Share

Sebuah Peluang

Author: Yoru Akira
last update Last Updated: 2025-10-29 18:11:42

Cempaka tertegun. Angin malam meniup lembut helaian rambutnya. Kata-kata itu menggema lama di dalam dadanya, antara ingin dipercaya dan takut terjebak dalam harapan semu.

Apa pula maksud ucapan pria itu? Bahwa dia memilihnya?

Degup jantung Cempaka tak terkendali. Ia tak tahu perasaan apa itu. Yang jelas, Cempaka mulai menyadari satu hal, bahwa Pieter adalah pria yang berbahaya.

Kalau saja ia tak menyadari posisinya saat ini, ia pasti akan percaya begitu saja bahwa dirinya dipilih. Melupakan fakta bahwa Wiratama telah menjualnya pada pria Belanda itu. Hanya demi kedudukan dan kebebasan dari upeti yang harus diserahkan kepada para pendatang berkulit putih.

"Pada faktanya aku tidak dipilih oleh siapa pun, Tuan. Tidak juga kamu." Ucapan Cempaka cukup tegas saat mengatakannya.

Pieter hanya menghela napas. Mungkin memang belum saatnya bagi perempuan itu menatapnya tanpa rasa curiga.

"Kalau itu yang kau yakini, Mevrouw."

Keheningan menyelimuti keduanya. Cukup lama. Hingga keduanya ter
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Keraguan Cempaka

    Cempaka mengangguk pelan di dalam dekapan itu, lalu menarik napas dan—untuk pertama kalinya—menjauh setengah langkah. “Lain kali, jangan pernah pergi tanpa seizinku lagi,” ucap Pieter rendah, suaranya masih bergetar oleh sisa ketakutan. “Kau tahu, aku benar-benar bisa gila kalau kau pergi seperti ini lagi, Mevrouw.” Cempaka menatapnya lurus. Tidak membantah. Tidak juga tersenyum. “Maafkan aku, Piet. Aku terpaksa dan harus bergerak cepat.” Kalimat itu membuat Pieter melepaskan pelukannya sepenuhnya. Tatapannya menajam—bukan marah, melainkan waspada. “Apa yang terjadi?” Cempaka menghela napas panjang, seolah menimbang dari mana harus memulai. Ia lalu berbalik, melangkah lebih dulu ke arah lorong samping. “Ke ruang kerja,” katanya singkat. “Tidak aman membicarakannya di sini.” Ruang kerja Rembrandt tertutup rapat. Tirai setengah ditarik, lampu minyak di atas meja menyala redup. Pieter berdiri di dekat jendela, sementara Cempaka meletakkan tas kecilnya di atas meja, membuka pe

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Panik!

    Pieter keluar dari gedung tahanan dengan langkah cepat.Udara di luar terasa lebih panas daripada di dalam ruang interogasi yang dingin dan steril. Bukan karena matahari—melainkan karena percakapan barusan belum benar-benar selesai di kepalanya. Wiratama terlalu tenang. Terlalu siap. Dan itu berarti ada sesuatu yang sudah bergerak lebih dulu.Ia baru saja menuruni anak tangga terakhir ketika sebuah suara menyapanya dari sisi halaman.“Wajah seperti itu biasanya muncul saat seseorang sadar—dia datang terlambat.”Pieter berhenti.Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara itu. Nada santai yang dibuat-buat, pilihan kata yang selalu terasa setengah mengejek.“Adrian,” ucapnya dingin saat akhirnya menoleh.Pria itu berdiri bersandar pada pilar batu, jasnya rapi, topinya miring sedikit seolah dunia tak pernah benar-benar menyentuhnya. Senyum tipis terukir di wajahnya—senyum orang yang tahu sesuatu dan menikmati fakta bahwa orang lain belum sepenuhnya menyadarinya.“Kau terlihat

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Pergerakan

    Di ruang tahanan militer, waktu bergerak dengan cara yang berbeda. Di sini, seakan waktu bergerak lambat dengan pola yang menyiksa.Wiratama telah dipindahkan ke tempat yang dianggap paling aman sejak beberapa hari lalu. Tidak lagi berada di sel tahanan dekat pelabuhan yang menjadi kesatuan tugas Pieter Rembrandt. Status penahan Wiratama bertingkah dan itu yang membuatnya harus dipindahkan. Meski Pieter tidak sepenuhnya diminta lepas tangan untuk mengurusi pria itu. Sebab, perkara Wiratama berkaitan erat dengan wilayah kekuasaan Pieter sebagai pengawas pelabuhan.Di ruang penjara itu tidak ada jendela. Tidak ada tanda pagi atau siang. Hanya lampu putih yang tak pernah benar-benar padam dan dinding yang terlalu 'bersih' untuk menumbuhkan rasa aman.Pieter berdiri di balik kaca satu arah yang tampak buram. Dimakan usia. Penjara ini salah satu yang paling tua. Tangannya bersedekap, rahangnya mengeras. Di balik kaca itu, Wiratama duduk di kursi logam dengan sikap nyaris santai—terlalu

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Yang Luput dari Pengawasan

    Cempaka membuka mata kembali.Kali ini lebih lama.Ia tidak langsung bergerak, hanya duduk di tepi ranjang dengan punggung sedikit membungkuk, kedua telapak tangan menekan seprai seolah mencari pijakan. Pagi masih terlalu muda. Udara masih menyimpan dingin sisa malam. Dan keheningan di kamar itu terasa berbeda—bukan tenang, melainkan berjarak.Ia bangkit perlahan dan meraih mantel tipis yang tergantung di kursi. Gerakannya tenang, nyaris terlatih. Perasaan yang barusan merayap di dadanya tidak berkembang menjadi kepanikan, melainkan kewaspadaan.Cempaka turun ke lantai bawah.Rumah Rembrandt masih terjaga dalam sunyi. Jam dinding di lorong menunjukkan hampir pukul enam. Di dapur, teko air masih di tempatnya, dingin. Tidak ada tanda Pieter sempat sarapan.Para pelayan pun sibuk mengerjakan tugas masing-masing dalam sunyi. Sriah sesekali keluar masuk dapur dari halaman. Mereka hanya sempat berbincang sebentar.Lalu, Cempaka berhenti di meja kecil dekat ruang kerja. Di sana—selembar ker

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Panggilan Dini Hari

    Pukul dua dini hari. Ketukan itu pelan, tapi teratur—cukup untuk menembus batas tidur seorang prajurit. Pieter membuka mata lebih dulu. Kesadaran datang tanpa sisa kantuk, seperti refleks yang telah diasah bertahun-tahun. Di sisinya, Cempaka masih terlelap. Napasnya teratur, wajahnya damai dengan cara yang jarang ia perlihatkan saat terjaga. Ketukan terdengar lagi. Pieter menggeser tubuhnya perlahan, berhati-hati agar kasur tak berderit. Ia menarik selimut sedikit lebih tinggi menutupi bahu Cempaka, lalu bangkit dan melangkah menuju pintu. Begitu pintu terbuka, Ben berdiri di ambang. Rambutnya sedikit berantakan, seragamnya setengah berantakan—tanda ia datang tanpa banyak pertimbangan selain urgensi. “Ada apa, Ben?” suara Pieter rendah, nyaris berbisik. “Ada panggilan dari kesatuan, Tuan.” Kening Pieter berkerut. “Pagi buta begini?” Ben mengangguk cepat. “Ini tentang Wiratama. Katanya… dia menunjukkan gelagat aneh sejak sore. Terlalu banyak bertanya."Tapi di satu sisi, tamp

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Tidurlah, Mevrouw!

    Mobil hitam itu melaju meninggalkan halaman rumah Aryotedjo dengan kecepatan sedang. Mesin berdengung halus, nyaris kontras dengan suasana di dalam kabin yang dipenuhi pikiran-pikiran berat. Jalanan menjelang siang itu sedikit lengang, hanya sesekali dilewati pedati atau pejalan kaki yang menepi begitu melihat kendaraan milik keluarga Rembrandt lewat. Cempaka duduk tegak di kursi penumpang depan. Tangannya terlipat rapi di pangkuan, punggungnya bersandar, namun bahunya tak sepenuhnya rileks. Pandangannya lurus ke depan, menembus kaca mobil, seolah sedang membaca sesuatu yang tidak benar-benar ada di sana. Pieter menyetir dengan tenang. Satu tangan di kemudi, satu lagi sesekali berpindah ke tuas persneling. Wajahnya tampak fokus, tapi bukan pada jalan—melainkan pada segala kemungkinan yang sedang mereka hadapi. Sementara Bentley sudah lebih dulu pergi. Prajurit yang setia itu ditugaskan Pieter untuk melapor ke kesatuan lebih dulu sebelum Pieter akan menyusul nanti. “Pengumuman it

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status