Share

Tamu Tak Diundang

Author: Yoru Akira
last update Huling Na-update: 2025-11-14 21:07:10

Pagi itu rumah keluarga Rembrandt terasa lebih hidup dari biasanya. Lastri mondar-mandir dari dapur ke ruang makan sambil membawa nampan berisi piring-piring porselen.

Ben terlihat menuntun dua kuda yang biasanya digunakan Pieter untuk patroli, sementara beberapa pelayan lain menyapu halaman yang basah oleh embun. Termasuk Sriah yang pagi ini bertugas menyapu halaman belakang.

Namun, bagi Cempaka dan Pieter yang baru keluar dari kamar tidur, dunia terasa masih bergetar oleh ketenangan halus yang hanya mereka berdua yang tahu asalnya.

Pieter menuruni tangga lebih dulu, mengenakan kemeja putih tipis dan celana panjang cokelat, rambutnya masih sedikit berantakan.

Cempaka muncul beberapa detik kemudian, langkahnya pelan, kain batiknya berayun lembut mengikuti gerak tubuhnya.

Pipi perempuan itu sedikit berwarna merah muda—entah karena malu, atau sisa kehangatan yang belum sepenuhnya padam.

Lastri melihat mereka hampir bersamaan dan, untuk pertama kalinya, pelayan itu kehilan
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Tamu yang Tak Diharapkan

    Nama itu. Begitu Aryo menyebutnya—pelan, seperti takut ada sesuatu yang ikut merayap keluar dari kegelapan—Cempaka merasa seluruh lantai bergeser dari bawah telapak kakinya.Ia tidak menjawab apa pun. Tidak bereaksi. Tidak memprotes.Ia hanya berdiri terpaku, memandang Aryo, namun tatapannya kosong. Jauh. Terseret pada masa yang seharusnya tak perlu ia ingat lagi. Faktanya tidak semudah itu bagi Cempaka.Lastri sempat memanggil namanya dua kali. Sriah memegang lengannya, khawatir Cempaka akan jatuh.Namun Cempaka hanya mengucapkan satu kalimat, sangat pelan, “Aku harus bicara dengan Pieter.”Tidak ada yang bisa menahannya ketika ia melangkah keluar dari ruang penahan belakang itu. Napasnya cepat, langkahnya panjang, hampir terburu-buru melewati halaman. Sore menjelang, cahaya matahari redup jatuh di wajahnya, tetapi tidak cukup untuk menenangkan gejolak yang bergemuruh di dadanya.Ia tahu nama itu. Semua orang mungkin tidak. Bahkan Lastri, atau Pieter sekalipun. Sebab, ia sendiri yan

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Pengakuan Sang Tahanan

    Hari-hari setelah malam itu berlalu begitu saja—tanpa kejadian besar, tanpa percakapan yang mengungkap luka lama, tetapi juga tanpa menjauhkan apa pun yang sudah sempat mendekat.Rumah Rembrandt kembali seperti semula. Tidak dingin. Tapi juga… tidak sepenuhnya hangat.Cempaka menjalani rutinitasnya dengan cara yang membuat para pelayan hampir bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada perempuan itu. Terutama Lastri.Perempuan muda itu tahu, tak mudah bagi Cempaka setelah kemunculan Aryotedjo. Apalagi namanya sempat dibawa-bawa dan membuat suasana makin tegang. Namun, tak ada yang bisa dilakukan Lastri. Cempaka menolak bercerita padanya."Den Ayu, butuh teman bercerita?" tanya Lastri pada suatu sore setelah Aryotedjo muncul di rumah keluarga Rembrandt.Cempaka hanya tersenyum. Menggeleng singkat, lantas menepuk pundak perempuan yang sudah bersamanya sejak usia belia itu."Jika Den Ayu, tidak mengatakan apa pun, itu membuat saya menjadi gusar." Lastri menambahkan. Namun, Cempaka ha

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Kehangatan yang Hanya Milikmu

    Pieter kembali ke kamar ketika malam sudah turun sepenuhnya. Menyisakan hanya cahaya kecil dari lampu minyak yang ia biarkan menyala sebelum pergi tadi. Pria itu membuka pintu perlahan, hampir tanpa suara, tak ingin mengganggu tidur Cempaka. Namun begitu ia masuk, Pieter mendapati sesuatu yang membuat langkahnya terhenti. Cempaka tidak lagi tidur setenang sebelumnya. Perempuan itu meringkuk di bawah selimut, tubuhnya gelisah. Alisnya mengernyit, bibirnya bergerak seakan memanggil seseorang dalam mimpi yang tidak menyenangkan. “Ayah.…” gumamnya kecil, nyaris tak terdengar. Pieter langsung mendekat. Ia menunduk, memperhatikan napas Cempaka yang mulai tersengal—bukan karena sakit, tapi gelombang kecemasan yang muncul begitu ia tak lagi disandari oleh kehangatan seseorang. “Cempaka,” bisiknya lembut sambil duduk di tepi ranjang. “Aku di sini.” Perempuan itu tampak tersiksa dalam tidurnya, jemarinya mencengkeram bagian selimut seolah sedang memohon perlindungan dari sesuatu yang t

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Demi Cempaka

    Pieter terbangun ketika cahaya senja menyelinap melalui celah tirai. Cahaya lembut itu jatuh tepat pada wajah Cempaka yang masih bersandar di dadanya.Untuk beberapa detik, dunia terasa berhenti—hanya ada embusan napas teratur Cempaka, hangat dan lembut di atas kemeja Pieter.Pria itu menunduk sedikit, memperhatikan perempuan itu dengan tatapan yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun.Cempaka tertidur pulas. Damai. Seolah kelelahan hari ini perlahan ditelan ketenangan.Senyum halus muncul di bibir Pieter—senyum yang hanya muncul ketika ia melihat sesuatu yang sungguh ia jaga.Pelan, ia mengangkat tangan dan mengusap rambut Cempaka. Gerakannya hampir seperti doa yang diucapkan tanpa suara. Istrinya bergumam kecil, meringkuk sedikit, tetapi tetap terlelap.Pieter menunggu beberapa detik sebelum bergerak hati-hati. Lengan yang memeluk Cempaka ia lepaskan perlahan. Ketika kepala perempuan itu terjatuh tanpa sandaran, Pieter cepat menahan dengan telapak tangan. Memastikan tidak ada sentak

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Istirahatlah, Aku di Sini!

    Mereka berjalan menuju lantai dua tanpa banyak kata. Langkah Cempaka berat, tetapi tidak lagi terasa sendirian. Pieter tetap menggenggam jemarinya—erat, namun tidak pernah memaksa.Setibanya di kamar, Pieter lebih dulu membuka pintu. Mengizinkan Cempaka masuk, lalu menutupnya perlahan. Seolah menutup seluruh kegaduhan dunia di balik daun pintu itu.Cempaka berdiri di tengah ruangan, matanya menyisir sekeliling tanpa fokus. Napasnya masih tersengal, sisa dari pecahan tangis yang tadi belum benar-benar surut.Pieter mendekat secukupnya, tidak terburu-buru.“Duduklah,” ucapnya lembut.Cempaka menurut. Ia duduk di tepi ranjang besar itu, jemarinya saling meremas satu sama lain. Pieter mengambilkan segelas air, lalu menyodorkannya pada perempuan itu.Cempaka menerimanya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. “Terima kasih…”Air itu diminumnya perlahan. Satu tegukan. Dua. Hingga dadanya terasa sedikit longgar.Pieter berdiri di depannya, memperhatikannya dengan tatapan yang penuh kekhawa

  • Tahanan di Ranjang Sang Letnan   Pelukan yang Menyembuhkan

    Aryotedjo akhirnya memalingkan wajah. Tangannya yang semula menggantung di udara perlahan turun, lemah—seolah seluruh energi tersedot dari tubuhnya.Pria paruh baya itu menatap anaknya satu kali lagi, tatapan yang tak lagi memerintah, tak lagi memaksa. Hanya seorang ayah yang terlambat menyesal.Meski kata maaf itu tak juga terucap sampai saat terakhir meninggalkan ruang tamu keluarga Rembrandt.Dengan langkah gontai, ia membalikkan badan. Suara gesekan sandalnya di lantai kayu begitu pelan, tetapi di telinga Cempaka terasa seperti gema yang menghantam berulang-ulang.Pintu depan dibuka oleh Sriah yang menatap prihatin pada Cempaka sejak kedatangannya. Sementara Aryotedjo melewati ambang itu tanpa menoleh. Hujan yang sejak tadi mengancam akhirnya turun—rintik-lambat, namun cukup untuk membasahi bahunya ketika ia melangkah keluar. Sebuah simbol yang aneh: seolah alam bersedih untuknya, ketika putrinya sudah terlalu kering untuk kembali menangis karenanya.Pintu menutup. Sunyi mendada

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status