登入Malam semakin larut di dalam rumah kayu sepi itu. Di balik tirai tipis yang bergeser pelan ditiup angin, riak gelombang panas dalam darah Laras perlahan mengendap, berganti dengan sensasi rileks dan kesegaran fisik yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.Laras menyandarkan kepalanya di dada bidang Joni. Kulitnya yang kini memancarkan pendar halus seputih porselen merona hangat, napasnya yang teratur menerpa leher tegap sang Alkemis.Akal sehat janda kembang itu telah kembali sepenuhnya, namun cara pandangnya terhadap dunia telah berubah total.“Selama ini...” bisik Laras pelan, suaranya parau namun sarat akan kepatuhan yang mendalam, “aku pikir si Bobi tua itu tempatku bergantung. Ternyata dia cuma benalu yang memanfaatkan tubuhku dan memberiku janji busuk.”Joni mengelus lembut rambut Laras yang terurai, matanya yang keemasan menatap langit-langit kamar yang temaram. “Pria lemah selalu mencari mangsa yang bisa dia kendalikan, Laras. Tapi di sisiku, kamu tidak perlu lagi merenda
Malam baru saja turun ketika pintu belakang sebuah rumah berarsitektur kayu di sudut sepi dusun terdorong kasar. Bobi melangkah keluar dengan raut wajah merah padam. Kemeja dinasnya kusut, dan perut tambunnya membusung tegang.Di ambang pintu, seorang wanita muda berdiri menyandarkan tubuhnya pada kusen. Parasnya ayu, matanya lentik, namun sepasang alisnya menukik tajam.Namanya Laras, janda kembang desa yang selama ini menjadi simpanan rahasia Kepala Desa.“Mas Bobi mau ke mana lagi, Hah?!” bentak Laras setengah berbisik, matanya berkilat marah. “Jangan cuma bisa kabur setelah bikin keributan di rumahku!”Bobi memutar badannya kasar, melotot seraya menunjuk muka Laras dengan jari gemetar. “Kau jangan ikut-ikutan menyudutkan aku, Laras! Kepala aku sudah mau pecah!”“Kepala Mas mau pecah, tapi janji-janji Mas ke aku mana?!” Laras melangkah keluar satu tapak, membusungkan dadanya tanpa rasa takut. “Bulan lalu Mas janji mau membelikan aku kalung emas lima gram. Pekan lalu janji mau kasi
Anita merapikan kembali gaun tidurnya di sudut ruangan VIP yang temaram. Udara di dalam kamar masih menyisa aroma harum minyak melati bercampur desiran hangat energi alkimia.Dari balik lipatan selendangnya, Anita merogoh sebuah buku ber-sampul kulit hitam yang sudah kusam. Ia melangkah mendekati Joni yang sedang duduk di tepi dipan, lalu meletakkan buku itu di atas pangkuan pemuda tersebut.“Apa ini, Anita?” tanya Joni seraya menatap buku kusam itu.“Senjata milik suamiku, eh maksudku si bajingan Bobi itu,” bisik Anita. Tangannya yang halus mengusap jemari Joni. “Di dalamnya ada seluruh catatan penggelapan dana bantuan desa, uang kas proyek jalan, sampai daftar nama pejabat kecamatan yang biasa dia suap selama lima tahun terakhir.”Joni membuka lembar demi lembar buku tersebut. Mata keemasannya berkilat membacanya.[Analisis Sistem: Dokumen Hukum Valid Terdeteksi.][Opsi 1: Laporkan ke Pihak Berwajib (Kekuasaan Bobi Runtuh Seketika).][Opsi 2: Tahan Dokumen (Ekspansi & Pengurasan Ase
Ada saat-saat dalam sejarah sebuah tempat ketika roda takdir tidak sekadar berputar pelan, melainkan berguling menghantam dan meratakan tatanan lama. Dan di desa kecil yang terlalu lama dikuasai oleh keserakahan, pagi itu menjadi saksi bagaimana hierarki yang rapuh runtuh tanpa sisa.***Kabar tentang Kepala Desa Bobi yang dilemparkan bagaikan karung beras di pekarangan Joni menyebar bagaikan badai. Tidak ada lagi yang menatap pemuda itu dengan sebelah mata. Ketakutan warga bertukar menjadi rasa hormat, dan rasa hormat itu perlahan menjelma menjadi harapan.Pagi hari berikutnya pelataran gubuk yang biasanya sepi dipenuhi belasan warga desa. Mereka berdiri berjejer, menanti dengan canggung namun matanya memancarkan binar antusiasme.Joni berdiri di atas tangga kayu gubuknya, berdampingan dengan Sarah yang tampil makin anggun dan memesona.“Mulai hari ini,” suara Joni yang berat dan tenang memecah keheningan pagi, “aku butuh sepuluh orang warga untuk membantuku memanen akar-akaran dan
Keheningan pagi yang hangat itu mendadak pecah oleh deru langkah kaki yang riuh dan bentakan kasar yang membelah udara.“Seret semua barangnya keluar! Ratakan gubuk reot ini kalau perlu!”Bobi melangkah lebar memimpin rombongan. Perut tambun sang Kepala Desa itu membusungkan keangkuhan, dilapisi kemeja dinas yang licin. Di sampingnya, beberapa aparat desa berseragam dan belasan preman suruhan berjalan garang membawa balok kayu dan surat penyitaan palsu.Tak ketinggalan, di barisan depan berdiri Ogin bersama beberapa preman sesepuh desa yang paling provokatif, wajahnya yang penuh brewok menyeringai busuk.“Warga sekalian! Lihat baik-baik!” teriak Ogin dengan suara parau yang memanggil perhatian warga sekitar. Warga desa pun mulai berkerumun di balik semak dan pagar kayu, menatap cemas. “Pagi ini, batas waktu utang lima puluh juta si Joni dungu sudah habis! Hari ini rumah ini disita resmi oleh Pak Kades!”“Benar!” Bobi menimpali seraya melipat tangan di dada, matanya berkilat penuh ke
Joni menatap mata Sarah yang berkabut pasrah. Erangan halus dan rasa sakit yang membakar dari mutasi sel tubuh wanita muda itu mengetuk nuraninya. Ini bukan lagi soal norma, bukan lagi soal tabu hubungan ibu tiri dan anak yang selama ini memenjarakan mereka. Ini adalah pertaruhan nyawa.Tanpa mengalihkan pandangannya, Joni berdiri pelan, melangkah ke pintu kamar kayu yang rapuh, lalu memutar palang kayu untuk menguncinya rapat-rapat.Klek.Keheningan malam yang sunyi seolah menyegel ruangan itu dari dunia luar. Hanya tersisa deru hujan yang menghantam atap seng dan helaan napas memburu yang memecah kesunyian.Joni kembali berlutut di tepi dipan. Jemari tegapnya yang hangat merengkuh dagu Sarah yang merona merah.“Dengarkan aku, Sarah...” suara Joni terdengar amat berat, dalam, dan dipenuhi kehangatan dominan yang menenangkan. “Mulai detik ini, buang semua masa lalu itu. Kamu bukan lagi ibu tiriku, dan aku bukan lagi pemuda dungu yang lemah.”Sarah menatap manik mata keemasan Joni. Di







