MasukSi cupu membeku di tempatnya. Kedua mata pria itu terbelalak saat merasakan lendir berbau amis jatuh di dahinya. Rahang transparan bayi semut itu bergetar pelan, mengeluarkan suara geraman tepat beberapa sentimeter dari dada si cupu.KRRR….KRRR…KRRR …Bimo langsung berhenti berlari dan perlahan menoleh ke belakang saat mendengar si cupu menginjak cangkang telur semut raksasa itu. Tangannya mengisyaratkan agar si cupu tidak bergerak sama sekali dan menahan nafas sejenak.Gas berwarna hijau mulai turun menyerupai kabut tebal, mengaburkan jarak pandang dan menyengat mata mereka hingga terasa sangat perih. Waktu di layar tablet yang ada genggaman Si Gondrong terus berkedip merah dan menunjukkan waktu tersisa.00:00:42Beberapa bayi semut yang terkena paparan awal gas hijau itu mulai bertingkah aneh. Mereka mengerang dan kejang, lalu mengibaskan sungutnya secara agresif karena racun yang mulai merusak sistem saraf mereka.SREK! Seekor bayi semut yang mengalami kejang mendadak menabrak
Tubuhnya seketika bergidik ngeri saat melihat pemandangan mengerikan di depan matanya. Bau cairan ketuban yang amis dan menyengat langsung menyapu indra penciuman mereka. Si cupu nyaris ingin muntah namun pria itu menahannya sekuat mungkin. Terlihat sungut kecil kepala semut yang berlendir dan terus bergerak-gerak dari balik telur yang sudah retak. Meski ukurannya belum sebesar semut dewasa, anak-anak semut yang baru menetas itu masih setinggi dada manusia, dengan rahang capit yang tajam dan tembus pandang. “M-mereka menetas…” ucap si cupu seraya mundur beberapa langkah ke belakang hingga punggungnya menabrak dinding batu. “Jangan bergerak!” peringat Bimo seraya menahan bahu si cupu. “Cairan ketuban mereka masih basah. Pandangan dan pendengaran mereka belum sempurna!” KRAK! KRAK! KRAK! Puluhan telur lain retak secara bersamaan di depan jalan keluar lorong. Lusinan monster kecil yang kelaparan itu mulai merayap melintasi genangan lendir dan bergerak acak tanpa arah. Satu-satuny
“Ayo keluar sekarang!” ajak Bimo setengah berbisik. “T-tapi lewat mana?! Saat ini kita benar-benar terkepung di segala arah!” tanya si cupu mulai terisak, kedua kakinya bergetar dan sampai terkencing-kencing di celana karena ketakutan.“Kita akan melewati lorong sempit di sebelah kanan tebing!” tunjuk Bimo ke arah celah gelap di antara bebatuan, tempat itu tidak masuk di dalam denah tablet.“Semut raksasa itu tidak akan bisa masuk ke sana tanpa menghancurkan dinding batu. Itu satu-satunya akses agar kita dapat mengulur waktu!” tambah Bimo.“Bimo! Senjatanya!” si gondrong mengambil senjata api dari kotak pasokan lalu menyodorkannya ke tangan Bimo.”Apa kamu mengerti cara memakainya?”“Tenang, aku bisa melakukannya,” Bimo menerima senjata itu dan memeriksa dua butir amunisi yang tersisa di dalamnya. BUM! Dinding batu di belakang mereka tiba-tiba bergetar. Debu tanah dan runtuhan kerikil merosot menimpa kepala Kakek Sugi. Di balik lorong belakang yang gelap, samar-samar terlihat mon
“Baiklah Bim! Cepat katakan apa yang harus aku lakukan! Aku tidak mau menjadi santapan semut raksasa itu!” bisik si gondrong dengan nafas terengah-engah dan bercucuran keringat.Bimo melirik ke sekeliling celah batu tempat mereka bersembunyi. Di dekat kakinya, ada beberapa bongkahan batu seukuran kepalan tangan. Ide brilian tiba-tiba muncul di dalam kepalanya.“Semut itu bisa melihat dengan mata seperti kita, makhluk itu dapat merespons getaran dan bau,” bisik Bimo pelan pada si gondrong, si cupu dan teman-temannya yang lain.”Lihat anak buah Big Dragon disana. Kita akan memanfaatkan mereka untuk dijadikan umpan.”Bimo mengambil dua buah batu, lalu menyerahkan satu ke tangan si gondrong.“Saat aku bilang lemparkan, lempar batu itu setinggi mungkin ke arah dinding gundukan tanah tepat di atas kepala dua anak buah Big Dragon. Jangan sampai mengenai mereka, cukup buat bunyi ketukan keras di dinding tanah tersebut,”instruksi Bimo.Si gondrong mengangguk mengerti, tangannya menggenggam batu
“A-apa ini? Itu rumah semut raksasa?!” pekik si gondrong seraya mengucek-ngucek kedua matanya tak percaya.Terlihat banyak sarang semut raksasa berdiri kokoh di sekitar mereka, menjulang tinggi hampir menyentuh langit-langit gua bawah tanah—mungkin setinggi Menara Eiffel di Paris. Dinding-dinding sarang dari gundukan tanah merah itu tampak berlubang di berbagai sisi, mengeluarkan bau tanah basah yang menusuk indra penciuman mereka.Dari balik lubang-lubang besar itu, terdengar suara gesekan berisik yang saling bersahutan.Krek... Krek... Krek…“Suara apa itu?!” tanya si gondrong seraya memegang erat lengannya Bimo dengan tubuh bergetar ketakutan.Suara dengung speaker dari langit-langit gua tiba-tiba menggema keras, menghentikan kepanikan para tahanan yang masih terpaku menatap gundukan sarang raksasa di depan mereka.“Selamat datang di arena Quartell Game di hari pertama kalian,” sapa Bu Maya terdengar bergema di seluruh penjuru ruang bawah tanah. “Area ini adalah Kubah Nest-9. Satu
“Apa?! Itu sama saja kamu ingin mempermainkan kami! Tidak ikut permainan mati, kalau ikut bakalan mati juga!!” protes tahanan nomor 139.“Benar! Kami tidak ingin menjadi kelinci taruhan kalian! Keluarkan kami segera dari tempat ini!!” timpal tahanan nomor 100.Big Boss melirik ke arah Bodyguard yang ada di sebelahnya. Bodyguard itu langsung paham dan langsung mendekati kedua tahanan yang baru saja mengajukan protes lalu menembak mereka tanpa ampun.DOR! DOR! Mereka berdua langsung tewas bersimbah darah di lapangan. Percikan darah salah satu tahanan yang protes tadi mengenai pipi Bimo.Bimo hanya bisa diam dengan tubuh bergetar ketakutan. “Barang siapa yang protes maka dia memilih untuk mati,” tegas Big Boss.”Permainan ini akan dilaksanakan di bawah tanah selama 7 hari. Satu orang yang dapat bertahan hidup akan dibebaskan dari penjara ini.” Big Dragon kembali mengangkat tangannya.”Kapan permainannya dilaksanakan?” “Besok, hari ini saya akan memberikan kalian makan besar sebelum mel







