Share

BAB 5 HARGA SEBUAH FITNAH

Author: Incik
last update publish date: 2026-09-16 15:01:49

Ponsel butut di tanganku bergetar hebat. Foto aku dan Rayhan di taman tengah malam itu terpampang jelas. Diambil dari luar pagar.

_"Selamat menikmati teh jahe terakhir mu, Alya Pramudita. Besok pagi, seluruh Indonesia akan melihat foto ini dengan judul: ISTRI PENGUSAHA MUDA SELINGKUH DENGAN TUKANG KEBUN - C"_

Clarissa. Wanita itu tidak pernah kehabisan cara untuk menghancurkanku.

Tangan ku dingin. Jika foto ini tersebar, bukan hanya nama ku yang hancur, tapi nama Rayhan dan *mIbu Rani juga. Dan saham 30% yang baru saja ku dapat pagi ini bisa dianggap tidak sah karena istri yang selingkuh.

Aku tidak bisa panik seperti Alya yang dulu. Alya yang dulu akan menangis dan lari ke Rayhan sambil berteriak minta tolong.

Aku Alya yang baru. Mahasiswi 21 tahun yang pernah skripsian sambil jualan teh jahe di kos.

Aku langsung screenshot pesan itu, lalu aku telpon Ibu Rani.

"Bu, bisa ke paviliun sekarang? Ada yang harus Ibu lihat."

Lima menit kemudian, Ibu Rani datang dengan wajah panik. Aku menunjukkan foto fitnah itu.

Wajah Ibu Rani yang lembut seketika berubah marah. Bukan marah padaku, tapi marah pada pengirimnya.

"Clarissa! Berani-beraninya dia! Ibu sudah larang dia datang, dia malah memfitnah dari luar!" Ibu Rani mengepalkan tangan. "Ayo, Nak. Kita ke kamar Rayhan sekarang. Jangan takut, Ibu bela kamu."

Kami berdua berjalan ke rumah utama. Rayhan baru saja selesai mandi, rambutnya masih basah. Dia terkejut melihat kami berdua jam 1 pagi.

"Ada apa?" tanyanya.

Aku tanpa bicara, menyodorkan ponselku.

Rayhan melihat foto itu. Rahangnya mengeras. Matanya yang tadi lelah karena video ibunya, kini berubah menjadi hitam penuh amarah.

"Clarissa," desisnya pelan.

"Dia mengancam akan sebar besok pagi, Mas. Dengan judul aku selingkuh dengan tukang kebun," kataku dengan suara tenang, tidak menangis. "Jika foto ini tersebar, saham Pramudita Group akan turun. Investor akan menarik modal karena keluarga Adiputra dianggap tidak harmonis."

Rayhan menatapku. Dia terkejut aku tidak menangis, malah menganalisis dampak bisnisnya.

"Kamu tidak takut?" tanya Rayhan.

"Takut, Mas. Tapi menangis tidak akan menghapus foto itu dari HP Clarissa," jawabku. "Aku punya ide. Tapi aku butuh izin Mas dan Ibu."

"Apa?" tanya *Ibu Rani*.

"Besok pagi jam 8, sebelum Clarissa menyebar foto ini, kita undang wartawan. Kita adakan konferensi pers kecil di rumah ini. Kita umumkan 3 hal," aku menarik napas.

"Pertama, bahwa saya Alya Pramudita, 21 tahun, secara SAH memiliki 30% saham Pramudita Group berdasarkan warisan ayah saya. Jadi saya bukan numpang nama."

"Kedua, foto itu memang benar saya dan Mas Rayhan. Tapi bukan selingkuh dengan tukang kebun, melainkan seorang istri yang membuatkan teh jahe untuk suaminya yang sedang lembur di taman tengah malam. Saya akan tunjukkan CCTV taman sebagai bukti. Di CCTV pasti terlihat jelas Mas memakai kemeja tidur, bukan baju tukang kebun."

"Ketiga..." Aku menatap Rayhan. "Kita umumkan bahwa kita akan pindah kembali ke kamar utama bersama. Sebagai suami istri sah. Agar tidak ada lagi celah bagi orang luar untuk memfitnah."

Hening.

Ibu Rani menatapku dengan mata berkaca-kaca bangga. "Ya Allah, Nak... kamu pintar sekali... Kamu seperti... kamu seperti sahabat bunda Rayhan dulu... Ibu kandung Rayhan."

Rayhan terdiam lama. Dia menatapku dari atas ke bawah. Tatapan penasaran yang kemarin kini berubah menjadi tatapan kagum.

"Kamu... kamu benar-benar bukan Alya ku yang dulu," bisiknya pelan. "Alya ku yang dulu tidak akan pernah kepikiran konferensi pers. Dia hanya akan teriak 'Mas Rayhan tolong aku!'"

Dia melangkah mendekat dan mengambil ponselku.

"Soal Clarissa biar saya yang urus. Untuk sekarang saya larang dia datang ke rumah dulu, itu sudah saya lakukan. Tapi setelah dia berani memfitnah kamu seperti ini..." Matanya menyipit berbahaya. "Besok pagi, bukan hanya wartawan yang akan datang. Pengacara saya juga akan datang. Saya akan buat dia menyesal pernah menyentuh nama istri sah saya."

Rayhan menatapku dalam.

"Dan soal pindah ke kamar utama... saya setuju. Tapi dengan satu syarat."

"Apa syaratnya, Mas?"

"Besok malam, buatkan saya teh jahe lagi. Di kamar utama. Bukan di paviliun."

Jantungku berdebar kencang lagi. Bahaya. Ini semakin bahaya.

Aku mengangguk. "Iya, Mas."

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam 6 bulan pernikahan, Rayhan tidak tidur di ruang kerja. Dia tidur di sofa kamarnya, sementara aku akhirnya tidur di atas ranjang empuk di kamar utama, bukan di ranjang single berdebu di paviliun.

Di luar gerbang, Clarissa masih menunggu balasan panik dariku. Tapi balasan itu tidak akan pernah datang.

Karena besok pagi, bukan foto perselingkuhannya yang akan viral, tapi foto konferensi pers kami berdua.

Dan di saat yang sama, di laptop Rayhan yang masih terbuka di ruang kerja, video ibunya masih terjeda di detik ke-45.

Di detik itu, terlihat jelas di belakang ibu kandung Rayhan, ada seorang pria yang berdiri. Wajahnya buram, tapi jam tangan yang dipakainya... sangat kukenal.

Jam tangan ayahku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TRANSMIGRASI MENJADI ISTRI MAFIA KEJAM    BAB 13 SARUNG TANGAN PINK

    Aku bangun jam 5 pagi bukan karena alarm, tapi karena bau jahe menyengat dari dapur. Bukan bau jahe baru direbus, tapi bau sisa rebusan semalam.Semalam jam 11 malam, setelah kami tempel Kontrak Versi 2 di kulkas, Bunda Ratna tidak bisa tidur dan bikin teh jahe sendiri. Panci bekas rebusannya tidak dicuci, masih nangkring di kompor. Aroma jahe keringnya masih nempel, naik ke kamar atas karena ventilasi dapur kami langsung ke tangga.Makanya hidungku yang sensitif langsung kebangun. Dari kecil memang begitu, kena uap jahe saja langsung bentol.Aku raba sebelahku, kosong. Rayhan sudah tidak ada di kasur. Tapi selimutnya masih hangat dan di gantungan pintu kamar mandi handuknya masih basah. Berarti dia sudah mandi subuh.Di atas bantal ada post-it kuning, tulisan jeleknya:_Jam 5 sore ingat pakai sarung tangan pink. - Mas Mafia_Aku senyum sendiri. Padahal baru 8 jam lalu kami tanda tangan Kontrak Seumur Hidup.Aku turun ke dapur. Bunda Ratna sudah duduk pakai daster bunga di meja makan,

  • TRANSMIGRASI MENJADI ISTRI MAFIA KEJAM    BAB 12 KONTRAK VERSI 2 (TIDAK ADA CERAI)

    Malam itu setelah perang pelabuhan dimulai, aku dan Rayhan belum tidur. Bunda Ratna sudah tidur. Rayhan membuka laci dan mengeluarkan map hitam Kontrak Pernikahan Versi 1. "Alya, Kontrak Versi 1 habis besok. Tepat 1 tahun." Aku diam. Kontrak itu isinya: Nikah 1 tahun lalu cerai. Dulu aku senang, sekarang aku tidak mau. Rayhan sobek Kontrak Versi 1 di depanku. "Mas...?" Aku kaget. "Aku tidak mau cerai," katanya. "Bunda bilang mata bengkak tidak boleh." Dia keluarkan map baru. Map merah. Tulis tangan jelek tapi niat. Aku buka. Isinya sudah aku revisi karena aku alergi jahe: _KONTRAK PERNIKAHAN VERSI 2 - RAYHAN & ALYA_ _Berlaku: Seumur Hidup_ _Pasal 1: Tidak ada kata cerai. Kalau berantem, yang kalah harus buatin teh jahe untuk Bunda & Rayhan. Yang menang harus temenin minum. Kecuali Alya, karena Alya alergi jahe, jadi Alya cukup buatin, tidak wajib minum._ _Pasal 2: Bunda Ratna adalah ibu kandung kita berdua. Bukan ibu tiri. Wajib hormat, wajib pijitin kalau capek arisan.

  • TRANSMIGRASI MENJADI ISTRI MAFIA KEJAM    BAB 11 BUNDA MINTA MAAF & KOTAK WASIAT

    Setelah Rayhan bilang foto itu editan AI murahan, Bunda masih berdiri di depan kamar. Wajahnya merah antara malu dan marah."Maafkan Bunda, Alya..." Bunda akhirnya berkata pelan. "Bunda langsung percaya foto dari Clarissa."Itu pertama kalinya dalam setahun Bunda minta maaf.Aku mengangguk sambil nangis, "Tidak apa-apa, Bun..."Setelah Bunda hapus foto dari grup arisan, dia tidak langsung pergi. Dia berdiri lebih lama di depan pintu, meremas ujung kebayanya."Alya... ikut Bunda sebentar ke kamar Bunda. Ada sesuatu yang harusnya Bunda kasih dari 10 tahun lalu."Aku ikut Bunda ke kamar utamanya yang selama ini terkunci.Bunda membuka lemari besi kecil dan mengeluarkan kotak kayu jati yang sudah tua. Di atasnya tertulis:_Untuk Alya - Dari Ayah - Titip Bunda Ratna_Tanganku gemetar. Itu tulisan tangan Ayahku. Hendra Pramudita."Buka," kata Bunda.Aku buka kotak itu. Di dalamnya ada surat menguning, foto Ayah menggendong aku umur 3 tahun, dan sebuah flashdisk.Aku baca suratnya:_Alya say

  • TRANSMIGRASI MENJADI ISTRI MAFIA KEJAM    BAB 10 SIRAMAN WINE

    Setelah kalimat "50 juta" dari Rayhan, satu ballroom berbisik.Clarissa berdiri kaku. Senyumnya dipaksakan."Rayhan, kamu bercanda ya," katanya. "Alya, sini peluk. Aku kangen."Aku mundur selangkah. Aku tahu dari novel asli, ini jebakan pelukan."Maaf, Kak Clarissa, gaunku takut kotor," jawabku pelan.Clarissa memberi kode ke pelayan di belakangku. Pelayan itu maju membawa nampan wine merah dan sengaja menabrakku.Aku sudah siap. Aku menarik gaunku dan menghindar.BYUR!Wine itu tidak kena gaunku, tapi kena gaun merah Clarissa sendiri!"Gaunku! Gaunku 80 juta!" jerit Clarissa. "Kamu bodoh! Matamu di mana!"Itu kesalahan besar. Bunda Adiputra yang dari tadi diam akhirnya bersuara, "Clarissa, jaga bicara kamu. Pelayan di sini bukan untuk kamu bentak."Clarissa malu. Dia mengambil gelas wine satunya dan mendekatiku."Alya, sini biar aku bersihkan..."Aku memejamkan mata. Tapi Rayhan bergerak lebih cepat.Sebelum wine itu kena gaunku, Rayhan mengambil botol wine utuh dari meja dan...BYU

  • TRANSMIGRASI MENJADI ISTRI MAFIA KEJAM    BAB 9 GAUN JEBAKAN CLARISSA

    Jam 7 pagi, meja makan tidak lagi dingin. Bunda Adiputra sudah duduk dengan cangkir teh jahe yang kosong di depannya. Habis. Sampai tetes terakhir. Aku turun dengan hati berdebar, masih memakai daster pinjaman Bi Ijah. Rayhan di belakangku, sudah rapi dengan kemeja hitam. "Pagi, Bun," sapaku pelan. Bunda tidak langsung menjawab. Dia melirik cangkir kosongnya. "Tehnya... kurang gula," katanya ketus, tapi suaranya tidak seketus kemarin. "Besok gulanya lebih banyak." Itu bukan protes. Itu permintaan untuk besok! Aku tersenyum lebar, "Siap, Bun! Besok Alya tambahin gula arennya!" Rayhan mengedipkan mata ke arahku. Good job. Sarapan berjalan damai sampai bel rumah berbunyi. TING TONG! Bi Ijah membuka pintu. Seorang kurir membawa kotak beludru merah dan amplop emas. "Paket untuk Bunda Adiputra dan Tuan Rayhan. Dari Nona Clarissa." Darahku langsung berhenti. Bunda membuka amplop emas itu dengan senang. "Wah, Clarissa memang anak manis." Di dalamnya ada kartu undangan: YOU AR

  • TRANSMIGRASI MENJADI ISTRI MAFIA KEJAM    BAB 8 : GOSIP SATU GEDUNG DAN RANJANG YANG DINGIN

    Mobil Alphard belum sempat masuk gerbang, aku sudah bisa melihat Bunda Adiputra berdiri di teras depan.Tangannya berkacak pinggang. Wajahnya merah padam. Di belakangnya, Bi Ijah menunduk ketakutan sambil memegang kunci besar berkarat. Kunci gudang.Firasatku langsung tidak enak."Mas, sepertinya firasatku tidak enak," bisikku.Rayhan melirik ke teras. Rahangnya langsung mengeras. Dia mematikan mobil dengan kasar."Duduk di sini. Jangan turun sebelum saya suruh," perintahnya.Dia turun duluan. "Bun, ngapain di teras? Panas," kata Rayhan datar.Bunda Adiputra tidak menjawab anaknya. Dia menatap lurus ke arahku yang masih di dalam mobil."ALYA! KELUAR KAMU!" teriaknya. "Kamu pikir kamu siapa, ciuman-ciuman di lift kantor pengacara? Satu Jakarta sudah tahu! Keponakan saya telepon! Katanya kamu peluk-pelukan dengan laki-laki di lift!"Aku terdiam. Gosipnya sudah berubah. Dari ciuman dengan suami sendiri, jadi peluk-pelukan dengan laki-laki lain.Rayhan tertawa sinis. "Satu Jakarta tahu?

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status