Share

Bab 5 Ramuan Khusus

Author: Sora Archery
last update Last Updated: 2026-02-19 11:51:09

Sebelum tangan Mayang menyentuh miliknya dari dalam sarung, tiba-tiba saja terdengar suara nada dering dari ponselnya Bimo. Bimo buru-buru menyambar ponselnya dan melihat nama kontak Sella sedang memanggilnya.

Wajahnya seketika berubah menjadi panik, pasti Sella tiba-tiba terbangun dan mencari keberadaannya. Bimo memberikan aba-aba pada Mayang untuk tidak bersuara dengan menempelkan jari telunjuknya di atas bibirnya sendiri. Mayang menganggukkan kepalanya mengerti seraya menjauhkan tangannya.

“Halo Mas, kamu ada dimana?! Kamu keluyuran kemana malam-malam begini?! “ Seru Sella di ujung telepon hingga memekakkan telinga Bimo.

“A… aku lagi keluar beli rokok di minimarket dekat rumah, Sayang. A…aku akan pulang sekarang juga, “Jawab Bimo tergagap sambil melirik ke arah Mayang.

“Ck, cepat pulanglah. Aku takut kalau tidur sendirian di kamar! “ Setelah mengatakan itu, panggilan telepon tiba-tiba terputus dimatikan oleh Sella secara sepihak.

Bimo semakin panik karena saat ini dia hanya mengenakan sarung saja. Kalau dia kembali ke kamar dengan kondisi seperti ini, Sella pasti akan curiga dan bertanya-tanya di kamar nantinya.

“Bimo tenanglah, mama akan keluar untuk mengambil pakaianmu yang ada di ruang laundry. Kebetulan mama baru selesai menyetrikanya malam ini. Tunggu disini sebentar,” Mayang lekas berdiri lalu keluar dari kamarnya untuk mengambil pakaian Bimo.

Sementara itu, Bimo hanya bisa duduk menunggu kedatangan Mayang dengan perasaan cemas—takut Sella akan kembali memarahinya karena sudah menghilang tiba-tiba malam ini. Bagaimana kalau Sella sampai tau kalau dia berada di kamar Mayang? Dia tidak dapat membayangkan betapa murkanya Sella jika mengetahuinya.

Pintu kamar kembali terbuka, terlihat Mayang berjalan masuk menghampirinya sambil memegang baju dan celana boxer di tangannya. Mayang menyerahkan baju dan celana itu kepada Bimo.” Pakailah bajumu dan segera kembalilah ke kamar. Jangan buat Sella menunggu terlalu lama.”

“Ba.. baik ma, tapi… apa mama bisa berbalik dulu?” Bimo merasa malu kalau Mayang memperhatikannya berganti pakaian, maka dari itu ia meminta Mayang untuk berbalik agar bisa lebih leluasa berganti pakaian.

Mayang hanya tersenyum seolah mengerti.”Baik, mama akan berbalik sekarang.”

Mayang berbalik arah memunggunginya, Bimo langsung bergegas memakai pakaiannya.

Selesai memakai pakaiannya, Bimo mengucapkan terima kasih kepada Mayang. “Ma, aku kembali ke kamar dulu. Terima kasih untuk pijatannya malam ini.”

​Mayang berbalik dan mengingatkan, “Sesi kita belum selesai, Bimo. Mama belum memijat bagian vitalmu. Mulai besok, kita lakukan rutin selama tiga bulan supaya kamu benar-benar perkasa. Datang lagi ke kamar Mama besok malam pakai sarung saja, ya?”

Berlangsung selama 3 bulan? Astaga apa yang harus aku lakukan? Sepertinya aku salah sudah meminta mama untuk memijatku malam ini,” Batin Bimo menjerit.

Bagaimana ia bisa bertahan selama itu? Sehari saja sudah membuat jantungnya hampir copot apalagi harus melakukannya sampai 3 bulan!

***

​Pagi harinya, Bimo bangun dengan kondisi tubuh yang lebih segar dan bugar karena pijatan dari mama mertuanya semalam. Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Sella masih tertidur lelap di sebelahnya, Bimo mencium pipi Sella sambil mengucapkan selamat pagi untuknya.

​“Good morning, Sayang, ayo bangunlah. Nanti kamu kesiangan ke toko.”

​“Eumm, bentar Mas, 5 menit lagi. Mas duluan aja,” Sella menutupi wajahnya dengan bantal guling—merasa terganggu karena kumis Bimo yang tajam menusuk kulit pipinya.

​“Oke, aku duluan ya,” Bimo beranjak dari tempat tidurnya lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

Selesai mandi, dia mengenakan setelan pakaian kerjanya dan menyisir rambutnya di depan cermin. Dari balik cermin, dia melihat istrinya sudah mulai bangun dan mengambil handuk untuk mandi.

​Bimo keluar lebih dulu dari kamarnya. Tiara sudah duduk lebih dulu di meja makan sambil menikmati sarapannya, sementara Mayang tengah sibuk membuat sesuatu di dapur. Baunya sangat menyengat dan menyeruak ke seluruh penjuru rumah. Sebenarnya apa yang dibuat oleh Mayang pagi ini?

​Bimo memilih duduk di hadapan Tiara. Pagi ini, adik iparnya itu terlihat cantik dengan menggunakan kaos berbelahan dada V berwarna merah maroon yang memperlihatkan sedikit gundukan bukit ranumnya.

Namun ada sesuatu yang mengganggunya, yaitu bekas kissmark yang ada di dadanya itu. Apa Tiara sudah punya pacar? Pantas saja pulangnya malam sekali.

​Tiara tiba-tiba saja menatapnya dengan kening berkerut. “Ada apa, Kak? Apa ada sesuatu di wajahku?”

​Bimo mendadak gugup karena ketahuan menatap Tiara. “Ah, iya. Ada nasi di bibirmu.”

​Tiara meraba-raba bibirnya dan tidak menemukan apa pun. “Gak ada kok.”

​Bimo terpaksa berdiri dan sedikit membungkuk untuk membersihkan sebutir nasi yang kebetulan menempel di bibir bawah Tiara yang cukup tebal dan penuh. “Maaf, sini Kakak yang bersihkan.”

​Tak lama kemudian, Mayang datang menghampirinya sambil membawa secangkir minuman hangat dan meletakkannya tepat di atas meja. Bimo dapat melihat gundukan besar kenyal bukit ranum milik Mayang mengintip dari balik celah atasan dasternya, membuatnya segera mengalihkan pandangan.

Seperti biasa, Mayang tidak pernah memakai bra jika berada di dalam rumah.

​“Bimo, minumlah ramuan jamu ini. Mama membuatnya khusus untukmu.”

​“Jamu?” Bimo melirik ke arah cangkir yang berisi jamu, baunya sangat menyengat dan asapnya juga mengepul ke udara. Bimo refleks menutup hidungnya sendiri.

​Dari kecil, Bimo sama sekali tidak menyukai jamu karena rasanya sangat pahit. “Maaf, ma. Tapi, aku nggak suka jamu.”

​“Loh, kok gak suka? Mama udah capek-capek buat jamu ini buat kamu loh. Jamu ini berfungsi untuk membuat keperkasaanmu tambah jreng dan tahan lama,”

Wajah Bimo memerah. Bisa-bisanya mama mertuanya berkata begitu padahal ada Tiara! Untungnya gadis itu tidak terlihat terganggu.

“Ayo dicicipi dulu, Nak. tubuhmu yang capek dan pegal-pegal juga akan hilang setelah meminumnya,” bujuk Mayang.

​Bimo masih ragu-ragu untuk meminum jamu itu. Namun, dia tidak ingin membuat Mayang bersedih karena menolak meminum jamu yang sudah dibuat dengan susah payah.

​“Baiklah, Ma, Bimo akan meminumnya.”

Bimo mengambil cangkir di meja dan menutup hidungnya saat akan meminum jamu itu. Dia meneguknya sekali dan merasakan pahit yang mendominasi di lidahnya.

Mayang menatapnya sangat antusias, membuat Bimo semakin tidak enak hati., Ia secara perlahan meneguk semua jamu itu sampai habis tak bersisa.

“Gimana? Enak, kan?” tanya Mayang.

“Enak, ma,” ringis Bimo berbohong.

​Bimo menaruh gelasnya kembali di atas meja dan mulai menyantap sarapan nasi goreng buatan Mayang. Di waktu yang bersamaan, Sella muncul dan duduk tepat di sebelah Bimo.

​“Mas, nanti aku barengan kamu ya perginya. Mobilku belum selesai diservis di bengkel. Pulang nanti aku bisa naik Gocar aja,” ucap Sella sambil mengambil nasi goreng dan menaruhnya di atas piringnya.

​“Oke,” sahut Bimo seraya mengunyah sarapannya.

​Selesai sarapan, Bimo mengantar Sella ke tokonya terlebih dahulu yang tak begitu jauh dari rumah mereka. Setelah itu dia kembali melajukan mobilnya sampai ke kantornya. Setibanya di kantor, Anto, teman satu divisinya menyapanya.

​“Bimo, cerah banget wajahmu hari ini. Apa obat kuat yang aku rekomendasikan waktu itu manjur?” tanya Anto yang berada di meja sebelahnya Bimo sambil menyesap kopi hitamnya di meja sebelah.

​Bimo duduk di kursinya sambil menaruh tas dan kotak bekal yang biasa disiapkan oleh Mayang untuknya di atas meja seraya berkata, “Sama sekali nggak manjur, To. Yang ada malah bikin aku pusing seharian.”

Anto tertawa pelan, tubuhnya bersandar di kursi kerja. “Hahaha! Mungkin obatnya gak cocok buat kamu Bim. Mau aku rekomendasikan obat kuat lain? Aku kasihan lihat kamu galau terus begini. “

Bimo menghela nafas, jemarinya mulai mengetik di atas keyboard. “Sepertinya aku menyerah untuk meminum obat kuat, To. Takutnya malah overdosis kalau sembarang minum obat terus. Sejujurnya aku sangat malu menceritakan masalah ini denganmu.”

Anto menepuk bahu Bimo. “Tidak perlu malu Bim, kita ini kan sahabat. Jadi bagaimana rencana kamu ke depannya? Apa kamu akan menyerah begitu saja? “

“Aku sekarang sedang menjalani pengobatan alternatif lain. Semoga saja membuahkan hasil yang memuaskan, “ Jawab Bimo singkat, pandangan matanya tetap fokus ke layar komputer yang ada di depannya.

​Kening Anto berkerut heran. “Pengobatan alternatif? Maksudnya apa?”

Belum sempat Bimo menjawab, terdengar suara notifikasi di ponselnya. Bimo menghentikan aktivitas pekerjaannya dan melihat kontak Mayang tertera di layar ponselnya.

Dia membuka layarnya dan melihat isi pesannya. Jantungnya seketika berdegup saat membaca pesan Mayang:

“Semangat kerjanya. Jangan lupa nanti malam kita pijat lagi,”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 6. Hampir Keluar

    ​Sepulang kerja, Bimo disambut oleh keheningan rumah yang terasa sedikit berbeda. Saat melangkah masuk, aroma bumbu dapur yang kuat segera menyapa indra penciumannya.Di sana, dia melihat Mayang tengah sibuk dengan celemek merah muda yang membalut tubuhnya, menonjolkan siluet tubuh seksinya yang sempurna. Beberapa hidangan sudah tersaji rapi di atas meja makan, mengepulkan uap panas yang menggugah selera.​“Nak Bimo, ayo duduklah. Mama baru saja selesai memasak menu makan malam spesial untukmu. Malam ini kita hanya makan berdua saja. Tiara sedang menginap di rumah temannya, sedangkan Sella baru saja mengabari Mama kalau dia akan pulang sedikit terlambat hari ini,” ucap Mayang lembut sembari meletakkan piring berisi kerang Oyster bumbu Jimbaran ke tengah meja. Malam ini kita hanya makan berdua saja. Tiara sedang menginap di rumah temannya, sedangkan Sella baru saja mengabari Mama kalau dia akan pulang sedikit terlambat hari ini. ​Bimo menarik kursi dan duduk dengan gerakan kaku. Mata

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 5 Ramuan Khusus

    Sebelum tangan Mayang menyentuh miliknya dari dalam sarung, tiba-tiba saja terdengar suara nada dering dari ponselnya Bimo. Bimo buru-buru menyambar ponselnya dan melihat nama kontak Sella sedang memanggilnya. Wajahnya seketika berubah menjadi panik, pasti Sella tiba-tiba terbangun dan mencari keberadaannya. Bimo memberikan aba-aba pada Mayang untuk tidak bersuara dengan menempelkan jari telunjuknya di atas bibirnya sendiri. Mayang menganggukkan kepalanya mengerti seraya menjauhkan tangannya.“Halo Mas, kamu ada dimana?! Kamu keluyuran kemana malam-malam begini?! “ Seru Sella di ujung telepon hingga memekakkan telinga Bimo.“A… aku lagi keluar beli rokok di minimarket dekat rumah, Sayang. A…aku akan pulang sekarang juga, “Jawab Bimo tergagap sambil melirik ke arah Mayang.“Ck, cepat pulanglah. Aku takut kalau tidur sendirian di kamar! “ Setelah mengatakan itu, panggilan telepon tiba-tiba terputus dimatikan oleh Sella secara sepihak.Bimo semakin panik karena saat ini dia hanya mengen

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 4 Pijatan Keperkasaan

    ​Bimo merebahkan tubuhnya dalam posisi telungkup di atas ranjang king size yang sangat empuk. Dadanya yang polos langsung bersentuhan dengan sprei sutra yang dingin. Di tengah keheningan, Bimo merasa seolah detak jantungnya sendiri terdengar begitu nyaring, memacu adrenalin yang membuat seluruh sarafnya menegang.Sementara itu, Mayang sudah duduk di pinggir ranjang. ​Bimo hanya bisa memejamkan kedua matanya. Ia merasakan kecemasan yang menyergap hatinya. Mayang membalurkan sedikit minyak zaitun di atas punggung Bimo, membiarkan cairan hangat itu mengalir dari pundak hingga ke tulang ekor. Baru setelah itu, dia mulai memijat punggung Bimo bak tukang pijat profesional.​Bimo bisa merasakan tangan halus Mayang mulai menyentuh dan menekan punggungnya dengan teknik effleurage—gerakan mengusap yang panjang dan berirama dari pinggang naik ke arah bahu berulang kali. Sentuhan itu tidak hanya meredakan otot yang kaku, tapi juga membuat keperkasaannya semakin memberontak tak terkendali di balik

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 3 Meminta Bantuan Mama

    ​Mayang tidak langsung menjawab. Wanita itu hanya tertegun sejenak, menatap lekat ke dalam manik matanya. Sebuah senyum tipis—hampir tak terlihat—terukir di bibirnya yang dipulas lipstik merah lembut.​“Mama tahu kamu pasti akan mengambil keputusan ini, Bimo,” bisik Mayang lembut. Suaranya terdengar seperti melodi yang menenangkan sekaligus berbahaya di telinga Bimo. “Mama tidak tega melihatmu terus-terusan dihina oleh Sella. Sebagai pria, kamu tentu punya harga diri yang harus dijaga, kan? Tapi ingat, apa yang akan kita lakukan malam ini harus tetap menjadi rahasia kita berdua saja.”​Mayang duduk tepat di sebelah Bimo hingga aroma melati yang lembut dari tubuhnya menyengat indra penciuman Bimo. “Sella tidak boleh tahu kalau Mama turun tangan untuk urusan ranjang kalian. Dia terlalu keras kepala untuk mengerti hal ini. Kalau dia tahu Mama ikut campur, dia pasti akan semakin meremehkanmu. Biarlah dia tahu hasilnya saja nanti saat kamu sudah 'sembuh'. Mengerti?”​Bimo mengangguk pelan,

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 2 Harga Diri Yang Hancur

    Bimo seketika terbelalak saat mendengarnya.”Mama mau membantuku? Bantuan apa yang dimaksud? Jangan-jangan tidur dengannya?!”Bimo bertanya-tanya dengan jantung berdebar keras di dalam dadanya. Tiba-tiba saja suasana berubah menjadi semakin canggung. Bimo sengaja berdehem agak keras untuk mengusir rasa gugupnya.​Mayang melepaskan pijatannya di bahu Bimo lalu pijatannya berpindah ke area lehernya Bimo. Ia menaruh kedua ibu jarinya tepat di cekungan leher belakang. Ia menekannya perlahan namun mantap, lalu memutarnya kecil. Bimo refleks memejamkan mata saat rasa kaku di kepalanya seolah ditarik keluar.“Mama tidak sengaja dengar pertengkaran kalian tadi. Makanya mama menawarkan bantuan kepadamu. Mama punya teknik pijatan khusus supaya kamu bisa lebih perkasa dan tahan lama di ranjang. Gimana, kamu setuju?”Tanya Mayang membuat Bimo kembali membuka kedua matanya dengan ekspresi terkejut.“Pijatan agar semakin perkasa dan bermain lama di atas ranjang?! A… apa itu artinya mama akan memijat

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 1 Hinaan Istriku

    Aroma keringat yang bercampur dengan wangi parfum mawar yang memudar memenuhi udara kamar yang lembap pasca pergulatan yang melelahkan. Di bawah temaram lampu tidur, kulit Sella yang mengkilap dibasahi peluh tampak berkilau, namun desah nafasnya yang tidak teratur bukanlah tanda kepuasan, melainkan kemarahan yang tertahan. ​“Ahh, Mas, jangan keluar dulu dong!” Sella mendesah kecewa saat Bimo, suaminya, cepat keluar sebelum dia dapat meraih klimaksnya.​Bimo melepaskan penyatuan mereka dengan perasaan bersalah karena lagi-lagi sudah membuat sang istri kecewa. Padahal sebelum bercinta, dia sudah meminum obat kuat agar bisa melayani nafsu Sella yang cukup tinggi. ​Namun tampaknya, usahanya masih sia-sia.​Bimo memeluk Sella dan mencoba menghiburnya. “Sayang, maafkan aku. Aku sudah minum obat kuat untuk memuaskanmu, tapi aku malah mengecewakanmu. Kita coba lagi besok, ya?”​“Ck, cuma segitu kemampuanmu, Mas?! Aku bahkan belum pernah merasakan bagaimana nikmatnya klimaks!” seru Sella, kes

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status