Share

Bab 269 G-string Merah

Author: Sora Archery
last update publish date: 2026-05-23 20:59:47

Bimo buru-buru menaikkan celananya ke atas saat mendengar suara motor yang baru saja berhenti tepat di depan halaman Cafe nya.

“Hei kalian pakai baju sana!” suruh Bimo panik. Dia langsung berlarian ke arah jendela dan melihat Mayang baru saja turun dari motor. Di kedua tangan wanita itu ada dua bungkus ukuran besar yang berisi pisang kepok.

“Gawat, kalau Mama melihat Dian dan Angel lagi gak pakai baju, aku pasti akan dipanggang hidup-hidup,”batinnya.

Tanpa pikir panjang, Bimo segera menghampir
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (9)
goodnovel comment avatar
Iin Ratna
bakalan ketauan gak ya wkwkw
goodnovel comment avatar
Iin Ratna
punya angel kayak ny itu ketinggalan hahaha
goodnovel comment avatar
Huzi_Acc
punya Ari atau Edi kali tuhh ketinggalan wkwkwk gokil
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 479 Sikap Dingin Prof. Malik

    “Apa maksud Bapak?! Kenapa tiba-tiba berubah pikiran?” tanya Prof. Malik dingin. Raut wajahnya mendadak datar tanpa ekspresi, namun tatapan matanya menusuk tajam menembus Bimo. “Saya sudah bertaruh nyawa memperbaiki Lunar Core ini, Pak Bimo. Dan Bapak membuang kesempatan emas ini begitu saja?”​Bimo mendesah pelan, menatap lurus ke arah pendar kebiruan Lunar Core yang masih memancar di genggaman pria tua itu. ​”Istri dan para wanita saya sudah menerima keadaan saya apa adanya, Prof,” jelas Bimo dengan perasaan tak enak. “Walaupun kekuatan monster di tubuh saya ini terkadang membawa masalah, tapi ini adalah satu-satunya yang mampu membuat para wanita saya bahagia. Saya sudah berjanji pada mereka untuk tidak mengubah bentuk keperkasaan saya.” ​Prof. Malik mematung sejenak saat mendengar hal itu. Keheningan seketika menyelimuti mereka. Hanya terdengar suara gemuruh air terjun dan bersahutan dengan sepoi-sepoi angin malam. ​Prof. Malik perlahan membuang napas pendek lalu tersenyum tipi

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 478 Bu RT Bunting Anak Siapa?

    Kening Bimo berkerut heran. Meminta tanggung jawab? Apa maksudnya? “Heh Bu RT! Kalau ngomong tuh yang jelas! Bu RT mau meminta tanggung jawab apa sama suami saya?!” semprot Sella seraya berkacak pinggang. “Pak Bimo! Lebih baik Bapak katakan yang sejujurnya pada Sella tentang hubungan kita berdua! Pokoknya saya menuntut pertanggungjawaban dari Pak Bimo atas kehamilan saya!” seru Bu RT dengan suara menggelegar hingga membuat semua penghuni komplek perumahan keluar dari rumah mereka masing-masing untuk melihat apa yang terjadi. Mata Sella terbelalak saat mendengar pengakuan Bu RT, dia langsung melemparkan tatapan tajam dan menuntut jawaban ke arah Bimo.”Mas! Katakan yang sejujurnya padaku! Benar kamu sudah celap-celap pepes basinya Bu RT?!”“APA?! IBU DIBUNTINGI PAK BIMO?!” pekik Pak RT yang baru saja pulang menagih uang sokongan untuk lomba 17 Agustus nanti bersama Pak Budi. BU RT sontak berbalik dengan mata terbelalak dan mulut menganga lebar saat melihat Pak RT di belakangnya samb

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 477 Minta Tanggung Jawab

    Bu RT mengibaskan kedua tangannya beberapa kali di depan wajah Bimo. “Halo? Pak Bimo? Apa Bapak mendengarkan saya?” tanya Bu RT membuat Bimo langsung tersentak dan tersadar dari lamunannya. “Duh, pagi-pagi kok melamun sih Pak Bimo. Saya tahu… pasti Bapak kepikiran soal malem tadi kan? Ngaku aja hayo,” tebak Bu RT. Bimo hampir tersedak ludahnya sendiri saat mendengar kata-kata itu.”Pak Bimo gak perlu malu-malu kucing sama saya. Apa Bapak lupa kalau semalam Bapak memanggil saya dengan sebutan BEBI sambil menusuk milik saya berulang kali hehe.” Dia makin terperangah saat mendengarnya. BEBI? Datuk memanggil Bu RT dengan sebutan yang menggelikan itu? Ternyata benar kata orang-orang di luar sana, semakin tua manusia maka tingkahnya akan semakin lucu seperti anak kecil lagi. “Wah jadi betul ya Pak Bimo selingkuh dengan Bu RT? Perang Dunia ketiga nih kalau Bu Mayang, Sella dan Tiara sampai tahu!” celetuk salah satu teman Bu RT yang masih berdiri di depan gerobak sayur bersama yang lainny

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 476 Sambil Merem

    Bimo mengacak-acak rambutnya sendiri saat melihat jam telah menunjukkan pukul 10 malam. Sialnya Datuk belum menunjukkan barang hidungnya padahal sedari tadi dia sudah berkomat-kamit memanggil kakek leluhurnya itu untuk meminta bantuan. “Datuk… datanglah… aku mohon…datanglah malam ini dan bantu aku,” batin Bimo seraya memejamkan kedua matanya dan terus memanggil nama si Datuk. Tak lama kemudian seberkas cahaya putih muncul di hadapannya lalu berubah wujud menjadi Datuk Maringgi. “Cucuku? Ada apa kamu memanggilku malam minggu begini? Kakek kan lagi sibuk ngapel sama Sinta, SPG cantikmu itu di jembatan Ancol. Ganggu saja!” dengus Datuk kesal sembari mengelus janggutnya. “Kek, tolongin aku. Aku… “ Bimo mulai menceritakan semuanya pada Datuk kejadian siang tadi dan permintaan gila Bu RT malam ini pada Datuk. “Duh, kalau itu Datuk gak bisa bantu. Kamu genjot sajalah sambil merem atau matikan lampu. Lubangnya pasti sama-sama enak kok,” jawab Datuk menolak untuk membantu Bimo.

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 475 Perdebatan Di Ruang Rawat

    Senyuman di wajah Mayang seketika lenyap saat melihat salah satu wanita yang kini berdiri di ambang pintu bersama Cindy sambil membawa buah tangan berupa buah-buahan segar dan roti. Cindy dan wanita itu melangkah masuk ke dalam menghampiri mereka. “Wah Mayang, Tiara selamat ya kalian sudah melahirkan dua bayi gemoy yang lucu dan ganteng. Mirip banget sama Pak Bimo,” sapa Bu RT seraya menatap gemas ke arah Baby Kenzo dan Baby Kesya. “Duh, kok mereka buntel sekali ya? Gak seperti bayi baru lahir pada umumnya? Aduh pasti punya kalian makin melebar dan gak menggigit lagi setelah melahirkan mereka,” cibir Bu RT. Bimo terlihat kesal saat mendengarnya dan berniat ingin membalas perkataan wanita gemuk itu. Tapi Tiara sudah lebih dulu menyemprotnya. ​”Duh Bu RT, nggak usah sotoy deh!” ketus Tiara sambil mengelus pipi gembul Baby Kesya. “Tadi Dokter sendiri yang bilang kalau lubang kami berdua sama sekali nggak ada robekan dan masih rapet kayak perawan! Lagian lubang kami ini sangat elasti

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 474 Keanehan Dua Bayi

    “Dok?! Apa yang terjadi kepada kedua bayinya?!” seru Bimo panik. Jantungnya berdebar kencang, takut jika terjadi sesuatu pada kedua bayi yang baru saja dilahirkan oleh Mayang dan Tiara. “Iya Dok! Apa yang terjadi pada bayiku?! Apakah dia cacat?!” tanya Mayang dengan nada gemetar ketakutan. “Apa?! Cacat?! Tidak mungkin! Kata Dokter perkembangan bayi kita sehat! Mana mungkin cacat?!” seru Tiara histeris saat mendengar kata ‘cacat' yang terlontar dari bibir Mayang. Dokter itu menggeleng pelan, kedua matanya terbelalak saat melihat ke arah kedua bayi Bimo. “B-bukan! Mereka tidak cacat! H-hanya saja ukuran tubuh mereka lebih besar dari bayi normal pada umumnya. Biasanya bayi normal memiliki tinggi 48-50cm tapi ukuran bayi kalian seperti bayi yang berumur 5 bulan sekitar 69 cm. Mereka juga sangat gemuk. Lihat ini.” Dokter mengangkat salah satu bayi laki-laki Bimo yang tali pusarnya masih menempel dengan ari-ari. Bayi itu menangis keras di hadapan mereka, ukuran tubuhnya memang lebih b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status