Share

Bab 3 Meminta Bantuan Mama

Author: Sora Archery
last update Last Updated: 2026-02-19 11:44:04

​Mayang tidak langsung menjawab. Wanita itu hanya tertegun sejenak, menatap lekat ke dalam manik matanya. Sebuah senyum tipis—hampir tak terlihat—terukir di bibirnya yang dipulas lipstik merah lembut.

​“Mama tahu kamu pasti akan mengambil keputusan ini, Bimo,” bisik Mayang lembut. Suaranya terdengar seperti melodi yang menenangkan sekaligus berbahaya di telinga Bimo. “Mama tidak tega melihatmu terus-terusan dihina oleh Sella. Sebagai pria, kamu tentu punya harga diri yang harus dijaga, kan? Tapi ingat, apa yang akan kita lakukan malam ini harus tetap menjadi rahasia kita berdua saja.”

​Mayang duduk tepat di sebelah Bimo hingga aroma melati yang lembut dari tubuhnya menyengat indra penciuman Bimo. “Sella tidak boleh tahu kalau Mama turun tangan untuk urusan ranjang kalian. Dia terlalu keras kepala untuk mengerti hal ini. Kalau dia tahu Mama ikut campur, dia pasti akan semakin meremehkanmu. Biarlah dia tahu hasilnya saja nanti saat kamu sudah 'sembuh'. Mengerti?”

​Bimo mengangguk pelan, pasrah dengan keadaan. Hanya ini satu-satunya jalan untuk mempertahankan rumah tangganya. Ada rasa sesak yang menghimpit hatinya karena harus menyembunyikan rencana gila ini dari istrinya sendiri.

Namun, bayangan Sella yang lebih memilih benda plastik daripada dirinya benar-benar membakar sisa-sisa harga dirinya sebagai seorang suami.

​“Sekarang, kembalilah ke kamar. Tanggalkan semua pakaianmu dan pakailah sarung saja tanpa celana dalam agar aliran darahmu tidak terhambat saat Mama pijat nanti. Pijatan tradisional ini butuh kontak langsung yang maksimal agar minyak yang Mama gunakan bisa meresap sempurna ke saraf vitalmu,” perintah Mayang dengan nada yang tak terbantahkan.

​Bimo melangkah masuk ke kamarnya dengan jantung yang berdegup kencang, nyaris meledak.

Di dalam kegelapan kamar, ia bisa melihat gundukan tubuh Sella di balik selimut yang membelakanginya. Nafas istrinya terdengar teratur, pertanda wanita itu sudah terlelap setelah meluapkan amarahnya. Bimo berdiri mematung di sisi ranjang, menatap punggung istrinya dengan rasa bersalah.

”Maafkan aku, Sella. Aku melakukan ini agar aku bisa membahagiakanmu lagi,” batinnya pedih.

​Dengan tangan yang sedikit gemetar, Bimo mulai menanggalkan pakaian kerjanya satu per satu. Setelah pakaiannya terlepas, rasa dingin malam itu seolah menusuk pori-porinya, namun suhu tubuhnya justru terasa panas karena adrenalin yang terpacu. Ia kemudian mengambil kain sarung kotak-kotak dari dalam lemari dan melilitkannya di pinggang.

Ia melangkah keluar kamar dan menutup rapat pintunya dengan pelan agar tidak membangunkan Sella. Setiap langkah yang ia ambil membuat kain sarung itu bergesekan dengan keperkasaannya, menciptakan denyutan yang membuat Bimo merutuki tubuhnya sendiri.

“Bisa-bisanya aku merasa tegang di situasi yang salah seperti ini!” batinnya merutuki diri sendiri dengan perasaan berdosa yang bercampur dengan rasa penasaran yang terlarang.

​Begitu tiba di depan kamar Mayang yang tertutup rapat di ujung lorong, ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya yang kian berdegup kencang. Dengan tangan yang masih lembab karena keringat dingin, dia mengetuk pelan pintu kamarnya.

​Tok tok tok

​Pintu itu terbuka seketika, seolah Mayang memang sudah berdiri tepat di baliknya menunggu kedatangannya.

“Nak Bimo, ayo silahkan masuk,” ucap Mayang dengan suara yang sangat rendah, hampir seperti bisikan.

​“Baik, Ma,” sahut Bimo gugup.

Begitu ia melangkah masuk, ia mendengar bunyi klik saat Mayang mengunci pintu dari dalam. Suasana kamar itu sangat berbeda dengan kamarnya. Wangi minyak zaitun dan aromaterapi mawar memenuhi ruangan, memberikan kesan intim yang kental. Lampu utama dipadamkan, hanya menyisakan lampu tidur berwarna kekuningan yang memberikan siluet hangat pada dinding kamar.

​Bimo berdiri mematung di tengah ruangan, merasa sangat canggung dengan hanya balutan sarung. Mayang menatapnya dari atas sampai bawah, sebuah tatapan yang sulit diartikan namun membuat darah Bimo berdesir hebat.

​“Jangan takut, Nak Bimo. Mama tahu apa yang harus mama lakukan,” ucap Mayang seolah bisa membaca pikiran liar Bimo. “Dulu, Mama juga pernah melakukan pijatan pada ketiga mantan suami Mama agar keperkasaan mereka lebih panjang dan tahan lama. Pijatan ini akan Mama lakukan secara rutin agar hasilnya maksimal.”

​Bimo menelan ludah kasar. Kalimat itu terdengar seperti godaan di telinganya. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa Mayang adalah sosok yang baik,perhatian,dan keibuan. Jadi mana mungkin mama mertuanya itu berbuat yang tidak-tidak terhadap dirinya. Namun, suasana kamar yang redup dan aromanya yang memabukkan terus mengkhianati logikanya.

​“Ayo berbaringlah di ranjang, Bimo. Kita tidak punya banyak waktu sebelum pagi tiba,” suruh Mama Mayang lembut seraya berjalan mendekati Bimo.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 6. Hampir Keluar

    ​Sepulang kerja, Bimo disambut oleh keheningan rumah yang terasa sedikit berbeda. Saat melangkah masuk, aroma bumbu dapur yang kuat segera menyapa indra penciumannya.Di sana, dia melihat Mayang tengah sibuk dengan celemek merah muda yang membalut tubuhnya, menonjolkan siluet tubuh seksinya yang sempurna. Beberapa hidangan sudah tersaji rapi di atas meja makan, mengepulkan uap panas yang menggugah selera.​“Nak Bimo, ayo duduklah. Mama baru saja selesai memasak menu makan malam spesial untukmu. Malam ini kita hanya makan berdua saja. Tiara sedang menginap di rumah temannya, sedangkan Sella baru saja mengabari Mama kalau dia akan pulang sedikit terlambat hari ini,” ucap Mayang lembut sembari meletakkan piring berisi kerang Oyster bumbu Jimbaran ke tengah meja. Malam ini kita hanya makan berdua saja. Tiara sedang menginap di rumah temannya, sedangkan Sella baru saja mengabari Mama kalau dia akan pulang sedikit terlambat hari ini. ​Bimo menarik kursi dan duduk dengan gerakan kaku. Mata

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 5 Ramuan Khusus

    Sebelum tangan Mayang menyentuh miliknya dari dalam sarung, tiba-tiba saja terdengar suara nada dering dari ponselnya Bimo. Bimo buru-buru menyambar ponselnya dan melihat nama kontak Sella sedang memanggilnya. Wajahnya seketika berubah menjadi panik, pasti Sella tiba-tiba terbangun dan mencari keberadaannya. Bimo memberikan aba-aba pada Mayang untuk tidak bersuara dengan menempelkan jari telunjuknya di atas bibirnya sendiri. Mayang menganggukkan kepalanya mengerti seraya menjauhkan tangannya.“Halo Mas, kamu ada dimana?! Kamu keluyuran kemana malam-malam begini?! “ Seru Sella di ujung telepon hingga memekakkan telinga Bimo.“A… aku lagi keluar beli rokok di minimarket dekat rumah, Sayang. A…aku akan pulang sekarang juga, “Jawab Bimo tergagap sambil melirik ke arah Mayang.“Ck, cepat pulanglah. Aku takut kalau tidur sendirian di kamar! “ Setelah mengatakan itu, panggilan telepon tiba-tiba terputus dimatikan oleh Sella secara sepihak.Bimo semakin panik karena saat ini dia hanya mengen

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 4 Pijatan Keperkasaan

    ​Bimo merebahkan tubuhnya dalam posisi telungkup di atas ranjang king size yang sangat empuk. Dadanya yang polos langsung bersentuhan dengan sprei sutra yang dingin. Di tengah keheningan, Bimo merasa seolah detak jantungnya sendiri terdengar begitu nyaring, memacu adrenalin yang membuat seluruh sarafnya menegang.Sementara itu, Mayang sudah duduk di pinggir ranjang. ​Bimo hanya bisa memejamkan kedua matanya. Ia merasakan kecemasan yang menyergap hatinya. Mayang membalurkan sedikit minyak zaitun di atas punggung Bimo, membiarkan cairan hangat itu mengalir dari pundak hingga ke tulang ekor. Baru setelah itu, dia mulai memijat punggung Bimo bak tukang pijat profesional.​Bimo bisa merasakan tangan halus Mayang mulai menyentuh dan menekan punggungnya dengan teknik effleurage—gerakan mengusap yang panjang dan berirama dari pinggang naik ke arah bahu berulang kali. Sentuhan itu tidak hanya meredakan otot yang kaku, tapi juga membuat keperkasaannya semakin memberontak tak terkendali di balik

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 3 Meminta Bantuan Mama

    ​Mayang tidak langsung menjawab. Wanita itu hanya tertegun sejenak, menatap lekat ke dalam manik matanya. Sebuah senyum tipis—hampir tak terlihat—terukir di bibirnya yang dipulas lipstik merah lembut.​“Mama tahu kamu pasti akan mengambil keputusan ini, Bimo,” bisik Mayang lembut. Suaranya terdengar seperti melodi yang menenangkan sekaligus berbahaya di telinga Bimo. “Mama tidak tega melihatmu terus-terusan dihina oleh Sella. Sebagai pria, kamu tentu punya harga diri yang harus dijaga, kan? Tapi ingat, apa yang akan kita lakukan malam ini harus tetap menjadi rahasia kita berdua saja.”​Mayang duduk tepat di sebelah Bimo hingga aroma melati yang lembut dari tubuhnya menyengat indra penciuman Bimo. “Sella tidak boleh tahu kalau Mama turun tangan untuk urusan ranjang kalian. Dia terlalu keras kepala untuk mengerti hal ini. Kalau dia tahu Mama ikut campur, dia pasti akan semakin meremehkanmu. Biarlah dia tahu hasilnya saja nanti saat kamu sudah 'sembuh'. Mengerti?”​Bimo mengangguk pelan,

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 2 Harga Diri Yang Hancur

    Bimo seketika terbelalak saat mendengarnya.”Mama mau membantuku? Bantuan apa yang dimaksud? Jangan-jangan tidur dengannya?!”Bimo bertanya-tanya dengan jantung berdebar keras di dalam dadanya. Tiba-tiba saja suasana berubah menjadi semakin canggung. Bimo sengaja berdehem agak keras untuk mengusir rasa gugupnya.​Mayang melepaskan pijatannya di bahu Bimo lalu pijatannya berpindah ke area lehernya Bimo. Ia menaruh kedua ibu jarinya tepat di cekungan leher belakang. Ia menekannya perlahan namun mantap, lalu memutarnya kecil. Bimo refleks memejamkan mata saat rasa kaku di kepalanya seolah ditarik keluar.“Mama tidak sengaja dengar pertengkaran kalian tadi. Makanya mama menawarkan bantuan kepadamu. Mama punya teknik pijatan khusus supaya kamu bisa lebih perkasa dan tahan lama di ranjang. Gimana, kamu setuju?”Tanya Mayang membuat Bimo kembali membuka kedua matanya dengan ekspresi terkejut.“Pijatan agar semakin perkasa dan bermain lama di atas ranjang?! A… apa itu artinya mama akan memijat

  • Tak Ada Istri, Mertua dan Ipar pun Jadi   Bab 1 Hinaan Istriku

    Aroma keringat yang bercampur dengan wangi parfum mawar yang memudar memenuhi udara kamar yang lembap pasca pergulatan yang melelahkan. Di bawah temaram lampu tidur, kulit Sella yang mengkilap dibasahi peluh tampak berkilau, namun desah nafasnya yang tidak teratur bukanlah tanda kepuasan, melainkan kemarahan yang tertahan. ​“Ahh, Mas, jangan keluar dulu dong!” Sella mendesah kecewa saat Bimo, suaminya, cepat keluar sebelum dia dapat meraih klimaksnya.​Bimo melepaskan penyatuan mereka dengan perasaan bersalah karena lagi-lagi sudah membuat sang istri kecewa. Padahal sebelum bercinta, dia sudah meminum obat kuat agar bisa melayani nafsu Sella yang cukup tinggi. ​Namun tampaknya, usahanya masih sia-sia.​Bimo memeluk Sella dan mencoba menghiburnya. “Sayang, maafkan aku. Aku sudah minum obat kuat untuk memuaskanmu, tapi aku malah mengecewakanmu. Kita coba lagi besok, ya?”​“Ck, cuma segitu kemampuanmu, Mas?! Aku bahkan belum pernah merasakan bagaimana nikmatnya klimaks!” seru Sella, kes

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status