ログインSepanjang perjalanan menuju kelas berikutnya, Valeria tidak mengatakan apa-apa.
Dan Alejandro, untuk pertama kalinya hari itu, membiarkannya diam. Koridor akademi mulai lebih ramai sekarang. Suara percakapan siswa memenuhi udara, bercampur langkah sepatu formal yang saling bersahutan di lantai marmer. Namun anehnya, saat Alejandro berjalan melewati mereka, orang-orang otomatis memberi jalan. Tidak terang-terangan, hanya sedikit bergeser, kepala mereka edikit menunduk, sedikit menahan suara. Kebiasaan kecil yang menunjukkan sesuatu tanpa perlu dijelaskan. Kekuasaan. Valeria memperhatikannya diam-diam, lalu semakin merasa dirinya salah tempat. Pintu kelas terbuka otomatis ketika mereka mendekat. Dan detik itu juga, ruangan kembali sunyi. Valeria nyaris menghela napas pasrah, ia mulai terbiasa sekarang atau setidaknya mencoba terbiasa. Beberapa siswa langsung melirik tangan Valeria. Mungkin mencari bekas genggaman Alejandro tadi, mungkin juga hanya penasaran. Apa pun alasannya, Valeria tidak menyukainya. Ia berjalan menuju kursinya tanpa bicara. Namun sebelum sempat duduk, seorang pria tinggi berambut pirang keemasan tiba-tiba menyender santai di meja Alejandro. “Jadi rumor itu benar.” Nada suaranya ringan, menghibur. Alejandro meletakkan tabletnya di meja tanpa ekspresi. “Rumor yang mana?” tanyanya datar. Pria itu tertawa kecil. “Kau menakuti anak orang di koridor demi murid pindahan.” ucapnya berbisik-bisik tapi cukup jelas bagi mereka yang memiliki pendengaran sehat. Beberapa siswa langsung pura-pura sibuk mendengar itu, Valeria ikut duduk perlahan sambil membuka bukunya berusaha tidak terlibat. Pria pirang itu akhirnya melirik Valeria dengan senyum tipis. Tatapannya tajam, tetapi tidak terasa merendahkan. Lebih seperti sedang menganalisis. “Jadi ini Valeria Flores,” ujarnya santai. Valeria mengangguk kecil sebagai jawaban. Pria itu mengulurkan tangan. “Lucien Herrera.” Valeria sempat ragu sepersekian detik sebelum membalas jabat tangannya singkat. Lucien memperhatikan itu lalu terkekeh kecil. “Tenang saja,” katanya ringan. “Aku tidak segila Alejandro.” “Aku dengar,” sahut Valeria datar. Lucien tertawa lebih pelan sekarang, sementara Alejandro akhirnya menoleh malas pada sahabatnya itu. “Kalau sudah selesai bicara, pergi.” usirnyaterang-terangan. “Kejam sekali.” Lucien menghela napas dramatis sebelum duduk di kursi depan mereka dengan santai. “Aku cuma penasaran.” “Apa?” “Kenapa dia?” Lirikkan pria itu membuat Valeria mendengus sebelum sunyi kecil muncul. Valeria langsung merasa tidak nyaman. Ia tidak suka dibicarakan seolah dirinya tidak ada. Alejandro menopang dagunya dengan satu tangan. “Karena aku mau,” jawabnya singkat. Lucien mendecakkan lidah pelan. “Ck! Jawabanmu selalu membosankan.” “Kalau begitu jangan tanya.” Valeria akhirnya membuka bukunya sedikit lebih keras dari seharusnya. Bukh... Kedua pria itu menoleh, mereka “Aku sedang di sini,” ucap Valeria tenang. “Dan aku bukan barang.” Lucien langsung mengangkat kedua tangan tanda menyerah. “Poin bagus.” ucapnya. Alejandro justru memperhatikannya beberapa detik. Lalu, “Aku tahu,” katanya pelan. Valeria mengernyit kecil. “Apa yang kau tahu?” “Aku tahu kau bukan barang, tapi tetap milikku.” Nada Alejandro tetap datar. Namun tatapannya terlalu fokus sekarang, terlalu serius. Membuat Valeria langsung memalingkan wajah lebih dulu. Lucien yang melihat itu diam-diam tersenyum tipis. Menarik. Sangat menarik. Karena Alejandro Valencia yang ia kenal biasanya kehilangan minat dalam hitungan minggu terhadap apa pun, tetapi gadis ini belum satu hari, dan Alejandro sudah mulai mengancam orang. Pintu kelas kembali terbuka—diikuti Guru masuk bersama beberapa asisten akademik. “Karena minggu depan akan ada evaluasi ranking awal semester,” ujar guru itu di depan kelas, “maka seluruh siswa akan dibagi dalam kelompok kompetitif.” Ruangan langsung ramai. Beberapa siswa mulai berbisik tegang, Ranking di Velmora bukan sekadar angka. Itu menentukan, reputasi, akses fasilitas elit, rekomendasi universitas bahkan koneksi bisnis keluarga. Guru mulai membaca daftar kelompok. “Catalina Veras, Lucien Herrera, Diego Mendez....” Nama-nama siswa top mulai disebut. Lalu, “Valeria Flores.” Deg..... Beberapa kepala langsung menoleh. Valeria duduk tegak sedikit. “Dan…” Guru melihat tabletnya sebentar. “…Alejandro Valencia.” Deg! Hening total. Lucien sampai tertawa pelan tidak percaya. “Wah,” gumamnya. “Ini bakal jadi bencana.” ledeknya halus. Sementara di sisi lain kelas, Catalina perlahan mengangkat pandangan dari tabletnya. Tatapannya langsung tertuju pada Valeria, tidak ada senyum kali ini, tidak juga keramahan sopan. Hanya dingin. Sedangkan Valeria merasa dirinya benar-benar baru saja masuk ke medan perang. Bersambung.....Pagi itu, Valeria datang ke Academia Real de Velmora dengan perasaan yang jauh dari kata tenang.Tidurnya tidak nyenyak. Sejak malam sebelumnya, pikirannya terus dipenuhi berbagai kejadian yang membuatnya muak. Ia masih teringat bagaimana namanya dicantumkan dalam catatan pengamatan keluarga Valencia, seolah-olah seluruh perjuangannya selama ini hanya bagian dari eksperimen seseorang.Hari yang buruk ternyata belum selesai.Pagi-pagi sekali, Isabella meneleponnya. Pemilik tempat tinggal mereka meminta pembayaran yang tertunda, sementara pekerjaan tambahan yang selama ini diandalkan ibunya terpaksa dihentikan karena pemilik usaha mengalami masalah keuangan. Isabella berusaha terdengar biasa saja, bahkan sempat melontarkan candaan agar Valeria tidak khawatir.Namun, Valeria mengenal suara ibunya.Ia tahu perempuan itu sedang menahan kecemasan.Setelah telepon berakhir, Valeria hanya mampu menatap layar ponselnya cukup lama.
Valeria tidak tidur nyenyak malam itu.Dokumen yang diterimanya dari panel evaluasi terus terbayang dalam pikirannya. Namanya tercantum berdampingan dengan Alejandro, disertai catatan yang menyebutkan bahwa respons laki-laki itu harus diamati selama simulasi berlangsung.Semakin lama membacanya, semakin besar rasa muak yang memenuhi dadanya.Selama berminggu-minggu, ia menghabiskan waktu untuk menganalisis laporan, memeriksa angka, dan mempertahankan keputusan tim. Ia bahkan harus menghadapi tuduhan yang tidak pernah dilakukannya.Sekarang, ia mengetahui bahwa mungkin sejak awal ada orang yang sengaja menjadikan keberadaannya sebagai bagian dari pengamatan.Apakah semua kerja kerasnya hanya menjadi alat untuk menguji seorang pewaris?Tidak.Ia menolak menerima kemungkinan itu.Valeria meletakkan ponsel di meja dengan gerakan kasar. Rahangnya mengeras, sementara jemarinya mengepal di atas selimut.Ia membenci hasil seperti itu. Hasil yang menghapus nilai kerja keras seseorang dan mengg
Pukul tujuh lewat lima belas menit, Valeria sudah berdiri di depan ruang kepala akademi.Ia datang lebih awal karena tidak ingin membicarakan dokumen itu di tengah keramaian. Nama Dr. Emilio Vargas tercantum sebagai pihak yang menyetujui distribusi ringkasan Aurelia Global sebelum simulasi dimulai. Namun, sebuah tanda tangan tidak cukup untuk membuktikan adanya pelanggaran.Valeria memahami itu.Justru karena itulah ia ingin mendengar penjelasan langsung.“Kau datang lebih awal.”Suara Alejandro terdengar dari belakang.Valeria menoleh. Laki-laki itu berjalan mendekat dengan seragam hitam yang rapi dan rambut yang masih sedikit basah, seolah baru selesai mandi sebelum berangkat.“Kau juga,” balas Valeria.“Aku tidak bisa tidur nyenyak.”“Karena memikirkan sidang?”“Karena seseorang mengirim pesan bahwa kami perlu berbicara dengan kepala akademi, lalu tidak menjelaskan lebih jauh.”Vale
Amplop itu terasa lebih berat daripada selembar kertas biasa.Valeria berdiri di depan ruang Dr. Emilio Vargas, menimbang apakah ia harus langsung mengetuk pintu atau menunggu sampai pikirannya lebih tenang.Rafael Valencia telah menyerahkan dokumen tersebut untuk diperiksa secara resmi. Itu berarti Valeria tidak memiliki alasan untuk membukanya sendiri.Ia mengetuk tiga kali.Tok! Tok! Tok!“Masuk.”Dr. Vargas sedang berbicara dengan seorang staf administrasi ketika Valeria memasuki ruangan. Begitu melihat amplop di tangannya, ia menghentikan percakapan.“Apa itu?”“Pak Rafael Valencia meminta saya menyerahkannya kepada Anda. Katanya, dokumen di dalamnya harus diperiksa secara resmi.”Dr. Vargas segera berdiri.“Apakah Anda membukanya?”“Tidak.”“Bagus. Letakkan di sini.”Valeria menyerahkan amplop tersebut. Staf administrasi mencatat waktu penerimaan, kemudian memer
Valeria membaca kalimat itu untuk ketiga kalinya.Permintaan salinan khusus untuk keperluan evaluasi pewaris.Tulisan tersebut tidak membuktikan bahwa Alejandro melakukan kecurangan. Namun, keterlibatan Rafael Valencia membuat persoalan ini jauh lebih rumit daripada sekadar keberatan akademik.“Apakah dokumen ini membuktikan bahwa Alejandro mengetahui isi ringkasan tersebut sebelum simulasi dimulai?” tanya Valeria.Perempuan dari panel evaluasi menggeleng.“Belum. Kami baru memastikan bahwa ringkasan pernah diminta dan dikirim. Kami masih harus memeriksa waktu penerimaan, isi dokumen, serta apakah informasi tersebut memengaruhi keputusan tim.”“Kalau begitu, saya tidak bisa memberikan kesimpulan tentang Alejandro.”“Kami tidak meminta Anda menjatuhkan kesimpulan. Kami hanya membutuhkan keterangan yang sesuai dengan apa yang Anda ketahui.”Valeria mengangguk.“Kalau begitu, saya ingin mencatat satu hal.
Nama Alejandro Valencia tercetak jelas di halaman pertama berkas keberatan.Namun, alasan yang menyertainya membuat Dr. Emilio Vargas mengernyit.Dugaan konflik kepentingan yang tidak diungkapkan.Pukul delapan pagi, Alejandro, Valeria, Gabriel, dan Catalina dipanggil ke ruang administrasi akademi. Di luar ruangan, beberapa mahasiswa telah berkumpul. Kabar tentang keberatan terhadap pewaris keluarga Valencia rupanya menyebar lebih cepat daripada pengumuman resmi.Alejandro masuk tanpa menunjukkan kegelisahan. Seragam hitamnya rapi, dasinya terpasang sempurna, dan wajahnya setenang biasanya. Hanya gerakan ibu jarinya yang sesekali mengusap sisi telunjuk mengisyaratkan bahwa ia sedang menahan sesuatu.Valeria mengenali kebiasaan itu.Dahulu, Alejandro melakukannya setiap kali menghadapi masalah yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan uang atau perintah.Aneh, pikirnya. Aku masih mengingat hal-hal kecil tentang dirinya.







