Share

Hal yang Tidak Normal

Penulis: Chatrin
last update Tanggal publikasi: 2026-05-14 18:43:33

Sepanjang perjalanan menuju kelas berikutnya, Valeria tidak mengatakan apa-apa.

Dan Alejandro, untuk pertama kalinya hari itu, membiarkannya diam.

Koridor akademi mulai lebih ramai sekarang. Suara percakapan siswa memenuhi udara, bercampur langkah sepatu formal yang saling bersahutan di lantai marmer.

Namun anehnya, saat Alejandro berjalan melewati mereka, orang-orang otomatis memberi jalan. Tidak terang-terangan, hanya sedikit bergeser, kepala mereka edikit menunduk, sedikit menahan suara.

Kebiasaan kecil yang menunjukkan sesuatu tanpa perlu dijelaskan.

Kekuasaan.

Valeria memperhatikannya diam-diam, lalu semakin merasa dirinya salah tempat.

Pintu kelas terbuka otomatis ketika mereka mendekat.

Dan detik itu juga, ruangan kembali sunyi. Valeria nyaris menghela napas pasrah, ia mulai terbiasa sekarang atau setidaknya mencoba terbiasa.

Beberapa siswa langsung melirik tangan Valeria. Mungkin mencari bekas genggaman Alejandro tadi, mungkin juga hanya penasaran.

Apa pun alasannya, Valeria tidak menyukainya.

Ia berjalan menuju kursinya tanpa bicara. Namun sebelum sempat duduk, seorang pria tinggi berambut pirang keemasan tiba-tiba menyender santai di meja Alejandro.

“Jadi rumor itu benar.” Nada suaranya ringan, menghibur.

Alejandro meletakkan tabletnya di meja tanpa ekspresi.

“Rumor yang mana?” tanyanya datar.

Pria itu tertawa kecil. “Kau menakuti anak orang di koridor demi murid pindahan.” ucapnya berbisik-bisik tapi cukup jelas bagi mereka yang memiliki pendengaran sehat.

Beberapa siswa langsung pura-pura sibuk mendengar itu, Valeria ikut duduk perlahan sambil membuka bukunya berusaha tidak terlibat.

Pria pirang itu akhirnya melirik Valeria dengan senyum tipis.

Tatapannya tajam, tetapi tidak terasa merendahkan.

Lebih seperti sedang menganalisis. “Jadi ini Valeria Flores,” ujarnya santai. Valeria mengangguk kecil sebagai jawaban.

Pria itu mengulurkan tangan. “Lucien Herrera.”

Valeria sempat ragu sepersekian detik sebelum membalas jabat tangannya singkat.

Lucien memperhatikan itu lalu terkekeh kecil. “Tenang saja,” katanya ringan. “Aku tidak segila Alejandro.”

“Aku dengar,” sahut Valeria datar.

Lucien tertawa lebih pelan sekarang, sementara Alejandro akhirnya menoleh malas pada sahabatnya itu. “Kalau sudah selesai bicara, pergi.” usirnyaterang-terangan.

“Kejam sekali.”

Lucien menghela napas dramatis sebelum duduk di kursi depan mereka dengan santai.

“Aku cuma penasaran.”

“Apa?”

“Kenapa dia?” Lirikkan pria itu membuat Valeria mendengus sebelum sunyi kecil muncul.

Valeria langsung merasa tidak nyaman.

Ia tidak suka dibicarakan seolah dirinya tidak ada.

Alejandro menopang dagunya dengan satu tangan. “Karena aku mau,” jawabnya singkat.

Lucien mendecakkan lidah pelan. “Ck! Jawabanmu selalu membosankan.”

“Kalau begitu jangan tanya.”

Valeria akhirnya membuka bukunya sedikit lebih keras dari seharusnya.

Bukh...

Kedua pria itu menoleh, mereka “Aku sedang di sini,” ucap Valeria tenang. “Dan aku bukan barang.”

Lucien langsung mengangkat kedua tangan tanda menyerah. “Poin bagus.” ucapnya.

Alejandro justru memperhatikannya beberapa detik.

Lalu, “Aku tahu,” katanya pelan.

Valeria mengernyit kecil. “Apa yang kau tahu?”

“Aku tahu kau bukan barang, tapi tetap milikku.”

Nada Alejandro tetap datar. Namun tatapannya terlalu fokus sekarang, terlalu serius.

Membuat Valeria langsung memalingkan wajah lebih dulu.

Lucien yang melihat itu diam-diam tersenyum tipis.

Menarik.

Sangat menarik. Karena Alejandro Valencia yang ia kenal biasanya kehilangan minat dalam hitungan minggu terhadap apa pun, tetapi gadis ini belum satu hari, dan Alejandro sudah mulai mengancam orang.

Pintu kelas kembali terbuka—diikuti Guru masuk bersama beberapa asisten akademik.

“Karena minggu depan akan ada evaluasi ranking awal semester,” ujar guru itu di depan kelas, “maka seluruh siswa akan dibagi dalam kelompok kompetitif.”

Ruangan langsung ramai.

Beberapa siswa mulai berbisik tegang, Ranking di Velmora bukan sekadar angka. Itu menentukan, reputasi, akses fasilitas elit, rekomendasi universitas

bahkan koneksi bisnis keluarga.

Guru mulai membaca daftar kelompok.

“Catalina Veras, Lucien Herrera, Diego Mendez....”

Nama-nama siswa top mulai disebut.

Lalu, “Valeria Flores.”

Deg.....

Beberapa kepala langsung menoleh. Valeria duduk tegak sedikit.

“Dan…” Guru melihat tabletnya sebentar. “…Alejandro Valencia.”

Deg!

Hening total.

Lucien sampai tertawa pelan tidak percaya. “Wah,” gumamnya. “Ini bakal jadi bencana.” ledeknya halus.

Sementara di sisi lain kelas, Catalina perlahan mengangkat pandangan dari tabletnya. Tatapannya langsung tertuju pada Valeria, tidak ada senyum kali ini, tidak juga keramahan sopan.

Hanya dingin.

Sedangkan Valeria merasa dirinya benar-benar baru saja masuk ke medan perang.

Bersambung.....

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • TUAN MUDA AKADEMI TEROBSESI PADAKU   Hal yang Tak Bisa Dikendalikan

    Lucien meminum kopinya pelan sambil memandangi halaman belakang akademi dari balkon.Di bawah sana, beberapa siswa masih berlatih olahraga berkuda di arena pribadi Velmora. Suara derap kaki kuda terdengar samar bersama hembusan angin sore.Valeria berdiri tidak jauh darinya, diam, tenang. Tetapi pikirannya jelas penuh.Lucien meliriknya sekilas. “Kau sedang memikirkan untuk kabur?” tanyanya santai.Valeria menatap kaleng kopi di tangannya. “Sedikit.”“Pilihan bagus.”Valeria mengangkat alis kecil. “Aku kira kau teman Alejandro.” sindirnya “Aku memang temannya.” Lucien terkekeh pendek.“Makanya aku tahu dia merepotkan.”Respon itu membuat Valeria hampir tersenyum lagi.Namun sebelum sempat bicara, suara pintu balkon terbuka. Dan entah kenapa, Valeria langsung tahu siapa yang datang bahkan sebelum menoleh.Alejandro.Langkahnya pelan mendekat, tatapan abu-gelap itu langsung tertuju pada Valeria begitu ia masuk.Lucien memperhatikan itu sambil mendecakkan lidah pelan.“Menyeramkan,” gum

  • TUAN MUDA AKADEMI TEROBSESI PADAKU   Nama yang Mulai Berbahaya

    Alejandro menatap ayahnya tanpa berkedip.Tatapannya dingin.Namun bukan dingin biasa, Lucien mengenalnya cukup lama untuk tahu satu hal, Alejandro benar-benar tidak suka saat seseorang mulai ikut campur urusan Valeria.Dan Rafael Valencia baru saja melakukannya. “Jangan libatkan dia,” tantang Alejandro rendah.Rafael merapikan ujung manset jasnya perlahan.Gerakan kecil, tenang dan elegan. “Kau bicara seolah aku akan memakannya.”“Ayah lebih buruk dari itu.”Lucien menahan napas kecil, Berani sekali. Namun Rafael justru tertawa pelan. “Sudah lama kau tidak bicara setajam ini padaku.” Karena biasanya putranya itu hanya diam.Alejandro tidak menjawab, karena ia tahu ayahnya. Kalau Rafael mulai tertarik pada sesuatu, maka itu tidak akan berhenti hanya karena diminta.Dan itu masalahnya. Valeria tidak cocok masuk ke dunia keluarganya. Tidak cocok disentuh permainan keluarga Valencia, Rafael akhirnya melangkah melewati Alejandro. “Aku hanya ingin melihat gadis yang membuat putraku berubah

  • TUAN MUDA AKADEMI TEROBSESI PADAKU   Nama Keluarga Valencia

    Ruangan mendadak terasa lebih dingin.Valeria langsung menyadari perubahan kecil itu.Bahu Alejandro menegang tipis. Tatapannya yang tadi masih relatif tenang kini berubah tajam dan datar seperti permukaan kaca.Ekspresi yang membuat orang otomatis berhenti bicara.“Siapa?” tanyanya dengan nada suara rendah. Siswa itu tampak gugup.“Saya tidak tahu… tapi mereka ada di lobby utama.” Alejandro tidak langsung bergerak.Jemarinya mengetuk meja sekali, kebiasaan kecil itu muncul lagi, ia sedang berpikir, atau sedang menahan sesuatu.Lucien yang sejak tadi diam akhirnya berdiri dari kursinya sambil memasukkan tangan ke saku celana.“Kalau mereka datang langsung ke sekolah,” ujarnya santai, “berarti ini bukan urusan ringan.”Valeria memperhatikan mereka bergantian—Ada sesuatu yang aneh.Sangat aneh. Cara semua orang bereaksi terhadap nama keluarga Valencia tidak terdengar seperti keluarga biasa, lebih seperti seseorang baru menyebut badai.Alejandro akhirnya meraih blazernya dari sandaran ku

  • TUAN MUDA AKADEMI TEROBSESI PADAKU   Kelompok yang Tidak Diinginkan

    “Keputusan kelompok tidak bisa diganggu gugat.” Guru itu menutup tabletnya pelan setelah pengumuman selesai.“Evaluasi berlangsung selama satu bulan. Nilai kelompok akan memengaruhi ranking individu kalian.”Suasana kelas langsung dipenuhi suara diskusi kecil. Beberapa siswa terlihat puas karena mendapat rekan pintar, sebagian lain tampak tegang.Dan Valeria…Ia hanya diam. Tatapannya masih tertuju pada layar digital di depan kelas yang menampilkan nama kelompoknya, Alejandro Valencia, Valeria FloresItu terlihat salah.Sangat salah.“Kalau mau pingsan, lakukan nanti saja,” bisik Lucien santai dari kursi depan.Valeria menghela napas pendek. “Aku tidak akan pingsan.” kesal nya.“Bagus. Karena setengah sekolah mungkin iri padamu sekarang.”“Itu bukan hal baik.”Lucien tersenyum kecil. “Memang bukan.” Jujur sekali Lucien menyukai momen ini, karena ia tidak perlu lagi dikaitkan dengan kekasih tersembunyi Alejandro.Valeria memijat pelipisnya pelan. Sementara di sampingnya, Alejandro terl

  • TUAN MUDA AKADEMI TEROBSESI PADAKU   Hal yang Tidak Normal

    Sepanjang perjalanan menuju kelas berikutnya, Valeria tidak mengatakan apa-apa.Dan Alejandro, untuk pertama kalinya hari itu, membiarkannya diam.Koridor akademi mulai lebih ramai sekarang. Suara percakapan siswa memenuhi udara, bercampur langkah sepatu formal yang saling bersahutan di lantai marmer.Namun anehnya, saat Alejandro berjalan melewati mereka, orang-orang otomatis memberi jalan. Tidak terang-terangan, hanya sedikit bergeser, kepala mereka edikit menunduk, sedikit menahan suara.Kebiasaan kecil yang menunjukkan sesuatu tanpa perlu dijelaskan.Kekuasaan.Valeria memperhatikannya diam-diam, lalu semakin merasa dirinya salah tempat.Pintu kelas terbuka otomatis ketika mereka mendekat.Dan detik itu juga, ruangan kembali sunyi. Valeria nyaris menghela napas pasrah, ia mulai terbiasa sekarang atau setidaknya mencoba terbiasa.Beberapa siswa langsung melirik tangan Valeria. Mungkin mencari bekas genggaman Alejandro tadi, mungkin juga hanya penasaran.Apa pun alasannya, Valeria t

  • TUAN MUDA AKADEMI TEROBSESI PADAKU   Orang yang Tidak Bisa Ditolak

    Suasana kantin membeku, benar-benar membeku.Beberapa siswa yang sedang makan berhenti di tengah gerakan. Bahkan suara alat makan terdengar menghilang sesaat setelah kalimat Alejandro tadi, beberapa terlihat membuka mulut mereka tak percaya. “Yang ini benar.”Valeria menatap Alejandro tidak percaya. Sementara Catalina… Untuk sepersekian detik, ekspresi gadis itu retak.Namun cukup jelas bagi seseorang yang terbiasa mengamati orang lain. Lalu seperti tidak terjadi apa-apa Catalina tersenyum lagi. Elegan, tenang dan cantik.“Aku tidak tahu kau suka membuat masalah sekarang,” ujarnya halus.Alejandro meminum airnya santai. “Aku juga baru sadar.”Beberapa siswa langsung menunduk, menahan keterkejutan mereka sendiri. Karena semua orang tahu satu hal, Alejandro Valencia tidak pernah menjelaskan hubungan apa pun kepada siapa pun. Tidak pernah!Valeria akhirnya berdiri. Gerakannya cukup cepat hingga kursinya sedikit bergeser.Krek...“Aku selesai makan,” katanya singkat.Ia tidak melihat Ale

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status