Share

BAB 39

Author: Mr. Kis
last update publish date: 2026-09-04 20:40:08

Langkah kaki tegap Adam perlahan menghilang di balik pintu toilet. Sementara Mira masih berdiri di depan toilet dengan kedua tangan bersedekap di dada, napasnya sedikit memburu oleh luapan amarah dan gengsi. Senyum kemenangan yang sangat picik terukir di bibirnya. Ia merasa begitu puas telah mengusir dan mempermalukan suaminya tepat di tempat kerjanya sendiri.

​"Dasar tidak tahu diri," gumam Mira sinis seraya merapikan gaun kerjanya. "Sudah miskin, nekat mau melamar kerja di kantor tempat Mas K
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tak Ada Istri, Pembantu pun jadi   BAB 77

    Adam terdiam seribu bahasa. Pertanyaan polos dari bibir kecil Adel serasa menggantung di udara, menghantam dinding-dinding kamar VIP yang hening. Bayangan keintiman yang terjalin di kamar hotel tadi malam, sentuhan lembut, desah napas, dan kepasrahan Alya di dalam pelukannya, Seketika berputar hebat di kepalanya. Hati Adam membuncah oleh perasaan cinta yang mendalam terhadap wanita itu. Namun, akal sehatnya dengan cepat menahan kegetiran tersebut.​Meskipun mereka telah melampaui batas dan melakukan hubungan layaknya suami istri, Adam sadar bahwa Alya bukanlah wanita sembarangan yang bisa ia paksa masuk ke dalam ikatan pernikahan begitu saja. Alya hadir di saat kehidupannya hancur, menjadi tempatnya bersandar tanpa pernah menuntut balas. Adam tidak ingin memanfaatkan kebaikan atau keadaan Alya yang serba sulit untuk memaksanya mengambil peran sebagai seorang istri dan ibu sambung.​Adam mengecup lembut kening Adel, lalu tersenyum tipis sembari mengalihkan pembicaraan. "Anak pintar Pap

  • Tak Ada Istri, Pembantu pun jadi   BAB 76

    Ranjang perawatan Adel perlahan didorong menyusuri koridor lantai lima yang sunyi dan harum aromaterapi, jauh dari kebisingan UGD di lantai bawah. Pintu ganda kayu jati berwarna hangat itu terbuka lebar, menyambut mereka ke dalam ruang perawatan VIP Utama. Ruangan itu sangat luas, dilengkapi sofa empuk, televisi layar datar, dan jendela besar yang menampilkan pemandangan pepohonan hijau di luar.​Para perawat memindahkan tubuh mungil Adel ke atas tempat tidur berukuran besar dengan seprei putih lembut yang bersih. Setelah memastikan seluruh alat pemantau medis dan cairan infus terpasang sempurna, para perawat memohon diri dan meninggalkan ruangan, memberikan ketenangan utuh bagi ayah dan anak tersebut.​Begitu pintu VIP tertutup rapat, keheningan yang menenangkan seketika menyelimuti ruangan. Adam melangkah mendekat, menarik kursi di samping ranjang, lalu duduk sembari mengusap lembut jemari mungil Adel yang terbebas dari infus.​Mata kecil Adel perlahan terbuka, berkedip pelan menyes

  • Tak Ada Istri, Pembantu pun jadi   Bab 75

    Lidah Mira dan Marni terasa kaku, kelu tak sanggup membendung gelombang tatapan jijik dan bisik-bisik celaan dari puluhan keluarga pasien di koridor UGD tersebut. Wajah Mira memerah padam menahan malu yang teramat sangat, sementara Marni mengepalkan tangannya dengan mata melotot penuh kebencian. Rencana busuk mereka untuk mengarak dan mempermalukan Adam di depan umum justru berbalik menjadi senjata makan tuan yang menghancurkan harga diri mereka sendiri.​Namun, dasar wanita berdarah dingin yang dikuasai ketamakan, Marni menolak untuk mengaku kalah begitu saja. Dengan urat leher yang menegang, ibu kandung Mira itu melangkah maju satu tindak, memajukan tubuhnya dan menyemburkan makian dengan suara melengking.​"Jangan sok suci kamu, Adam!" jerit Marni meluapkan rasa frustrasinya, mengabaikan cemoohan warga di sekitarnya. "Dasar pria sombong dan lupa daratan! Baru juga beberapa hari diangkat jadi Direktur Utama di Holding Pusat, kelakuanmu sudah seperti penguasa dunia! Kamu pikir dengan

  • Tak Ada Istri, Pembantu pun jadi   BAB 74

    Adam mengepalkan tangannya begitu erat mendengar makian Mira yang pandai bersilat lidah. Amarah yang membakar dadanya beradu dengan kepanikan yang teramat sangat membayangkan kondisi Adel yang kritis di UGD. Tuduhan keji Mira yang diteriakkan lewat telepon tadi tak hanya mencoreng kehormatannya, tetapi juga memutarbalikkan kenyataan secara membabi buta.​"Wanita iblis..." geram Adam dengan rahang mengetat keras, matanya memerah menahan napas yang memburu. "Dia benar-benar ingin menghancurkanku!"​Alya, yang berdiri tepat di samping ranjang, memegang lembut lengan Adam. Sentuhan jemari Alya yang hangat perlahan meredakan guncangan hebat di tubuh pria itu.​"Pak Adam, tenanglah..." bisik Alya halus, berusaha menetralkan emosi Adam. "Fokus Bapak sekarang hanya Adel. Jangan biarkan emosi memakan akal sehat Bapak sebelum sampai di sana."​Adam menoleh, menatap Alya dengan pandangan sarat akan rasa terima kasih dan bersalah. Ia mengangguk pelan. "Aku harus ke rumah sakit sekarang, Alya."​

  • Tak Ada Istri, Pembantu pun jadi   BAB 73

    Dini hari yang dingin merayap makin pekat di dalam rumah tua Marni. Dari dalam kamar belakang yang gelap dan pengap, suara rintihan Adel tidak lagi terdengar sebagai tangisan nyaring, melainkan hembusan napas pendek-pendek yang amat lelah dan halus.​Di atas kasur kusam tanpa selimut yang hangat, tubuh mungil anak berusia lima tahun itu menggigil makin hebat. Wajah Adel melenyapkan warna rona merahnya, berganti menjadi pucat pasi dengan bibir kering pecah-pecah yang membiru. Ketika Marni masuk ke dalam kamar untuk mengambil sapu pada pukul tiga pagi, ia tersentak saat melihat mata Adel memutar ke atas, sementara tubuhnya mulai kejang-kejang kecil akibat demam tinggi yang terus melonjak tanpa penanganan medis.​"Mira! Mira, bangun!" teriak Marni panik, menepuk-nepuk pipi putrinya di kamar sebelah. "Anak ini kejang-kejang! Tubuhnya panas sekali bagaikan dibakar!"​Mira yang terbangun dengan wajah kesal langsung membelalak kaget. Ketakutan menyergap dadanya, bukan karena rasa kasih sayan

  • Tak Ada Istri, Pembantu pun jadi   BAB 72

    Malam kian melarut, merayap menembus dinding-dinding rumah tua keluarga Marni. Di dalam ruang tamu yang remang, Marni berjalan mondar-mandir dengan gelisah, sesekali melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Setiap kali terdengar suara kendaraan melintas di depan rumah, ia refleks menoleh cepat ke arah jendela, berharap itu adalah langkah kaki Adam yang datang membawa kepanikan.​Namun, jalanan di luar tetap lengang. Tidak ada tanda-tiga kedatangan Adam sama sekali.​"Kenapa pria konyol itu belum muncul juga?!" bentak Marni dengan suara tertahan namun penuh amarah. Ia memutar tubuhnya, menatap Mira yang sedang bersandar di sofa sambil mengikir kuku jarinya. "Harusnya saat ini dia sudah menggedor pintu kita sambil berlutut memohon agar Adel dikembalikan!"​Mira melirik ibunya malas, meski di dalam dadanya mulai merayap rasa kebingungan yang sama. "Mungkin dia masih sibuk mencari uang ganti rugi atau bingung mau tinggal di mana, Bu. Tadi kan di kosannya mereka suda

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status