Share

43.

Author: Dre LA
last update publish date: 2026-10-27 16:24:54

Tangan besar genderuwo meremas dada Sinta kasar, memaksa buah melon itu keluar di antara jari-jari, memelintir puting sampai Sinta menjerit kenikmatan sakit. Mulut besarnya menunduk, taring menggigit bahu Sinta sampai berdarah, lalu menjilat darahnya sambil terus menghajar. Bau tanah basah, keringat, dan sesuatu yang amis memenuhi udara.

Genderuwo membalik Sinta di udara. Sekarang pantatnya menghadap ke atas. Ia menghajar dari belakang dengan tempo yang lebih gila. Setiap hentakan membuat c
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Janda Pesugihan!   43.

    Tangan besar genderuwo meremas dada Sinta kasar, memaksa buah melon itu keluar di antara jari-jari, memelintir puting sampai Sinta menjerit kenikmatan sakit. Mulut besarnya menunduk, taring menggigit bahu Sinta sampai berdarah, lalu menjilat darahnya sambil terus menghajar. Bau tanah basah, keringat, dan sesuatu yang amis memenuhi udara. Genderuwo membalik Sinta di udara. Sekarang pantatnya menghadap ke atas. Ia menghajar dari belakang dengan tempo yang lebih gila. Setiap hentakan membuat cairan merah gelap menyembur keluar dari apem yang sudah menganga, membasahi bulu hitam di paha genderuwo. Tangan besar menampar pantat Sinta berulang kali sampai kulitnya memerah padam dan berdenyut. “Aahh—! Tampar terus… gigit… sedot susu aku…!” Sinta berteriak, tangan mencoba memegang rambut kusut genderuwo, menariknya seolah ingin ditumbuk lebih dalam. Genderuwo menurut. Mulut besarnya menggigit puting kiri, mengisap kuat sampai Sinta hampir pingsan, sementara pinggang terus bergerak sepe

  • Janda Pesugihan!   42.

    Raja Gagak belum selesai. Sinta masih tergeletak di atas batu obsidian yang berdenyut hangat, perut sedikit mengembung oleh cairan merah gelap yang baru saja disemburkan ke dalam rahimnya. Apemnya menganga lebar, merah tua, bengkak, terus-menerus meneteskan cairan kental yang membasahi paha putihnya dan tanah di bawah. Dada montok naik-turun cepat, puting yang sudah digigit dan dipelintir masih basah dan menegang. Sinta tidak diam. Ia bangkit dengan kaki gemetar, merangkak mendekati kaki raksasa Raja Gagak, lalu menjilat cairan merah gelap yang menetes dari batang hitam legam itu. Lidahnya panjang, rakus, membersihkan dari pangkal sampai kepala. Ia mengulum sebisanya, rahang terpaksa terbuka lebar, air liur bercampur cairan panas menetes di dadanya. “Masih keras…” desahnya serak, mata menatap ke atas. “Aku masih mau.” Raja Gagak menggeram rendah. Sayap hitamnya terentang lebar, menciptakan angin yang membuat rambut pirang Sinta berkibar liar. Ia mengangkat tubuh Sinta lagi s

  • Janda Pesugihan!   41.

    Udara di kamar tiba-tiba berubah. Cincin akik hitam di jari Bagas berdenyut begitu kuat sampai tulang jarinya terasa retak. Cahaya merah saga menyembur dari batu itu, menyelimuti seluruh tubuh Sinta yang masih telanjang di atas kasur. Dada montoknya naik-turun cepat, puting yang sudah bengkak dan basah menegang lagi. Apemnya yang merah dan menganga masih meneteskan sperma kental. Sinta merasakan sesuatu menarik dari dalam pusarnya. Bukan sakit. Lebih seperti tarikan panas yang langsung menyambar klitoris dan dinding dalamnya. “Mas… apa ini…” suaranya serak, tapi pinggulnya sudah bergerak gelisah. Bagas tidak menjawab. Matanya sudah hitam legam. Suara yang keluar dari mulutnya sekarang sepenuhnya milik sesuatu yang jauh lebih tua dan mengerikan—berat, dalam, menggetarkan tulang. “Kamu sudah cukup bermain dengan wadah manusia ini. Sekarang ikut denganku.” Dunia berputar. Kasur, lampu kuning, dinding mansion… semuanya hilang. Sinta merasa tubuhnya diangkat tanpa disentuh. De

  • Janda Pesugihan!   40.

    Bagas masih di dalam Sinta ketika janda itu tiba-tiba menggerakkan pinggulnya lagi. Bukan pelan. Bukan manja. Kali ini Sinta yang mengambil alih dengan cara yang liar. Ia mendorong dada Bagas kembali ke kasur, kedua tangan menekan bahu pria itu kuat-kuat. Mata pirangnya yang tadinya sayu kini menyala nafsu gila. Rambut berantakan menempel di wajah basah, bibir terbuka, air liur menetes. “Aku belum selesai,” desis Sinta dengan suara serak yang jarang ia pakai. “Apem aku masih lapar. Joni kamu masih keras. Aku mau lebih.” Ia bangkit tegak di atas Bagas, lutut menekan kasur di kedua sisi pinggang. Tanpa ragu ia mengangkat pantat sampai kepala joni hampir keluar, lalu menghantam turun sekeras mungkin. Bunyi “PLAK!” basah dan keras menggema. Dada montok berguncang hebat di depan wajah Bagas. Sinta tidak berhenti. Ia menunggang brutal, naik-turun cepat seperti orang kesetanan, setiap hentakan membuat kulit pantatnya berbenturan keras dengan paha Bagas. “Uhh… aahh… Mas… lihat… apem a

  • Janda Pesugihan!   39.

    Bagas menarik tubuh Sinta yang masih gemetar ke atas dadanya. Sperma dan cairan basah masih menetes dari apem yang menganga, membasahi perut dan dada Bagas. Ia membaringkan diri di tengah kasur king size, joni yang masih setengah tegang berdiri tegak di antara keduanya, berdenyut, mengkilap oleh campuran sperma dan cairan Sinta. “Naik,” perintahnya datar, suara masih digetarkan oleh Raja Gagak. Sinta menurut dengan kaki yang lemas. Ia mengangkang di atas pinggang Bagas, satu tangan menopang dada bidang pria itu, tangan lain memegang batang tebal yang masih basah. Kepala joni menekan bibir bawah yang sudah merah dan bengkak. Sinta menggesek-gesek dulu, membasahi lagi, lalu menurunkan pinggul perlahan. “Uhh… aahh… masuk… lagi…” desahnya saat batang itu meregangkan apem yang sudah longgar tapi masih sempit di bagian dalam. Ia turun sampai pangkal, sampai pantatnya menempel ke paha Bagas. Perut bawahnya menonjol sedikit karena diisi penuh. Bagas tidak memberinya waktu untuk bernap

  • Janda Pesugihan!   38.

    Bagas belum selesai. Joni yang baru saja meledak di dalam rahim Sinta masih setengah tegang, berdenyut pelan di paha dalam janda itu. Sperma kental masih mengalir dari apem yang menganga, membasahi seprai hitam sampai ke lutut. Sinta tergeletak lemas, dada naik-turun, mata sayu, bibir terbuka. Tapi cincin akik hitam di jari Bagas berdenyut lagi—lebih panas, lebih menuntut. Raja Gagak belum puas. Bagas bangkit, berdiri di tepi kasur. Ia menarik rambut pirang Sinta ke atas, memaksa wajahnya mendongak. “Buka mulut.” Sinta menurut, lidah menjulur. Bagas tidak memasukkan joni. Ia memegang batang yang masih basah oleh cairan mereka, mengarahkan ujungnya ke bibir Sinta, lalu melepaskan. Kencing hangat menyembur deras. Bau amonia yang tajam memenuhi udara kamar. Sinta tersentak, tapi Bagas menahan kepalanya tetap di tempat. Aliran kencing masuk ke mulutnya, membasahi lidah, mengalir ke tenggorokan. Sinta terbatuk, sebagian tumpah ke dagu dan dada, tapi ia tetap membuka mulut, menelan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status