Share

5.

Author: Akabane Karma
last update publish date: 2026-09-25 09:33:24

Pagi menjelang siang itu, gubuk kayu tua di ujung desa tak lagi tampak muram.

Joni berdiri di sudut bilik belakang yang lembab. Di tangannya, dua gelang emas tebal pemberian Anita berkilau tertimpa cahaya matahari dari celah dinding. Modal awal yang lebih dari cukup untuk mengubah nasib.

[Mengonversi Material Emas Murni... Mengakses Pasar Herbal Kota.]

[Sistem Master Alkimia Membuka Akses Formulasi: "Klinik Pemurni Jiwa dan Vitalitas Skala Mikro".]

[Instruksi: Ubah Ruang Bawah Tanah/Gudang Belakang Menjadi Laboratorium Ekstraksi Tertutup.]

Layar transparan keemasan berkedip menuntun pikiran Joni.

Tanpa membuang waktu, Joni melangkah ke pasar kota terdekat. Ia membeli berbagai macam botol kaca tebal, kuali tembaga bekas, serta deretan rempah-rempah berkualitas seperti pasak bumi super, ginseng hutan, dan perasan akar pinang tua. Segala perlengkapan untuk membangun laboratorium alkimia pertamanya.

Sore harinya, gubuk kecil itu berubah menjadi tempat kerja rahasia.

Sarah, yang kini tampak bagaikan wanita berusia belasan tahun lebih muda dengan kulit seputih porselen dan pesona memikat, bergerak cepat membantu Joni. Daster kusamnya berganti kain sederhana yang rapi, mempertegas bentuk tubuhnya yang anggun dan bugar setelah menyerap ramuan alkimia semalam.

“Apa ini benar-benar akan berhasil, Joni?” bisik Sarah pelan seraya memindahkan balok-balok kayu untuk menyusun dipan periksa di bilik rahasia dapur.

Tangannya yang halus sedikit berdebu, namun matanya yang jernih memancarkan rasa percaya penuh pada anak tirinya.

“Pasti berhasil, Bu,” sahut Joni tenang seraya menata botol-botol ramuan di atas meja kayu. “Bobi memberi kita waktu tiga hari. Tapi dalam dua hari, kita tidak hanya melunasi utang itu, melainkan membuat bajingan itu berlutut di sini.”

Sarah tersenyum tipis. Kehangatan menyeruak di dadanya. Namun, kelelahan setelah seharian membersihkan dan menyusun ruang kerja rahasia mulai menggerogoti fisiknya.

Ketika Sarah berusaha mengangkat sebuah papan kayu tebal untuk alas dipan periksa yang baru disiapkan Joni, kakinya menyangkut pada akar lantai tanah yang menonjol.

“Aah!”

Sarah memekik kaget. Papan kayu itu terlepas dari genggamannya. Tubuh moleknya kehilangan keseimbangan, limbung dan ambruk lurus ke depan.

“Awas, Bu!”

Joni bergerak secepat kilat. Reflex refleks Alkemis membuat tubuh tegapnya melompat menangkap tubuh Sarah.

Brak!

Tubuh mereka berdua jatuh tersungkur di atas dipan kayu yang baru saja dilapisi kain seprai putih bersih. Papan kayu jatuh terhempas ke tanah di samping mereka, menimbulkan dentum keras yang langsung terhapus oleh keheningan bilik.

Atmosfer di dalam ruangan sepi itu seketika membeku.

Joni terbaring terlentang di atas dipan, sementara tubuh Sarah menindih tepat di atas dadanya. Jarak di antara wajah mereka terhapus sepenuhnya, hanya tersisa sehelai benang.

Napas Sarah yang memburu, hangat dan beraroma bunga melati alami, menerpa langsung permukaan kulit leher Joni. Dadanya yang naik-turun berirama menempel erat pada dada bidang Joni yang tegap dan keras. Tatapan mata mereka bertabrakan dalam keheningan yang membakar.

Zzz...

Feromon alkemis murni yang bersemayam dalam darah Joni mendadak merembes keluar, menguar tipis memenuhi udara ruangan sempit itu.

Mata Sarah yang jernih perlahan berkabut. Reaksi biologis dari mutasi sel tubuhnya semalam beresonansi secara agresif dengan aura dominan Joni.

Wanita muda itu merasa seluruh persendiannya melunak, digantikan oleh gelombang hangat yang mengalir deras dari titik dadanya menuju perut bawah.

“J-Joni...” bisik Sarah, suaranya parau, bergetar oleh gairah yang tak terikat.

Tangan halus Sarah yang gemetar merayap perlahan, meremas bahu kokoh Joni. Pinggulnya bergeser tanpa sengaja, menciptakan kontak fisik yang teramat rapat dan mendebarkan di atas seprai putih tersebut.

Rasa haus akan kehangatan yang dipendam bertahun-tahun seolah meledak seketika dalam diri Sarah. Bibirnya yang merekah merah merekah sedikit terbuka, menunduk mendekati bibir tegap Joni yang berjarak seujung kuku.

Joni meremang. Darahnya mendidih bagaikan minyak tersiram api. Aroma tubuh Sarah dan sentuhan intim yang liar itu menyiksa akal sehatnya, membakar dorongan gairah di dalam dadanya untuk menyatukan jiwa dan raga mereka saat itu juga.

Namun...

Ding!

Suara denting nyaring yang teramat dingin memotong atmosfer panas tersebut langsung di dalam rongga kepala Joni.

[Peringatan Sistem: Ambang Batas Energi Host Belum Mencapai Syarat.]

[Kondisi Penyatuan Mutlak: Inti Darah Alkemis Host Baru Berada di Level 1 atau Inisiasi.]

[Instruksi: Penyatuan Fisik Murni dengan Target Mutasi Tingkat Tinggi Sebelum Menstabilkan Fondasi Energi Melalui Transaksi Bisnis Akan Menyebabkan Ledakan Energi Dalam.]

[Target Wajib: Mengeruk Kekayaan & Mengumpulkan Poin Pengaruh Bisnis hingga Level 2 Sebelum Melakukan Penyatuan Penuh.]

Panel merah menyala berkedip keras di retina mata Joni.

Lagi-lagi bagaikan disiram air es di tengah puncak badai gairah, kesadaran Joni mendadak tertarik paksa kembali.

Joni mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gejolak napasnya yang memburu.

Dengan sangat perlahan dan penuh kelembutan, tangan tegap Joni memegang kedua bahu Sarah, menahan pergerakan wanita itu agar tidak semakin larut.

“Bu... tahan dulu ya...” ujar Joni dengan suara berat yang tertahan, matanya menatap tajam namun lembut ke dalam manik mata Sarah yang berkabut.

Sarah tersentak. Suara tenang Joni bagaikan embun pagi yang menembus kabut gairah di kepalanya. Perlahan, kehangatan liar di dalam tubuh Sarah mereda.

Menyadari dirinya tengah menindih tubuh anak tirinya dalam posisi yang begitu provokatif di atas dipan, wajah cantik wanita itu seketika merona merah padam bagaikan tomat matang.

“M-Maafkan Ibu, Joni... Ibu... Ibu tidak tahu kenapa tubuh Ibu jadi seperti ini...” cicit Sarah gagap, dengan cepat menegakkan tubuhnya dan berdiri canggung seraya merapikan daster dan rambutnya yang berantakan.

Joni ikut duduk di tepi dipan, menghela napas panjang untuk menetralkan detak jantungnya yang masih berdegup kencang bagaikan drum perang.

“Nggak apa-apa, Bu,” kata Joni seraya tersenyum tipis untuk mencairkan suasana. “Ini karena pengaruh sisa energi ramuan semalam. Setelah bisnis jamu kita berjalan lancar dan fondasi tubuhku makin stabil, semua akan baik-baik saja.”

Sarah menunduk malu, namun ada kilat kehangatan dan kepatuhan yang makin mendalam di matanya saat menatap Joni.

***

Malam pun semakin larut. Di dalam gudang belakang yang telah disulap menjadi klinik rahasia, botol-botol kaca hijau kini telah terisi penuh oleh cairan emas pekat.

Dia memberinya nama 'Jamu Stamina Raja', produk pertama yang siap digulirkan ke pasar.

Joni berdiri di ambang pintu gubuk, menatap kegelapan malam desa yang tenang dari kejauhan.

Modal sudah di tangan. Klinik rahasia telah berdiri.

Besok, lewat perantara Anita, ramuan ini akan mulai merambah jaringan para pejabat dan pengusaha kaya di kota kecamatan.

Joni meremas jemarinya, merasakan getaran energi alkimia yang semakin matang di dalam dadanya.

“Besok adalah permulaan,” gumam Joni dingin pada kegelapan malam. “Bobi, bersiaplah kau membayar seluruh perbuatanmu.”

...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • TUKANG JAMU AJAIB: KHASIATNYA LUAR BIASA   12.

    Malam baru saja turun ketika pintu belakang sebuah rumah berarsitektur kayu di sudut sepi dusun terdorong kasar. Bobi melangkah keluar dengan raut wajah merah padam. Kemeja dinasnya kusut, dan perut tambunnya membusung tegang.Di ambang pintu, seorang wanita muda berdiri menyandarkan tubuhnya pada kusen. Parasnya ayu, matanya lentik, namun sepasang alisnya menukik tajam.Namanya Laras, janda kembang desa yang selama ini menjadi simpanan rahasia Kepala Desa.“Mas Bobi mau ke mana lagi, Hah?!” bentak Laras setengah berbisik, matanya berkilat marah. “Jangan cuma bisa kabur setelah bikin keributan di rumahku!”Bobi memutar badannya kasar, melotot seraya menunjuk muka Laras dengan jari gemetar. “Kau jangan ikut-ikutan menyudutkan aku, Laras! Kepala aku sudah mau pecah!”“Kepala Mas mau pecah, tapi janji-janji Mas ke aku mana?!” Laras melangkah keluar satu tapak, membusungkan dadanya tanpa rasa takut. “Bulan lalu Mas janji mau membelikan aku kalung emas lima gram. Pekan lalu janji mau kasi

  • TUKANG JAMU AJAIB: KHASIATNYA LUAR BIASA   11.

    Anita merapikan kembali gaun tidurnya di sudut ruangan VIP yang temaram. Udara di dalam kamar masih menyisa aroma harum minyak melati bercampur desiran hangat energi alkimia.Dari balik lipatan selendangnya, Anita merogoh sebuah buku ber-sampul kulit hitam yang sudah kusam. Ia melangkah mendekati Joni yang sedang duduk di tepi dipan, lalu meletakkan buku itu di atas pangkuan pemuda tersebut.“Apa ini, Anita?” tanya Joni seraya menatap buku kusam itu.“Senjata milik suamiku, eh maksudku si bajingan Bobi itu,” bisik Anita. Tangannya yang halus mengusap jemari Joni. “Di dalamnya ada seluruh catatan penggelapan dana bantuan desa, uang kas proyek jalan, sampai daftar nama pejabat kecamatan yang biasa dia suap selama lima tahun terakhir.”Joni membuka lembar demi lembar buku tersebut. Mata keemasannya berkilat membacanya.[Analisis Sistem: Dokumen Hukum Valid Terdeteksi.][Opsi 1: Laporkan ke Pihak Berwajib (Kekuasaan Bobi Runtuh Seketika).][Opsi 2: Tahan Dokumen (Ekspansi & Pengurasan Ase

  • TUKANG JAMU AJAIB: KHASIATNYA LUAR BIASA   10.

    Ada saat-saat dalam sejarah sebuah tempat ketika roda takdir tidak sekadar berputar pelan, melainkan berguling menghantam dan meratakan tatanan lama. Dan di desa kecil yang terlalu lama dikuasai oleh keserakahan, pagi itu menjadi saksi bagaimana hierarki yang rapuh runtuh tanpa sisa.***Kabar tentang Kepala Desa Bobi yang dilemparkan bagaikan karung beras di pekarangan Joni menyebar bagaikan badai. Tidak ada lagi yang menatap pemuda itu dengan sebelah mata. Ketakutan warga bertukar menjadi rasa hormat, dan rasa hormat itu perlahan menjelma menjadi harapan.Pagi hari berikutnya pelataran gubuk yang biasanya sepi dipenuhi belasan warga desa. Mereka berdiri berjejer, menanti dengan canggung namun matanya memancarkan binar antusiasme.Joni berdiri di atas tangga kayu gubuknya, berdampingan dengan Sarah yang tampil makin anggun dan memesona.“Mulai hari ini,” suara Joni yang berat dan tenang memecah keheningan pagi, “aku butuh sepuluh orang warga untuk membantuku memanen akar-akaran dan

  • TUKANG JAMU AJAIB: KHASIATNYA LUAR BIASA   9.

    Keheningan pagi yang hangat itu mendadak pecah oleh deru langkah kaki yang riuh dan bentakan kasar yang membelah udara.“Seret semua barangnya keluar! Ratakan gubuk reot ini kalau perlu!”Bobi melangkah lebar memimpin rombongan. Perut tambun sang Kepala Desa itu membusungkan keangkuhan, dilapisi kemeja dinas yang licin. Di sampingnya, beberapa aparat desa berseragam dan belasan preman suruhan berjalan garang membawa balok kayu dan surat penyitaan palsu.Tak ketinggalan, di barisan depan berdiri Ogin bersama beberapa preman sesepuh desa yang paling provokatif, wajahnya yang penuh brewok menyeringai busuk.“Warga sekalian! Lihat baik-baik!” teriak Ogin dengan suara parau yang memanggil perhatian warga sekitar. Warga desa pun mulai berkerumun di balik semak dan pagar kayu, menatap cemas. “Pagi ini, batas waktu utang lima puluh juta si Joni dungu sudah habis! Hari ini rumah ini disita resmi oleh Pak Kades!”“Benar!” Bobi menimpali seraya melipat tangan di dada, matanya berkilat penuh ke

  • TUKANG JAMU AJAIB: KHASIATNYA LUAR BIASA   8.

    Joni menatap mata Sarah yang berkabut pasrah. Erangan halus dan rasa sakit yang membakar dari mutasi sel tubuh wanita muda itu mengetuk nuraninya. Ini bukan lagi soal norma, bukan lagi soal tabu hubungan ibu tiri dan anak yang selama ini memenjarakan mereka. Ini adalah pertaruhan nyawa.Tanpa mengalihkan pandangannya, Joni berdiri pelan, melangkah ke pintu kamar kayu yang rapuh, lalu memutar palang kayu untuk menguncinya rapat-rapat.Klek.Keheningan malam yang sunyi seolah menyegel ruangan itu dari dunia luar. Hanya tersisa deru hujan yang menghantam atap seng dan helaan napas memburu yang memecah kesunyian.Joni kembali berlutut di tepi dipan. Jemari tegapnya yang hangat merengkuh dagu Sarah yang merona merah.“Dengarkan aku, Sarah...” suara Joni terdengar amat berat, dalam, dan dipenuhi kehangatan dominan yang menenangkan. “Mulai detik ini, buang semua masa lalu itu. Kamu bukan lagi ibu tiriku, dan aku bukan lagi pemuda dungu yang lemah.”Sarah menatap manik mata keemasan Joni. Di

  • TUKANG JAMU AJAIB: KHASIATNYA LUAR BIASA   7.

    Dunia selalu punya caranya sendiri untuk menguji seberapa keras tekad seseorang. Ketika fajar esok hari adalah garis batas antara kebebasan dan kehancuran, setiap detik yang bergulir terasa bagaikan dentang lonceng kematian yang makin nyaring.---Tenggat waktu tiga hari dari Bobi tiba esok pagi.Pagi-pagi sekali, ketika embun hutan masih tebal membungkus dedaunan, Joni melangkah memasuki kawasan hutan rimba di kaki bukit. Di sampingnya, Dodo, sahabat karibnya sejak kecil yang setia, berjalan mengapit keranjang bambu besar. Dodo adalah satu-satunya pemuda desa yang tidak pernah ikut mengejek Joni saat ia masih menjadi cecunguk yang lemah.“Jon... kau yakin bahan-bahan di keranjang ini cukup buat bikin racikan pemungkas?” bisik Dodo ragu, matanya yang awas menatap semak-semak yang mati angin. “Perasaanku nggak enak. Sejak tadi ada suara kresek-kresek yang mengikuti langkah kita.”Joni tidak menjawab dengan kata-kata. Matanya yang keemasan berkilat di balik bayang-bayang pepohonan tua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status