MasukPesawat yang dinaiki oleh Bimo baru saja mendarat di Bandara Changi, Singapore. Suara merdu pramugari terdengar dari pengeras suara hingga membuat Bimo tersadar dari lamunannya.“Akhirnya kita sampai juga,” gumam Baskoro seraya membuka kacamata hitamnya. Pria itu bangkit dari duduknya lalu mengambil tas dari atas kabinnya. Begitu juga dengan Angel.Bimo merenggangkan otot-ototnya sejenak, melepas rasa pegal yang dirasakannya dari kemarin karena kurang tidur dan salah bantal sebelum akhirnya ikut berdiri dan berbaris saat akan keluar dari pesawat. Mereka melangkah keluar dari garbarata menuju ke area terminal kedatangan.Drrrtt…drrrt…drrrttt…Tiba-tiba ponselnya bergetar hingga membuat langkahnya terhenti sejenak. Dia mengambil ponselnya dari dalam saku dan melihat pesan dari Mayang.“Bimo, sudah sampai mana? Jangan lupa kabari Mama kalau sudah sampai di kampung ya. Mama khawatir.”Bimo tanpa sadar tersenyum saat membaca pesan penuh perhatian itu. Tangannya dengan cepat mengetik balasa
“Ma, boleh aku izin beberapa hari untuk melihat keluargaku yang sakit?” izin Bimo pada Mayang sebelum pergi ke Singapore besok. Dia berpura-pura ada keluarganya yang sakit karena tidak punya alasan lain.Mayang mematikan keran air di wastafel lalu berbalik menatapnya.”Keluarga? Siapa? Bukannya kedua orang tuamu sudah meninggal?” “Bibi saya, tepatnya adik dari pihak Ibu,” jawab Bimo berdusta.“Astaga, bibimu sakit apa?” tanya Mayang dengan nada khawatir.“Kemarin Bibi kena serangan jantung. Paman memintaku untuk kembali ke kampung untuk menjenguknya sebentar,” jawab Bimo senatural mungkin agar Mayang percaya.Tatapan mata Mayang berubah menjadi sendu. Wanita itu berjalan mendekat dan menepuk bahunya pelan. “Yang sabar ya Bimo. Semoga bibimu cepat sembuh.” “Terima kasih doanya Ma,”sahut Bimo.Mayang mengeluarkan dompet kecil dari saku dasternya lalu mengeluarkan beberapa lembar uang merah dari sana. “Ambillah, untuk ongkos kamu pulang ke kampung. Tinggalkan nomor rekeningmu, nanti ak
“Siapa mereka?” tanya Bimo lewat sambungan telepon.“Sepertinya mereka anak muda iseng yang suka nongkrong di depan ruko. Mereka membawa miras di tangan mereka,”jawab Angel dari ujung telepon.Bimo menghela nafas sejenak. “Terus awasi mereka. Kami sebentar lagi akan keluar.” “Baik,”sahut Angel.Panggilan telepon masih dalam keadaan tersambung agar Angel sewaktu-waktu dapat menghubungi mereka.“Bas, gimana kita bisa keluar dari tempat ini. Para pemuda itu duduk tepat di depan ruko sambil minum-minuman keras,” tanya Bimo cemas karena jalan keluar mereka satu-satunya diduduki oleh para pemuda itu.“Tenang, aku harus mencari tau lokasi keberadaan Prof. Malik dan anaknya sekarang sebelum kita melarikan diri dari tempat ini,” jawab Baskoro seraya mengotak-atik keyboard dengan gerakan yang sangat cepat.“Baikla, tapi jangan terlalu lama,” bisik Bimo seraya melirik bayangan tabung kaca yang memantulkan cahaya indikator merah. “Kalau mereka makin mabuk dan mulai berbuat rusuh di depan, kebera
Bimo segera kembali mendekat ke arah pintu ruangan Pak Darsono. Matanya terbelalak saat melihat pecahan gelas sudah berserakan di bawah lantai.“Aku tidak peduli walau harus kehilangan semuanya, Pak Darsono! Tapi ingat kata-kataku ini, aku akan membuat kalian membayar mahal atas apa yang sudah kalian rebut dari papaku!” bentak Kenzo seraya menunjuk ke arah pria tua bangka itu.Darsono hanya terkekeh sambil menyilangkan tangan di dada tanpa rasa takut sedikitpun. “Gertakan sambal tanpa kekuatan itu cuma omong kosong, anak muda. Sekarang, keluar dari ruanganku sebelum aku menyuruh Security menyeretmu seperti anjing!”Kenzo mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Dengan amarah yang meluap dan gigi gemeretak, putranya itu berbalik dan melangkah lebar menuju pintu keluar.Bimo dengan cepat menarik tubuhnya mundur, bersembunyi di balik pilar lorong sebelum celah pintu terbuka lebar. Ia mengawasi putranya yang berjalan cepat menuju arah lift.Begitu Kenzo menghilang di dalam lift, Bimo
TIN!! Belum sempat Kenzo menjawab, tiba-tiba sebuah mobil mengklakson mereka cukup keras.“Kalau jalan makanya lihat-lihat pakai mata dong!” seru pengendara mobil yang ada di sebelah mereka.“Pak, fokus saja ke jalan. Antarkan saya ke Perusahaan Cipta Abadi sekarang,” ucap Kenzo seraya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.“Perusahaan Cipta Abadi? Bukannya itu salah anak Perusahaan milik Pak Darsono? Sial, apakah bandot tua itu yang sudah membeli Ulfamart dan membatalkan kontrak kerja sama mereka lalu mengubah nama tenant Bimo Point Coffee,”batinnya geram.“Baik,” sahutnya sebelum menginjak pedal gas dan menambah kecepatan mobilnya.Sesampainya di Perusahaan Cipta Abadi, Kenzo keluar dari mobilnya. “Pak, tunggu disini saja. Saya mau ke dalam sebentar.” “Iya Tuan,” sahut Bimo.Setelah memastikan Kenzo masuk ke dalam, barulah Bimo ikut turun dan diam-diam menyusulnya tanpa sepengetahuan security yang berjaga. Dia tidak dapat duduk di dalam mobil dan membiarkan putranya menghadap
“Kamu nggak punya hak mengatur Mama mau angkat atau tidak. Selama ini Mama gak pernah mencampuri urusan pribadi kamu,” tegas Mayang.“Tentu saja jadi urusanku dong. Misalnya Mama meninggoy suatu saat nanti, orang ini pasti akan menuntut harta peninggalan Mama. Aku tidak mau hal itu terjadi karena dia tetaplah orang luar!!”protes Rosa.“Nona tenang saja. Soal itu saya siap untuk tanda tangan hitam diatas putih. Saya berjanji tidak akan menuntut harta sepeserpun,” sanggah Bimo.Rosa memutar bola matanya malas. “Alah! Awalnya aja ngomong begitu tapi ujungnya pasti maunya cuma harta doang!” “Sudah-sudah, jangan bahas itu lagi. Mau kamu setuju atau tidak, Bimo tetaplah menjadi anak angkatku. Yasudah ayo kita makan siang dulu. Mama baru saja selesai masak,” ajak Mayang.Rosa menghentakkan kakinya sebelum melangkah masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan sepatah katapun.Siang itu mereka makan bersama dengan lauk seadanya dikarenakan Mayang sedang malas masak. Untungnya orang rumah tidak ada







