Beranda / Romansa / TUAN MUDA KAMU YANG KUTUNGGU! / 5. Pertemuan Pertama Marsha dan Arnold

Share

5. Pertemuan Pertama Marsha dan Arnold

last update Tanggal publikasi: 2025-11-21 20:07:22

Pertemuan yang telah lama dinanti,

Hari itu akhirnya tiba. Sebuah restoran mewah di dalam Mall Central Park, Jakarta Barat, menjadi saksi pertemuan dua keluarga yang telah lama bersahabat, terutama oleh para ibu yang bersahabat sejak di bangku perkuliahan. Yaitu Keluarga Arnold dan Keluarga Marsha. Di tengah suasana elegan restoran bergaya klasik Eropa dengan alunan musik instrumental lembut, Mami Dina duduk anggun bersama putranya, Arnold Zafazel, pria muda tampan nan kharismatik, berbalut jas semi formal abu gelap dengan rambut tersisir rapi.

“Jangan terlalu tegang, Nak,” bisik Mami Dina pelan sambil menyesap teh hangatnya,

“Mami dan Tante Bertha sudah sepakat, hari ini kita biarkan semuanya mengalir saja. Kamu tinggal jadi diri kamu sendiri.”

Arnold mengangguk sambil menghela napas.

“Iya, Mi. Tapi aku nggak nyangka, dijodohin gini. Kayak kencan buta saja,” ucapnya sambil tersenyum tipis.

Tak lama kemudian, muncullah Mami Bertha dengan langkah percaya diri, diiringi oleh putrinya, Marsha Livia. Gadis anggun berambut panjang yang mengenakan gaun midi berwarna peach pastel itu terlihat memesona. Senyumnya tulus, dan sorot matanya lembut. Sesaat, Arnold terpaku. Ada sesuatu yang terasa familiar dari wajah itu.

“Arnold?” sapa Marsha sambil tersenyum manis,

“Masih ingat aku?”

Arnold bangkit dari kursinya dan menjabat tangan Marsha dengan sopan.

“Marsha … kamu? Kita satu sekolah saat di taman kanak-kanak dulu, kan?”

Marsha tertawa pelan,

“He-he-he. Ya ampun, kamu ingat juga!”

Mami Dina dan Mami Bertha saling melirik dan tertawa senang.

“Kami tinggalkan kalian ngobrol, ya?” seru Mami Bertha sambil berdiri.

“Kita mau ke salon langganan kita dulu, Nak. Pasti kalian punya banyak hal buat diceritain,” tambah Mami Dina, memberi kedipan pada Arnold.

“Jangan kabur ya, Arnold,” goda Mami Bertha sebelum mereka pergi.

“Aku nggak akan kabur, Tante,” sahut Arnold sambil tersenyum.

Begitu kedua ibu itu berlalu, keheningan sempat terjadi di antara mereka. Namun hanya sebentar.

“Kamu berubah banget, Marsha,” ucap Arnold sambil duduk kembali.

“Dulu kamu kecil, cerewet, dan suka rebutan mainan.”

Marsha tertawa,

“Ha-ha-ha. Dan kamu suka nangis kalau kalah main puzzle.”

Arnold ikut tertawa,

“Ha-ha-ha. Ya ampun, jangan bongkar aib aku dong.”

Mereka pun tertawa bersama. Pelan-pelan, suasana menjadi mencair.

“Jadi, kamu sekarang kerja di mana?” tanya Arnold sambil menyesap lemon tea-nya.

“Aku kerja di perusahaan keluarga, sebagai desain interior. Lumayan, proyeknya macam-macam. Tapi lebih banyak handle klien-klien premium. Kadang bikin stres, tapi aku suka,” jawab Marsha sambil tersenyum.

“Kamu sendiri? CEO ya, sekarang?”

Arnold mengangguk.

“Iya, di AZ Corp. Fokus di bidang teknologi dan properti. Dulu aku ragu nerusin bisnis keluarga, tapi akhirnya aku nikmatin juga. Banyak tantangan, tapi itu yang bikin seru.”

Marsha memperhatikan Arnold dengan penuh kagum.

“Kamu kelihatan dewasa banget sekarang … dan sukses.”

Arnold sedikit tersipu.

“Ah, biasa aja kok. Kamu juga kelihatan elegan banget sekarang. Dulu aku nggak nyangka kamu bakal tumbuh secantik ini,” ujarnya jujur.

Marsha menunduk sebentar, menyembunyikan rona merah di pipinya.

“Terima kasih. Kamu tahu nggak, waktu SMA aku sempat lihat kamu di lomba debat antar sekolah.”

Arnold mengerutkan alis, penasaran.

“Serius? Kamu nonton?”

Marsha mengangguk,

“Iya. Dan sejak saat itu entah kenapa, kamu jadi kayak orang yang aku kagumi diam-diam. Tapi ya aku simpan aja sendiri. Gak nyangka sekarang malah kita dijodohin.”

Arnold terdiam sesaat. Perkataan Marsha barusan menggema di pikirannya. Dia merasa hatinya ikut menghangat.

“Kalau kamu ngerasa nggak nyaman dengan semua ini, Marsha, aku ngerti kok. Maksudku, dijodohin bukan sesuatu yang ringan.”

Marsha menatap matanya dan tersenyum lembut.

“Aku nggak keberatan, Arnold. Justru aku bersyukur kita bisa ketemu lagi dalam situasi seperti ini. Aku rasa mungkin ini waktu yang tepat.”

Arnold tersenyum.

“Aku juga mikir hal yang sama. Aku senang kita bisa ngobrol lagi. Dan kamu tahu nggak, waktu pertama kamu masuk tadi, aku sempat mikir, kayaknya aku kenal dia, tapi nggak yakin.”

“Kamu juga berubah, Arnold. Dulu kamu pemalu banget, sekarang bisa pimpin satu perusahaan. Keren.”

Arnold menahan senyum sambil mengusap belakang lehernya.

“Public speaking itu butuh latihan bertahun-tahun, Marsha. Tapi kamu juga luar biasa. Cara kamu bicara sopan, tenang. Aku suka banget sama caramu menyampaikan sesuatu.”

Marsha tersipu,

“Kamu tahu saja cara membuat orang merasa dihargai.”

Keduanya pun melanjutkan percakapan tentang masa kecil mereka, mengenang guru TK yang galak, mainan favorit yang mereka rebutkan, dan foto-foto lawas yang pernah mereka ambil dalam acara pentas seni.

Sambil tertawa mengenang masa lalu, Arnold memandangi Marsha dan berpikir dalam hati, Mungkin ini bukan sekadar perjodohan. Tapi awal dari sesuatu yang lebih indah.

Beberapa saat kemudian, pelayan datang membawa hidangan yang mereka pesan. Keduanya pun menikmati makanan sambil terus bertukar cerita dan tawa. Ada kenyamanan yang tumbuh perlahan, seperti dua orang sahabat lama yang akhirnya bertemu kembali di waktu yang tepat.

Saat mereka selesai makan, Arnold berkata,

“Marsha, boleh nggak kalau aku ngajak kamu jalan-jalan sebentar keliling mall? Ngobrol-ngobrol sambil cuci mata?”

Marsha tersenyum manis. “Tentu saja, dengan senang hati.”

Keduanya lalu berdiri dan berjalan berdampingan meninggalkan restoran. Sementara itu, dari kejauhan, dua ibu mereka yang sedang dalam perawatan kuku memandangi keduanya dari balik kaca salon dengan senyum puas.

“Mereka cocok banget, ya,” bisik Mami Bertha sambil menyesap jus detox-nya.

“Sudah kubilang dari dulu, Arnold itu calon menantu idaman,” sahut Mami Dina bangga.

Sementara itu, di antara langkah-langkah ringan mereka di mall, Arnold dan Marsha terus melanjutkan perbincangan, seolah-olah dunia sedang memberi mereka kesempatan kedua untuk lebih saling mengenal, mencintai, dan mungkin membangun masa depan bersama.

Arnold dan Marsha berjalan berdampingan di antara deretan butik dan coffee shop di Mall Central Park. Lampu-lampu hangat menghiasi langit-langit mall, menciptakan suasana nyaman di sore hari itu. Sesekali, mereka berhenti di depan etalase, berbincang ringan tentang gaya hidup, minat, dan hobi.

“Kamu masih suka baca komik, nggak?” tanya Marsha tiba-tiba sambil menunjuk sebuah toko buku.

Arnold tertawa.

“Ha-ha-ha. Waduh, ketahuan ya? Iya, kadang masih sih. Tapi sekarang lebih ke manga detektif, bukan super hero lagi.”

“Waktu kecil kamu ngefans banget sama Ultraman,” goda Marsha.

Ha-ha-ha!”

Arnold tertawa lebih keras.

“Aduh, jangan dibongkar lagi, dong. Kamu masih ingat banget, ya?”

“Tentu. Inget juga kamu pernah pakai kostum Ultraman ke pesta ulang tahun aku pas kita TK,” jawab Marsha sambil menutup mulut menahan tawa.

Arnold menggeleng-geleng malu.

“Serius, kamu masih inget itu?”

“Masa bisa lupa?” ucap Marsha pelan. Matanya menatap Arnold dalam-dalam, kali ini tanpa bercanda.

“Kamu salah satu bagian manis dari masa kecil aku.”

Arnold mendadak terdiam. Jantungnya berdegup pelan tapi mantap. Perasaan hangat mulai tumbuh di dadanya.

“Aku senang dengar kamu ngomong begitu. Aku juga ngerasa nyaman banget hari ini. Nggak tahu kenapa, kayaknya kita nyambung dari dulu.”

Marsha tersenyum lembut. “Mungkin karena kita memang punya akar yang sama.”

Mereka lalu melanjutkan langkah mereka ke area taman Tribeca Park yang ada di luar mall. Angin sore menghembus lembut, dan suara air dari kolam buatan menciptakan suasana tenang.

“Aku selalu berpikir perjodohan itu kaku, penuh tekanan,” ucap Arnold setelah beberapa saat duduk di bangku taman.

“Tapi denganmu, rasanya kayak ngobrol sama sahabat lama yang udah aku cari selama ini.”

Marsha menoleh, menatap wajah pria di sampingnya yang kini terasa semakin akrab.

“Aku juga sempat nggak percaya saat Mami bilang keluarga kita pengin jodohin kita. Awalnya aku takut ini akan terasa canggung. Tapi ternyata, aku malah merasa nyaman.”

Arnold tersenyum dan menunduk sedikit, lalu berkata pelan,

“Kamu tahu, dulu waktu kecil aku pernah bilang ke Mami kalau aku mau nikah sama temen TK-ku yang paling cantik.”

Marsha menatapnya sambil tersenyum geli.

“Serius? Siapa?”

Arnold menatap mata Marsha dan menjawab lirih,

“Namanya, Marsha Livia.”

Wajah Marsha langsung memerah. Dia menunduk, menyembunyikan senyum bahagianya.

“Arnold .…”

“Iya?”

“Aku juga pernah nulis di buku harianku waktu SMP,” ucap Marsha pelan.

“Kalau suatu hari nanti, aku ingin bertemu lagi sama cowok pintar dan baik hati yang aku suka sejak kecil.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • TUAN MUDA KAMU YANG KUTUNGGU!    50. Kejutan Ulang Tahun Untuk Mami Marsha

    Kembali ke Jakarta, kehangatan yang tak tergantikan.Pagi itu, sinar matahari menembus tirai jendela rumah keluarga Arnold. Setelah perjalanan panjang dari London dan Irlandia, mereka akhirnya kembali ke rumah yang nyaman dan penuh kenangan.Arnold duduk di ruang makan sambil menyeruput kopi. “Akhirnya ... kopi tubruk juga,” ujarnya lega.Marsha yang baru saja selesai memakaikan baju untuk Edriel, datang sambil tertawa. “Sudah kangen rasa rumah ya?”Arnold mengangguk. “Liburan memang seru, tapi rumah tetap tempat paling damai.”Adrian berlari turun dari lantai dua sambil membawa mainan leprechaun dari Irlandia. “Papi! Aku taruh boneka ini di rak, ya? Supaya bisa jaga rumah!”“Tentu,” jawab Arnold. “Leprechaun penjaga rumah! Tapi jangan taruh di kamar mandi, ya.”Adrian tertawa geli. “Nggak kok! Dia takut air, katanya!”Hari-hari berikutnya mereka kembali ke rutinitas. Arnold kembali bekerja sebagai arsitek di firma miliknya, sementara Marsha fokus mengurus rumah dan mengembangkan us

  • TUAN MUDA KAMU YANG KUTUNGGU!    49. Liburan Keluarga Ke London dan Irlandia

    Liburan keluarga ke London.Pesawat mendarat mulus di Bandara Heathrow pada pagi hari yang cerah. Setelah menyelesaikan proses imigrasi, Arnold mendorong trolley koper besar, sementara Marsha menggendong Edriel yang tertidur di gendongan bayi. Adrian berjalan di sampingnya sambil menggenggam boneka Paddington Bear yang baru saja dibelikan di toko bandara."Welcome to London, everyone," ucap Arnold sambil menatap langit biru dari balik kaca bandara. "Siap berpetualang, Kak Adrian?""Siap, Papi!" sahut Adrian antusias. "Kita mau lihat istana ya? Sama taman yang gede banget?"Marsha tersenyum. “Kita nginep di apartemen deket Hyde Park. Besok kita bisa piknik di sana.”Adrian melompat kecil. “Yay! Aku mau ajak Edriel jalan-jalan juga!”Arnold tertawa pelan. “Kalau Edriel bisa jalan, ya.”“Edriel sudah belajar kok,” gumam Marsha sambil mencium pipi bayi mungil mereka yang masih lelap.Apartemen dua kamar dengan interior bergaya kontemporer itu terasa nyaman dan homey. Dari jendela balko

  • TUAN MUDA KAMU YANG KUTUNGGU!    48. Kehadiran Baby Edriel

    Jakarta, Maret. Dini hari di sebuah rumah sakit.Langit Jakarta masih gelap ketika Arnold membuka pintu kamar rawat VIP dengan tergesa. Marsha sudah lebih dulu dibawa oleh perawat ke ruang bersalin setelah air ketubannya pecah pukul tiga pagi. Arnold masih mengenakan hoodie, rambutnya berantakan, namun wajahnya dipenuhi kekhawatiran.“Pak Arnold?” panggil suster muda mendekatinya. “Ibu Marsha sedang dalam tahap pembukaan lima. Tapi kondisi stabil. Silakan tunggu di lounge.”Arnold mengangguk cepat. “Saya boleh masuk sebentar?”Suster itu tersenyum ramah. “Silakan, tapi hanya beberapa menit ya.”Begitu masuk, Arnold langsung melihat Marsha terbaring di atas ranjang bersalin, mengenakan baju rumah sakit, wajahnya pucat tapi matanya kuat.“Arnold ....” Suaranya lemah, tapi tetap mencoba tersenyum.Arnold menggenggam tangannya erat. “Aku di sini. Kamu kuat, Sayang. Sebentar lagi kita ketemu si kecil.”Marsha menarik napas dalam. “Sakitnya mulai terasa tapi aku ingat rasa bahagia pas A

  • TUAN MUDA KAMU YANG KUTUNGGU!    47. Kejutan Manis Dari Marsha

    Dua tahun kemudian.Sinar matahari menembus tirai tipis suite hotel di pusat Madrid. Adrian, bocah kecil berumur dua tahun, berlari-lari kecil di atas karpet sambil membawa boneka lembut berbentuk banteng khas Spanyol. Marsha duduk di tepi ranjang, mengenakan gaun musim panas berwarna krem, sedang menyisir rambutnya.“Arnold, kamu lihat nggak sepatu kecil Adrian? Yang biru tua itu?” serunya lembut sambil melirik sekeliling kamar.Dari balkon, Arnold menjawab, “Yang dia pakai buat lari-larian di bandara? Coba cek di koper kecil, Sayang.”“Ada! Ternyata dia sembunyiin di bawah selimut,” ucap Marsha sambil tertawa geli.Arnold masuk kembali ke kamar, menggendong Adrian. “Anak ini memang jago ngumpetin barang.”Adrian tertawa pelan, menyembunyikan wajahnya di dada ayahnya.“Jadi, agenda hari ini apa, Mrs. Zafazel?” tanya Arnold, duduk di samping istrinya.Marsha menjawab sambil membetulkan topi kecil Adrian, “Kita ke Parque del Retiro dulu. Aku pengin ngajak Adrian naik perahu di danau.

  • TUAN MUDA KAMU YANG KUTUNGGU!    46. Kedatangan Para Sahabat

    Rumah Arnold dan Marsha, di suatu siang.Pintu depan rumah dua lantai di kawasan Menteng terbuka perlahan. Arnold berdiri di ruang tamu mengenakan kaus polos dan celana santai, sambil menggendong Adrian yang tidur lelap di pelukannya.“Tadi aku dapet kabar Zera dan Mary mau main ke sini,” ujar Marsha sambil meletakkan botol susu yang baru saja dia siapkan.Arnold tersenyum. “Ah, mereka pasti nggak sabar pengin lihat Adrian.”Belum selesai mereka bicara, bel pintu berbunyi. Arnold meletakkan Adrian di box bayi di sudut ruang tamu dan membuka pintu. Tampak Zera dan Mary berdiri bersama suami mereka, Farez dan Joseph, masing-masing membawa tas dan kotak kado warna-warni.“Spada!” sapa Zera ceria.“Guys, kalian datangnya pas banget!” jawab Arnold sambil mempersilakan mereka masuk.Marsha muncul dari dapur, wajahnya berseri-seri. “Hai semuanya! Terima kasih sudah datang.”Mary menyunggingkan senyum hangat sambil menggendong tas besar. “Kami bawa banyak hadiah untuk Adrian, lho.”Farez i

  • TUAN MUDA KAMU YANG KUTUNGGU!    45. Welcome Baby Adrian

    Di sebuah ballroom hotel bintang lima, Jakarta Selatan.Lampu kristal menggantung megah di langit-langit ballroom. Tirai putih dihiasi taburan bunga hydrangea biru dan balon-balon transparan bernuansa pastel. Sebuah backdrop besar bertuliskan, Welcome Baby Adrian, berdiri di panggung utama, dikelilingi buket bunga dan hadiah-hadiah besar berbungkus rapi.Meja-meja bundar telah tertata dengan taplak putih dan centerpieces bunga mawar dan eucalyptus. Musik lembut mengalun dari grand piano di pojok ruangan.Marsha yang tengah hamil delapan bulan tampak memesona dalam gaun maternity biru langit, rambutnya disanggul anggun. Arnold tampil elegan dengan setelan jas abu muda, berdiri di samping sang istri menyambut tamu.“Zera!” seru Marsha, matanya berbinar saat melihat sahabatnya datang menggandeng Farez, suaminya.“Marsha! Aduh kamu cantik banget, makin glowing!” balas Zera sambil memeluk pelan sahabatnya.Farez menyalami Arnold, “Wah Bro, kelas banget tempatnya. Selamat ya, calon papa!”

  • TUAN MUDA KAMU YANG KUTUNGGU!    6. Menghabiskan Waktu Bersama

    Arnold memutar tubuhnya menghadap Marsha. “Itu aku?”Marsha hanya mengangguk kecil, pipinya masih bersemu merah.Untuk beberapa saat, mereka hanya saling menatap, dan dalam diam itu, ada sesuatu yang tak terucap tapi sangat terasa, yaitu benih cinta yang perlahan tumbuh, disirami kenangan masa lal

  • TUAN MUDA KAMU YANG KUTUNGGU!    4. Perbincangan Serius Keluarga Marsha

    Senin sore itu, langit di Kawasan Gading Serpong mulai meredup, menyisakan rona jingga yang lembut menyinari pepohonan di halaman rumah mewah milik Keluarga Eben. Sebuah mobil SUV putih berhenti perlahan di depan gerbang rumah, dan dari dalamnya keluar seorang wanita muda dengan penampilan elegan n

  • TUAN MUDA KAMU YANG KUTUNGGU!    7. Mampir Ke Rumah Marsha

    Malam semakin larut ketika mobil sedan hitam yang dikendarai Arnold berhenti perlahan di depan sebuah rumah megah bergaya klasik di Kawasan Gading Serpong. Lampu taman menyala lembut, menerangi jalan setapak menuju pintu utama rumah Keluarga Livia.Di dalam mobil, Marsha tersenyum sambil menoleh ke

  • TUAN MUDA KAMU YANG KUTUNGGU!    1. Perbincangan di Meja Makan

    Pagi yang cerah, Sinar matahari menyusup hangat melalui celah-celah tirai ruang makan rumah Keluarga Zafazel. Di meja makan panjang berbahan kayu jati mengkilap, tiga orang tampak sedang menikmati sarapan mereka. Aroma nasi goreng spesial buatan Mami Dina memenuhi ruangan, ditambah dengan irisan t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status