yang akan selalu membelamu di rumah ini. Tadi Ibu sudah kunci pagar depan, Clarissa tidak akan bisa masuk lagi tanpa izin Ibu."

Aku hampir menangis mendengar itu. Ibu mertua ini benar-benar malaikat penjagaku.

"Terima kasih, Bu."

Malam harinya, aku tidak bisa tidur. Paviliun terasa dingin.

Tiba-tiba, selimut tebal dilemparkan dari luar jendela paviliun ke atas tempat tidurku. Aku kaget dan melihat keluar.

Rayhan berdiri di taman, dalam kegelapan, masih dengan kemeja hitamnya yang berantakan. Dia tidak masuk. Dia hanya berdiri di sana menatapku dari jauh.

"Di paviliun dingin. Pakai itu," katanya pelan, suaranya terdengar dari luar jendela. "Dan mulai besok, kamu pindah kembali ke kamar utama. Paviliun ini tidak layak untuk Nyonya rumah."

Aku terpana. Kemarin dia yang mengusirku ke sini. Hari ini dia yang menyuruhku kembali?

"Kenapa, Mas?"

Rayhan menatapku lama. Tatapannya bukan lagi tatapan penyidik, tapi tatapan yang lebih dalam.

"Karena mulai hari ini, kamu tidak aman di paviliun. Clarissa... dia bukan wanita biasa. Dia bisa menyakitimu. Dan karena..." Dia berhenti sejenak.

"Karena kamu adalah satu-satunya orang yang tahu kebenaran tentang ibuku. Jadi aku harus menjagamu tetap hidup."

Tanpa berpikir panjang, aku membuka pintu paviliun dan membawa segelas teh jahe yang baru kubuat. Sisa jahe dari sore tadi masih ada.

"Mas," panggilku pelan.

Rayhan menoleh, terkejut aku keluar.

Rayhan menatap gelas itu, lalu menatapku. Untuk pertama kalinya, tidak ada tatapan curiga. Hanya lelah.

Dia mengambil gelas itu. Jari kami bersentuhan sekilas. hangat.

"Kenapa kamu masih peduli padaku setelah aku bentak?" tanya Rayhan pelan. Suaranya serak.

Aku tersenyum kecil. "Karena Mas tadi bukan membentakku karena benci. Mas membentakku karena Mas terluka. Aku bisa bedakan, Mas. "

Rayhan terdiam mendengar jawabanku. Lalu... dia tertawa kecil. Tawa pertama yang kudengar darinya sejak aku menikah dengannya.

"Alya ku yang dulu bahkan tidak tahu cara membaca laporan keuangan dan sekarang kamu bisa menebak perasaanku."

Dia menyeruput teh jahe ku. Perlahan.

"Teh jahe mu enak. Ibu benar. Ini sama persis seperti buatan ibuku dulu. Mungkin... mungkin takdir memang sengaja menukar Alya yang dulu dengan kamu untuk mengingatkanku pada Ibu."

Deg! Aku panik. Apakah dia tahu aku bukan Alya yang asli?

"Tidurlah, Alya. Besok pengacara akan datang. Kita urus saham 30% itu. Itu hakmu. Tidak ada lagi yang bisa bilang kamu hanya numpang nama sebagai istriku. Kamu adalah pemilik. Dan mulai besok, tidak ada lagi yang boleh mengusirmu ke paviliun. Termasuk aku."

Dia meletakkan gelas kosong di atas pagar taman dan pergi. Punggungnya yang lebar terlihat begitu kesepian di bawah lampu taman.

Dia berbalik dan pergi.

Aku kembali ke paviliun dengan senyum yang tidak bisa kutahan. Langkah pertama berhasil. Rayhan mulai melindungi.

Aku memeluk selimut itu erat-erat. Jantungku berdebar kencang. Bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang lain.

Bahaya. Ini berbahaya. Aku mulai melanggar misi keduaku.

Jangan jatuh cinta pada Rayhan Adiputra.

Di saat yang sama, di luar gerbang besar rumah Adiputra, Clarissa sedang menatap paviliun dari dalam mobilnya. Matanya penuh kebencian. Di tangannya, ada sebuah foto.

Foto aku dan Rayhan di ruang kerja tadi. Seseorang telah memotret kami dari luar jendela.

Clarissa tersenyum miring dan menelpon seseorang.

"Halo, Ayah. Rencana kita gagal. Rayhan malah membela Alya. Kita pakai rencana ini. Sebarkan foto ini ke media. Buat judul: Istri Mafia Selingkuh Dengan Sopir."

Ponsel butut yang kutinggalkan di paviliun bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal, dengan sebuah foto.

Foto aku dan Rayhan di taman barusan, saat kami berdua memegang gelas teh jahe dan jari kami bersentuhan. Foto itu diambil dari luar pagar dengan zoom yang sangat jauh.

Di bawah foto itu ada tulisan:

_" Alya Pramudita. Besok pagi, seluruh Indonesia akan melihat foto ini dengan judul: ISTRI PENGUSAHA MUDA SELINGKUH DENGAN TUKANG KEBUN KARENA TIDAK DIBERI NAFKAH. - C"_

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TRANSMIGRASI MENJADI ISTRI MAFIA KEJAM    BAB 13 SARUNG TANGAN PINK

    Aku bangun jam 5 pagi bukan karena alarm, tapi karena bau jahe menyengat dari dapur. Bukan bau jahe baru direbus, tapi bau sisa rebusan semalam.Semalam jam 11 malam, setelah kami tempel Kontrak Versi 2 di kulkas, Bunda Ratna tidak bisa tidur dan bikin teh jahe sendiri. Panci bekas rebusannya tidak dicuci, masih nangkring di kompor. Aroma jahe keringnya masih nempel, naik ke kamar atas karena ventilasi dapur kami langsung ke tangga.Makanya hidungku yang sensitif langsung kebangun. Dari kecil memang begitu, kena uap jahe saja langsung bentol.Aku raba sebelahku, kosong. Rayhan sudah tidak ada di kasur. Tapi selimutnya masih hangat dan di gantungan pintu kamar mandi handuknya masih basah. Berarti dia sudah mandi subuh.Di atas bantal ada post-it kuning, tulisan jeleknya:_Jam 5 sore ingat pakai sarung tangan pink. - Mas Mafia_Aku senyum sendiri. Padahal baru 8 jam lalu kami tanda tangan Kontrak Seumur Hidup.Aku turun ke dapur. Bunda Ratna sudah duduk pakai daster bunga di meja makan,

  • TRANSMIGRASI MENJADI ISTRI MAFIA KEJAM    BAB 12 KONTRAK VERSI 2 (TIDAK ADA CERAI)

    Malam itu setelah perang pelabuhan dimulai, aku dan Rayhan belum tidur. Bunda Ratna sudah tidur. Rayhan membuka laci dan mengeluarkan map hitam Kontrak Pernikahan Versi 1. "Alya, Kontrak Versi 1 habis besok. Tepat 1 tahun." Aku diam. Kontrak itu isinya: Nikah 1 tahun lalu cerai. Dulu aku senang, sekarang aku tidak mau. Rayhan sobek Kontrak Versi 1 di depanku. "Mas...?" Aku kaget. "Aku tidak mau cerai," katanya. "Bunda bilang mata bengkak tidak boleh." Dia keluarkan map baru. Map merah. Tulis tangan jelek tapi niat. Aku buka. Isinya sudah aku revisi karena aku alergi jahe: _KONTRAK PERNIKAHAN VERSI 2 - RAYHAN & ALYA_ _Berlaku: Seumur Hidup_ _Pasal 1: Tidak ada kata cerai. Kalau berantem, yang kalah harus buatin teh jahe untuk Bunda & Rayhan. Yang menang harus temenin minum. Kecuali Alya, karena Alya alergi jahe, jadi Alya cukup buatin, tidak wajib minum._ _Pasal 2: Bunda Ratna adalah ibu kandung kita berdua. Bukan ibu tiri. Wajib hormat, wajib pijitin kalau capek arisan.

  • TRANSMIGRASI MENJADI ISTRI MAFIA KEJAM    BAB 11 BUNDA MINTA MAAF & KOTAK WASIAT

    Setelah Rayhan bilang foto itu editan AI murahan, Bunda masih berdiri di depan kamar. Wajahnya merah antara malu dan marah."Maafkan Bunda, Alya..." Bunda akhirnya berkata pelan. "Bunda langsung percaya foto dari Clarissa."Itu pertama kalinya dalam setahun Bunda minta maaf.Aku mengangguk sambil nangis, "Tidak apa-apa, Bun..."Setelah Bunda hapus foto dari grup arisan, dia tidak langsung pergi. Dia berdiri lebih lama di depan pintu, meremas ujung kebayanya."Alya... ikut Bunda sebentar ke kamar Bunda. Ada sesuatu yang harusnya Bunda kasih dari 10 tahun lalu."Aku ikut Bunda ke kamar utamanya yang selama ini terkunci.Bunda membuka lemari besi kecil dan mengeluarkan kotak kayu jati yang sudah tua. Di atasnya tertulis:_Untuk Alya - Dari Ayah - Titip Bunda Ratna_Tanganku gemetar. Itu tulisan tangan Ayahku. Hendra Pramudita."Buka," kata Bunda.Aku buka kotak itu. Di dalamnya ada surat menguning, foto Ayah menggendong aku umur 3 tahun, dan sebuah flashdisk.Aku baca suratnya:_Alya say

  • TRANSMIGRASI MENJADI ISTRI MAFIA KEJAM    BAB 10 SIRAMAN WINE

    Setelah kalimat "50 juta" dari Rayhan, satu ballroom berbisik.Clarissa berdiri kaku. Senyumnya dipaksakan."Rayhan, kamu bercanda ya," katanya. "Alya, sini peluk. Aku kangen."Aku mundur selangkah. Aku tahu dari novel asli, ini jebakan pelukan."Maaf, Kak Clarissa, gaunku takut kotor," jawabku pelan.Clarissa memberi kode ke pelayan di belakangku. Pelayan itu maju membawa nampan wine merah dan sengaja menabrakku.Aku sudah siap. Aku menarik gaunku dan menghindar.BYUR!Wine itu tidak kena gaunku, tapi kena gaun merah Clarissa sendiri!"Gaunku! Gaunku 80 juta!" jerit Clarissa. "Kamu bodoh! Matamu di mana!"Itu kesalahan besar. Bunda Adiputra yang dari tadi diam akhirnya bersuara, "Clarissa, jaga bicara kamu. Pelayan di sini bukan untuk kamu bentak."Clarissa malu. Dia mengambil gelas wine satunya dan mendekatiku."Alya, sini biar aku bersihkan..."Aku memejamkan mata. Tapi Rayhan bergerak lebih cepat.Sebelum wine itu kena gaunku, Rayhan mengambil botol wine utuh dari meja dan...BYU

  • TRANSMIGRASI MENJADI ISTRI MAFIA KEJAM    BAB 9 GAUN JEBAKAN CLARISSA

    Jam 7 pagi, meja makan tidak lagi dingin. Bunda Adiputra sudah duduk dengan cangkir teh jahe yang kosong di depannya. Habis. Sampai tetes terakhir. Aku turun dengan hati berdebar, masih memakai daster pinjaman Bi Ijah. Rayhan di belakangku, sudah rapi dengan kemeja hitam. "Pagi, Bun," sapaku pelan. Bunda tidak langsung menjawab. Dia melirik cangkir kosongnya. "Tehnya... kurang gula," katanya ketus, tapi suaranya tidak seketus kemarin. "Besok gulanya lebih banyak." Itu bukan protes. Itu permintaan untuk besok! Aku tersenyum lebar, "Siap, Bun! Besok Alya tambahin gula arennya!" Rayhan mengedipkan mata ke arahku. Good job. Sarapan berjalan damai sampai bel rumah berbunyi. TING TONG! Bi Ijah membuka pintu. Seorang kurir membawa kotak beludru merah dan amplop emas. "Paket untuk Bunda Adiputra dan Tuan Rayhan. Dari Nona Clarissa." Darahku langsung berhenti. Bunda membuka amplop emas itu dengan senang. "Wah, Clarissa memang anak manis." Di dalamnya ada kartu undangan: YOU AR

  • TRANSMIGRASI MENJADI ISTRI MAFIA KEJAM    BAB 8 : GOSIP SATU GEDUNG DAN RANJANG YANG DINGIN

    Mobil Alphard belum sempat masuk gerbang, aku sudah bisa melihat Bunda Adiputra berdiri di teras depan.Tangannya berkacak pinggang. Wajahnya merah padam. Di belakangnya, Bi Ijah menunduk ketakutan sambil memegang kunci besar berkarat. Kunci gudang.Firasatku langsung tidak enak."Mas, sepertinya firasatku tidak enak," bisikku.Rayhan melirik ke teras. Rahangnya langsung mengeras. Dia mematikan mobil dengan kasar."Duduk di sini. Jangan turun sebelum saya suruh," perintahnya.Dia turun duluan. "Bun, ngapain di teras? Panas," kata Rayhan datar.Bunda Adiputra tidak menjawab anaknya. Dia menatap lurus ke arahku yang masih di dalam mobil."ALYA! KELUAR KAMU!" teriaknya. "Kamu pikir kamu siapa, ciuman-ciuman di lift kantor pengacara? Satu Jakarta sudah tahu! Keponakan saya telepon! Katanya kamu peluk-pelukan dengan laki-laki di lift!"Aku terdiam. Gosipnya sudah berubah. Dari ciuman dengan suami sendiri, jadi peluk-pelukan dengan laki-laki lain.Rayhan tertawa sinis. "Satu Jakarta tahu?

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status