Share

Bab 6. Hampir Keluar

Author: Sora Archery
last update Last Updated: 2026-02-26 15:28:39

​Sepulang kerja, Bimo disambut oleh keheningan rumah yang terasa sedikit berbeda. Saat melangkah masuk, aroma bumbu dapur yang kuat segera menyapa indra penciumannya.

Di sana, dia melihat Mayang tengah sibuk dengan celemek merah muda yang membalut tubuhnya, menonjolkan siluet tubuh seksinya yang sempurna. Beberapa hidangan sudah tersaji rapi di atas meja makan, mengepulkan uap panas yang menggugah selera.

​“Nak Bimo, ayo duduklah. Mama baru saja selesai memasak menu makan malam spesial untukmu. Malam ini kita hanya makan berdua saja. Tiara sedang menginap di rumah temannya, sedangkan Sella baru saja mengabari Mama kalau dia akan pulang sedikit terlambat hari ini,” ucap Mayang lembut sembari meletakkan piring berisi kerang Oyster bumbu Jimbaran ke tengah meja. 

Malam ini kita hanya makan berdua saja. Tiara sedang menginap di rumah temannya, sedangkan Sella baru saja mengabari Mama kalau dia akan pulang sedikit terlambat hari ini. 

​Bimo menarik kursi dan duduk dengan gerakan kaku. Matanya kemudian tertuju pada sebuah cangkir berisi cairan berwarna kecokelatan yang baunya sangat menyengat, meski aromanya berbeda dengan jamu yang ia minum tadi pagi.

​“Ma, minuman apa itu?” tanya Bimo ragu.

​“Oh, ini teh ginseng. Mama membuatnya khusus untukmu, Nak. Minuman ini berfungsi meningkatkan kualitas sperma, mengatasi disfungsi ereksi,  dan  meningkatkan libido pria,” jelas Mayang sembari melepaskan celemeknya, memperlihatkan daster satin yang melekat pas di tubuhnya saat ia duduk tepat di samping Bimo. “Selain ramuan pagi tadi, Mama akan memberikan teh ginseng ini setiap malam. Ayo diminum dulu selagi hangat.”

​Bimo sebenarnya sangat enggan menyentuh minuman beraroma tajam itu. Namun, melihat sorot mata Mayang yang penuh harap dan mengingat betapa besarnya pengorbanan wanita itu untuk membantu rumah tangganya, Bimo tak sampai hati untuk menolak. Ia meraih cangkir itu, memejamkan mata, dan mulai meneguknya.

​Rasa pahit segera menjajah lidahnya, namun tak segetir jamu sebelumnya. Ada sensasi hangat yang merambat perlahan dari tenggorokan menuju perutnya, meninggalkan rasa manis samar di pangkal lidah. 

Anehnya, baru beberapa teguk saja, Bimo merasa otot-ototnya yang tegang akibat stres di kantor mulai rileks. Tanpa sadar, ia meminumnya hingga habis tak bersisa. 

​Mayang tersenyum. “Syukurlah, sepertinya kamu suka. Mama lihat kamu kurang cocok dengan jamu tradisional, jadi Mama berinisiatif menggantinya dengan ginseng. Dulu, mendiang Papanya Sella suka sekali meminum minuman ginseng ini. Nah, sekarang makanlah yang banyak. Selesai makan, kita akan memulai pijatan di kamar mama.”

Bimo tersentak. Ia lupa kalau setelah ini mereka akan kembali mengulangi pijatan. Ia akhirnya mengangguk sekilas dan segera mengambil sendok-garpunya.

​Denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring menjadi satu-satunya suara yang mengisi ruang makan itu. Bimo makan dalam diam, pikirannya berkecamuk. Apakah ini berarti pijatan yang sama seperti kemarin? Batinnya gelisah.

​Selesai makan, Bimo masuk ke kamarnya dan segera membersihkan dirinya. Sesuai instruksi Mayang, dia kembali melilitkan sarung di pinggangnya tanpa mengenakan atasan maupun pakaian dalam. 

Saat berdiri di depan pintu kamar mertuanya, keraguan kembali menyerang. Tangannya terangkat, menggantung di udara selama beberapa detik sebelum akhirnya ia memberanikan diri mengetuk.

​Tok... Tok... Tok...

​“Silakan masuk, Nak Bimo! Buka saja pintunya!” seru Mayang dari dalam.

​Begitu pintu terbuka, Bimo seolah kehilangan kemampuan untuk bernapas. Mayang tengah duduk di tepi ranjang, hanya mengenakan kain jarik yang melilit tubuhnya dengan ikatan seadanya di atas dada. Sebagian dari bukit ranumnya yang besar terlihat mencuat, menciptakan pemandangan yang seharusnya tidak dilihat olehnya. 

​“Nak Bimo, ayo masuk. Kenapa kamu malah berdiri mematung di sana?” tegur Mayang, menyadarkan Bimo dari lamunannya. 

​“I-iya, Ma,” jawab Bimo gugup. Ia melangkah masuk dan segera menutup pintu. Perasaan bersalah langsung menghujam dadanya saat ia menyadari miliknya di bawah sana mulai bereaksi liar. Ia segera menunduk, menggunakan tangannya untuk menutupi tonjolan di balik sarung agar tidak terlihat oleh Mayang.

​‘Bimo, ingat! Dia mertuamu. Jangan jadi bajingan!’ kutuknya dalam hati, mencoba memanggil bayangan wajah Sella untuk menekan gairahnya.

​“Berbaringlah, mama akan mulai memijatmu,” perintah Mayang memecah kecanggungan.

​Bimo segera telungkup di atas ranjang. Tak lama kemudian, ia merasakan sentuhan tangan lembut yang sudah dibalur minyak zaitun mulai menekan punggungnya. Pijatan Mayang benar-benar luar biasa—wanita itu tau persis titik-titik saraf yang harus ditekan agar rasa lelah itu menguap. Saking nikmatnya, Bimo hampir saja terlelap dalam rasa rileks yang luar biasa.

​Namun, ketenangan itu terusik saat Mayang menepuk pundaknya. “Nak Bimo, sekarang berbaliklah. Mama harus memijat sekitar kemaluanmu sebelum Sella sampai di rumah.”

​Tubuh Bimo menegang seketika. Sekitar kemaluan? Bukankah itu berarti Mayang bisa melihat miliknya yang bereaksi sekarang?! Dengan nafas yang mulai memberat, ia terpaksa berbalik terlentang sesuai perintah.

​“M-ma, tidak usah ma. Sebaiknya pijatan bagian itu ditiadakan saja, “ucap Bimo dengan wajah merah padam menahan rasa malunya. 

​“Tidak bisa Bimo, pijatan ini sangat penting agar kamu lebih perkasa dan tahan lama di atas ranjang. Kamu tidak perlu merasa malu di depan mama. Mama akan menyelesaikan pijatan ini secepatnya, “kekeh Mayang. 

Bimo mau tak mau berbalik badan. Mayang seketika menyeringai saat melihat, keperkasaan menantunya yang sudah mengeras sepenuhnya. “Wah, sepertinya ramuan Mama benar-benar bekerja dengan baik. Mama penasaran ingin melihat hasilnya nanti. Sekarang, diamlah, Mama akan memberi pijatan untukmu. ”

​Wajah Bimo merah padam. Ia merasa sangat malu. Sebelum dia sempat memprotes, tangan Mayang sudah mulai bergerak di pangkal pahanya. Sentuhan itu membuat urat-urat di keperkasaannya semakin menonjol. Bimo mendesis, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat demi menahan erangan yang hampir lolos.

​‘Sella, maafkan aku. Ini demi kita...’ batinnya terus mengucap kata maaf merasa bersalah pada istrinya, meski tubuhnya berkata lain.

​Pijatan Mayang kini semakin mendekati miliknya, membuat Bimo semakin tegang. “Sttt... Ma, pelan-pelan,” rintih Bimo saat merasakan tekanan yang cukup kuat di bagian sensitifnya.

​“Maaf, Nak Bimo. Apa terasa sakit? Bilang ya kalau tekanannya terlalu keras,” ujar Mayang lembut, namun matanya menatap lekat ke arah milik Bimo yang kini berdenyut tepat di depan wajahnya.

Mayang melepas pijatannya lalu berpindah memegang keperkasaan Bimo yang sudah tegang maksimal. Hal itu tentu saja membuat Bimo langsung tersentak kaget. 

”Keras sekali, Nak. Mama dapat merasakan denyutannya. Itu tandanya keperkasaanmu ini normal, “ucap Mayang sambil mengurut keperkasaannya itu dengan gerakan naik turun. 

“M… ma, a… aku rasa pijatan ini tidak usah dilakukan. Aku… “Belum selesai Bimo bicara, Mayang langsung menyelanya. 

“Pijatan ini adalah pijatan paling penting Nak Bimo. Pijatan inilah yang akan membuatmu menjadi lebih perkasa dan tahan lama di atas ranjang. Jika rutin dilakukan selama 3 bulan ke depan, ukuran keperkasaanmu akan bertambah lebih panjang beberapa sentimeter loh.”

Mayang kembali menuangkan minyak zaitun dengan sebelah tangannya di atas keperkasaan Bimo sebelum melanjutkan pijatannya. 

​Bimo menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Ia dapat merasakan tekanan jari-jari Mayang mulai memijat dari pangkal hingga sepanjang batangnya. Ada sensasi panas yang menjalar, seolah-olah setiap pembuluh darahnya yang selama ini mati suri kini dipaksa untuk bangun dan berdenyut kencang. 

“Milikmu semakin terasa panas dan denyutannya cukup stabil ya. Urat-uratnya juga terlihat menonjol. Sella beruntung memiliki suami seperti kamu Bimo,”puji Mayang di tengah pijatannya. 

Bimo tidak dapat merespon perkataan Mayang. Saat ini otaknya tidak dapat berpikir dengan jernih.

Cukup lama Mayang memijatnya, Nafasnya sudah mulai tak beraturan. Nafasnya terengah menahan mati-matian menahan siksaan gairah yang tak seharusnya ia rasakan. Tiba-tiba Bimo merasakan gejolak aneh  merayap di sekujur tubuhnya, sebentar lagi dia akan meledak.” M… ma, A…aku.”

Mayang melepaskan pijatannya.“Sudah selesai. Sekarang pakailah sarungmu dan kembalilah ke kamarmu. “

Bimo menghembuskan nafas lega. Akhirnya pijatan ini berakhir juga. Namun, entah kenapa timbul kekecewaan di hatinya karena gagal keluar tadi. Dia segera menepis perasaan itu dan buru-buru memakai sarungnya untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. 

“Terima kasih untuk pijatannya malam ini, Ma. Bimo kembali ke kamar dulu. “

“Iya sama-sama, tidurlah lebih cepat dan jangan bergadang, “ Ucap Mayang mengingatkannya. 

“Iya Ma, “ Bimo bergegas keluar dari kamar Mayang, namun baru saja dia membuka pintu kamarnya, matanya terbelalak melihat Sella sudah berdiri di depannya. 

.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 6. Hampir Keluar

    ​Sepulang kerja, Bimo disambut oleh keheningan rumah yang terasa sedikit berbeda. Saat melangkah masuk, aroma bumbu dapur yang kuat segera menyapa indra penciumannya.Di sana, dia melihat Mayang tengah sibuk dengan celemek merah muda yang membalut tubuhnya, menonjolkan siluet tubuh seksinya yang sempurna. Beberapa hidangan sudah tersaji rapi di atas meja makan, mengepulkan uap panas yang menggugah selera.​“Nak Bimo, ayo duduklah. Mama baru saja selesai memasak menu makan malam spesial untukmu. Malam ini kita hanya makan berdua saja. Tiara sedang menginap di rumah temannya, sedangkan Sella baru saja mengabari Mama kalau dia akan pulang sedikit terlambat hari ini,” ucap Mayang lembut sembari meletakkan piring berisi kerang Oyster bumbu Jimbaran ke tengah meja. Malam ini kita hanya makan berdua saja. Tiara sedang menginap di rumah temannya, sedangkan Sella baru saja mengabari Mama kalau dia akan pulang sedikit terlambat hari ini. ​Bimo menarik kursi dan duduk dengan gerakan kaku. Mata

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 5 Ramuan Khusus

    Sebelum tangan Mayang menyentuh miliknya dari dalam sarung, tiba-tiba saja terdengar suara nada dering dari ponselnya Bimo. Bimo buru-buru menyambar ponselnya dan melihat nama kontak Sella sedang memanggilnya. Wajahnya seketika berubah menjadi panik, pasti Sella tiba-tiba terbangun dan mencari keberadaannya. Bimo memberikan aba-aba pada Mayang untuk tidak bersuara dengan menempelkan jari telunjuknya di atas bibirnya sendiri. Mayang menganggukkan kepalanya mengerti seraya menjauhkan tangannya.“Halo Mas, kamu ada dimana?! Kamu keluyuran kemana malam-malam begini?! “ Seru Sella di ujung telepon hingga memekakkan telinga Bimo.“A… aku lagi keluar beli rokok di minimarket dekat rumah, Sayang. A…aku akan pulang sekarang juga, “Jawab Bimo tergagap sambil melirik ke arah Mayang.“Ck, cepat pulanglah. Aku takut kalau tidur sendirian di kamar! “ Setelah mengatakan itu, panggilan telepon tiba-tiba terputus dimatikan oleh Sella secara sepihak.Bimo semakin panik karena saat ini dia hanya mengen

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 4 Pijatan Keperkasaan

    ​Bimo merebahkan tubuhnya dalam posisi telungkup di atas ranjang king size yang sangat empuk. Dadanya yang polos langsung bersentuhan dengan sprei sutra yang dingin. Di tengah keheningan, Bimo merasa seolah detak jantungnya sendiri terdengar begitu nyaring, memacu adrenalin yang membuat seluruh sarafnya menegang.Sementara itu, Mayang sudah duduk di pinggir ranjang. ​Bimo hanya bisa memejamkan kedua matanya. Ia merasakan kecemasan yang menyergap hatinya. Mayang membalurkan sedikit minyak zaitun di atas punggung Bimo, membiarkan cairan hangat itu mengalir dari pundak hingga ke tulang ekor. Baru setelah itu, dia mulai memijat punggung Bimo bak tukang pijat profesional.​Bimo bisa merasakan tangan halus Mayang mulai menyentuh dan menekan punggungnya dengan teknik effleurage—gerakan mengusap yang panjang dan berirama dari pinggang naik ke arah bahu berulang kali. Sentuhan itu tidak hanya meredakan otot yang kaku, tapi juga membuat keperkasaannya semakin memberontak tak terkendali di balik

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 3 Meminta Bantuan Mama

    ​Mayang tidak langsung menjawab. Wanita itu hanya tertegun sejenak, menatap lekat ke dalam manik matanya. Sebuah senyum tipis—hampir tak terlihat—terukir di bibirnya yang dipulas lipstik merah lembut.​“Mama tahu kamu pasti akan mengambil keputusan ini, Bimo,” bisik Mayang lembut. Suaranya terdengar seperti melodi yang menenangkan sekaligus berbahaya di telinga Bimo. “Mama tidak tega melihatmu terus-terusan dihina oleh Sella. Sebagai pria, kamu tentu punya harga diri yang harus dijaga, kan? Tapi ingat, apa yang akan kita lakukan malam ini harus tetap menjadi rahasia kita berdua saja.”​Mayang duduk tepat di sebelah Bimo hingga aroma melati yang lembut dari tubuhnya menyengat indra penciuman Bimo. “Sella tidak boleh tahu kalau Mama turun tangan untuk urusan ranjang kalian. Dia terlalu keras kepala untuk mengerti hal ini. Kalau dia tahu Mama ikut campur, dia pasti akan semakin meremehkanmu. Biarlah dia tahu hasilnya saja nanti saat kamu sudah 'sembuh'. Mengerti?”​Bimo mengangguk pelan,

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 2 Harga Diri Yang Hancur

    Bimo seketika terbelalak saat mendengarnya.”Mama mau membantuku? Bantuan apa yang dimaksud? Jangan-jangan tidur dengannya?!”Bimo bertanya-tanya dengan jantung berdebar keras di dalam dadanya. Tiba-tiba saja suasana berubah menjadi semakin canggung. Bimo sengaja berdehem agak keras untuk mengusir rasa gugupnya.​Mayang melepaskan pijatannya di bahu Bimo lalu pijatannya berpindah ke area lehernya Bimo. Ia menaruh kedua ibu jarinya tepat di cekungan leher belakang. Ia menekannya perlahan namun mantap, lalu memutarnya kecil. Bimo refleks memejamkan mata saat rasa kaku di kepalanya seolah ditarik keluar.“Mama tidak sengaja dengar pertengkaran kalian tadi. Makanya mama menawarkan bantuan kepadamu. Mama punya teknik pijatan khusus supaya kamu bisa lebih perkasa dan tahan lama di ranjang. Gimana, kamu setuju?”Tanya Mayang membuat Bimo kembali membuka kedua matanya dengan ekspresi terkejut.“Pijatan agar semakin perkasa dan bermain lama di atas ranjang?! A… apa itu artinya mama akan memijat

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 1 Hinaan Istriku

    Aroma keringat yang bercampur dengan wangi parfum mawar yang memudar memenuhi udara kamar yang lembap pasca pergulatan yang melelahkan. Di bawah temaram lampu tidur, kulit Sella yang mengkilap dibasahi peluh tampak berkilau, namun desah nafasnya yang tidak teratur bukanlah tanda kepuasan, melainkan kemarahan yang tertahan. ​“Ahh, Mas, jangan keluar dulu dong!” Sella mendesah kecewa saat Bimo, suaminya, cepat keluar sebelum dia dapat meraih klimaksnya.​Bimo melepaskan penyatuan mereka dengan perasaan bersalah karena lagi-lagi sudah membuat sang istri kecewa. Padahal sebelum bercinta, dia sudah meminum obat kuat agar bisa melayani nafsu Sella yang cukup tinggi. ​Namun tampaknya, usahanya masih sia-sia.​Bimo memeluk Sella dan mencoba menghiburnya. “Sayang, maafkan aku. Aku sudah minum obat kuat untuk memuaskanmu, tapi aku malah mengecewakanmu. Kita coba lagi besok, ya?”​“Ck, cuma segitu kemampuanmu, Mas?! Aku bahkan belum pernah merasakan bagaimana nikmatnya klimaks!” seru Sella, kes

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status