Sementara itu, pertanyaan demi pertanyaan terus dilontarkan, tak memberi ruang bagi keheningan untuk bernafas.
Shalla tetap berdiri tenang, meski sorot mata bangsawan di hadapannya terasa menekan.
"Hamba hanya mempelajari warisan ramuan desa, Paduka," ujarnya lembut, namun mantap.
"Leluhur kami mewariskan cara mendengar bahasa tubuh… dan bisikan alam. Selebihnya…"
Ia menunduk hormat.
"Em... mungkin hanyalah takdir yang kebetulan berpihak."
Raja Eldric menyipitkan matanya, jelas belum sepenuhnya diyakinkan oleh jawaban sesederhana itu.
"Itu terdengar mustahil," ucapnya berat, suaranya menggema pelan di ruangan megah tersebut. "Tak mungkin seseorang dengan kemampuan sepertimu hanyalah gadis desa biasa. Jika memang kau menyembunyikan sesuatu, katakanlah."
Shalla mengangkat wajahnya, namun tetap menjaga sikap hormatnya.
"Tidak, Paduka. Tiada yang hamba tutupi, dan tiada kepalsuan dalam kata-kata hamba."
Keheningan menggantung sejenak.
Sorot tajam Raja Eldric perlahan melunak, sebelum akhirnya ia mengangguk kecil.
"Baiklah… untuk saat ini, aku akan mempercayaimu."
Nada bicaranya berubah, lebih ringan, bahkan nyaris bernuansa geli.
"Namun sungguh aneh. Seakan-akan kau memang dilahirkan semata untuk menjadi tabib."
Ucapan spontan itu memecah ketegangan.
Tawa kecil mulai terdengar, menjalar halus di antara mereka yang hadir. Bahkan Shalla tak mampu menahan senyum tipisnya.
"Bisa saja, Paduka…" balasnya ringan.
Suasana yang semula tegang kini mencair, namun di balik itu—sepasang mata masih menatapnya.
Tak berpaling.
"Memang benar…" gumam lirih yang nyaris tak terdengar, sarat kekaguman. "Senyum yang teramat cantik."
"Baiklah… huh." Raja Eldric menghembuskan nafas panjang. Ketegangan yang sejak tadi mengikat wajahnya perlahan luruh, berganti kelegaan yang nyata. Sorot matanya yang tajam kini meredup, menyisakan ketenangan yang jarang terlihat dari seorang penguasa.
Di sampingnya, Ratu Seraphina tak henti menebar senyum. Wajah anggunnya memancarkan rasa damai yang telah lama direnggut oleh kecemasan. Keheningan sakral menyelimuti ruangan sebelum akhirnya Raja Eldric kembali bersuara.
"Sebagai wujud terima kasih kami…" ucapnya mantap, penuh wibawa. "Kami menghadiahkan satu wilayah di Perbatasan Timur, beserta seluruh hak, kehormatan, dan kekuasaannya kepadamu, Shalla."
Ucapan itu jatuh bak petir di tengah keheningan.
Shalla membeku.
Bulu kuduknya meremang, jantungnya berdegup tak menentu. Hadiah sebesar itu bukan sekadar anugerah, melainkan takdir yang mampu mengubah kehidupan seseorang selamanya.
Namun hanya dalam beberapa detik, gadis itu menggeleng pelan.
Ia menunduk hormat.
"Segala puji dan terima kasih hamba haturkan kepada Paduka…" ujarnya lembut, namun tegas. "Akan tetapi, hamba tidak berkenan menerima imbalan sebesar itu. Kesembuhan Yang Mulia Putra Mahkota telah menjadi balasan paling berharga bagi hamba."
Keheningan kembali merekah.
Di ranjangnya, Putra Mahkota Zevarian menatapnya lekat. Degup jantungnya berdenyut aneh, dipenuhi pertanyaan yang tak mampu terucap.
Apakah itu sekadar kerendahan hati seorang gadis desa? Ataukah ketulusan yang bahkan langka di kalangan bangsawan?
Ratu Seraphina melangkah maju, senyumnya tetap hangat. "Tak perlu menahan diri, Shalla," ucapnya lembut, nyaris keibuan. "Hadiah itu lahir dari ketulusan kami. Engkau pantas menerimanya."
Shalla mengangkat wajahnya, senyum tipis terukir, namun pendiriannya tak goyah.
"Yang Mulia…"
Ia kembali menunduk.
"Sejak awal, hamba tak pernah menukar ramuan dengan kemewahan. Seorang tabib desa tak memiliki imbalan selain satu hal yaitu kesembuhan."
"Astaga… jika demikian adanya," ujar Raja Eldric seraya menyandarkan punggungnya, nada suaranya dipenuhi keputusan yang tak terbantahkan.
"Apabila engkau menolak wilayah itu, maka kami akan mengangkatmu sebagai Tabib Istana."
Sorot matanya menajam penuh wibawa. "Dan untuk yang satu ini… kau tak diperkenankan menolak."
Ruangan seketika hening.
"Tabib Istana?"
Mata Shalla membesar. Refleks, suaranya meluncur lebih cepat dari kesadarannya. "Benarkah?!"
Begitu menyadari ucapannya, Shalla tersentak. Kedua tangannya buru-buru menutup mulutnya sendiri, wajahnya memerah oleh rasa malu yang tak mampu disembunyikan.
Putra Mahkota Zevarian yang sejak tadi memperhatikan, tak kuasa menahan senyum. Terkekeh pelan, ia berujar, "Bilang saja kau memang menginginkannya."
Shalla menurunkan tangannya perlahan, senyum kikuk menghiasi wajahnya.
"Ehh… apabila itu kehendak Paduka…" kekehnya pelan, masih menahan rasa salah tingkah.
"Hamba tentu tidak akan menolaknya, Yang Mulia."
Tawa ringan pun merekah di penjuru ruangan, mencairkan ketegangan yang sejak tadi menggantung.
Shalla segera menata sikap. Ia berdiri tegak, lalu menunduk hormat dengan penuh kesopanan.
"Hamba menghaturkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Paduka. Mulai detik ini, hamba akan mengemban amanah sebagai Tabib Istana dan menjalankan tugas dengan segenap kemampuan."
Raja Eldric mendengus pelan, senyum tipis tersungging di wajahnya. "Sama-sama. Kami justru berhutang budi padamu."
"Benar, itu. Kamu menyelamatkan keluarga kami," sahut Ratu Seraphina.
Putra Mahkota Zevarian menatap Shalla dalam diam yang panjang. Tatapannya tak lagi setajam biasanya, melainkan dipenuhi sesuatu yang hangat dan sulit dijabarkan. "Terima kasih, Shalla… telah melepaskan kutukan itu dariku." Suaranya rendah, namun sarat ketulusan. "Kau telah menyelamatkan hidupku."
Sejenak ruangan terasa sunyi. Bahkan udara seolah enggan bergerak.
Shalla tersenyum lembut. Senyum yang sederhana, namun mampu meredakan sisa-sisa ketegangan yang masih menggantung di kamar megah itu.
"Hamba hanya melakukan apa yang seharusnya hamba lakukan, Yang Mulia."
Nada suaranya tenang, penuh hormat.
"Melihat Yang Mulia kembali pulih adalah kebahagiaan yang tak ternilai bagi hamba."
Zevarian tak segera menjawab. Matanya tetap terpaku pada Shalla, seolah enggan memutus jarak di antara mereka.
Dari sisi ruangan, Pangeran Caelvion yang sejak tadi memperhatikan akhirnya melangkah maju. Senyum tipis terukir di wajahnya, lembut namun penuh makna.
"Terima kasih, Shalla."
Ucapan singkat itu terasa ringan, namun membawa kehangatan yang sama.
Shalla segera menunduk hormat. "Sama-sama, Yang Mulia Pangeran Caelvion."
Cahaya keemasan yang menembus jendela tinggi istana jatuh perlahan di antara mereka, membingkai momen itu dalam keheningan yang nyaris magis seolah takdir sendiri tengah menyaksikan awal dari sesuatu yang lebih besar.
Langkah kaki tergesa terdengar memecah keheningan ruangan. Suara itu semakin mendekat, tegas, penuh urgensi. Seketika, seluruh pandangan beralih ke arah pintu.
Daun pintu terbuka cepat.
Seorang utusan istana memasuki ruangan dengan napas tertahan. Angin dari lorong panjang seakan ikut terbawa, membuat jubah kebesarannya terhempas pelan di belakang. Wajahnya tegang, namun tetap terjaga dalam tata krama istana.
Ia segera berlutut, menunduk hormat sebelum berani mengangkat suara.
"Paduka Raja, Paduka Ratu… hamba membawa laporan dari perbatasan utara."
Nada suaranya tegas, nyaris mendesak.
"Para panglima memohon kehadiran Paduka secepatnya."
Suasana mendadak berubah. Ketegangan merambat halus di udara.
Raja Eldric menoleh pada Ratu Seraphina. Tanpa perlu kata-kata panjang, keduanya saling memahami. Sebuah anggukan serempak menjadi jawaban.
"Baiklah. Kami akan segera berangkat."
Nada Raja tenang, namun mengandung wibawa yang tak terbantahkan.
Tatapan tajamnya kemudian beralih, jatuh tepat pada Shalla. "Tabib Shalla, tetaplah di sini." Suaranya dalam, penuh perintah. "Kondisi Zevarian belum sepenuhnya pulih. Jaga Putra Mahkota hingga kami kembali."
Shalla yang sempat terpaku langsung tersadar. Sedikit terkejut, ia menjawab lebih cepat dari yang seharusnya.
"Eh— Ah, baik, Paduka!"
Kesunyian sesaat menyusul, hanya diiringi desir halus tirai istana yang bergerak pelan seakan pertanda bahwa sesuatu yang lebih besar tengah menanti di balik dinding kerajaan Velmoria.
Pangeran Caelvion perlahan bangkit dari tempat duduknya. Gerakannya tenang, namun penuh wibawa yang sulit diabaikan. Cahaya lembut dari jendela istana memantul samar pada siluetnya.
Ia melangkah mendekati ranjang.
Sepasang matanya terlebih dahulu menatap Putra Mahkota Zevarian yang masih beristirahat, sebelum akhirnya beralih… jatuh tepat pada Shalla.
"Aku pun memiliki urusan lain."
Nada suaranya ringan, tetapi mengandung ketegasan seorang pangeran.
Langkahnya berlanjut, melewati Shalla yang duduk di sisi ruangan. Namun sesaat sebelum benar-benar pergi, Caelvion menghentikan langkahnya.
Tatapannya kembali padanya.
"Tak perlu menjaganya terlalu cemas," ucapnya tenang. "Dia sudah cukup dewasa untuk menjaga dirinya sendiri."
Di akhir kalimatnya, senyum tipis terlukis di sudut bibirnya─samar, namun cukup untuk membuat jantung berdebar.
Shalla tertegun.
Untuk sepersekian detik, dunia seakan membeku di sekelilingnya. Senyum itu… entah mengapa terasa begitu mengusik ketenangannya.
Rasa gugup merambat tanpa permisi.
Dengan wajah yang sedikit menghangat, Shalla segera menunduk hormat, berusaha menenangkan diri.
"Baik, Yang Mulia…"
Suaranya lembut, nyaris terdengar malu-malu.
Putra Mahkota Zevarian mengerutkan keningnya samar. Tatapannya menyapu wajah Shalla yang masih tampak gugup, dan entah mengapa, ekspresi itu justru mengundang rasa geli di benaknya.
"Kau menyukai adikku, Tabib Shalla?"
Nada suaranya terdengar dingin, namun menyimpan sesuatu yang sulit ditebak.
Shalla tersentak.
Sepasang matanya membesar seketika, jelas tak menyangka pertanyaan itu akan meluncur dari bibir sang pewaris takhta.
"Eh… Yang Mulia, tidak sama sekali," jawabnya cepat, sedikit panik.
Namun kalimatnya tak berhenti di sana.
"Hanya saja… Pangeran Caelvion memang…"
Suaranya mengecil, nyaris seperti bisikan.
"…tampan."
Keheningan menggantung.
Zevarian memutarkan matanya pelan, sebuah reaksi yang lebih menyerupai rasa geli ketimbang tersinggung.
Gerakan kecil itu tak luput dari perhatian Shalla.
Jantungnya berdebar.
Tanpa benar-benar sempat menimbang kata-katanya, ia buru-buru menambahkan,
"Tapi… Putra Mahkota jauh lebih tampan daripada Pangeran Caelvion."
Nada suaranya jujur. Terlalu jujur.
Zevarian terdiam.
Tatapannya kembali padanya—datar, tenang, nyaris tanpa riak. Seolah pujian semacam itu bukanlah sesuatu yang asing baginya.
Namun di balik wajah tak tergoyahkan itu, ada sesuatu yang berpendar samar… sesuatu yang tak sempat Shalla pahami.
Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.
Lebih berbahaya bagi jantung seorang tabib desa.
Shalla hanya mampu menampilkan senyum kaku.
"Ehehehe…"
Tawa kecil yang canggung itu lolos begitu saja dari bibirnya. Jemarinya terangkat, menggaruk tengkuk dengan wajah memerah, jelas menyesali kejujuran yang terucap tanpa izin logika.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka perlahan, memecah suasana yang semula tenang.
Seorang dayang melangkah masuk dengan gerakan anggun, membawa nampan perak berukir halus. Di atasnya tersusun beberapa mangkuk porselen dan sebuah cangkir minuman hangat yang masih mengepulkan uap lembut.
Elmira.
Dayang pribadi Putra Mahkota.
Langkahnya ringan, namun sorot matanya tajam. Sekilas ia melirik ke arah Shalla—tatapan yang terlalu dingin untuk sekadar kebetulan.
Sinis. Menilai. Nyaris meremehkan.
Tanpa sepatah kata, ia mendekati meja kayu berlapis emas dan menurunkan nampan dengan gerakan terlatih.
"Silakan, Putra Mahkota, untuk makan malam—" Kalimatnya terhenti.
Shalla tersentak. "Malam?!" lirihnya refleks.
Kepalanya menoleh ke segala penjuru ruangan, seolah berharap menemukan penyangkalan dari benda mati. Matanya bahkan sempat mencari penunjuk waktu yang tentu saja tak pernah ada di kamar bangsawan.
Benar-benar tak terasa.
Waktu di istana seakan mengalir berbeda, lebih cepat, lebih sunyi, lebih membingungkan.
Dengan wajah sedikit panik, Shalla segera menunduk hormat.
"Maaf, Yang Mulia…"
Elmira mengangkat dagunya tipis. Senyum formal terlukis di wajahnya, namun tak mencapai mata.
"Apakah Yang Mulia masih memerlukan sesuatu?"
Zevarian tetap bersandar tenang di ranjangnya. Tatapannya datar, nyaris tak berubah sejak tadi.
"Hem… sudah cukup. Terima kasih, Elmira."
Nada suaranya tenang.
Namun entah mengapa, suasana ruangan kembali terasa ganjil… seolah ada sesuatu yang bergerak di antara tatapan, diam-diam menunggu untuk meledak.
"Baik, Yang Mulia. Semoga Putra Mahkota lekas pulih."
Elmira menunduk hormat dengan gerakan anggun yang nyaris sempurna. Jemarinya kembali terangkat, membawa nampan perak itu tanpa suara, seolah beratnya tak berarti apa pun bagi seorang dayang istana.
Namun, sebelum benar-benar berbalik....
Sepasang matanya melirik.
Tatapan singkat.
Tajam.
Sorot yang tak dapat disalahartikan.
Lalu ia melangkah keluar, pintu tertutup perlahan di belakangnya. Keheningan kembali mengisi ruangan.
Shalla masih menatap ke arah pintu yang kini telah tertutup rapat. Alisnya mengernyit samar, kebingungan jelas tergambar di wajahnya.
Perasaan ganjil merayap pelan di dadanya. Mengapa dayang itu memandangnya seperti itu? Apakah dirinya telah melakukan kesalahan tanpa sadar? Ataukah… kehadirannya memang tak diinginkan di tempat semegah ini?
______
Terima kasih banyak untuk kalian yang sudah berjalan sejauh ini bersama Shalla ❣️
Tak disangka, takdir Shalla berubah secepat itu.
Dari seorang tabib desa… kini ia menyandang gelar Tabib Istana.
Namun, apakah kehidupan istana benar-benar semewah yang dibayangkan? Ataukah justru menyimpan tekanan, aturan, dan rahasia yang jauh lebih rumit?
Dan… akankah pertemuannya dengan para bangsawan tetap sesederhana hari ini?
Semua jawabannya menanti di bab berikutnya. 💫
Kalau menemukan typo, jangan sungkan untuk memberitahu ya ❣️
Untuk kabar update dan kelanjutan cerita, kalian bisa mampir ke: 📍 I* @Wystlumi
Sampai jumpa di bab berikutnya…
#TabibDesaPemikatParaPria 💖