LOGIN“Om Hans siapa mereka? Apa mereka istri dan anaknya Om?” tanya wanita cantik dan montok itu saat melihat Mayang dan Bimo.“D-Dahlia?! K-kenapa kamu ada di pasar ini?!” tanya Hans terbata-bata dengan wajah pucat pasi seolah baru saja melihat hantu.Dahlia berkacak pinggang. “Harusnya aku yang nanya kayak gitu sama Om. Ngapain sih Om di pasar kotor dan bau ini? Kalau sih tadi sempat lewat di pasar ini karena jalanan besar lagi rusak. Eh gak sengaja liat Om lagi makan bakso sama mereka.” Mayang berdehem pelan. “Cewek baru kamu ya Hans?” “Eh, bukan-bukan! Dia bukan siapa-siapa aku, Mayang! Percaya padaku! Dia hanya anak dari temanku,” bantah Hans dengan cepat.“Loh, kok Om gak mengakui aku sih di depan mereka?! Apa Om lupa kalau setahun ini Om sering ngajak aku check-in di hotel!” seru Dahlia tak terima.“Jangan ngomong sembarangan kamu Dahlia! Kita itu gak ada hubungan apa-apa! Kamu jual ya aku beli dong! Kamu juga nerima uang banyak dariku! Sana pergi!” usir Hans seraya bangkit dan me
Mayang menepuk bahunya Bimo pelan. “Bim, kamu liatin apa?”Bimo sedikit tersentak dan reflek menoleh ke arah Mayang. “Ah, bukan apa-apa Nyonya. Tadi sepertinya saya melihat teman lama disana.” “Kenapa panggil Nyonya. Mulai detik ini kamu adalah anak angkatku. Panggil aku Mama, oke?” dikte Mayang kembali mengingatkan.“I-iya Ma,” jawab Bimo seraya melirik ke arah orang misterius tadi, namun sosok itu telah menghilang di balik keramaian.“Loh kemana orang tadi? Mungkin hanya perasaanku saja,” batinnya. Bimo kembali melanjutkan menemani Mayang untuk membeli bahan-bahan makanan dan kebutuhan pokok di pasar. Hans terus merengek dan menawarkan diri untuk membantu.“Sini Mayang biar aku saja yang bawakan,” ucap Hans tak mau kalah dari Bimo.Mayang menghembuskan nafas pelan lalu memberikan semua kantung belanjaan kepada pria bule itu. “Nih, kalau kamu maksa banget!” Hans langsung kelabakan saat menerima semua kantung belanjaan Mayang. Ekspresi wajahnya berubah menjadi jijik begitu menyentu
“Awas!! Ada tukang becak!!” seru Hans panik dan ketakutan seraya menutup wajah dengan menggunakan kedua tangannya.“AHKKKK!!” teriak mereka dan tukang becak itu dalam waktu yang bersamaan.Beruntung, Bimo langsung menginjak pedal gasnya dan membanting setirnya ke arah kanan sebelum menghantam becak.Kepala si Hans sampai terantuk kuat di sandaran kursi depan hingga membuat pria itu memekik kesakitan. “Awww kepalaku!!” Bimo sama sekali tidak memperdulikan pria bule itu dan langsung memeriksa keadaan Mayang yang ada di sebelahnya.“Ma! Mama baik-baik saja kan?!” tanya Bimo cemas.“S-saya baik-baik sa…” kata-kata Mayang terhenti saat mendengar Bimo memanggilnya dengan sebutan Mama. “Kamu panggil saya apa tadi?” Wajah Bimo mendadak gelagapan. “Maaf, Nyonya. Saya salah ngomong tadi. Saya keinget Mama saya yang udah meninggal.” Mayang terlihat terenyuh mendengar jawaban Bimo. “Kedua orang tua kamu sudah meninggal semua Bimo?” Bimo mengangguk kaku. “Iya Nyonya.” Mayang reflek memegang
Tawa pria itu terdengar familiar di pendengaran Bimo. Dia mencengkram ponselnya dengan tangan bergetar.“Kamu…tidak mungkin….bukankah kamu sudah mati?!” tanya Bimo tak percaya.Pria itu kembali tertawa terbahak-bahak. “Aku sampai detik ini masih hidup Bimo. Berkat sumsum tulang belakangmu, sekarang aku sudah memiliki kekuatan yang setara denganmu dulu. Bahkan anakmu si Juno menjadi hewan peliharaanku ahahahaha!” “Nathan…” Bimo ingat betul bahwa hari itu dia mematahkan leher Nathan dengan menggunakan kedua tangannya sendiri sampai mati. Bagaimana mungkin Nathan bisa hidup kembali? “Kamu pasti bingung dan bertanya-tanya bukan? Hari itu yang kau bunuh bukanlah aku, tapi orang yang menyerupai aku. Sekarang kamu tidak memiliki kekuatan apapun. Sementara aku sebentar lagi akan menjadi penguasa dunia ini. Sial, kenapa kamu tidak mati di arena Quartell Game itu?” ucap Nathan kesal diiringi suara anggur yang dituangkan ke dalam gelas.DEG! “J-jadi kamu yang telah memasukkan aku ke dalam gam
Semalaman Bimo menginap di rumahnya Baskoro. Mereka secara bersamaan menghajar Angel secara brutal di atas ranjang. Semua lubang Angel disumpal oleh batang mereka yang besar. Angel sampai termehek-mehek dan pingsan tak sadarkan diri karena ulah mereka berdua.Selesai mengerjai Angel, mereka berdua ngopi lagi di ruang tamu sambil menonton siaran ulang pertandingan sepakbola di televisi.“Bim, gimana jepitan Angel? Enak kan?” tanya Baskoro seraya menaruh cemilan kacang rebus di atas meja tamu.“Enak banget, aku sampai gak mau melepaskan batangku ke dalam miliknya. Emangnya kamu gak takut dia bunting anakku? Tadi aku lumayan keluar banyak sih,” ucap Bimo seraya mengambil salah satu kacang rebus dan mengupasnya.“Kami childfree kok. Angel sudah lama minum pil KB. Tenang saja. Beginilah kehidupan kami, menganut pernikahan terbuka. Jadi di luar sana aku juga sering kok genjot cewek lain. Aku malah pernah genjot emaknya Angel kalau datang kemari. Angel juga sering digenjot papa tirinya,” jaw
Angel langsung bersandar di atas sofa lalu membuka lebar kedua pahanya di depan Bim, memperlihatkan kewanitaannya yang sudah basah dan memerah. Wanita itu juga menyibak bibir kewanitaannya itu dengan dua jarinya.“Ayo Bimo masukkan milikmu yang jumbo itu ke dalam milikku,” pinta Angel dengan wajah bergairah.Bimo menuntun batang beruratnya yang masih tegang dan mengeras menuju ke pintu goa kenikmatan lalu menggesekkannya sejenak sebelum mendorong pinggulnya.JLEB!! “OUHHH GEDE BANGET!!” pekik Angel seraya mencengkram sofa saat Bimo memasukkan seluruh batangnya sampai mentok.“Sssshhhh,” desis Bimo menikmati denyutan dan jepitan dinding kewanitaan Angel di dalam sana.Setelah mendiamkan batangnya selama beberapa menit barulah Bimo mulai menggoyangkan pinggulnya maju mundur sambil meremas dua gundukan kenyal Angel yang besar dan montok.“Ahhh!! Enak banget!! Dorong lebih keras dan dalam!!” racau Angel seraya merem melek dan menjulurkan lidahnya ke bawah.Bimo melirik ke arah Baskoro se







