MasukJam pelajaran pertama berakhir dengan bunyi bel digital yang lembut.
Ting... Namun suasana kelas tetap terasa aneh. Tidak ada yang benar-benar fokus sejak Alejandro duduk di samping Valeria, hanya ada tatapan diam-diam, bisikan kecil, ponsel yang sesekali terangkat. Valeria tahu apa yang sedang terjadi. Rumor. Dan di sekolah seperti ini, rumor menyebar lebih cepat daripada virus. Ia menutup tabletnya pelan, lalu berdiri tanpa melihat Alejandro sedikit pun. Satu tujuan—keluar kelas secepat mungkin. Namun baru dua langkah, “Valeria.” Suara Alejandro menghentikannya. Cukup membuat beberapa orang kembali menoleh. Valeria memejamkan mata sepersekian detik sebelum berbalik. “Apa?” tanyanya datar. Alejandro masih duduk santai di kursinya. Dasi hitamnya sedikit longgar sekarang, sementara satu tangannya memutar pulpen mahal berwarna perak dengan gerakan malas. “Kau langsung kabur?” tanyanya ringan. “Aku menghindar,” jawab Valeria singkat, jujur berharap agar pria itu segera menjauh darinya jika dia punya perasaan. Akan tetapi, sudut bibir Alejandro terangkat tipis. “Bedanya?” Valeria menatapnya tanpa ekspresi. “Kau tahu bedanya.” Hening kecil muncul. Alejandro berhenti memutar pulpennya. Tatapannya turun lurus ke wajah Valeria sekarang, tidak main-main lagi. “Kau marah karena aku bicara padamu?” tanyanya tenang. “Tidak.” “Karena aku duduk di sebelahmu?” “Tidak juga.” “Karena aku membelamu?” Valeria akhirnya menghela napas pendek. “Karena kau membuat semua orang memperhatikanku,” jawabnya pelan. Alejandro diam beberapa detik. Tatapannya tidak berubah, tetapi jemarinya berhenti bergerak, ia mengerti sekarang. Valeria tidak takut pada dirinya. Valeria takut pada dunia di sekelilingnya. “Itu tidak bisa dihindari,” ujarnya akhirnya. “Aku bisa menghindarinya kalau kau berhenti mendekat,” balas Valeria cepat. Kalimat itu membuat udara di sekitar mereka terasa sedikit lebih berat. Beberapa siswa yang pura-pura sibuk mulai melirik lagi. Alejandro bersandar pelan di kursinya, dan Tatapannya naik perlahan ke arah Valeria. Ia menatap Valeria tajam. “Aku tidak mau,” tolaknya lagi. Valeria mengernyit kecil. “Alejandro... ” “Aku mencarimu selama bertahun-tahun,” potong Alejandro tenang. “Jadi jangan berharap aku pura-pura asing sekarang.” Nada suaranya tetap rendah. Tetapi ada tekanan samar di baliknya. Valeria menggigit bagian dalam pipinya pelan, ia mulai kesal. Dan lebih dari itu, ia mulai merasa tidak nyaman. Karena Alejandro tidak berubah, pria itu masih sama seperti dulu—kalau menginginkan sesuatu, ia tidak akan berhenti. Bahkan jika Alejandro memeluknya seperti dulu, Ia mungkin tidak akan bisa lagi mendorongnya. Mengingat tubuh pria di depannya ini jauh berbeda dari yang ia ingat. Valeria memijat pelipisnya, “Kita bukan anak kecil lagi,” ucap Valeria pelan. “Aku tahu.” “Kehidupan kita berbeda sekarang.” Jelasnya. “Aku juga tahu.” “Kalau begitu berhenti bertindak seolah semuanya masih sama.” Minta Valeria dengan sangat. Untuk pertama kalinya sejak tadi, Alejandro terdiam cukup lama. Ruangan mulai terasa sunyi. Lalu, Ia berdiri. Gerakannya lambat. Namun entah kenapa langsung membuat suasana di sekitar mereka menegang. Valeria baru sadar kalau dia jadi jauh lebih menakutkan. Alejandro jauh lebih tinggi sekarang. Dan saat ia berdiri tepat di depan Valeria, jarak mereka terasa terlalu dekat. Valeria refleks mundur setengah langkah. Tetapi Alejandro menyadarinya. Tatapannya turun sebentar ke sepatu Valeria yang sedikit mundur tadi, lalu kembali ke wajahnya. “Kau takut padaku sekarang?” tanyanya rendah. Valeria langsung menggeleng. “Tidak.” jawabnya cepat, Ia memang tidak takut pada Alejandro. Yang ia takutkan adalah, dunia Alejandro. “Itu lebih buruk,” gumam Alejandro pelan. Valeria belum sempat bertanya maksudnya ketika suara seorang siswi tiba-tiba terdengar dari pintu kelas. “Alejandro.” Nada suara manis dan lembut, bahkan membuat Valeria berpikir kalau ada seorang dewi yang masuk. Ternyata, seorang gadis cantik berambut cokelat panjang berdiri di sana sambil memegang map tipis di dada. Seragamnya sempurna. Sepatu mengilap, anting mutiara kecil menghiasi telinganya. Dan saat beberapa siswa melihatnya, suasana langsung berubah lebih tegang. Karena semua orang mengenalnya. Catalina Veras—peringkat satu akademi. Catalina tersenyum kecil pada Alejandro sebelum akhirnya melirik Valeria. “Sesi rapat Elite Council dimulai lima menit lagi,” ujarnya lembut. Alejandro tidak langsung menjawab. Ia masih menatap Valeria beberapa detik sebelum akhirnya meraih blazer hitamnya. “Oke,” jawabnya singkat. Catalina memperhatikan itu, lalu matanya kembali pada Valeria. Kali ini senyumnya berubah sedikit lebih tipis. “Aku harap kau menikmati hari pertamamu di Velmora,” sapa Catalina sopan dan Elegan. Tetapi entah kenapa terasa seperti peringatan. Valeria membalas dengan anggukan kecil. “Terima kasih.” Catalina tersenyum lagi sebelum berjalan pergi bersama Alejandro. Namun tepat sebelum keluar kelas, Alejandro berhenti. Ia menoleh setengah ke belakang. Dan tanpa peduli seluruh kelas masih memperhatikan “Aku akan menjemputmu sepulang sekolah,” katanya tenang. Deg... Seluruh kelas langsung gempar. “Apa?!” “Dia serius?!” pikir beberapa murid. “Menjemput?!” Valeria bahkan sempat kehilangan ekspresinya sesaat. Dia menahan senyum kaku dan kekesalannya. “Aku tidak minta... ” “Aku tahu,” potong Alejandro santai. Lalu pria itu pergi begitu saja. Meninggalkan kelas yang langsung dipenuhi bisikan heboh, sementara Valeria berdiri diam di tempatnya… Dengan satu kesadaran yang perlahan membuat kepalanya sakit. Hari pertamanya baru berjalan beberapa jam, dan hidup tenangnya sudah mulai hancur. Bersambung.....Pagi itu, Valeria datang ke Academia Real de Velmora dengan perasaan yang jauh dari kata tenang.Tidurnya tidak nyenyak. Sejak malam sebelumnya, pikirannya terus dipenuhi berbagai kejadian yang membuatnya muak. Ia masih teringat bagaimana namanya dicantumkan dalam catatan pengamatan keluarga Valencia, seolah-olah seluruh perjuangannya selama ini hanya bagian dari eksperimen seseorang.Hari yang buruk ternyata belum selesai.Pagi-pagi sekali, Isabella meneleponnya. Pemilik tempat tinggal mereka meminta pembayaran yang tertunda, sementara pekerjaan tambahan yang selama ini diandalkan ibunya terpaksa dihentikan karena pemilik usaha mengalami masalah keuangan. Isabella berusaha terdengar biasa saja, bahkan sempat melontarkan candaan agar Valeria tidak khawatir.Namun, Valeria mengenal suara ibunya.Ia tahu perempuan itu sedang menahan kecemasan.Setelah telepon berakhir, Valeria hanya mampu menatap layar ponselnya cukup lama.
Valeria tidak tidur nyenyak malam itu.Dokumen yang diterimanya dari panel evaluasi terus terbayang dalam pikirannya. Namanya tercantum berdampingan dengan Alejandro, disertai catatan yang menyebutkan bahwa respons laki-laki itu harus diamati selama simulasi berlangsung.Semakin lama membacanya, semakin besar rasa muak yang memenuhi dadanya.Selama berminggu-minggu, ia menghabiskan waktu untuk menganalisis laporan, memeriksa angka, dan mempertahankan keputusan tim. Ia bahkan harus menghadapi tuduhan yang tidak pernah dilakukannya.Sekarang, ia mengetahui bahwa mungkin sejak awal ada orang yang sengaja menjadikan keberadaannya sebagai bagian dari pengamatan.Apakah semua kerja kerasnya hanya menjadi alat untuk menguji seorang pewaris?Tidak.Ia menolak menerima kemungkinan itu.Valeria meletakkan ponsel di meja dengan gerakan kasar. Rahangnya mengeras, sementara jemarinya mengepal di atas selimut.Ia membenci hasil seperti itu. Hasil yang menghapus nilai kerja keras seseorang dan mengg
Pukul tujuh lewat lima belas menit, Valeria sudah berdiri di depan ruang kepala akademi.Ia datang lebih awal karena tidak ingin membicarakan dokumen itu di tengah keramaian. Nama Dr. Emilio Vargas tercantum sebagai pihak yang menyetujui distribusi ringkasan Aurelia Global sebelum simulasi dimulai. Namun, sebuah tanda tangan tidak cukup untuk membuktikan adanya pelanggaran.Valeria memahami itu.Justru karena itulah ia ingin mendengar penjelasan langsung.“Kau datang lebih awal.”Suara Alejandro terdengar dari belakang.Valeria menoleh. Laki-laki itu berjalan mendekat dengan seragam hitam yang rapi dan rambut yang masih sedikit basah, seolah baru selesai mandi sebelum berangkat.“Kau juga,” balas Valeria.“Aku tidak bisa tidur nyenyak.”“Karena memikirkan sidang?”“Karena seseorang mengirim pesan bahwa kami perlu berbicara dengan kepala akademi, lalu tidak menjelaskan lebih jauh.”Vale
Amplop itu terasa lebih berat daripada selembar kertas biasa.Valeria berdiri di depan ruang Dr. Emilio Vargas, menimbang apakah ia harus langsung mengetuk pintu atau menunggu sampai pikirannya lebih tenang.Rafael Valencia telah menyerahkan dokumen tersebut untuk diperiksa secara resmi. Itu berarti Valeria tidak memiliki alasan untuk membukanya sendiri.Ia mengetuk tiga kali.Tok! Tok! Tok!“Masuk.”Dr. Vargas sedang berbicara dengan seorang staf administrasi ketika Valeria memasuki ruangan. Begitu melihat amplop di tangannya, ia menghentikan percakapan.“Apa itu?”“Pak Rafael Valencia meminta saya menyerahkannya kepada Anda. Katanya, dokumen di dalamnya harus diperiksa secara resmi.”Dr. Vargas segera berdiri.“Apakah Anda membukanya?”“Tidak.”“Bagus. Letakkan di sini.”Valeria menyerahkan amplop tersebut. Staf administrasi mencatat waktu penerimaan, kemudian memer
Valeria membaca kalimat itu untuk ketiga kalinya.Permintaan salinan khusus untuk keperluan evaluasi pewaris.Tulisan tersebut tidak membuktikan bahwa Alejandro melakukan kecurangan. Namun, keterlibatan Rafael Valencia membuat persoalan ini jauh lebih rumit daripada sekadar keberatan akademik.“Apakah dokumen ini membuktikan bahwa Alejandro mengetahui isi ringkasan tersebut sebelum simulasi dimulai?” tanya Valeria.Perempuan dari panel evaluasi menggeleng.“Belum. Kami baru memastikan bahwa ringkasan pernah diminta dan dikirim. Kami masih harus memeriksa waktu penerimaan, isi dokumen, serta apakah informasi tersebut memengaruhi keputusan tim.”“Kalau begitu, saya tidak bisa memberikan kesimpulan tentang Alejandro.”“Kami tidak meminta Anda menjatuhkan kesimpulan. Kami hanya membutuhkan keterangan yang sesuai dengan apa yang Anda ketahui.”Valeria mengangguk.“Kalau begitu, saya ingin mencatat satu hal.
Nama Alejandro Valencia tercetak jelas di halaman pertama berkas keberatan.Namun, alasan yang menyertainya membuat Dr. Emilio Vargas mengernyit.Dugaan konflik kepentingan yang tidak diungkapkan.Pukul delapan pagi, Alejandro, Valeria, Gabriel, dan Catalina dipanggil ke ruang administrasi akademi. Di luar ruangan, beberapa mahasiswa telah berkumpul. Kabar tentang keberatan terhadap pewaris keluarga Valencia rupanya menyebar lebih cepat daripada pengumuman resmi.Alejandro masuk tanpa menunjukkan kegelisahan. Seragam hitamnya rapi, dasinya terpasang sempurna, dan wajahnya setenang biasanya. Hanya gerakan ibu jarinya yang sesekali mengusap sisi telunjuk mengisyaratkan bahwa ia sedang menahan sesuatu.Valeria mengenali kebiasaan itu.Dahulu, Alejandro melakukannya setiap kali menghadapi masalah yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan uang atau perintah.Aneh, pikirnya. Aku masih mengingat hal-hal kecil tentang dirinya.







