LOGINBimo merebahkan tubuhnya dalam posisi telungkup di atas ranjang king size yang sangat empuk. Dadanya yang polos langsung bersentuhan dengan sprei sutra yang dingin. Di tengah keheningan, Bimo merasa seolah detak jantungnya sendiri terdengar begitu nyaring, memacu adrenalin yang membuat seluruh sarafnya menegang.
Sementara itu, Mayang sudah duduk di pinggir ranjang. Bimo hanya bisa memejamkan kedua matanya. Ia merasakan kecemasan yang menyergap hatinya. Mayang membalurkan sedikit minyak zaitun di atas punggung Bimo, membiarkan cairan hangat itu mengalir dari pundak hingga ke tulang ekor. Baru setelah itu, dia mulai memijat punggung Bimo bak tukang pijat profesional. Bimo bisa merasakan tangan halus Mayang mulai menyentuh dan menekan punggungnya dengan teknik effleurage—gerakan mengusap yang panjang dan berirama dari pinggang naik ke arah bahu berulang kali. Sentuhan itu tidak hanya meredakan otot yang kaku, tapi juga membuat keperkasaannya semakin memberontak tak terkendali di balik sarung, hanya karena sentuhan tangan mama mertuanya itu. Bimo merutuki tubuhnya sendiri di dalam hati. “Mengapa tubuhku berkhianat seperti ini?” Beberapa kali dia mengambil napas dan menghembuskan napasnya secara perlahan untuk menetralisir perasaannya yang kacau. Ia mencoba membayangkan hal-hal lain agar tidak terlalu terbawa suasana, namun semakin ia berusaha untuk tetap tenang, tetap saja tubuhnya bereaksi di luar kemampuannya. Keperkasaannya yang menegang dan mengeras kini terjepit oleh bobot tubuhnya sendiri yang menekan ranjang—menciptakan rasa nikmat yang menyiksa tepat di bawah perutnya.“Sampai kapan aku harus bertahan dalam siksaan gairah ini?” batinnya menjerit. Bimo tak memungkiri pijatan Mayang memang sangat nikmat sekali. Setiap hari, dia selalu bekerja di kantor dengan posisi duduk dan menatap layar komputer selama berjam-jam. Tekanan pekerjaan yang menumpuk membuat tubuhnya sering kali terasa pegal terutama di bagian bahu dan lengannya. Sentuhan Mayang seolah menemukan setiap titik lelah yang ia simpan selama ini. Mayang kemudian beralih ke teknik petrissage, yakni gerakan meremas dan menekan otot di bagian bahu serta belikat Bimo. Tekanannya begitu pas, seolah jemari Mayang tahu persis di mana letak titik-titik kelelahan Bimo. "Rilekskan tubuhmu, Bimo. Jangan dilawan, biarkan sarafmu terbuka," bisik Mayang lembut. Hembusan nafasnya yang hangat terasa begitu dekat di telinga Bimo, mengirimkan getaran aneh yang membuat bulu kuduknya meremang. Di saat Bimo sedang terbuai oleh pijatannya, tiba-tiba Mayang mengubah posisi. Tanpa aba-aba, Mayang menduduki punggung bawahnya. Bimo agak tersentak kaget. Jantungnya serasa ingin melompat keluar saat ia merasakan kewanitaan dan bongkahan pantat Mayang bersentuhan langsung dengan kulit punggungnya yang licin oleh minyak.“Apakah Mama sama sekali tidak memakai celana dalam?!”batin Bimo dengan jantung berdebar keras di dalam dadanya. Ketakutan dan gairah bercampur menjadi satu di kepalanya. Tekanan hangat dan empuk itu terasa begitu nyata menempel di pinggulnya, membuat aliran darahnya berdesir hebat ke seluruh tubuh. Bimo merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang yang sangat dalam, terjepit di antara rasa hormat kepada mertuanya dan dorongan biologis yang tak tertahankan. “Bimo, mama naik ke atas punggung kamu ya biar lebih leluasa. Mama akan gunakan teknik pijat tekan agar aliran oksigen di ototmu lancar,” bisik Mayang seraya membalurkan kembali minyak zaitun di atas punggungnya, lalu kembali memijatnya dari atas sampai ke bawah dengan bantuan berat badannya. “I… iya, Ma,” sahut Bimo pendek dengan suara serak. Kepalanya mendadak blank karena gesekan pantat Mayang terus menekan punggungnya setiap kali wanita itu melakukan gerakan memijat. Bimo meremas ujung bantal dengan kuat, berusaha mati-matian menahan gairah yang menyiksa batinnya ini agar tidak meledak di saat yang salah. Cukup lama Mayang memberikan pijatan di atas punggungnya, menggunakan teknik dorongan telapak tangan yang kuat hingga ke pangkal leher. Setelah dirasa semua otot punggung Bimo lemas, Mayang perlahan turun dan berdiri di sisi ranjang. Bimo merasa tubuhnya sangat ringan, namun batinnya semakin berat oleh beban rahasia ini. “Sekarang berbaliklah dengan posisi telentang, Nak Bimo. Mama akan memberikan pijatan untuk membuat keperkasaanmu menjadi semakin panjang, tebal, dan lebih tahan lama saat bertempur dengan istrimu nanti,” perintah Mayang dengan nada yang tenang namun berwibawa. “I… iya, Ma,” Bimo kembali menelan ludahnya kasar. Dengan gerakan yang sangat kaku, ia perlahan berbalik dengan posisi telentang seperti yang diperintahkan. Kini ia menghadap langsung ke arah langit-langit kamar dengan perasaan gugup dan malu. Ia tidak punya keberanian untuk menatap wajah mertuanya yang begitu tenang di bawah lampu remang. Mayang mulai melakukan pijatan di area perut. Pertama-tama, ia kembali membalurkan minyak zaitun di atas perut bawahnya Bimo yang berada dua jari di bawah pusar. "Ini teknik penting untuk melancarkan sirkulasi di area vital," jelas Mayang lembut. "Pijatan ini berguna untuk membantu kontrol ejakulasi dan memperkuat kekuatan ereksi karena akan melancarkan darah tepat ke pusatnya." Mayang menekan lembut area itu dengan gerakan melingkar searah jarum jam, lalu diikuti dengan teknik vibration atau getaran kecil menggunakan ujung jarinya. Tekanan itu membuat Bimo mendadak ingin pipis karena pijatan itu secara tidak langsung menekan kantung kemihnya. Namun, rasa tidak nyaman itu segera tertutup oleh desakan gairah yang kian meledak. Ditambah lagi, keperkasaannya terus memberontak di dalam sarungnya, membentuk gundukan besar yang sangat jelas terlihat di bawah lampu kamar yang redup. Bimo merasa sangat telanjang dan malu, ia menutup matanya rapat-rapat, sangat takut Mayang akan menyadarinya. Namun, tangan Mayang justru semakin aktif bergerak, seolah sengaja memancing reaksi tubuhnya lebih jauh. Mayang kemudian melakukan teknik pijat di area pangkal paha bagian dalam. "Saraf-saraf di sini adalah kunci daya tahanmu, Bimo," ucap Mayang lagi. Ia melakukan gerakan gesekan cepat yang menciptakan rasa panas yang menjalar di antara kedua paha Bimo. Bimo meremas sprei ranjang hingga kusut, nafasnya tiba-tiba tercekat di tenggorokannya. Perasaannya berkecamuk antara ingin berhenti dan ingin merasakan lebih. Ia merasa sedang berada di ambang batas ketahanannya sebagai seorang pria. Tiba-tiba, Bimo merasakan ritme tangan Mayang berubah drastis. Pijatan itu tidak lagi berhenti di pangkal paha. Jemari yang licin karena minyak itu terus bergerak turun ke bawah, merayap melewati batas pinggang dan mulai menyelinap masuk ke balik kain sarungnya yang longgar. “T-tunggu, Ma! Itu—“Sepulang kerja, Bimo disambut oleh keheningan rumah yang terasa sedikit berbeda. Saat melangkah masuk, aroma bumbu dapur yang kuat segera menyapa indra penciumannya.Di sana, dia melihat Mayang tengah sibuk dengan celemek merah muda yang membalut tubuhnya, menonjolkan siluet tubuh seksinya yang sempurna. Beberapa hidangan sudah tersaji rapi di atas meja makan, mengepulkan uap panas yang menggugah selera.“Nak Bimo, ayo duduklah. Mama baru saja selesai memasak menu makan malam spesial untukmu. Malam ini kita hanya makan berdua saja. Tiara sedang menginap di rumah temannya, sedangkan Sella baru saja mengabari Mama kalau dia akan pulang sedikit terlambat hari ini,” ucap Mayang lembut sembari meletakkan piring berisi kerang Oyster bumbu Jimbaran ke tengah meja. Malam ini kita hanya makan berdua saja. Tiara sedang menginap di rumah temannya, sedangkan Sella baru saja mengabari Mama kalau dia akan pulang sedikit terlambat hari ini. Bimo menarik kursi dan duduk dengan gerakan kaku. Mata
Sebelum tangan Mayang menyentuh miliknya dari dalam sarung, tiba-tiba saja terdengar suara nada dering dari ponselnya Bimo. Bimo buru-buru menyambar ponselnya dan melihat nama kontak Sella sedang memanggilnya. Wajahnya seketika berubah menjadi panik, pasti Sella tiba-tiba terbangun dan mencari keberadaannya. Bimo memberikan aba-aba pada Mayang untuk tidak bersuara dengan menempelkan jari telunjuknya di atas bibirnya sendiri. Mayang menganggukkan kepalanya mengerti seraya menjauhkan tangannya.“Halo Mas, kamu ada dimana?! Kamu keluyuran kemana malam-malam begini?! “ Seru Sella di ujung telepon hingga memekakkan telinga Bimo.“A… aku lagi keluar beli rokok di minimarket dekat rumah, Sayang. A…aku akan pulang sekarang juga, “Jawab Bimo tergagap sambil melirik ke arah Mayang.“Ck, cepat pulanglah. Aku takut kalau tidur sendirian di kamar! “ Setelah mengatakan itu, panggilan telepon tiba-tiba terputus dimatikan oleh Sella secara sepihak.Bimo semakin panik karena saat ini dia hanya mengen
Bimo merebahkan tubuhnya dalam posisi telungkup di atas ranjang king size yang sangat empuk. Dadanya yang polos langsung bersentuhan dengan sprei sutra yang dingin. Di tengah keheningan, Bimo merasa seolah detak jantungnya sendiri terdengar begitu nyaring, memacu adrenalin yang membuat seluruh sarafnya menegang.Sementara itu, Mayang sudah duduk di pinggir ranjang. Bimo hanya bisa memejamkan kedua matanya. Ia merasakan kecemasan yang menyergap hatinya. Mayang membalurkan sedikit minyak zaitun di atas punggung Bimo, membiarkan cairan hangat itu mengalir dari pundak hingga ke tulang ekor. Baru setelah itu, dia mulai memijat punggung Bimo bak tukang pijat profesional.Bimo bisa merasakan tangan halus Mayang mulai menyentuh dan menekan punggungnya dengan teknik effleurage—gerakan mengusap yang panjang dan berirama dari pinggang naik ke arah bahu berulang kali. Sentuhan itu tidak hanya meredakan otot yang kaku, tapi juga membuat keperkasaannya semakin memberontak tak terkendali di balik
Mayang tidak langsung menjawab. Wanita itu hanya tertegun sejenak, menatap lekat ke dalam manik matanya. Sebuah senyum tipis—hampir tak terlihat—terukir di bibirnya yang dipulas lipstik merah lembut.“Mama tahu kamu pasti akan mengambil keputusan ini, Bimo,” bisik Mayang lembut. Suaranya terdengar seperti melodi yang menenangkan sekaligus berbahaya di telinga Bimo. “Mama tidak tega melihatmu terus-terusan dihina oleh Sella. Sebagai pria, kamu tentu punya harga diri yang harus dijaga, kan? Tapi ingat, apa yang akan kita lakukan malam ini harus tetap menjadi rahasia kita berdua saja.”Mayang duduk tepat di sebelah Bimo hingga aroma melati yang lembut dari tubuhnya menyengat indra penciuman Bimo. “Sella tidak boleh tahu kalau Mama turun tangan untuk urusan ranjang kalian. Dia terlalu keras kepala untuk mengerti hal ini. Kalau dia tahu Mama ikut campur, dia pasti akan semakin meremehkanmu. Biarlah dia tahu hasilnya saja nanti saat kamu sudah 'sembuh'. Mengerti?”Bimo mengangguk pelan,
Bimo seketika terbelalak saat mendengarnya.”Mama mau membantuku? Bantuan apa yang dimaksud? Jangan-jangan tidur dengannya?!”Bimo bertanya-tanya dengan jantung berdebar keras di dalam dadanya. Tiba-tiba saja suasana berubah menjadi semakin canggung. Bimo sengaja berdehem agak keras untuk mengusir rasa gugupnya.Mayang melepaskan pijatannya di bahu Bimo lalu pijatannya berpindah ke area lehernya Bimo. Ia menaruh kedua ibu jarinya tepat di cekungan leher belakang. Ia menekannya perlahan namun mantap, lalu memutarnya kecil. Bimo refleks memejamkan mata saat rasa kaku di kepalanya seolah ditarik keluar.“Mama tidak sengaja dengar pertengkaran kalian tadi. Makanya mama menawarkan bantuan kepadamu. Mama punya teknik pijatan khusus supaya kamu bisa lebih perkasa dan tahan lama di ranjang. Gimana, kamu setuju?”Tanya Mayang membuat Bimo kembali membuka kedua matanya dengan ekspresi terkejut.“Pijatan agar semakin perkasa dan bermain lama di atas ranjang?! A… apa itu artinya mama akan memijat
Aroma keringat yang bercampur dengan wangi parfum mawar yang memudar memenuhi udara kamar yang lembap pasca pergulatan yang melelahkan. Di bawah temaram lampu tidur, kulit Sella yang mengkilap dibasahi peluh tampak berkilau, namun desah nafasnya yang tidak teratur bukanlah tanda kepuasan, melainkan kemarahan yang tertahan. “Ahh, Mas, jangan keluar dulu dong!” Sella mendesah kecewa saat Bimo, suaminya, cepat keluar sebelum dia dapat meraih klimaksnya.Bimo melepaskan penyatuan mereka dengan perasaan bersalah karena lagi-lagi sudah membuat sang istri kecewa. Padahal sebelum bercinta, dia sudah meminum obat kuat agar bisa melayani nafsu Sella yang cukup tinggi. Namun tampaknya, usahanya masih sia-sia.Bimo memeluk Sella dan mencoba menghiburnya. “Sayang, maafkan aku. Aku sudah minum obat kuat untuk memuaskanmu, tapi aku malah mengecewakanmu. Kita coba lagi besok, ya?”“Ck, cuma segitu kemampuanmu, Mas?! Aku bahkan belum pernah merasakan bagaimana nikmatnya klimaks!” seru Sella, kes







