Home / Fantasi / Tabib Desa, Pemikat Para Pria / Bab 2 || Bisikan Kutukan di Balik Singgasana

Share

Bab 2 || Bisikan Kutukan di Balik Singgasana

last update publish date: 2026-02-18 14:52:15

Shalla terpaku mendengar titah prajurit itu. Jantungnya berdebar tak menentu, kegugupan menjalari relung dadanya. Namun tanpa keberanian untuk membantah, ia melangkah ragu mendekati kuda yang berdiri gagah di hadapannya.

Gerakannya canggung, jemarinya gemetar saat mencoba menapak sanggurdi.

Menyadari kesulitannya, Thava segera mengulurkan tangan. "Peganglah, Nona."

Shalla menatap telapak tangan itu sejenak sebelum akhirnya menyambutnya. Jemarinya menggenggam kuat, seolah itulah satu-satunya penopang keberaniannya.

Dengan bantuan Thava, ia naik perlahan, hingga akhirnya duduk sempurna di atas pelana. Napasnya masih terasa tercekat, tubuhnya tegang oleh rasa gugup yang belum mereda.

Tak lama, Thava menyusul naik ke belakangnya. Zirah peraknya beradu lirih, sementara kuda itu mengibaskan surainya, seakan turut merasakan ketergesaan.

Relung dadanya bergemuruh, tubuhnya kaku merasakan kehadiran pria itu di belakangnya, seolah-olah sedang diantar seorang pangeran. Astaga… semuanya terasa seperti mimpi, pergi ke istana bersama pengawal tampan, bertemu Putra Mahkota, bahkan berhadapan dengan Raja dan Ratu, serta seluruh penghuni istana.

Wanita biasa sepertinya sangatlah beruntung.

"Ah… aku tidak sabar!!" batinnya, hati melonjak penuh kegembiraan.

Tidak sia-sia selama ini, dirinya selalu bermimpi datang ke istana, menjadi pemeran utama. Ternyata, semua itu adalah petunjuk untuknya.

Suara tapak kaki kuda bergema renyah di sepanjang jalan, menembus desa yang tenang. Warga menatap dengan mata terbelalak, penuh tanda tanya, seolah mendengar alunan langkah ajaib yang membawa kabar istimewa dari langit.

Di sela-sela perjalanan, batinnya bersuara pelan melantunkan pantun,

"Melangkah ringan sembari menunggang…"

"Embun malam menari di daun dan dahan…"

"Hati berdebar, jantung menari riang…"

"Sebentar lagi, Shaenalla Arvenia akan datanggg…"

Shalla tersipu, bibirnya menekuk malu sambil tertawa pelan, seakan angin senja ikut menari bersamanya. Sementara, Thava di belakangnya tetap fokus, matanya menatap lurus ke depan, membimbing kuda yang berkilau di bawah cahaya jingga.

Sebentar lagi, mereka akan menapak teras Istana Velmoria, tempat menara menjulang berhiaskan cahaya magis dan taman berselimut kabut perak. Di sana, semua takdir yang tersembunyi menanti untuk terungkap, dan dunia Shalla yang biasa akan berubah menjadi panggung dongeng yang nyata.

Kuda melaju deras, bulu kudanya berkilau di bawah sinar senja, membuat Shalla hampir tergelincir dari pelana. Dengan sigap, Thava melingkarkan tangannya, memeluk perut Shalla seperti pelindung dari badai yang tak terlihat.

"Ehhh... eh?" batinnya, jantungnya menari-nari di dada, campur aduk antara gugup dan takjub.

Prajurit Thava tak menyadarinya, niatnya hanyalah menjaga agar Shalla tetap aman, seakan energi magis dari kuda dan dirinya menari bersama, menuntun langkah mereka.

Setelah perjalanan panjang, kuda Thava menapak di teras Istana Velmoria, Shalla terpesona. Pilar berukir memancarkan cahaya lembut, taman istana diselimuti kabut senja yang berkilau seperti perak cair, dan langit jingga menatapnya seolah menyambut sang tabib desa.

Ia merasa masuk ke dunia dongeng, dunia yang selama ini hanya berani ia khayalkan, dan hatinya berdesir, menanti semua takdir yang akan terbuka di hadapannya.

"Wowwww… gede bangettt…!" gumam Shalla, matanya berbinar, hati berdebar campur kagum dan malu.

"Nona?" panggil prajurit Thava, tangannya melambaikan di depan wajahnya, seperti membimbingnya kembali dari dunia mimpi.

"Ehh… Maaf, Tuan!" ucap Shalla, terkekeh malu. Ia menggaruk tengkuknya, memelintir ujung pakaiannya, batinnya bergumam, "Astagaa… jangan malu-maluin, Shalla…"

Thava menarik napas, matanya tetap lurus ke depan, namun aura pelindungnya terasa seperti perisai tak terlihat.

"Mari, kita masuk!" ajaknya, suaranya mantap, nyaris seperti mantra yang membuka gerbang dunia baru.

"Ah… baik, Tuan!" jawab Shalla, sambil menahan napas. Setiap langkahnya terasa seperti menapaki awan emas, menuju dunia dongeng yang kini nyata di hadapannya.

Keduanya kini berdiri di hadapan Paduka, yang menatap mereka dengan sorot mata penuh kewibawaan, seakan mampu menembus hati.

Ratu Seraphina bersuara tegas, nada penuh kecemasan dan kekuatan, "Ini… tabib desa yang kau maksud, Thava?!"

Thava menunduk hormat, suaranya mantap meski masih mengandung getaran tegang.

"Benar, Paduka. Dialah yang hamba maksudkan."

Raja Eldric menggeleng pelan, wajahnya menampilkan ketidakpercayaan yang tegas, seolah menimbang kebenaran setiap kata.

"Jangan bermain denganku, Thava!"

Thava menundukkan kepala lebih dalam, suara bergetar sedikit karena gugup namun tetap yakin.

"Benar, Paduka. Hamba tak sedang bercanda."

Raja Eldric menatap tajam wajah wanita muda itu, matanya menelusuri setiap gerak, setiap raut wajah, mencoba membaca kebenaran di balik sosok sederhana namun berbeda ini.

Akhirnya, ia mengangguk pelan, nada suaranya terdengar berat tapi penuh kelegaan.

"Baiklah… aku percaya padamu. Terima kasih, Thava. Kau boleh meninggalkan ruang ini."

Dengan hormat penuh, Thava menunduk dalam-dalam, memberi penghormatan terakhir sebelum mundur.

"Ampun, hormat, Yang Mulia. Hamba mohon izin pergi!"

Mata Ratu Seraphina menatap tajam ke arah wanita desa yang kini berdiri dengan gaun sederhana, namun anggun tersapu cahaya lampu kristal di ruangan.

"Baik… perkenalkan dirimu, Nak!" suaranya tegas, namun terselip rasa ingin tahu.

Shalla tersenyum tipis, dadanya berdebar ringan, sedikit gugup di hadapan aura megah istana.

"Nama hamba Shaenalla Arvenia, namun Paduka boleh memanggil hamba Shalla. Saya seorang tabib dari desa barat… salam hormat, Paduka!" ucapnya sambil menunduk sopan, suara lirihnya nyaris seperti bisikan angin di ruang luas.

Raja Eldric menatapnya sekilas, wajahnya tegas namun tidak lagi dingin. "Tak perlu basa-basi, ikutlah aku menuju kamar putraku."

Shalla mengikuti langkah Paduka dengan hati-hati, setiap detap langkahnya terasa bergema di lantai marmer yang memantulkan kilau cahaya lampu. Saat mereka memasuki kamar yang berbeda dari seluruh istana, Raja Eldric memberi jalan, menyilakan Shalla melangkah ke sisi ranjang dengan sikap penuh hormat.

"Silakan, Shalla!" suara Raja Eldric tegas namun sarat kelelahan, tubuhnya sedikit membungkuk menahan rasa cemas.

"Tolong bantu putraku… ungkap penyakit yang menimpanya. Sudah hampir dua bulan ia menderita, dan tak satupun tabib mampu menemukan jawaban. Aku berharap engkau dapat mengetahui penyebabnya, sekaligus menyiapkan obatnya."

Ratu Seraphina menatap Shalla dengan mata yang memancarkan harap dan sedikit cemas.

"Benar, Nak. Engkaulah harapan terakhir kami. Semua kami serahkan padamu," ucapnya, suaranya lembut namun tegas, seakan menyalurkan seluruh doa dan kepercayaannya ke Shalla.

Shalla menunduk sopan, senyum tipis mengembang di bibirnya, matanya menatap Paduka dengan tenang namun yakin.

"Dengan senang hati, Paduka. Hamba akan mencoba sebaik mungkin. Percayalah, hamba akan melakukan segala daya untuk membantu Putra Mahkota."

Kemudian, Shalla perlahan melangkah mendekati ranjang Putra Mahkota, tubuhnya bergetar tipis oleh gugup yang tersembunyi. Ia duduk di atas kursi kayu ukir sederhana, mengeluarkan beberapa ramuan dan botol-botol kaca kecil yang berisi cairan berwarna aneh seolah menangkap cahaya lilin yang menari di udara.

Tangannya yang lembut menyentuh kening Putra Mahkota, lalu menyusuri lehernya, merasakan getaran aneh yang mengalir seakan menentang nalar. Aroma harum yang samar tapi tajam menusuk hidungnya, seperti ramuan purba yang dikutuk dan dikunci oleh sihir kuno.

Dengan hati-hati, ia mengambil sebotol cairan kehijau-hijauan yang berkilau lembut, menyerupai luminesensi daun yang terserap embun fajar. Sarung tangan tipis menutupi jemarinya, Shalla mulai mengoleskan ramuan itu ke lengan dan leher Putra Mahkota.

Mulutnya bergetar, bibirnya mengucap mantra-mantra kuno yang hanya ia dengar dalam bisikan para tabib desa leluhur. Kata-kata itu berputar di udara, meninggalkan jejak cahaya hijau samar yang berkilau di sekitar lengan dan pundak Putra Mahkota.

"Lumina Vitae… Valora Seris…" lirih Shalla, matanya terpejam rapat.

Energi halus menyebar dari ujung jari hingga ke udara, seolah mencoba meraba, memahami, dan mengurai kutukan yang bersarang di tubuh putra mahkota.

Hingga sang empu mengerang pelan, urat-urat halus di kulit Putra Mahkota memancarkan kilau hijau samar, menari seolah memiliki kehidupan sendiri. Cahaya itu merambat di permukaan kulit, membentuk pola yang hanya dapat dimengerti oleh mereka yang menguasai ilmu tabib kuno.

Shalla menundukkan tubuhnya, jemarinya menelusuri permukaan kulit Putra Mahkota. Seketika, sebuah getaran halus merambat ke relung dirinya, seakan tubuhnya menanggapi bisikan tak terlihat. Dari kegelapan pikirannya, wajah-wajah bayangan muncul sebentar, samar namun jelas, menatapnya dengan mata penuh teka-teki, memberi petunjuk tentang kutukan yang merasuki tubuh Putra Mahkota.

Tubuh Shalla bergetar halus, jantungnya berpacu, sementara mata cokelatnya menangkap kilauan hijau keemasan yang menari di udara, melingkupi sosok sang pangeran. Cahaya itu bukan sekadar sinar, ia berbicara dalam bahasa gaib, memberi tahu bahwa penyakit ini jauh dari dunia biasa, dan hanya tangan seorang tabib desa yang mampu menundukkannya.

Shalla mencondongkan tubuhnya, menekan pergelangan Putra Mahkota dengan lembut namun pasti. Suaranya bergetar saat mulai mengucapkan mantra, kata-kata kuno yang terdengar seperti bisikan angin di hutan lebat.

"Virelia… Soluntra… Kaelithar…"

Setiap suku kata yang terucap menimbulkan riak cahaya hijau di kulit Putra Mahkota, bergerak seperti aliran sungai mini yang memetakan arah energi sakit yang tersembunyi. Udara di sekeliling ruangan berdesir halus, daun jendela bergoyang seiring getaran magis yang membungkus keduanya.

Shalla membuka matanya perlahan, menatap Putra Mahkota dengan penuh konsentrasi. "Hanya satu jalan… kita harus mengurai energi ini dari inti tubuhnya," bisiknya, nyaris terdengar sebagai mantra lagi, membiarkan setiap kata menembus ruang dan waktu, berinteraksi dengan kekuatan yang tak kasat mata.

Tiba-tiba, teriakan menggelegar Putra Mahkota mengguncang ruangan.

"ARGHHHHH!!"

Teriakan Putra Mahkota memecah keheningan, menimbulkan kilauan aura kutukan yang menari di udara. Sekilas energi gaib menyelimuti pandangan Shalla, merambat ke seluruh inderanya. Ia merasakan sedikit sifat kutukan itu, dingin dan menyakitkan, namun rahasianya belum sepenuhnya terbuka di hadapannya.

Langkah-langkah berat terdengar mendekat, gema kaki penjaga dan pelayan yang terpana menandai kedatangan mereka ke kamar Putra Mahkota. Para anggota istana berdatangan, wajah mereka terpesona dan penuh harap. Mata mereka menatap Shalla dengan rasa penasaran bercampur kagum, seakan menyaksikan tabib desa biasa yang kini menentang batas takdir.

Seluruh ruangan dipenuhi aura magis, cahayanya samar memantul dari permata dan perhiasan di dinding. Setiap orang menahan napas, hati mereka menari antara kecemasan dan doa, berharap—inilah saat di mana mukjizat akan terungkap, di tangan tabib desa itu.

_______

Terima kasih banyakkk yang sudah membaca sampai bab 2 ❗❕ 🤍✨

Aku sadar bangettt gaya ceritanya cukup panjang dan bahasanya cenderung lebih baku karena memang menyesuaikan dunia fantasi kerajaan sesuai temanya..

Kalau kamu tipe yang suka cerita kerajaan, kutukan, intrik istana, dan suasana klasik, semoga kisah ini bisa jadi bacaan yang seru buat kamu.

Tapi kalau terasa kurang cocok, gapapa banget kok... selera baca tiap orang beda-beda 😉💫

Kalau nemu typo atau ada bagian yang terasa janggal, jangan sungkan buat kasih tauuu di kolom komentar yaa 😍

Untuk update dan kelanjutan cerita, biasanya akan aku kabarkan di: 📍 I*: @Wystlumi

Terima kasih sudah mampir ke dunia Shalla 🤍

#TabibDesaPemikatParaPria 💖

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    25

    kepalanya dalam-dalam. "Pa-paduka… Putra Mahkota sendiri yang memintanya," jawab Linda dengan suara terbata. Jantung Shalla berdetak lebih cepat ketika matanya jatuh pada sosok pria yang duduk di kursi roda itu. Keadaannya sangat berbeda dari saat terakhir mereka bertemu. Tubuhnya tampak jauh lebih lemah. Bahunya sedikit terkulai, wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat seolah setiap tarikan udara membutuhkan tenaga yang besar seakan waktu perlahan menggerogoti tubuhnya. "Tuan…" gumam Shalla hampir tak terdengar. "Aku yang memintanya sendiri, Ibunda," ucap Zevarian pelan. Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, seolah setiap kata membutuhkan tenaga. "Aku ingin berada di sini… dan membantu kalian." "Tidak, Zevarian!" Ratu Seraphina langsung menolak dengan suara tegas. "Kau tidak seharusnya berada di sini. Kondisimu belum pulih sepenuhnya. Kembalilah ke kamarmu dan beristirahat." Shalla segera berdiri sedikit dari kursinya. "Paduka… tidak apa-apa," ucapnya dengan

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    24

    kepalanya dalam-dalam. "Pa-paduka… Putra Mahkota sendiri yang memintanya," jawab Linda dengan suara terbata. Jantung Shalla berdetak lebih cepat ketika matanya jatuh pada sosok pria yang duduk di kursi roda itu. Keadaannya sangat berbeda dari saat terakhir mereka bertemu. Tubuhnya tampak jauh lebih lemah. Bahunya sedikit terkulai, wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat seolah setiap tarikan udara membutuhkan tenaga yang besar seakan waktu perlahan menggerogoti tubuhnya. "Tuan…" gumam Shalla hampir tak terdengar. "Aku yang memintanya sendiri, Ibunda," ucap Zevarian pelan. Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, seolah setiap kata membutuhkan tenaga. "Aku ingin berada di sini… dan membantu kalian." "Tidak, Zevarian!" Ratu Seraphina langsung menolak dengan suara tegas. "Kau tidak seharusnya berada di sini. Kondisimu belum pulih sepenuhnya. Kembalilah ke kamarmu dan beristirahat." Shalla segera berdiri sedikit dari kursinya. "Paduka… tidak apa-apa," ucapnya dengan

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    23

    kepalanya dalam-dalam. "Pa-paduka… Putra Mahkota sendiri yang memintanya," jawab Linda dengan suara terbata. Jantung Shalla berdetak lebih cepat ketika matanya jatuh pada sosok pria yang duduk di kursi roda itu. Keadaannya sangat berbeda dari saat terakhir mereka bertemu. Tubuhnya tampak jauh lebih lemah. Bahunya sedikit terkulai, wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat seolah setiap tarikan udara membutuhkan tenaga yang besar seakan waktu perlahan menggerogoti tubuhnya. "Tuan…" gumam Shalla hampir tak terdengar. "Aku yang memintanya sendiri, Ibunda," ucap Zevarian pelan. Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, seolah setiap kata membutuhkan tenaga. "Aku ingin berada di sini… dan membantu kalian." "Tidak, Zevarian!" Ratu Seraphina langsung menolak dengan suara tegas. "Kau tidak seharusnya berada di sini. Kondisimu belum pulih sepenuhnya. Kembalilah ke kamarmu dan beristirahat." Shalla segera berdiri sedikit dari kursinya. "Paduka… tidak apa-apa," ucapnya dengan

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    Bab 22 ||

    kepalanya dalam-dalam. "Pa-paduka… Putra Mahkota sendiri yang memintanya," jawab Linda dengan suara terbata. Jantung Shalla berdetak lebih cepat ketika matanya jatuh pada sosok pria yang duduk di kursi roda itu. Keadaannya sangat berbeda dari saat terakhir mereka bertemu. Tubuhnya tampak jauh lebih lemah. Bahunya sedikit terkulai, wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat seolah setiap tarikan udara membutuhkan tenaga yang besar seakan waktu perlahan menggerogoti tubuhnya. "Tuan…" gumam Shalla hampir tak terdengar. "Aku yang memintanya sendiri, Ibunda," ucap Zevarian pelan. Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, seolah setiap kata membutuhkan tenaga. "Aku ingin berada di sini… dan membantu kalian." "Tidak, Zevarian!" Ratu Seraphina langsung menolak dengan suara tegas. "Kau tidak seharusnya berada di sini. Kondisimu belum pulih sepenuhnya. Kembalilah ke kamarmu dan beristirahat." Shalla segera berdiri sedikit dari kursinya. "Paduka… tidak apa-apa," ucapnya dengan

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    Bab 21 ||

    kepalanya dalam-dalam. "Pa-paduka… Putra Mahkota sendiri yang memintanya," jawab Linda dengan suara terbata. Jantung Shalla berdetak lebih cepat ketika matanya jatuh pada sosok pria yang duduk di kursi roda itu. Keadaannya sangat berbeda dari saat terakhir mereka bertemu. Tubuhnya tampak jauh lebih lemah. Bahunya sedikit terkulai, wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat seolah setiap tarikan udara membutuhkan tenaga yang besar seakan waktu perlahan menggerogoti tubuhnya. "Tuan…" gumam Shalla hampir tak terdengar. "Aku yang memintanya sendiri, Ibunda," ucap Zevarian pelan. Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, seolah setiap kata membutuhkan tenaga. "Aku ingin berada di sini… dan membantu kalian." "Tidak, Zevarian!" Ratu Seraphina langsung menolak dengan suara tegas. "Kau tidak seharusnya berada di sini. Kondisimu belum pulih sepenuhnya. Kembalilah ke kamarmu dan beristirahat." Shalla segera berdiri sedikit dari kursinya. "Paduka… tidak apa-apa," ucapnya dengan

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    Bab 20 || Terbuk

    shjskepalanya dalam-dalam. "Pa-paduka… Putra Mahkota sendiri yang memintanya," jawab Linda dengan suara terbata. Jantung Shalla berdetak lebih cepat ketika matanya jatuh pada sosok pria yang duduk di kursi roda itu. Keadaannya sangat berbeda dari saat terakhir mereka bertemu. Tubuhnya tampak jauh lebih lemah. Bahunya sedikit terkulai, wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat seolah setiap tarikan udara membutuhkan tenaga yang besar seakan waktu perlahan menggerogoti tubuhnya. "Tuan…" gumam Shalla hampir tak terdengar. "Aku yang memintanya sendiri, Ibunda," ucap Zevarian pelan. Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, seolah setiap kata membutuhkan tenaga. "Aku ingin berada di sini… dan membantu kalian." "Tidak, Zevarian!" Ratu Seraphina langsung menolak dengan suara tegas. "Kau tidak seharusnya berada di sini. Kondisimu belum pulih sepenuhnya. Kembalilah ke kamarmu dan beristirahat." Shalla segera berdiri sedikit dari kursinya. "Paduka… tidak apa-apa," ucapnya d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status