แชร์

Bab 597

ผู้เขียน: Sora Archery
last update วันที่เผยแพร่: 2026-09-29 22:11:00

“Ma, boleh aku izin beberapa hari untuk melihat keluargaku yang sakit?” izin Bimo pada Mayang sebelum pergi ke Singapore besok. Dia berpura-pura ada keluarganya yang sakit karena tidak punya alasan lain.

Mayang mematikan keran air di wastafel lalu berbalik menatapnya.”Keluarga? Siapa? Bukannya kedua orang tuamu sudah meninggal?”

“Bibi saya, tepatnya adik dari pihak Ibu,” jawab Bimo berdusta.

“Astaga, bibimu sakit apa?” tanya Mayang dengan nada khawatir.

“Kemarin Bibi kena serangan jantung. Pa
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก
ความคิดเห็น (11)
goodnovel comment avatar
Lasma Wati
mayang kasi bekal dulu itu hhh
goodnovel comment avatar
Lasma Wati
hais angel godain mulu bimo hhh
goodnovel comment avatar
Huzi_Acc
bibirnya bngkak karena dikasih bekal dulu sama mama Mayang
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 600

    Bimo tidak dapat menahan air matanya saat melihat keadaan Baby Juno yang terlihat menderita dan kesakitan di atas bangsal dengan tangan dan kaki terikat kuat.“GRAHHH!!” teriak Juno mengerang kesakitan dengan matanya memerah dan nafas tersengal-sengal.“Sabar, Nak... Papa di sini. Papa berjanji akan melepaskan kamu,” ucap Bimo dengan nada bergetar.Dengan cepat Bimo merenggut pengunci rantai besi yang mengikat pergelangan tangan dan kaki Juno. Dua ilmuwan yang berada di pojok ruangan hanya bisa bergidik ketakutan sambil mengangkat kedua tangan ke atas, tak berani berkutik di bawah acungan senjata apinya Angel.“Dimana Prof.Malik dan Nathan?!” tanya Angel kepada dua ilmuwan di depannya. Moncong senjatanya sudah berada tepat di salah satu dahi mereka.“H-hari ini mereka sedang melakukan peluncuran Serum Vigor-X di Grand Ballroom Hotel The Ritz-Carlton Millenia!” jawab ilmuwan itu tergagap dengan wajah pucat pasi. “Mereka mau menjualnya ke para investor kaya malam ini juga!”Mendengar h

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 599

    Malam ini mereka menaiki kapal speedboat menuju pulau Jurong yang berada di tengah lautan Singapore.Angin malam berhembus sangat kencang menerpa wajah Bimo hingga membuat tubuhnya merinding kedinginan. Namun tatapan matanya tetap fokus menatap bayangan pulau buatan itu dari kejauhan.Sementara itu, di sampingnya Angel sedang sibuk memeriksa pistol berperedam dan perlengkapan selam mereka. Di sisi lain, Baskoro duduk memangku laptop yang dilindungi oleh casing tahan air.“Satu menit lagi kita sampai di titik aman,” ucap nakhoda kapal yang disewa Angel.Baskoro membetulkan posisi earpiece di telinganya, lalu melirik Bimo. “Bim, kamera di jalur pipa pembuangan sektor barat daya sudah berhasil kuretas. Videonya juga sudah kuputar berulang. Di layar monitor penjaga, area itu hanya kelihatan seperti ombak biasa selama 15 menit ke depan.”“Bagus,” balas Bimo singkat. “Bas, kamu tetap di kapal ini. Pantau jalur komunikasi dan siap-siap retas pintu akses laboratorium begitu kami sampai di p

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 598

    Pesawat yang dinaiki oleh Bimo baru saja mendarat di Bandara Changi, Singapore. Suara merdu pramugari terdengar dari pengeras suara hingga membuat Bimo tersadar dari lamunannya.“Akhirnya kita sampai juga,” gumam Baskoro seraya membuka kacamata hitamnya. Pria itu bangkit dari duduknya lalu mengambil tas dari atas kabinnya. Begitu juga dengan Angel.Bimo merenggangkan otot-ototnya sejenak, melepas rasa pegal yang dirasakannya dari kemarin karena kurang tidur dan salah bantal sebelum akhirnya ikut berdiri dan berbaris saat akan keluar dari pesawat. Mereka melangkah keluar dari garbarata menuju ke area terminal kedatangan.Drrrtt…drrrt…drrrttt…Tiba-tiba ponselnya bergetar hingga membuat langkahnya terhenti sejenak. Dia mengambil ponselnya dari dalam saku dan melihat pesan dari Mayang.“Bimo, sudah sampai mana? Jangan lupa kabari Mama kalau sudah sampai di kampung ya. Mama khawatir.”Bimo tanpa sadar tersenyum saat membaca pesan penuh perhatian itu. Tangannya dengan cepat mengetik balasa

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 597

    “Ma, boleh aku izin beberapa hari untuk melihat keluargaku yang sakit?” izin Bimo pada Mayang sebelum pergi ke Singapore besok. Dia berpura-pura ada keluarganya yang sakit karena tidak punya alasan lain.Mayang mematikan keran air di wastafel lalu berbalik menatapnya.”Keluarga? Siapa? Bukannya kedua orang tuamu sudah meninggal?” “Bibi saya, tepatnya adik dari pihak Ibu,” jawab Bimo berdusta.“Astaga, bibimu sakit apa?” tanya Mayang dengan nada khawatir.“Kemarin Bibi kena serangan jantung. Paman memintaku untuk kembali ke kampung untuk menjenguknya sebentar,” jawab Bimo senatural mungkin agar Mayang percaya.Tatapan mata Mayang berubah menjadi sendu. Wanita itu berjalan mendekat dan menepuk bahunya pelan. “Yang sabar ya Bimo. Semoga bibimu cepat sembuh.” “Terima kasih doanya Ma,”sahut Bimo.Mayang mengeluarkan dompet kecil dari saku dasternya lalu mengeluarkan beberapa lembar uang merah dari sana. “Ambillah, untuk ongkos kamu pulang ke kampung. Tinggalkan nomor rekeningmu, nanti ak

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 596

    “Siapa mereka?” tanya Bimo lewat sambungan telepon.“Sepertinya mereka anak muda iseng yang suka nongkrong di depan ruko. Mereka membawa miras di tangan mereka,”jawab Angel dari ujung telepon.Bimo menghela nafas sejenak. “Terus awasi mereka. Kami sebentar lagi akan keluar.” “Baik,”sahut Angel.Panggilan telepon masih dalam keadaan tersambung agar Angel sewaktu-waktu dapat menghubungi mereka.“Bas, gimana kita bisa keluar dari tempat ini. Para pemuda itu duduk tepat di depan ruko sambil minum-minuman keras,” tanya Bimo cemas karena jalan keluar mereka satu-satunya diduduki oleh para pemuda itu.“Tenang, aku harus mencari tau lokasi keberadaan Prof. Malik dan anaknya sekarang sebelum kita melarikan diri dari tempat ini,” jawab Baskoro seraya mengotak-atik keyboard dengan gerakan yang sangat cepat.“Baikla, tapi jangan terlalu lama,” bisik Bimo seraya melirik bayangan tabung kaca yang memantulkan cahaya indikator merah. “Kalau mereka makin mabuk dan mulai berbuat rusuh di depan, kebera

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 595

    Bimo segera kembali mendekat ke arah pintu ruangan Pak Darsono. Matanya terbelalak saat melihat pecahan gelas sudah berserakan di bawah lantai.“Aku tidak peduli walau harus kehilangan semuanya, Pak Darsono! Tapi ingat kata-kataku ini, aku akan membuat kalian membayar mahal atas apa yang sudah kalian rebut dari papaku!” bentak Kenzo seraya menunjuk ke arah pria tua bangka itu.Darsono hanya terkekeh sambil menyilangkan tangan di dada tanpa rasa takut sedikitpun. “Gertakan sambal tanpa kekuatan itu cuma omong kosong, anak muda. Sekarang, keluar dari ruanganku sebelum aku menyuruh Security menyeretmu seperti anjing!”Kenzo mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Dengan amarah yang meluap dan gigi gemeretak, putranya itu berbalik dan melangkah lebar menuju pintu keluar.Bimo dengan cepat menarik tubuhnya mundur, bersembunyi di balik pilar lorong sebelum celah pintu terbuka lebar. Ia mengawasi putranya yang berjalan cepat menuju arah lift.Begitu Kenzo menghilang di dalam lift, Bimo

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status