MasukSebelum tangan Mayang menyentuh miliknya dari dalam sarung, tiba-tiba saja terdengar suara nada dering dari ponselnya Bimo. Bimo buru-buru menyambar ponselnya dan melihat nama kontak Sella sedang memanggilnya.
Wajahnya seketika berubah menjadi panik, pasti Sella tiba-tiba terbangun dan mencari keberadaannya. Bimo memberikan aba-aba pada Mayang untuk tidak bersuara dengan menempelkan jari telunjuknya di atas bibirnya sendiri. Mayang menganggukkan kepalanya mengerti seraya menjauhkan tangannya. “Halo Mas, kamu ada dimana?! Kamu keluyuran kemana malam-malam begini?! “ Seru Sella di ujung telepon hingga memekakkan telinga Bimo. “A… aku lagi keluar beli rokok di minimarket dekat rumah, Sayang. A…aku akan pulang sekarang juga, “Jawab Bimo tergagap sambil melirik ke arah Mayang. “Ck, cepat pulanglah. Aku takut kalau tidur sendirian di kamar! “ Setelah mengatakan itu, panggilan telepon tiba-tiba terputus dimatikan oleh Sella secara sepihak. Bimo semakin panik karena saat ini dia hanya mengenakan sarung saja. Kalau dia kembali ke kamar dengan kondisi seperti ini, Sella pasti akan curiga dan bertanya-tanya di kamar nantinya. “Bimo tenanglah, Mama akan keluar untuk mengambil pakaianmu yang ada di ruang laundry. Kebetulan Mama baru selesai menyetrikanya malam ini. Tunggu disini sebentar,” Mayang lekas berdiri lalu keluar dari kamarnya untuk mengambil pakaian Bimo. Sementara itu, Bimo hanya bisa duduk menunggu kedatangan Mayang dengan perasaan cemas—takut Sella akan kembali memarahinya karena sudah menghilang tiba-tiba malam ini. Bagaimana kalau Sella sampai tau kalau dia berada di kamar Mayang? Dia tidak dapat membayangkan betapa murkanya Sella jika mengetahuinya. Pintu kamar kembali terbuka, terlihat Mayang berjalan masuk menghampirinya sambil memegang baju dan celana boxer di tangannya. Mayang menyerahkan baju dan celana itu kepada Bimo.” Pakailah bajumu dan segera kembalilah ke kamar. Jangan buat Sella menunggu terlalu lama.” “Ba.. baik ma, tapi… apa mama bisa berbalik dulu?” Bimo merasa malu kalau Mayang memperhatikannya berganti pakaian, maka dari itu ia meminta Mayang untuk berbalik agar bisa lebih leluasa berganti pakaian. Mayang hanya tersenyum seolah mengerti.”Baik, mama akan berbalik sekarang.” Mayang berbalik arah memunggunginya, Bimo langsung bergegas memakai pakaiannya. Selesai memakai pakaiannya, Bimo mengucapkan terima kasih kepada Mayang. “Ma, aku kembali ke kamar dulu. Terima kasih untuk pijatannya malam ini.” Mayang berbalik dan mengingatkan, “Sesi kita belum selesai, Bimo. Mama belum memijat bagian vitalmu. Mulai besok, kita lakukan rutin selama tiga bulan supaya kamu benar-benar perkasa. Datang lagi ke kamar Mama besok malam pakai sarung saja, ya?” “Berlangsung selama 3 bulan? Astaga apa yang harus aku lakukan? Sepertinya aku salah sudah meminta Mama untuk memijatku malam ini,” Batin Bimo menjerit. Bagaimana ia bisa bertahan selama itu? Sehari saja sudah membuat jantungnya hampir copot apalagi harus melakukannya sampai 3 bulan! *** Pagi harinya, Bimo bangun dengan kondisi tubuh yang lebih segar dan bugar karena pijatan dari mama mertuanya semalam. Jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Sella masih tertidur lelap di sebelahnya, Bimo mencium pipi Sella sambil mengucapkan selamat pagi untuknya. “Good morning, Sayang, ayo bangunlah. Nanti kamu kesiangan ke toko.” “Eumm, bentar Mas, 5 menit lagi. Mas duluan aja,” Sella menutupi wajahnya dengan bantal guling—merasa terganggu karena kumis Bimo yang tajam menusuk kulit pipinya. “Oke, aku duluan ya,” Bimo beranjak dari tempat tidurnya lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Selesai mandi, dia mengenakan setelan pakaian kerjanya dan menyisir rambutnya di depan cermin. Dari balik cermin, dia melihat istrinya sudah mulai bangun dan mengambil handuk untuk mandi. Bimo keluar lebih dulu dari kamarnya. Tiara sudah duduk lebih dulu di meja makan sambil menikmati sarapannya, sementara Mayang tengah sibuk membuat sesuatu di dapur. Baunya sangat menyengat dan menyeruak ke seluruh penjuru rumah. Sebenarnya apa yang dibuat oleh Mayang pagi ini? Bimo memilih duduk di hadapan Tiara. Pagi ini, adik iparnya itu terlihat cantik dengan menggunakan kaos berbelahan dada V berwarna merah maroon yang memperlihatkan sedikit gundukan bukit ranumnya. Namun ada sesuatu yang mengganggunya, yaitu bekas kissmark yang ada di dadanya itu. Apa Tiara sudah punya pacar? Pantas saja pulangnya malam sekali. Tiara tiba-tiba saja menatapnya dengan kening berkerut. “Ada apa, Kak? Apa ada sesuatu di wajahku?” Bimo mendadak gugup karena ketahuan menatap Tiara. “Ah, iya. Ada nasi di bibirmu.” Tiara meraba-raba bibirnya dan tidak menemukan apa pun. “Gak ada kok.” Bimo terpaksa berdiri dan sedikit membungkuk untuk membersihkan sebutir nasi yang kebetulan menempel di bibir bawah Tiara yang cukup tebal dan penuh. “Maaf, sini Kakak yang bersihkan.” Tak lama kemudian, Mayang datang menghampirinya sambil membawa secangkir minuman hangat dan meletakkannya tepat di atas meja. Bimo dapat melihat gundukan besar kenyal bukit ranum milik Mayang mengintip dari balik celah atasan dasternya, membuatnya malu dan segera mengalihkan pandangan. Seperti biasa, Mayang tidak pernah memakai bra jika berada di dalam rumah. “Bimo, minumlah ramuan jamu ini. Mama membuatnya khusus untukmu.” “Jamu?” Bimo melirik ke arah cangkir yang berisi jamu, baunya sangat menyengat dan asapnya juga mengepul ke udara. Bimo reflek menutup hidungnya sendiri. Dari kecil, Bimo sama sekali tidak menyukai jamu karena rasanya sangat pahit. “Maaf, ma. Tapi, aku nggak suka jamu.” “Loh, kok gak suka? Mama udah capek-capek buat jamu ini buat kamu loh. Jamu ini berfungsi untuk membuat keperkasaanmu tambah jreng dan tahan lama,” Wajah Bimo memerah. Bisa-bisanya mama mertuanya berkata begitu padahal ada Tiara! Untungnya gadis itu tidak terlihat terganggu. “Ayo dicicipi dulu, Nak. tubuhmu yang capek dan pegal-pegal juga akan hilang setelah meminumnya,” bujuk Mayang. Bimo masih ragu-ragu untuk meminum jamu itu. Namun, dia tidak ingin membuat Mayang bersedih karena menolak meminum jamu yang sudah dibuat dengan susah payah. “Baiklah, Ma, Bimo akan meminumnya.” Bimo mengambil cangkir di meja dan menutup hidungnya saat akan meminum jamu itu. Dia meneguknya sekali dan merasakan pahit yang mendominasi di lidahnya. Mayang menatapnya sangat antusias, membuat Bimo semakin tidak enak hati., Ia secara perlahan meneguk semua jamu itu sampai habis tak bersisa. “Gimana? Enak, kan?” tanya Mayang. “Enak, ma,” ringis Bimo berbohong. Bimo menaruh gelasnya kembali di atas meja dan mulai menyantap sarapan nasi goreng buatan Mayang. Di waktu yang bersamaan, Sella muncul dan duduk tepat di sebelah Bimo. “Mas, nanti aku barengan kamu ya perginya. Mobilku belum selesai di servis di bengkel. Pulang nanti aku bisa naik Gocar aja,” ucap Sella sambil mengambil nasi goreng dan menaruhnya di atas piringnya. “Oke,” sahut Bimo seraya mengunyah sarapannya. Selesai sarapan, Bimo mengantar Sella ke tokonya terlebih dahulu yang tak begitu jauh dari rumah mereka. Setelah itu dia kembali melajukan mobilnya sampai ke kantornya. Setibanya di kantor, Anto, teman satu divisinya menyapanya. “Bimo, cerah banget wajahmu hari ini. Apa obat kuat yang aku rekomendasikan waktu itu manjur?” tanya Anto yang berada di meja sebelahnya Bimo sambil menyesap kopi hitamnya di meja sebelah. Bimo duduk di kursinya sambil menaruh tas dan kotak bekal yang biasa disiapkan oleh Mayang untuknya di atas meja seraya berkata, “Sama sekali nggak manjur, To. Yang ada malah bikin aku pusing seharian.” Anto tertawa pelan, tubuhnya bersandar di kursi kerja. “Hahaha! Mungkin obatnya gak cocok buat kamu, Bim. Mau aku rekomendasikan obat kuat lain? Aku kasihan lihat kamu galau terus begini. “ Bimo menghela nafas, jemarinya mulai mengetik di atas keyboard. “Sepertinya aku menyerah untuk meminum obat kuat, To. Takutnya malah overdosis kalau sembarang minum obat terus. Sejujurnya aku sangat malu menceritakan masalah ini denganmu.” Anto menepuk bahu Bimo. “Tidak perlu malu Bim, kita ini kan sahabat. Jadi bagaimana rencana kamu ke depannya? Apa kamu akan menyerah begitu saja? “ “Aku sekarang sedang menjalani pengobatan alternatif lain. Semoga saja membuahkan hasil yang memuaskan, “ Jawab Bimo singkat, pandangan matanya tetap fokus ke layar komputer yang ada di depannya. Kening Anto berkerut heran. “Pengobatan alternatif? Maksudnya apa?” Belum sempat Bimo menjawab, terdengar suara notifikasi di ponselnya. Bimo menghentikan aktivitas pekerjaannya dan melihat kontak Mayang tertera di layar ponselnya. Dia membuka layarnya dan melihat isi pesannya. Jantungnya seketika berdegup saat membaca pesan Mayang: “Semangat kerjanya. Jangan lupa nanti malam kita pijat lagi,”Saat ini Mayang sedang hamil 7 bulan. Sebentar lagi, Bimo akan menyambut kelahiran calon buah hatinya yang diperkirakan berjenis kelamin laki-laki. Kabar membahagiakan lain datang dari Sella dan Juno. Sella memamerkan tespek yang menunjukkan gua garis merah di hadapan mereka semua.“Yey! Akhirnya aku hamil!!” seru Sella dengan mata berkaca-kaca. Sementara Juno yang duduk di sampingnya hanya tersenyum dan mengelus perut Sella yang masih datar.“Selamat ya Sayang. Akhirnya kamu hamidun juga,”ucap Mayang ikut bahagia saat mendengar kabar tersebut.Dian dan Lilis memangku bayi mereka yang masih berumur 6 bulan. Dian melahirkan putra yang diberikan nama Kemas dan Lilis melahirkan putri yang diberikan nama Mila.“Kami juga turut bahagia atas kehamilan Mbak Sella. Semoga aja kembar cewek dan cowok biar makin lengkap,” ucap Lilis menambahkan.Tiara menjadi satu-satunya orang yang sedih melihat semua orang telah berbahagia dengan pasangan mereka. “Hemm giliran aku doang yang belum ketemu pasa
Bimo menatap gundukan tanah yang basah, dimana jenazah Vanya baru saja dimakamkan tepat di samping makam mendiang Anto, sahabatnya.“Anto, aku telah menunaikan janjiku padamu. Aku telah membawa Vanya kembali dan menguburkannya di sisimu. Semoga kamu tenang di alam sana,” gumamnya lirih.Mayang menyentuh bahunya dengan tatapan sendu. “Bimo, ayo kita pulang dulu. Hari sudah semakin gelap.” “Iya Sayang,” sahut Bimo.Bimo dan Mayang berjalan meninggalkan area pemakaman itu lalu masuk ke dalam mobil. Dia menatap sejenak ke arah makam Anto dan Vanya sebelum akhirnya menutup rapat jendela kaca mobilnya.***“Saya Bimo Cahyadi menerimamu Mayang Sari menjadi istri saya. Saya berjanji akan selalu mencintai dan menyayangimu baik dalam keadaan susah dan senang maupun dalam keadaan sehat dan sakit hingga maut memisahkan kita berdua,” ucap Bimo saat mengikrarkan janji suci pernikahan sambil menggenggam erat tangan Mayang yang terlihat cantik dengan mengenakan gaun pengantin.“Saya Mayang Sari men
Beberapa hari setelah kejadian itu, Bimo memutuskan segera berangkat ke Singapore untuk bertemu wanita di balik penelitian Gaharu Hitam yang telah memporak-porandakan hidupnya selama ini.Baskoro dan Mayang bersikeras untuk mendampinginya, namun Bimo menahan mereka demi keselamatan.“Kali ini biar aku yang pergi sendirian. Aku bisa menjaga diriku sendiri,” ujar Bimo menatap Mayang dan Baskoro sebelum keberangkatannya di bandara.“Ini terlalu beresiko. Begitu aku sampai disana, aku akan memberitahu kalian.”Mayang menggenggam tangan Bimo dengan wajah cemas. “Berjanjilah kamu akan berhati-hati, Bimo. Cepat kembali ke Indonesia dengan selamat.” “Aku berjanji, Sayang,” balas Bimo lembut. Dia mendekatkan wajahnya dan memberikan ciuman yang cukup lama di bibir Mayang.Setelah itu dia menjauhkan wajahnya dan memeluk Mayang dengan erat sebelum melangkahkan kakinya menuju gerbang keberangkatan.Beberapa jam kemudian, Bimo telah menjejakkan kaki di Singapore. Dia langsung bergerak menuju sala
Prof. Malik gemetar ketakutan di dalam cengkeraman Bimo. Wajahnya yang semula penuh keangkuhan kini pucat pasi, tak berkutik menghadapi aura gaib yang begitu menekan dari tubuh Bimo.”A-ampun, Bimo... Tolong jangan bunuh aku!" ucap Prof. Malik dengan suara bergetar. “Aku berjanji akan menyerahkan semua riset dan memusnahkan sisa serum Vigor-X itu!”Bimo bersiap akan membunuh Prof.Malik, namun pria itu langsung berteriak meminta tolong agar Bimo mengampuninya.“Tolong!! Jangan bunuh aku! Aku bukanlah dalang utama dalam penelitian ini!!” Mata Bimo terbelalak saat mendengarnya. “Apa maksudmu?” “Dia saat ini ada Singapore. Kamu bisa menemuinya secara langsung. Tapi tolong jangan bunuh aku,” jawab Prof.Malik dengan nada gemetar.Di waktu yang bersamaan pihak Kepolisian segera datang. Sirine kapal patroli meraung di tengah lautan. Cahaya sorotan lampu helikopter dan kapal petugas mulai membelah kegelapan malam, mengarah tepat ke geladak kapal besar tempat mereka berada.Bimo menatap Prof.
Anak buah Prof. Malik yang mendadak panik langsung memberondong tembakan ke arah Bimo. Namun sayang, tembakan mereka malah mengenai permukaan air laut.Dengan gerakan lincah, Bimo memanjat sisi kapal dan melompat mendarat di atas geladak. Cahaya keemasan memancar dari tubuhnya, menciptakan tekanan angin bergemuruh yang membuat para anak buah Prof. Malik terdorong mundur dan goyah.Sebelum Prof. Malik sempat bereaksi, Bimo menghentakkan kakinya ke atas geladak. Gelombang energi gaib memotong tali penjerat yang mengikat Mayang dan Baskoro.Sret!! Bimo melesat cepat dan menyambut tubuh Mayang serta Baskoro sebelum jatuh menghantam lautan. Setelah itu dia ikut melepaskan ikatan serta kain penyumpal mulut mereka berdua.“Bimo!” panggil Baskoro sambil terbatuk-batuk.“Kalian baik-baik saja?” tanya Bimo memastikan kondisi mereka.Mayang langsung memeluk Bimo dengan mata berkaca-kaca. “Bimo, hiks hiks terima kasih sudah menolong kami.” Prof. Malik mundur beberapa langkah dengan wajah memer
Bimo hanya bisa mendengar suara deburan ombak dan beberapa kali ledakan kapal beruntun di tengah lautan luas. Dia memutar tubuhnya seraya menyapu pandangannya ke sekeliling permukaan laut yang dipenuhi puing-puing kayu yang terbakar oleh api.”MAYANG!! BASKORO!! KALIAN DI MANA?!” panggil Bimo sekali lagi dengan wajah panik dan ketakutan.Cahaya keemasan cakra jantungnya tiba-tiba bergetar di dalam dada. Bimo memejamkan mata sejenak, memusatkan batinnya untuk merasakan keberadaan energi Mayang dan Baskoro. Bisikan lembut Datuk Maringgi kembali menggema di dalam pikirannya, memberikan petunjuk arah.“Di arah sebelah barat daya cucuku.” Bimo mendadak membuka matanya. Sekitar lima puluh meter di sebelah barat daya, terlihat Baskoro dan Mayang digantung dengan posisi terbalik di atas kapal yang lain dan jauh lebih besar. Tangan dan kaki mereka berdua terikat sedangkan mulut mereka disumpal dengan kain yang terlihat lusuh.Di atas geladak kapal besar itu, terlihat Prof Malik berdiri dengan







