로그인Raja Gagak belum selesai. Sinta masih tergeletak di atas batu obsidian yang berdenyut hangat, perut sedikit mengembung oleh cairan merah gelap yang baru saja disemburkan ke dalam rahimnya. Apemnya menganga lebar, merah tua, bengkak, terus-menerus meneteskan cairan kental yang membasahi paha putihnya dan tanah di bawah. Dada montok naik-turun cepat, puting yang sudah digigit dan dipelintir masih basah dan menegang. Sinta tidak diam. Ia bangkit dengan kaki gemetar, merangkak mendekati kaki raksasa Raja Gagak, lalu menjilat cairan merah gelap yang menetes dari batang hitam legam itu. Lidahnya panjang, rakus, membersihkan dari pangkal sampai kepala. Ia mengulum sebisanya, rahang terpaksa terbuka lebar, air liur bercampur cairan panas menetes di dadanya. “Masih keras…” desahnya serak, mata menatap ke atas. “Aku masih mau.” Raja Gagak menggeram rendah. Sayap hitamnya terentang lebar, menciptakan angin yang membuat rambut pirang Sinta berkibar liar. Ia mengangkat tubuh Sinta lagi s
Bagas masih di dalam Sinta ketika janda itu tiba-tiba menggerakkan pinggulnya lagi. Bukan pelan. Bukan manja. Kali ini Sinta yang mengambil alih dengan cara yang liar. Ia mendorong dada Bagas kembali ke kasur, kedua tangan menekan bahu pria itu kuat-kuat. Mata pirangnya yang tadinya sayu kini menyala nafsu gila. Rambut berantakan menempel di wajah basah, bibir terbuka, air liur menetes. “Aku belum selesai,” desis Sinta dengan suara serak yang jarang ia pakai. “Apem aku masih lapar. Joni kamu masih keras. Aku mau lebih.” Ia bangkit tegak di atas Bagas, lutut menekan kasur di kedua sisi pinggang. Tanpa ragu ia mengangkat pantat sampai kepala joni hampir keluar, lalu menghantam turun sekeras mungkin. Bunyi “PLAK!” basah dan keras menggema. Dada montok berguncang hebat di depan wajah Bagas. Sinta tidak berhenti. Ia menunggang brutal, naik-turun cepat seperti orang kesetanan, setiap hentakan membuat kulit pantatnya berbenturan keras dengan paha Bagas. “Uhh… aahh… Mas… lihat… apem a
Bagas menarik tubuh Sinta yang masih gemetar ke atas dadanya. Sperma dan cairan basah masih menetes dari apem yang menganga, membasahi perut dan dada Bagas. Ia membaringkan diri di tengah kasur king size, joni yang masih setengah tegang berdiri tegak di antara keduanya, berdenyut, mengkilap oleh campuran sperma dan cairan Sinta. “Naik,” perintahnya datar, suara masih digetarkan oleh Raja Gagak. Sinta menurut dengan kaki yang lemas. Ia mengangkang di atas pinggang Bagas, satu tangan menopang dada bidang pria itu, tangan lain memegang batang tebal yang masih basah. Kepala joni menekan bibir bawah yang sudah merah dan bengkak. Sinta menggesek-gesek dulu, membasahi lagi, lalu menurunkan pinggul perlahan. “Uhh… aahh… masuk… lagi…” desahnya saat batang itu meregangkan apem yang sudah longgar tapi masih sempit di bagian dalam. Ia turun sampai pangkal, sampai pantatnya menempel ke paha Bagas. Perut bawahnya menonjol sedikit karena diisi penuh. Bagas tidak memberinya waktu untuk bernap
Bagas belum selesai. Joni yang baru saja meledak di dalam rahim Sinta masih setengah tegang, berdenyut pelan di paha dalam janda itu. Sperma kental masih mengalir dari apem yang menganga, membasahi seprai hitam sampai ke lutut. Sinta tergeletak lemas, dada naik-turun, mata sayu, bibir terbuka. Tapi cincin akik hitam di jari Bagas berdenyut lagi—lebih panas, lebih menuntut. Raja Gagak belum puas. Bagas bangkit, berdiri di tepi kasur. Ia menarik rambut pirang Sinta ke atas, memaksa wajahnya mendongak. “Buka mulut.” Sinta menurut, lidah menjulur. Bagas tidak memasukkan joni. Ia memegang batang yang masih basah oleh cairan mereka, mengarahkan ujungnya ke bibir Sinta, lalu melepaskan. Kencing hangat menyembur deras. Bau amonia yang tajam memenuhi udara kamar. Sinta tersentak, tapi Bagas menahan kepalanya tetap di tempat. Aliran kencing masuk ke mulutnya, membasahi lidah, mengalir ke tenggorokan. Sinta terbatuk, sebagian tumpah ke dagu dan dada, tapi ia tetap membuka mulut, menelan
Bagas membalik tubuhnya. Sinta kini tengkurap, pinggang diangkat tinggi, dada menempel ke kasur. Dari belakang, Bagas masuk lagi dengan sekali dorong keras. Tangan kanannya meraih rambut pirang Sinta, menariknya ke belakang sementara pinggangnya menghajar tanpa ampun. Bunyi “plak-plak-plak” basah dan keras memenuhi kamar. Apem Sinta sudah merah, bengkak, mengeluarkan busa putih dari cairan keduanya yang bercampur. Setiap kali Bagas menarik keluar, cairan kental ikut tertarik, lalu masuk lagi dengan hentakan yang membuat Sinta menjerit. “Sempit banget… masih sempit meski basah begini,” Bagas menggeram. Ia meremas pantat Sinta sampai memerah, lalu menampar pelan. “Ini apem yang sudah menampung benih Raja Gagak. Sekarang aku pakai lagi.” Sinta orgasme pertama kali tanpa peringatan. Tubuhnya kejang, apem mencengkeram joni Bagas dengan kuat, cairan menyembur membasahi paha Bagas. Tapi Bagas tidak berhenti. Ia terus menghajar melewati orgasme itu, membuat Sinta menangis kenikmatan.
Cincin akik hitam di jari manis Bagas berdenyut lebih kencang, panasnya merembes sampai ke tulang. Hawa dingin yang tadi menyelimuti ruangan kerja kini seolah ikut menempel di kulitnya, bercampur dengan getaran gaib yang membuat pupil matanya sempat menggelap sepersekian detik. Raja Gagak tidak lagi hanya berteriak di dalam kepala. Ia merayap, merasuki, menyatu. Bagas menarik napas dalam. Tangan kanannya yang tadinya hanya melingkari pinggang Sinta kini bergerak naik, menyelinap di bawah kaus ketat berbelahan rendah itu. Telapak kasarnya—yang dulu hanya memegang stang motor ojol—kini langsung meremas sepasang buah dada montok yang sudah lama menjadi objek fantasi para sopir truk. Daging kenyal itu penuh di genggamannya. Ia meremas kuat, ibu jari memutar puting yang sudah mengeras di balik kain tipis. Sinta tersentak. “A-ahh… Mas…” suaranya pecah, lututnya lemas. Ia hampir terjatuh jika tidak digenggam pinggang oleh Bagas. Tidak berhenti di situ. Tangan kiri Bagas turun, menyel







