Teilen

Di Balik Jeruji

Autor: Yoru Akira
last update Veröffentlichungsdatum: 2025-11-28 11:26:24

Cempaka menatap Wiratama tanpa berkedip. Bibir tersungging senyum tipis. Namun, senyum itu tak pernah benar-benar sampai ke matanya.

"Kau yang apa, Wiratama?" tanya Cempaka tanpa nada gentar sedikit pun.

Wiratama terhenyak sejenak. Tidak menyangka jika Cempaka akan begitu berani berhadapan dengannya. Namun perlahan—seperti singa yang menemukan kembali taringnya yang hilang—ia mendekat ke jeruji besi.

Kepalanya terangkat sedikit, napasnya memburu, dan keberanian yang sempat mati oleh siksaan p
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Pelabuhan Terakhir

    Taman di kediaman Rembrandt tidak pernah sehijau pagi ini. Aroma tanah basah setelah hujan semalam menguap, bercampur dengan wangi bunga kemuning yang mekar di sudut pagar. Cempaka melangkah pelan di jalan setapak berbatu, jemarinya sesekali menyentuh kelopak mawar yang masih menyimpan butiran embun. Di sampingnya, Raden Aryotedjo berjalan dengan tangan tertaut di belakang punggung, langkahnya tidak lagi secepat dulu, namun dagunya tetap tegak dengan martabat yang kini lebih tenang. Pieter memperhatikan mereka dari beranda rumah, berdiri menyandar pada pilar putih besar sambil menyesap kopi terakhirnya. Ia sengaja memberikan ruang bagi ayah dan anak itu untuk menambal lubang-lubang di hati mereka yang sempat koyak. "Ayah akan kembali ke kadipaten sore ini," ucap Raden Aryotedjo memecah kesunyian. Beliau berhenti di bawah pohon kamboja tua, menatap bayangan dedaunan yang menari di atas rumput."Berkat suamimu, kehormatan Ayah dipulihkan dan jabatan itu dikembalikan pada Ayah seba

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Badai Telah Berlalu

    Percakapan hangat di meja makan itu terhenti saat suara derit sepatu bot yang tergesa-gesa bergema di lorong pualam. Sosok Bentley muncul di ambang pintu ruang makan. Wajahnya yang biasanya tenang kini nampak kaku dengan gurat kelelehan yang nyata, namun matanya memancarkan ketegasan seorang prajurit yang baru saja menyelesaikan misi krusial. Ia berdiri tegak, melakukan penghormatan militer sesaat sebelum melangkah mendekat ke arah Pieter. "Mohon maaf mengganggu sarapan Anda, Letnan. Ada kabar penting dari markas pusat dan kurir khusus dari Batavia," ujar Ben dengan suara bariton yang stabil. Ia mengangguk hormat pada Raden Aryotedjo dan Cempaka sebelum meletakkan sebuah map kulit berwarna cokelat tua di atas meja, sedikit menjauh dari piring nasi liwet. Pieter menyeka mulutnya dengan serbet linen putih, lalu meraih map tersebut. "Katakan, Ben. Tidak perlu ada yang dirahasiakan di meja ini." Ben menarik napas pendek, pandangannya menyapu isi ruangan. "Pembersihan telah sele

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Percakapan di Meja Makan

    Matahari pagi menyusup malu-malu melalui celah jendela jati yang besar di kediaman Rembrandt, membawa serta aroma melati yang basah oleh embun dari taman depan. Di ruang makan utama rumah megah bergaya kolonial itu, suasana biasanya sunyi dan kaku, hanya diisi oleh denting sendok perak yang beradu dengan piring porselen Delft Blue kegemaran Pieter. Namun pagi ini, udara terasa berbeda—lebih ringan, seolah beban berton-ton yang selama ini menekan atap rumah itu telah diangkat paksa oleh badai semalam. Raden Aryotedjo duduk di salah satu kursi kayu berukir yang biasanya ditempati tamu kehormatan Pieter. Beliau mengenakan beskap harian berwarna gading yang tampak sedikit kontras dengan arsitektur rumah bergaya Eropa tersebut. Rambutnya yang memutih tertutup blangkon dengan lipatan sempurna. Di hadapannya, secangkir kopi hitam mengepulkan uap tipis. Tangannya yang mulai keriput memegang koran De Locomotief, namun matanya tidak benar-benar membaca barisan kalimat di sana. Langkah kak

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Pasar Malam

    Cempaka memejamkan mata, namun alih-alih terlelap, benaknya justru berkelana mundur ke masa setahun yang lalu. Ia mencoba memanggil kembali ingatan tentang malam di alun-alun itu. Di bawah dekapan hangat Pieter, narasi suaminya seolah menjelma menjadi mesin waktu yang menariknya kembali ke tengah keriuhan pasar malam Yogyakarta. "Pasar malam itu..." Cempaka bergumam, suaranya parau oleh rasa tidak percaya. "Aku ingat genangan airnya. Hujan baru saja berhenti, dan bau aspal basah bercampur dengan aroma bakaran sate dari kejauhan. "Tapi aku benar-benar tidak melihatmu, Pieter. Bagaimana mungkin seorang perwira Belanda dengan seragam mentereng bisa luput dari pandanganku?" Pieter terkekeh, dadanya naik turun dengan tenang. "Karena aku berdiri di tempat di mana bayangan pohon beringin paling pekat, Mevrouw. Aku tidak ingin merusak suasana. "Kehadiran seragam militer di tengah rakyat yang sedang bersuka cita biasanya hanya akan membawa kecemasan. Aku hanya ingin menjadi penonton mala

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Rahasia Pieter

    Malam semakin melarut, namun kantuk seolah enggan singgah di paviliun utama kediaman Rembrandt. Suara jangkrik di luar jendela terdengar seperti simfoni yang menemani sisa-sisa ketegangan yang perlahan menguap dari dinding kamar. Cahaya lampu minyak yang temaram menari-nari di langit-langit, memantulkan bayangan dua insan yang tengah berbaring bersisian. Mencoba mencari kedamaian di tengah puing-puing badai keluarga yang baru saja reda. Pieter menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang yang terbuat dari kayu jati berukir, sementara Cempaka merebahkan kepala di dada bidang suaminya. Jemari Pieter yang kasar namun penuh kasih bergerak ritmis, mengusap helai demi helai rambut hitam Cempaka yang tergerai bebas. "Mevrouw, ada hal yang harus kuakui padamu," ucap Pieter memecah keheningan. Suaranya berat, membawa nada pengakuan yang tulus. Cempaka merasakan getaran di dada Pieter saat pria itu berbicara. Ia mendongak, menatap garis rahang suaminya yang tampak kokoh di bawah cahaya re

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Percakapan Dua Perempuan

    Lampu di paviliun belakang telah diganti dengan yang baru, namun bayang-bayang masa lalu seolah masih melekat di sudut-sudut langit-langitnya. Cempaka melangkah perlahan, melewati ambang pintu tempat kakaknya baru saja diseret keluar. Bau keringat dan ketegangan Pramana mulai memudar, digantikan oleh aroma kayu manis dari tungku kecil yang dibawa Sriah untuk menghangatkan ruangan. Di sudut paviliun, Lastri meringkuk di atas balai-balai. Ia tidak lagi menjerit, namun tubuhnya masih bergetar ritmis. Matanya menatap kosong ke arah jendela yang tertutup rapat, jemarinya mencengkeram kain jarik yang menutupi perutnya yang masih rata. "Mbak Sriah, biarkan kami bicara berdua," ucap Cempaka lembut. Sriah mengangguk patuh, memberikan pandangan iba terakhir pada Lastri sebelum keluar dan menutup pintu dengan suara klik yang pelan. Cempaka tidak langsung mendekat. Ia duduk di kursi kayu dekat balai-balai, membiarkan kehadirannya dirasakan oleh Lastri tanpa tekanan. "Dia sudah pergi, Las,"

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Musuh yang tak Pernah Habis

    Pagi berikutnya, rumah keluarga Rembrandt diselimuti atmosfer yang berbeda dari biasanya. Bukan kesunyian nyaman atau hiruk-pikuk para pelayan yang sibuk menyiapkan sarapan, melainkan ketegangan yang menggantung di udara—menempel di dinding-dinding tua rumah itu seperti kabut yang enggan pergi.Dar

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-28
  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Apa yang Dia Inginkan?!

    Cempaka jauh lebih tenang ketika Pieter memutuskan untuk meninggalkan perempuan itu di kamarnya. "Kau tak apa kalau aku keluar sebentar?" tanya Pieter memastikan sekali lagi.Perempuan itu hanya mengangguk singkat. Masih ada sisa ketegangan di raut wajahnya. Juga air mata yang sepenuhnya hampir me

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-28
  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Jalanmu Berakhir di Sini!

    Pieter terbangun ketika mendengar suara langkah di luar rumah. Pendengarannya mendadak awas. Ia bersiaga meski tangannya masih memeluk Cempaka. Ketika suara langkah itu makin mendekat, Pieter pelan-pelan menggeser tubuh Cempaka dan turun dari tempat tidur. Melalui jendela kamar yang menghadap ke

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-28
  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Kecemasan Cempaka

    Tangan Pieter yang tengah menggenggam pegangan cambuk bergetar di sisi tubuhnya. Kemarahan kian memuncak dan ucapan sang pria muda itu seperti menumpahkan minyak ke dalam api. Meski begitu, ia berusaha sekuat tenaga menahan diri agar tidak melayangkan cambuk untuk kesekian kali. Pieter menyadari

    last updateZuletzt aktualisiert : 2026-03-28
Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status