"Apa katamu…?" desis Raja Eldric, suaranya rendah namun sarat tekanan. Tatapannya beralih cepat kepada putranya. "Caelvion! Jelaskan!!"
"Kenapa justru aku yang dituduh, Ayah?" balas Pangeran Caelvion, nadanya tertahan, antara terkejut dan tersinggung.
Namun sebelum bara emosi membesar, Shalla melangkah maju. Gaun sederhananya berayun pelan, kontras dengan wibawa yang terpancar dari dirinya.
"Paduka," ujarnya tenang, tetapi entah mengapa suaranya membawa daya yang menenangkan. "Izinkan hamba meluruskan sebelum prasangka menjelma murka."
Keheningan kembali merebut ruangan.
Raja Eldric menatapnya lama. Lalu, dengan gerakan singkat penuh otoritas, ia memberi izin.
"Berbicaralah..."
"Baik… hamba akan melanjutkan."
"Kutukan yang menimpa Yang Mulia adalah Kutukan Bayangan Virelia…"
Seketika, raut wajah penghuni ruangan berubah. Kening mengerut, tatapan saling bertukar, seolah nama itu terdengar asing di telinga mereka.
Shalla menangkap kebingungan tersebut. Dengan tenang ia kembali bersuara, menjaga nada hormatnya.
"Sepertinya Paduka, Yang Mulia Putra Mahkota, serta Yang Mulia Pangeran merasa asing mendengar nama itu. Dan memang benar… kutukan ini bukanlah kutukan yang dikenal luas."
Ia menundukkan pandangannya sejenak.
"Kutukan Bayangan Virelia tergolong kutukan yang baru tercipta. Bahkan hamba sendiri… baru mengenali jejak kegelapannya."
Tanpa sadar, seluruhnya mengangguk pelan.
Shalla menghembuskan napas berat. Wajahnya yang semula tenang kini menyiratkan kecemasan, seolah beban besar menekan batinnya.
"Kutukan ini bukan kutukan biasa. Ia dapat dikatakan sebagai kutukan yang nyaris permanen… sekaligus mematikan."
Suasana ruangan mendadak terasa lebih dingin.
"Dalam banyak kasus, kutukan ini berujung pada hilangnya nyawa. Dan sebagaimana yang hamba rasakan sebelumnya… sumber kutukan ini berasal dari seseorang yang menyimpan kebencian mendalam terhadap Yang Mulia Pangeran Caelvion."
"Lalu… mengapa kutukan itu justru mengenaiku?!"
Putra Mahkota Zevarian akhirnya bersuara. Nada suaranya tidak meninggi, namun keganjilan dan kebingungan jelas berpendar dari sorot matanya.
Shalla menundukkan kepala sejenak, seolah menata kata-kata yang hendak diucapkannya. "Izinkan hamba menjawab, Yang Mulia."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Bahkan udara terasa menunggu.
"Kutukan Bayangan Virelia bukanlah kutukan biasa. Ia dirancang dengan tujuan yang sangat spesifik… lahir dari kebencian, dari dendam yang dipelihara terlalu lama."
Shalla mengangkat pandangannya perlahan. "Pelaku sejatinya mengarahkan kutukan itu kepada Yang Mulia Pangeran Caelvion."
Seketika, atmosfer ruangan berubah tegang.
Tatapan Shalla beralih pada Caelvion.
"Namun, kutukan itu gagal menembus pertahanan raga dan jiwa Yang Mulia Pangeran."
Suaranya merendah, sarat makna.
"Entah karena kekuatan batin, daya hidup, atau perlindungan gaib yang mengitari Yang Mulia… Kutukan Virelia tidak menemukan celah untuk bersemayam."
Kini matanya beralih pada Zevarian.
"Akan tetapi, pelaku tidak menghentikan niatnya."
Ada jeda singkat.
"Dalam keputusasaan yang dibalut kegilaan, ia mengalihkan arah kutukan. Dan satu-satunya sasaran yang memiliki keterkaitan darah, kedudukan, serta berada dalam jangkauan energi kutukan…"
Shalla menarik napas pelan. "Adalah Yang Mulia Putra Mahkota."
Zevarian terdiam.
"Pada masa itu, raga Yang Mulia tengah melemah. Sakit dan kelelahan menciptakan celah yang tidak kasatmata… namun cukup bagi kutukan untuk menyusup masuk."
"Ya… benar!"
Raja Eldric menepuk sisi ranjang, suaranya berat oleh kesadaran yang mendadak. "Saat itu Zevarian memang berada dalam kondisi sakit."
Ratu Seraphina mengangguk perlahan, wajahnya masih diliputi sisa kegelisahan.
"Kini semuanya terasa masuk akal…"
Shalla hanya tersenyum tipis. Namun di balik senyum itu, bayang-bayang kekhawatiran masih berdiam.
"Demikianlah jawabannya…"
Shalla akhirnya bersuara pelan, namun setiap katanya terasa menekan udara.
"Kutukan itu menyusup dan menyerang raga Yang Mulia Putra Mahkota tanpa ampun. Ia bukan sihir yang mudah terusir… melainkan kutukan yang nyaris bersifat kekal."
Ruangan kembali diliputi kesunyian yang menyesakkan.
"Kutukan Bayangan Virelia adalah kutukan yang keji. Ia tidak sekadar melemahkan, tetapi mencengkeram kendali atas tubuh korbannya. Organ-organ dipaksa tunduk, daya hidup dikikis perlahan, bahkan kesadaran dan pikiran pun diseret ke dalam kabut penderitaan."
Shalla menatap Zevarian dengan sorot serius.
"Rasa lemah, nyeri, serta pusing yang tak tertahankan… semuanya adalah bentuk penggerogotan yang disengaja."
Raja Eldric mengepalkan tangan. Tatapannya mengeras sebelum akhirnya beralih pada putranya.
"Jadi… bukan sekadar penyakit."
Ia mengembuskan napas berat, rahangnya menegang.
"Tak mengherankan jika kesialan seolah tak pernah meninggalkan keluarga ini. Kepemimpinan yang goyah, masalah yang datang silih berganti, hingga keganjilan yang menghantui istana…"
Suaranya merendah, sarat amarah terpendam.
"Kutukan itu rupanya merambat bersama darah kami."
"Benar…" Ratu Seraphina menyahut lirih. Kesedihan jelas terlukis di wajah anggunnya.
Keheningan kembali pecah oleh suara lain.
"Kalau begitu…"
Pangeran Caelvion melangkah maju, alisnya berkerut tajam.
"Mengapa tadi aku mendadak muntah? Tubuhku seakan menolak sesuatu yang tak kasatmata."
Shalla menoleh tenang.
"Karena kutukan itu belum sepenuhnya menyerah, Yang Mulia Pangeran."
Nada suaranya serius, hampir berbisik.
"Sesaat setelah terlepas dari Putra Mahkota, energi kutukan berusaha mencari wadah baru. Dan Yang Mulia Pangeran Caelvion… adalah sasaran terdekat yang memiliki keterikatan paling kuat."
Tatapan Caelvion mengeras.
"Namun…"
Shalla melanjutkan.
"Kutukan itu gagal bersemayam. Tubuh dan energi Yang Mulia menolaknya dengan keras. Reaksi itulah yang termanifestasi sebagai muntahan."
Caelvion mendecih tajam, amarah berkilat di matanya. "Terkutuk benar si pelaku… Sungguh sihir yang menjijikkan!"
Ratu Seraphina menggeleng perlahan. Kesedihan bercampur murka berpendar dalam sorot matanya saat menatap kedua putranya.
Di balik ketenangannya, dendam seorang ibu mulai bersemi. "Berani sekali ia menyentuh darah Valthor…"
Raja Eldric mendecih pelan, suara itu terdengar tajam di tengah keheningan. Sorot matanya beralih, menembus Shalla dengan tekanan yang sulit diabaikan.
"Lalu…?"
Satu kata itu meluncur berat, sarat kewibawaan seorang penguasa.
Shalla mengangguk kecil. Senyum tipis terlukis di bibirnya, meski dada gadis itu berdebar. Tatapan sang Raja terasa begitu pekat, seolah mampu menelanjangi keteguhan hatinya.
"Ada satu kebenaran yang wajib Paduka pegang teguh."
Nada suaranya melembut, namun justru membuat ruangan terasa semakin tegang.
"Kutukan Bayangan Virelia bukanlah sihir yang terikat pada satu raga semata. Ia mampu berpindah… mencari wadah baru sebagaimana bayangan mencari cahaya."
Wajah-wajah di ruangan mulai menegang.
"Apabila korbannya gugur oleh kutukan tersebut, maka kutukan itu tidak ikut lenyap. Ia akan tetap hidup, terus bekerja, dan pada waktunya… berpindah menuju jiwa terdekat yang memiliki celah paling rapuh."
"Apa?!"
Putra Mahkota Zevarian tersentak, keterkejutannya memecah kesunyian.
Desahan ngeri terdengar dari berbagai penjuru. Bahkan udara istana terasa seolah membeku.
Shalla menarik napas perlahan sebelum melanjutkan.
"Kutukan ini bekerja dengan kecepatan yang tidak wajar. Melihat kondisi Yang Mulia Putra Mahkota sebelumnya… jelas bahwa sihir ini tidak pernah dimaksudkan untuk sekadar menyiksa."
Sorot matanya mengeras.
"Ia berniat merenggut kehidupan."
Tak seorang pun berani menyela.
"Maka dari itu, hamba memohon kewaspadaan Paduka. Kebencian sebesar ini tidak mungkin lahir tanpa dalang yang menyimpannya. Istana ini perlu diperkuat, penjagaan dilipatgandakan, dan segala tindakan pencegahan, betapapun ekstremnya, bukanlah sesuatu yang berlebihan."
Tatapan Shalla menyapu seluruh ruangan.
"Sebab kutukan ini… tidak mengenal belas kasihan."
Keheningan menggantung panjang.
"Hm… begitu rupanya."
Raja Eldric akhirnya bersuara. Rahangnya menegang, namun sorot matanya kini dipenuhi keseriusan seorang raja yang baru menyadari ancaman tak kasatmata.
"Baiklah."
Nada suaranya rendah, tegas, tak terbantahkan.
"Kami mengerti."
Ratu Seraphina terdiam, wajah anggunnya diliputi kecemasan. Sementara Caelvion menatap tajam ke depan, seolah sedang menantang musuh yang belum menampakkan wujudnya.
Perlahan, seluruh penghuni ruangan mengangguk. Tak ada lagi yang meremehkan bahaya itu.
"Apakah kau mengetahui siapa dalang di balik semua ini?" Suara Pangeran Caelvion memecah keheningan, nadanya rendah namun sarat desakan. Sorot matanya tajam, penuh bara rasa ingin tahu.
Shalla menggeleng pelan.
"Tidak, Yang Mulia. Kutukan sekelas ini menyembunyikan jejak tuannya dengan sangat rapi."
Nada suaranya tenang, tetapi setiap katanya terasa berat.
"Kutukan Bayangan Virelia tidak pernah menyingkapkan nama. Ia menutup asal-usulnya sebagaimana kabut menelan bayangan."
Putra Mahkota sedikit mencondongkan tubuhnya.
"Namun… kau menangkap sesuatu, bukan?"
Shalla terdiam sejenak, seolah menimbang apakah pengetahuan itu layak diucapkan.
"Ada serpihan pertanda yang hamba rasakan."
Ruangan kembali menegang.
"Pelaku bukanlah penyihir sembarangan."
Tatapan Shalla perlahan menyapu wajah-wajah bangsawan di hadapannya.
"Ia menguasai sihir vitalitas tingkat tinggi, sihir yang berhubungan langsung dengan denyut kehidupan."
Tak seorang pun bergerak.
"Darahnya pun bukan darah biasa."
Nada suaranya merendah.
"Pelaku memiliki garis darah bangsawan."
Keheningan terasa kian mencekam.
"Lebih dari itu… ia memahami struktur energi kehidupan, serta ikatan takdir yang melekat pada darah para bangsawan."
Kalimat itu menggantung, menorehkan kegelisahan yang tak kasatmata.
Shalla menurunkan pandangannya sedikit.
"Itulah pertanda yang mampu hamba tangkap."
Raja Eldric mengembuskan napas berat. Sorot matanya mengeras, seolah mulai merangkai kemungkinan-kemungkinan yang tak menyenangkan.
"Hm… akan kuingat hal ini."
Nada suaranya rendah, namun dipenuhi kewaspadaan seorang penguasa.
Shalla kembali menunduk hormat.
"Kiranya, hanya itu yang dapat hamba sampaikan kepada Paduka dan Yang Mulia."
Ia mengangkat wajahnya perlahan.
"Apabila masih ada yang hendak ditanyakan, hamba akan menjawab sebisanya."
Raja Eldric menyipitkan matanya, sorot tajamnya tak lagi sekadar menatap, melainkan meneliti. Pandangannya berhenti pada wajah tabib desa itu, tepat pada sepasang mata hazel yang berpendar lembut di bawah cahaya lampu kristal.
Warna itu… bukan warna yang lazim.
Mata semacam itu jarang dimiliki rakyat biasa. Kecurigaan halus melintas di benaknya.
"Kau…" ujarnya perlahan, nada suaranya berat namun terkontrol, "berasal dari darah bangsawan?"
Pertanyaan itu menggantung di udara, terasa lebih seperti penghakiman daripada sekadar rasa ingin tahu.
Shalla tersentak nyaris tak terlihat, lalu segera menggeleng hormat. "Tidak, Paduka."
Suaranya lembut, namun berusaha tetap mantap. "Hamba hanyalah keturunan rakyat biasa, lahir dan dibesarkan di desa."
Keheningan tipis menyelimuti ruangan.
Raja Eldric mendecih pelan, jemarinya terangkat mengusap dagu, seolah menimbang jawaban yang belum sepenuhnya memuaskan hatinya.
"Hm…"
Tatapannya tak lepas dari Shalla.
"Lalu, di manakah orang tuamu?"
Shalla menurunkan pandangan, sikapnya tetap terjaga dalam hormat.
"Ampun, Paduka…"
Nada suaranya merendah.
"Sejak hamba masih dalam buaian, hamba telah hidup tanpa ayah maupun ibu."
Sunyi.
Tak ada yang segera menyahut.
Raja Eldric akhirnya mengembuskan napas pendek.
"Ah… begitu rupanya."
Namun jauh di balik ketenangannya, benih tanya telah tumbuh.
Putra Mahkota Zevarian memandang wanita muda itu dalam diam yang panjang. Sorot matanya tak lagi sekadar penuh keseriusan, melainkan seolah menelusuri sesuatu yang tak kasatmata.
Ada rasa ganjil yang berdenyut samar di relung hatinya.
Sesuatu yang tak mampu ia jelaskan.
Namun di balik keganjilan itu, terselip getaran lain yang jauh lebih jujur, rasa syukur… dan kekaguman yang tak diundang.
Bibirnya bergerak nyaris tanpa sadar.
"Cantik…"
Satu kata sederhana, namun terlepas begitu saja seperti bisikan yang lolos dari penjagaan logika.
Tak jauh darinya, Pangeran Caelvion menatap Shalla dengan pandangan yang bahkan lebih terang. Mata bangsawan itu menyimpan takjub yang tak disembunyikan, seolah tengah menyaksikan sesuatu yang langka di dunia.
Wajah gadis desa itu tersapu cahaya kristal istana, membuat senyumnya tampak hampir tak nyata.
Hatinya berdesir.
"Tabib desa tercantik yang pernah kulihat…"
Untuk sesaat, bahkan udara di antara mereka terasa berbeda.. hening, namun sarat sesuatu yang belum terucap.
__________
Terima kasih banyak untuk kalian yang sudah berjalan sejauh ini bersama Shallaaaaa 🤍✨
Apa yang akan mereka lakukan selanjutnya? Apakah mereka akan mencari dalang di balik semua ini, atau menyusun strategi sendiri untuk membalas dendam?
Dan… apakah pujian kecil yang terucap tadi menandai awal dari sesuatu yang lebih… antara Putra Mahkota dan Pangeran kepada Shalla? 💫
Untuk mengetahui jawabannya, kalian bisa langsung lanjut ke bab berikutnya… dan seterusnya, untuk menyingkap semua rahasianya.. 🤫🤫
Kalau menemukan typo, jangan sungkan untuk memberitahu ya!! ❣️
Untuk kabar update dan kelanjutan cerita, kalian bisa mampir ke: 📍 I* @Wystlumi
Sampai jumpa di bab berikutnya…
#TabibDesaPemikatParaPria 💖