Home / Fantasi / Tabib Desa, Pemikat Para Pria / Bab 3 || Kutukan yang Terungkap

Share

Bab 3 || Kutukan yang Terungkap

last update publish date: 2026-02-19 04:32:57

Tangannya meraih botol kaca, menyingkap sumbatnya dengan hati-hati. Cairan di dalamnya berkilau lembut, berpadu warna emas dan kehijau-hijauan, seakan menari-nari dalam cahaya ruangan. Pilihan ini tak sembarangan—Shalla tahu, cairan ini dipilih berdasarkan respon energi gaib yang sempat menyelimuti Putra Mahkota sebelumnya.

Shalla menatap tenang kepada wanita cantik nan anggun yang berdiri di dekatnya. "Paduka, tolong bangunkan Putra Mahkota… setelah itu, izinkan hamba memberikan ramuan kecil ini kepada Yang Mulia," ucapnya dengan suara lembut namun tegas, seolah mantra terselubung menyertainya.

Ratu Seraphina mendekat, menepuk pundak putranya perlahan. Nada suaranya dipenuhi cemas yang tak mampu disembunyikan, sementara sorot matanya menunggu mukjizat yang mungkin akan terungkap.

"Zevarian… bangunlah, Anakku…" panggil Ibunda dengan nada selembut embun fajar.

Suaranya mengalun pelan, menembus kesunyian kamar, menyentuh telinga sang Putra Mahkota dengan kehangatan yang seakan meredakan kegelisahan aura gaib di sekitarnya.

Erangan pelan yang keluar dari bibir Zevarian membuat seisi ruangan terperanjat—sekilas, ketegangan pecah, namun bersamaan dengan itu hadir rasa lega yang aneh, seperti udara magis menenangkan hati semua yang menatap.

"Hmm.." suara putra mahkota terdengar serak, namun matanya mulai terbuka, memantulkan kilau samar cahaya dari permata di kamar, seakan ada energi misterius yang bersemayam di dalamnya.

"Silahkan!" perintah Ratu Seraphina, nada suaranya bercampur harap dan kagum, menandakan bahwa mukjizat kecil itu baru saja dimulai.

Kemudian, Shalla menatap Putra Mahkota dengan sorot penuh atensi, matanya seolah menembus aura halus yang mengelilingi tubuhnya.

"Yang Mulia Putra Mahkota Zevarian Valthor, tolong minum ramuan ini dalam sekali tegukan… jangan lihat ke atas, tutup mata, dan resapi setiap rasanya," ucap Shalla dengan suara lembut namun tegas, seakan ada mantra tersembunyi dalam setiap kata.

Zevarian mengerutkan alisnya, sedikit ragu, namun ketaatan dan kepercayaan pada tabib desa itu mengalahkan ketakutannya. Ia meneguk ramuan berwarna emas kehijauan itu dalam sekali tegukan, dan seketika tubuhnya bagai tersiram sinar hangat yang menembus tulang dan uratnya. Rasa sakit yang membelit selama berbulan-bulan lenyap begitu saja, digantikan oleh sensasi ringan dan kuat, seperti energi kuno membangkitkan kembali setiap sel tubuhnya. Nafasnya mengalir sempurna, dadanya terbuka lega, dan otot yang lemah kini berdenyut penuh kekuatan.

"Wah… apa ini…?" batin Zevarian, tangannya menyentuh dadanya, seakan meraba keajaiban yang baru saja mengalir dalam dirinya.

Di sekeliling, cahaya samar dari permata dan hiasan dinding seakan bergetar mengikuti denyut energi gaib yang kini membungkus putra mahkota, menandakan bahwa kutukan aneh itu perlahan menyingkap rahasianya—dan tabib desa itu, Shalla, kini mulai memahami kebenaran di balik penyakit langka ini.

Seluruh perhatian di ruangan tertuju pada cahaya hijau-keemasan yang tiba-tiba meledak dari ramuan, menembus udara seperti gelombang energi murni. Kaca jendela yang tebal bergetar hebat, kemudian terdengar dentuman keras, "PRANG!!" menggema di setiap sudut istana.

Beberapa orang menutup telinga, terkejut oleh suara yang nyaringnya mampu membuat rasa sakit di telinga sejenak.

Mata Shalla terpaku pada simbol cahaya yang berserabut, berputar di udara seolah menari mengikuti denyut kutukan. Setiap gerakan simbol itu seakan memberikan petunjuk tentang asal muasal penyakit aneh Putra Mahkota.

Zevarian mengerjapkan matanya perlahan, tubuhnya masih setengah sadar. Energi dari ramuan mengalir ke setiap pori, menyalakan kembali nyawa dan kekuatan yang hampir hilang. Dalam alam pikirannya, mimpi samar yang pernah menghantui kini muncul sebagai cahaya panduan yang membimbing tubuh dan jiwanya untuk kembali kuat.

Shalla menatap Putra Mahkota, matanya menyapu setiap perubahan energi, setiap reaksi yang muncul dari tubuhnya. Ia mulai memahami mekanisme kutukan itu, bagaimana tubuh dan jiwa Zevarian terikat erat dengan energi terlarang yang selama ini menimpanya.

"Oh... ternyata ini..."

Bibir Shalla tersenyum tipis, rasa lega dan sukacita memenuhi dadanya. Akhirnya, rahasia yang menakutkan itu terkuak—sebab putra mahkota berada dalam kondisi itu kini jelas di hadapannya, dan solusinya pun mulai tergenggam dalam genggaman tangannya.

Tiba-tiba, Pangeran Caelvion Valthor menjerit keras, suaranya memecah keheningan istana. Tubuhnya bergetar, lehernya memanas seolah ada api halus merambat di tenggorokannya.

"ARGHHH!" raungnya menembus udara.

Seketika, suara elang terdengar mengaum nyaring dari luar istana, namun terdengar seolah berada tepat di dalam ruangan. "EAKKKKK!! EAKKK!!" gema seram itu membuat seluruh hadirin menunduk kaget, beberapa menutup telinga.

Ratu Seraphina terkejut, menjerit memanggil, "CAELVION!" Ia bergegas mendekati, namun Raja Eldric menahan lengannya dengan tangan tegas, matanya menatap lurus ke depan.

"Sudahlah," suara Raja Eldric bergema dalam kesunyian, berat dan penuh wibawa. "Biarkan urusan dia sendiri."

Sejenak, keheningan kembali menyelimuti kamar itu, namun aura gaib masih terasa menempel di udara—menggantung di antara cahaya lilin, simbol kutukan, dan energi ramuan yang perlahan menyelimuti tubuh Caelvion.

Ratu Seraphina menatap cemas, tubuhnya meremang dingin, panik merayap perlahan saat kedua putranya mendadak terperangkap dalam keguncangan itu.

Shalla, terkejut namun sigap, berlari mendekat. Tangannya memegang ramuan yang berkilau keemasan-hijau, lalu dioleskannya dengan hati-hati di leher belakang Pangeran. Sambil menepuk punggung Caelvion yang tinggi menjulang, energi ramuan menyebar seperti cahaya halus menembus kulitnya.

Seketika, Pangeran Caelvion memuntahkan isi perutnya yang kental. "HUEKKK!!" Suara itu bergema pelan di ruang mewah istana, membuat beberapa pegawai mundur seraya menutup hidung.

Shalla tak bergeming, terus menepuk punggungnya, menatap dalam mata Pangeran dengan tatapan penuh perhatian. "Bagaimana, Yang Mulia? Apakah sudah lega?" bisiknya pelan, seperti mantra lembut yang menenangkan.

Pangeran Caelvion mengangguk perlahan, menyeka bibirnya sendiri. Maid yang berada di dekatnya segera melesat melewati kerumunan, membersihkan lantai yang terkena cairan, sambil menahan napas kagum akan energi misterius ramuan itu.

Hati Pangeran masih berdebar, tangannya menyentuh dadanya sejenak. "Huh… apa itu tadi? Kenapa rasanya… menyakitkan, tapi anehnya… terasa ringan sekarang?" batinnya, suara hati terselip rasa heran dan kekaguman akan keajaiban yang baru saja terjadi.

Aura gaib masih menggantung samar di udara, menari bersama cahaya ramuan. Semua yang hadir bisa merasakan getaran energi tak kasat mata—seolah kutukan perlahan mencair, memberi jalan bagi tubuh dan jiwa Pangeran untuk kembali bersih dari belenggu gelap yang menimpanya.

Namun, Putra Mahkota tetap menatap sekeliling dengan mata penuh kebingungan, tak percaya akan perubahan yang baru saja menimpa tubuhnya. Tatapannya kosong, menunggu penjelasan dari tabib desa—wanita cantik yang kini berdiri dengan tenang di depannya.

Seluruh ruangan menahan napas, hening menunggu suara yang akan mengurai misteri yang menimpa Yang Mulia.

Shalla melangkah perlahan, duduk di kursi dekat ranjang, menatap Putra Mahkota dengan sorot mata lembut namun tegas. Suaranya muncul pelan, bagai mantra yang menenangkan.

"Setelah pengamatan dan pemahaman dari energi yang masih tersisa di tubuh Yang Mulia, kutukan yang mengental pada diri Putra Mahkota… kini telah terurai sepenuhnya," ucapnya sambil tersenyum tipis, matanya masih menyelidik setiap perubahan yang tersisa.

Seketika, seluruh ruangan meledak dalam kelegaan, senyum tenang menghiasi wajah para hadirin. Cahaya magis samar yang tersisa di udara perlahan memudar, seolah kutukan itu benar-benar dilepaskan dari tubuh sang pewaris.

Ratu Seraphina memeluk suaminya dengan erat. Tawa leganya mengalun lembut, bergema di antara dinding-dinding istana.

"Akhirnya… Paduka…" bisiknya penuh haru.

Raja Eldric hanya mampu menatap Putra Mahkota dan Shalla dengan mata yang masih tak percaya, dadanya bergetar perlahan. "Ini… ini sungguh tak masuk akal!" gumamnya, suara beratnya dipenuhi kekaguman sekaligus keheranan akan keajaiban yang baru saja terjadi.

Aura magis di udara perlahan menenangkan diri, meninggalkan kilau keemasan lembut dari ramuan Shalla yang memudar, seakan menyegel bahwa keajaiban ini telah nyata. Setiap orang menyadari—tabib desa ini bukan sekadar penyembuh, tetapi pembawa cahaya yang mampu menaklukkan kutukan yang paling gelap sekalipun.

Tabib desa, Shalla, menatap sekeliling dengan sorot mata penuh kewibawaan, suaranya mengalir tegas namun tenang, bagai mantra yang memerintahkan.

"Dengar, semua! Mohon keluar dari ruangan ini. Putra Mahkota membutuhkan ketenangan untuk beristirahat. Hanya Paduka dan Pangeran Caelvion yang boleh tetap tinggal!"

Seketika, desah heran dan bisik-bisik terdengar di antara para pengawal dan pelayan.

"Eh… kita diusir begitu saja?"

"Ahh… sudahlah, patuhi saja," gumam yang lain, ragu namun tak berani menentang.

Beberapa masih menatap ingin tahu, menahan diri untuk tidak keluar. Namun, Raja Eldric, berdiri dengan aura yang memancarkan ketegasan, suaranya bergaung bagaikan guntur di aula istana.

"Aku perintahkan—SELURUHNYA KELUAR DARI SINI! KEMBALI KE TUGAS MASING-MASING! Apakah kalian mendengar?"

Tatapannya menembus, rahangnya tegas, dan aura wibawanya membuat seluruh hadirin menunduk.

"Mengerti, Paduka!" serentak mereka menjawab, tubuh tegap hormat, langkah mereka mundur satu per satu, meninggalkan ruangan dengan rasa kagum sekaligus takut akan kuasa tabib desa itu.

Ruang itu kini hanya menyisakan Shalla, Putra Mahkota Zevarian Valthor, dan Pangeran Caelvion. Sebuah keheningan magis menyelimuti, seolah waktu sendiri menahan napas, menanti langkah selanjutnya dalam kisah yang baru saja dimulai.

Tanpa hitungan detik, seluruh hadirin bergerak bak gelombang, meninggalkan kamar dengan langkah cepat dan tertib, meninggalkan hanya sejumlah orang yang benar-benar diperlukan. Ruangan kini menyelimuti keheningan yang berat, seolah setiap cahaya dari permata dan lilin menahan napas.

Setelah memastikan suasana benar-benar sunyi, Shalla menatap Putra Mahkota dan Pangeran Caelvion, suaranya mengalir perlahan namun memikat, seperti mantra yang menenangkan.

"Maaf, Paduka, Yang Mulia Putra Mahkota, dan Yang Mulia Pangeran. Saya menyuruh mereka pergi karena ada hal yang harus saya sampaikan, mengenai kutukan yang menimpa Yang Mulia Putra Mahkota."

Tatapan semua yang tersisa tertuju padanya. Raja Eldric mencondongkan tubuh, matanya menembus penuh kewaspadaan. Suaranya rendah namun penuh wibawa, "Silakan jelaskan, Shalla. Nyatakan dengan jelas apa yang menimpa putra kami," tegasnya, nada yang tak terbantahkan, membuat udara di sekelilingnya seolah bergetar.

Shalla menarik napas dalam, menutup mata sesaat, merasakan denyut energi gaib yang masih tersisa pada tubuh Putra Mahkota. Ketika membuka matanya, cahaya lembut berkilau di irisnya, menandakan bahwa rahasia kutukan itu akan segera terungkap.

Kemudian, Shalla menarik napas panjang. Sorot matanya meredup sesaat, seolah menimbang beban kebenaran yang hendak ia ungkapkan. Ruangan itu mendadak diselimuti keheningan yang menyesakkan. Bahkan udara terasa enggan bergerak, sementara seluruh atensi tertambat padanya.

"Yang menimpa Yang Mulia Putra Mahkota…" ucapnya perlahan, suaranya lembut namun menggema aneh di antara dinding istana, "bukanlah kelemahan tubuh, bukan pula penyakit fana."

Kalimatnya menggantung, menciptakan ketegangan yang merambat ke setiap jiwa di ruangan itu.

"Itu adalah kutukan sihir."

Seketika, wajah Raja Eldric menegang. Rahangnya mengeras, sementara cahaya di matanya berubah tajam bagai bilah pedang.

"Sumber kutukan tersebut," lanjut Shalla, kini dengan nada lebih dalam, "berasal dari seseorang yang menyimpan niat kelam terhadap Pangeran Caelvion."

_______

Terima kasih banyak untuk kamu yang sudah berjalan sejauh ini bersama Shalla 🤍✨

Mungkin, beberapa pertanyaan kini masih menggantung dalam benak… 🤔

Kutukan apakah yang sebenarnya menimpa Putra Mahkota Zevarian?

Mengapa takdir kelam itu justru mengarah pada pewaris takhta?

Benarkah semua ini berkaitan dengan Pangeran Caelvion?

Dan… siapakah sosok yang berani mengusik darah bangsawan Valthor dari balik bayangan?

Untuk menemukan jawaban atas semua pertanyaan ini… kalian harus melanjutkan ke bab berikutnya, di mana rahasia, kutukan, dan takdir akan mulai terkuak 💫

Kalau menemukan typo atau ada bagian yang bikin kamu mikir, jangan ragu bisikin aku lewat komentar yaa.. 😍❣️

Untuk kabar update dan kelanjutan cerita,

kamu bisa mampir ke: 📍 I* @Wystlumi

Sampai jumpa di bab berikutnya…

#TabibDesaPemikatParaPria 💖

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    25

    kepalanya dalam-dalam. "Pa-paduka… Putra Mahkota sendiri yang memintanya," jawab Linda dengan suara terbata. Jantung Shalla berdetak lebih cepat ketika matanya jatuh pada sosok pria yang duduk di kursi roda itu. Keadaannya sangat berbeda dari saat terakhir mereka bertemu. Tubuhnya tampak jauh lebih lemah. Bahunya sedikit terkulai, wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat seolah setiap tarikan udara membutuhkan tenaga yang besar seakan waktu perlahan menggerogoti tubuhnya. "Tuan…" gumam Shalla hampir tak terdengar. "Aku yang memintanya sendiri, Ibunda," ucap Zevarian pelan. Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, seolah setiap kata membutuhkan tenaga. "Aku ingin berada di sini… dan membantu kalian." "Tidak, Zevarian!" Ratu Seraphina langsung menolak dengan suara tegas. "Kau tidak seharusnya berada di sini. Kondisimu belum pulih sepenuhnya. Kembalilah ke kamarmu dan beristirahat." Shalla segera berdiri sedikit dari kursinya. "Paduka… tidak apa-apa," ucapnya dengan

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    24

    kepalanya dalam-dalam. "Pa-paduka… Putra Mahkota sendiri yang memintanya," jawab Linda dengan suara terbata. Jantung Shalla berdetak lebih cepat ketika matanya jatuh pada sosok pria yang duduk di kursi roda itu. Keadaannya sangat berbeda dari saat terakhir mereka bertemu. Tubuhnya tampak jauh lebih lemah. Bahunya sedikit terkulai, wajahnya pucat, dan napasnya terdengar berat seolah setiap tarikan udara membutuhkan tenaga yang besar seakan waktu perlahan menggerogoti tubuhnya. "Tuan…" gumam Shalla hampir tak terdengar. "Aku yang memintanya sendiri, Ibunda," ucap Zevarian pelan. Ia menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, seolah setiap kata membutuhkan tenaga. "Aku ingin berada di sini… dan membantu kalian." "Tidak, Zevarian!" Ratu Seraphina langsung menolak dengan suara tegas. "Kau tidak seharusnya berada di sini. Kondisimu belum pulih sepenuhnya. Kembalilah ke kamarmu dan beristirahat." Shalla segera berdiri sedikit dari kursinya. "Paduka… tidak apa-apa," ucapnya dengan

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    Bab 23 || Pelarian Sang Pengutuk

    Draven merasa dirinya hanyalah orang luar dalam perkara ini, seseorang yang seharusnya tidak mengetahui rahasia sebesar itu. Ia perlahan bangkit dari duduknya, diikuti oleh Lioren di sampingnya. "Paduka… mohon maaf telah memotong pembicaraan," ucapnya hati-hati, menundukkan kepala. "Izinkan hamba pergi untuk mengurus jasad almarhum Yemmia… beserta dua perempuan lainnya." "Aku juga ikut!" sahut Shalla cepat, turut berdiri, wajahnya masih menyimpan keguncangan. Raja Eldric mengangguk pelan, meski sorot matanya masih berat. "Silakan. Lakukan yang terbaik bagi mereka." Ketiganya menunduk hormat, lalu berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan ruangan itu bersama sisa-sisa ketegangan yang belum mereda. Pintu tertutup, keheningan pun jatuh. Kini, ruangan itu terasa jauh lebih sunyi, lebih sempit, dan lebih mencekam seolah udara di dalamnya dipenuhi oleh beban yang tak kasatmata. Raja Eldric perlahan mendekat ke arah Caelvion. Ia duduk lebih dekat, namun jarak di antara mereka teras

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    Bab 22 || Benih yang Tak Pernah Lahir

    Malam masih terus berlangsung. Mata-mata mereka tetap terbuka, menatap ke sekeliling. Draven dan Lioren, berdampingan dengan kedua penguasa beserta anak-anak mereka, menunggu seorang sosok untuk berbicara. Shalla. "Satu cinta kepada sang pangeran yang menolakku… Tak gentar aku menggapaimu, meski kau menyakiti jiwaku bertahun-tahun, sementara tak seorang pun menyadari penderitaanku. Takhtaku terus tertunda oleh waktu, namun satu… keteguhan mereka terlalu sulit kutembus. Diriku mempesona, indah bagaikan bunga yang mekar di siang hari, namun kau menolak menatapnya. Wanita mana yang kau pilih? Menunggu perjodohan, ataukah menerima yang lebih hina daripada aku? Bukan dia yang sesungguhnya kutuju… Melainkan darah yang lemah akan menjadi wadah bagi kebencian dan perbuatan cantikku. Mereka akan menyebutnya takdir… namun akulah yang menulis jalan itu. Aku mengikat rasa sakit dan dendam dalam setiap napas yang kau hembuskan. Dan ketika mereka mengira ini hanyalah kebetulan… aku tersenyum

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    Bab 21 || Ritual 900 : Kutukan Bayangan Virelia

    Diskusi berlangsung panjang, membahas setiap detail yang diperlukan, baik perlengkapan maupun kesiapan diri masing-masing. Hingga pada akhirnya, sebuah keputusan pun diambil. Ritual akan dilangsungkan saat malam benar-benar turun, ketika cahaya matahari telah sepenuhnya tenggelam di ufuk barat. Sebelum ritual dimulai, terdapat satu hal yang tak boleh dilewatkan. Setiap orang yang terlibat diwajibkan meminum satu gelas rebusan daun hitam langka. Cairan itu berwarna pekat, hampir menyerupai bayangan itu sendiri, dengan aroma pahit yang menusuk. Bukan sekadar tradisi, melainkan perlindungan untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan menyentuh tubuh maupun jiwa mereka selama ritual berlangsung. Zevarian tidak ikut masuk ke dalam lingkaran. Ia hanya mengawasi dari luar, duduk di atas kursi rodanya dengan balutan pakaian hitam yang menambah pucat wajahnya. Tak ada pelayan di sisinya, tak ada satu pun yang menemaninya. Ia memilih berada di sana seorang diri, dalam diam yang berat, seolah

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    Bab 20 || Dua Tahun Sang Putra Mahkota Terbelenggu

    "Keseluruhan perlengkapan ini… sangat menyerupai ritual yang pernah digunakan pada tahun 900," ujar Raja Eldric seraya mengangguk pelan. Tatapannya tertuju pada Zevarian dengan sorot bangga yang samar. "Terima kasih, putra sulungku. Usiamu mungkin telah banyak tergerus waktu… namun ingatanmu tetap tajam. Tidak sepertiku." "Selalu saja begitu…" dengkus Zevarian pelan, menatap ayahnya dengan raut malas yang tak sepenuhnya bisa ia sembunyikan. Beberapa orang di ruangan itu tersenyum, bahkan terdengar tawa kecil yang tertahan, mencairkan ketegangan yang sempat menggantung di udara. "Jangan memasang wajah seolah dunia runtuh seperti itu, Nak," ucap Ratu Seraphina lembut. "Lagipula… tak lama lagi kau akan menikah." Wajah Zevarian seketika menegang. "Bunda… apa maksudmu?" Ratu Seraphina segera mengalihkan pandangannya, seakan menyadari bahwa ucapannya meluncur terlalu jauh. Raja Eldric pun menyela dengan cepat, suaranya kembali tegas. "Sudahlah. Ibumu hanya bergurau." Ia menco

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    Bab 7 || Permohonan Seorang Pangeran

    Sebelum matahari menampakkan sinarnya, Shalla, Lioren, dan Draven telah berdiri di hadapann singgasana Raja dan Ratu. Fajar bahkan belum sepenuhnya terbit, namun suasana istana telah dipenuhi ketegangan yang sunyi. Raja Eldric dan Ratu Seraphina saling berpandangan sejenak, seolah menimbang kep

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    Bab 6 || Panggilan Tharvoria

    Langit telah lama tenggelam dalam kegelapan. Matahari mundur tanpa jejak, menyisakan hamparan malam yang sunyi. Bintang-bintang berpendar lembut di kubah langit, berkelip seperti bisikan rahasia yang enggan dipahami. Istana Velmoria perlahan terlelap. Lorong-lorong megah membisu, pelita dindi

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    Bab 2 || Bisikan Kutukan di Balik Singgasana

    Shalla terpaku mendengar titah prajurit itu. Jantungnya berdebar tak menentu, kegugupan menjalari relung dadanya. Namun tanpa keberanian untuk membantah, ia melangkah ragu mendekati kuda yang berdiri gagah di hadapannya. Gerakannya canggung, jemarinya gemetar saat mencoba menapak sanggurdi. M

  • Tabib Desa, Pemikat Para Pria    Bab 1 || Panggilan Sang Tabib Desa

    Di dalam kamar pribadi Putra Mahkota Zevarian Valthor, ada seorang tabib dari luar berjubah ungu tua dengan wajah berlekuk waktu sedang memeriksa kondisi Putra Mahkota Zevarian Valthor yang kini tengah terbaring di atas ranjang sutra berlapis emas. Terlihat rautnya lelah, matanya redup seperti

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status