Share

BAB 24 - KUNCI YANG JATUH

Author: Incik
last update publish date: 2026-11-01 15:49:15

Jam 22.47.

Alya milih Ibu.

"Sayang, kita nggak turun ke lobi. Kita di sini aja temenin Ibu lewat video call," bisikku. Suara ku gemeter.

Rayhan angguk. Dia kunci pintu kamar hotel dari dalam. Ceklek. Dua kali. Kayak takut Farez punya kunci serep kamar juga.

"Bagus, sayang. Ibu dulu," katanya.

Di HP ku, suara Ibu Rani masih napas takut di kamar. Di HP Rayhan, email ancaman Farez udah dihapus permanen.

Rayhan peluk aku dari belakang. Kami berdua duduk di lantai, sandaran ke kasur, liatin video ca
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • TRANSMIGRASI MENJADI ISTRI MAFIA KEJAM    BAB 24 - KUNCI YANG JATUH

    Jam 22.47.Alya milih Ibu."Sayang, kita nggak turun ke lobi. Kita di sini aja temenin Ibu lewat video call," bisikku. Suara ku gemeter.Rayhan angguk. Dia kunci pintu kamar hotel dari dalam. Ceklek. Dua kali. Kayak takut Farez punya kunci serep kamar juga."Bagus, sayang. Ibu dulu," katanya.Di HP ku, suara Ibu Rani masih napas takut di kamar. Di HP Rayhan, email ancaman Farez udah dihapus permanen.Rayhan peluk aku dari belakang. Kami berdua duduk di lantai, sandaran ke kasur, liatin video call Ibu yang cuma langit-langit kamar."Bu, aman, Bu. Pak RT udah di depan ya, Bu?" Rayhan ngomong keras biar kedengeran di HP ku.Dari HP kedengeran suara Pak RT: "Iya, Bu Rani aman. Tamunya udah saya suruh pergi. Katanya cuma salah alamat."Ibu Rani nangis lega. "Ya Allah, makasih, Ya, Pak Rayhan..."Aku belum sempat jawab.Perut ku keram.Bukan keram biasa. Keram yang dari bawah perut sampai ke pinggang. Tajam. Dateng tiba-tiba."Sayang... perut ku..." Aku remes tangan Rayhan.Rayhan langsung

  • TRANSMIGRASI MENJADI ISTRI MAFIA KEJAM    BAB 23 - MASALAH DARI DUA KUNCI

    Jam 22.15. Hotel Port Klang. Lantai 32.Koper biru belum dibuka. Rayhan lagi mandi. Aku duduk di tepi kasur, megang patahan kunci karatan yang tadi Rayhan pungut lagi dari tong sampah.HP Rayhan di meja nyala. Bukan HP ku. HP Rayhan.Email masuk. Notifikasi paling atas. Preview-nya kebaca jelas dari jauh.From: Farez Operation StaffSubject: Untuk Mr. Rayhan - Tolong sampaikan ke AlyaAttachment: 3 imagesTangan ku dingin lagi. Sama dinginnya kayak kunci karatan ini.Aku buka. Rayhan gak pernah kunci HP nya dari aku.Isinya 3 foto.Foto 1: Diary pink ku. Halaman pertama. Tulisan tangan ku umur 17 tahun. "Kalau bukan Farez, gak mau nikah."Foto 2: Halaman tengah. Foto aku sama Farez pelukan di pantai. Seragam SMA.Foto 3: Chat WA. Farez ngetik ke Rayhan: "Boss, maaf. Saya masih ada foto buku ini. Saya cuma mau Alya tau, kalau saya masih simpen semua. Saya tunggu di lobi hotel jam 11 malam. Saya cuma mau ngembaliin bukunya langsung, pakai kunci serep saya. Kalau Boss bijak, pasti izinin

  • TRANSMIGRASI MENJADI ISTRI MAFIA KEJAM    BAB 22 - Perjalanan Dinas

    Jam 9.30 yang di BAB 21 tadi masih lanjut.Di meja Rayhan, foto ujung kunci di saku daster Alya masih nyala.HP Rayhan getar. Dari sekretarisnya.> Pak Rayhan, final Port Klang Malaysia besok jam 6 pagi. Tiket business sudah saya siapkan untuk Ibu Alya juga.Rayhan langsung fotoin, kirim ke Alya.> Sayang, koper biru jadi kepake akhirnya. Kita berangkat berdua.Alya bales lama. 7 menit.> Kunci gimana, sayang?> Titipin ke Ibu. Kita pulang, Ibu yang punya rumah.---Jam 6.00. Koper biru di depan pintu."Bu, kunci rumah sama Ibu ya 3 hari. Gak usah izin siapa-siapa," Alya bilang sambil naruh kunci dari saku dasternya ke tangan Ibu Rani.Ibu Rani angguk, salimnya lebih nunduk."Hati-hati ya, Pak Rayhan, Bu Alya."Alya betulin kerah kemeja Rayhan."Udah rapi, sayang. Berangkat ya kita?"Rayhan angguk. "Berangkat, sayang."Jam 14.30. Port Klang. Lantai 12.Rayhan duduk di ujung meja. Semua orang manggil "Mr. Rayhan" dan "Boss". Aku duduk di belakang sebagai istrinya. Dipesenin teh hambar.

  • TRANSMIGRASI MENJADI ISTRI MAFIA KEJAM    bab 21 KEMBALI KE KANTOR

    Jam 7.30. Rayhan harus berangkat ke kantor pelabuhan.Seragamnya udah rapi, sepatu udah disemir semalem. Tapi dia gak langsung pergi. Dia masih di depan pintu, megang helm."Ya," dia manggil aku pelan, "kuncinya gimana?"Kunci yang semalem aku simpen di saku daster, pagi tadi aku kasih ke Ibu Rani, sekarang ada di atas meja makan. Ibu Rani taruh lagi setelah tas hitamnya lengkap.Ibu lagi di kamar, lagi nyusun baju yang tadi dibawain Anisa. Pintunya kebuka setengah.Aku ambil kunci itu, aku masukin lagi ke saku daster ku."Kamu berangkat aja, Han. Kunci sama aku. Nanti kalau Ibu mau keluar, izinnya ke aku. Kayak kesepakatan semalem."Rayhan angguk, tapi mukanya masih nahan."Aku takutnya Ibu nanya ke aku, 'Rayhan mana kuncinya?' Terus aku jawab gak tau, kesannya aku lepas tangan."Aku narik tangan Rayhan, aku ajak agak jauh dari pintu kamar Ibu."Han, denger. Tadi Anisa dateng, kamu grogi. Aku liat. Bukan karena kamu masih sayang, tapi karena kamu takut aku mikir kamu masih sayang."R

  • TRANSMIGRASI MENJADI ISTRI MAFIA KEJAM    bab 20 PAGI SETELAH KUNCI DI SAKU

    Jam 5.30 pagi. Aku kebangun duluan.Kunci yang semalem aku masukin ke saku daster masih ada. Dingin.Di bawah, kamar Ibu Rani pintunya udah kebuka setengah. Lampunya mati, tapi tas hitamnya udah gak ada di samping kasur. Kosong lagi tempatnya.Jantung ku langsung deg."Han, Han bangun," aku bisik sambil narik selimut Rayhan. "Tas Ibu gak ada."Rayhan langsung duduk. Rambutnya masih berantakan. Dia ngeliat ke saku daster ku."Kunci masih ada?""Masih."Dia lega. "Berarti Ibu gak pergi lewat pintu. Coba cek dapur."Kami turun pelan-pelan.Di dapur, Ibu Rani lagi duduk. Sendirian. Di depan dia ada 2 gelas.Satu gelas gede, isinya teh manis masih ngebul. Satu gelas kecil, bekas dia minum teh asin semalem yang udah dicuci Rayhan.Tas hitamnya ada di atas meja. Udah gak kosong. Isinya dilipet rapi, tapi di atas lipetan ada kerudung coklat yang semalem aku masukin. Dia keluarin lagi."Ya," Ibu Rani manggil pelan. "Ini kerudungnya kebesaran. Rani pakai punya kamu aja ya yang kemarin?"Aku die

  • TRANSMIGRASI MENJADI ISTRI MAFIA KEJAM    BAB 19 JAM 8 MALAM

    Kunci masih di tengah meja. Gak ada yang ambil.Teh asin yang aku bikin masih di situ, udah dingin.Rayhan yang duduk di depan ku dari tadi cuma ngeliatin gelas itu. Akhirnya dia ambil HP."Aku telpon travelnya ya, Ya? Biar gak jadi nunggu di gang. Kasihan bapaknya."Aku nahan tangannya. "Jangan dulu, Han."Ibu Rani yang di pojok dapur, megang tas hitam kosongnya, langsung noleh. "Kenapa jangan?""Soalnya kalau kita yang cancel, Ibu nanti ngerasa kita yang ngusir Ibu, terus Ibu yang maksa pergi. Padahal Ibu belum mutusin."Rayhan ngerti. Dia taruh lagi HP nya.Aku jalan ke Ibu Rani. "Bu, tas hitam ini dari siang kosong di atas kulkas. Rayhan liat itu jadi takut, makanya dia taruh kunci di tengah meja. Dia jagain pintu bukan karena mau ngurung Ibu, tapi karena dia takut Ibu pergi diam-diam."Ibu Rani peluk tasnya. "Rani juga takut di sini, Ya. Rumah ini bukan rumah Rani."Rayhan berdiri. "Bu, ini rumah Alya. Rumah Alya ya rumah Ibu juga. Kalau Ibu pergi, Alya gimana?"Aku ambil tas hit

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status