로그인Begitu Bravi mengucapkan kata terakhirnya, terdengar suara berantakan dari ujung telepon, sepertinya ada banyak barang yang dilempar.Kevin pasti sudah marah besar, karena selalu ingin seluruh dunia berjalan sesuai keinginannya, tapi itu hal yang mustahil. Oleh karena itu, dia bertekad untuk mengendalikan segalanya. Begitu kehilangan kendali, Kevin pasti akan meledak.Bravi tidak terkejut.Raisa adalah titik lemahnya.Kevin bisa saja menggunakan kedua anak itu untuk menekan Raisa.Tapi anak-anak itu sekarang sudah tumbuh menjadi manusia seutuhnya, dan hal itu pun menjadi titik lemah Kevin.Bravi pun memiliki senjata paling ampuh untuk menghukum Kevin.Semua ini adalah sebab-akibat, dan Kevin seharusnya sudah memikirkannya.Bravi menutup matanya, bulu matanya yang lentik menutupi aura dingin dan ketajaman di sorot matanya.Dulu, saat masih kecil, Bravi berharap bisa berteman dengan Kevin. Saat terluka, dia tidak berani menangis, karena tahu tidak ada orang dewasa yang akan merawatnya.S
Tidak ada yang bisa lebih memahami satu sama lain selain Bravi dan Kevin, sehingga ketika mereka saling menyinggung luka lama, itu pasti sangat tepat sasaran.Ketika Kevin mendengar kata-kata seperti itu keluar dari mulut Bravi, suara-suara penghinaan yang dilontarkan ibunya, Monica, sejak kecil tiba-tiba memenuhi telinganya. Luka masa kecilnya langsung menyerang, dan Kevin kembali merasakan emosi terpendam dari masa kecilnya yang tidak bisa diluapkan. Pikirannya bahkan kosong beberapa detik sebelum akhirnya menyadari apa yang sebenarnya dikatakan Bravi."Bravi, kau benar-benar cari mati!"Setiap kata seolah meluncur dari sela-sela giginya, Bravi sudah merasakan amarah Kevin yang mendalam. Mengapa bisa seperti ini? Hanya karena dia mengekspresikan emosinya.Dulu dia jarang melakukan hal seperti ini, padahal sebenarnya sangat marah. Saat benar-benar murka, amarah itu sudah terpendam entah berapa lama.Bravi sekarang bersiap untuk berubah, tidak akan lagi menahan diri seperti dulu. Lagip
…Bravi hanya tinggal di Kota Suaga selama dua hari, lalu menerima kabar bahwa Kevin telah tiba di Jerona. Kevin menjalin hubungan dekat dengan putra ketiga Keluarga Permana, dan kemungkinan besar sudah mengetahui lokasi kediaman Bravi di kaki gunung, dan akan segera menyusul ke sana.Begitu Bravi dan Angga tiba di Jerona, langsung menerima telepon dari Kevin.Bravi duduk di dalam mobil, wajahnya dingin dan tenang, sama sekali tidak terkejut. Ini sudah dia duga sejak awal.Telepon tersambung.Suara dingin Kevin terdengar. "Bravi, nggak kusangka kau benar-benar yang mencuri anak-anakku!"Sebelumnya Kevin memang mencurigai Bravi, tetapi tidak ada bukti. Ketika bukti ada di hadapannya, amarah Kevin tidak bisa dibendung, dia membenci Bravi yang benar-benar bertindak keras melawannya.Bravi menjawab dengan dingin, "Reaksimu terlalu lambat."Satu kalimat itu langsung menyentuh titik sensitif Kevin, lalu berkata, "Mereka itu anakku dan Raisa. Apa kau pikir dengan mencuri anak-anakku, bisa men
Angga sudah mendapatkan informasi latar belakang pria itu sebelumnya. Kekayaan keluarganya diperkirakan mencapai puluhan miliar, jumlah yang bagi orang-orang seperti Angga sama sekali tidak berarti, tapi bagi orang biasa itu sudah tergolong lumayan. Lagipula, keluarganya bukan pengusaha turun-temurun, melainkan tiba-tiba beruntung menangkap peluang bisnis yang menguntungkan, sehingga dia menjadi orang kaya mendadak. Begitu punya uang, dia menjadi sangat sombong, suka bersikap seperti bos di depan teman-temannya, suka bermain-main dengan perempuan, dan sangat meremehkan perempuan.Karakter seperti ini tidak akan bisa mempertahankan kekayaannya. Di mata orang seperti Angga yang berpengalaman, dia hanyalah sampah.Orang kaya baru itu akhir-akhir ini semakin terbuai oleh pujian teman-temannya. Tiba-tiba, bahunya ditusuk dengan gagang payung, dan tangan Bravi yang terbungkus perban itu meneteskan darah karena tekanan yang kuat. Tapi Bravi tidak mengernyit sedikit pun. Hal itu sangat mengint
Bagaimanapun juga Raisa cepat atau lambat akan tahu apa yang telah dilakukannya, jadi lebih baik mengetahuinya nanti saja, agar suasana hati Raisa tidak memburuk lebih awal.Tentu saja Angga tidak bisa ikut campur dalam hubungan antara Bravi dan Raisa, apalagi mengambil keputusan untuk mereka.Lalu dia menyebut soal psikolog, "Aku sudah menemukan seorang psikolog yang cukup terkenal, bagaimana kalau kau coba mengobrol dengannya?"Bravi sedikit mengerutkan kening. Sebenarnya dia tidak merasa dirinya benar-benar sakit, tapi dia bersedia mencoba."Boleh."Angga sudah sangat senang Bravi bersedia menyetujuinya, bahkan bisa dibilang sangat terkejut.Setelah bertemu dengan Rey hari ini, Bravi memang tampak berubah.Hanya saja, tidak tahu pemicunya apa.Namun, Angga tidak yakin bahwa sekadar berbincang sebentar dengan psikolog dapat menyelesaikan masalah psikologis Bravi.Bravi juga seorang ahli negosiasi, bicaranya sangat rapat tanpa celah, sehingga psikolog pun tidak bisa menembus pertahana
Apa yang akan dilakukan Raisa?Raisa pasti akan merasa jijik, bahkan terkejut karena Bravi berani bertindak begitu keji dan menjijikkan.Rasa suka tidak akan bisa menghapus perilakunya yang melampaui batas dan membuat orang lain merasa tidak nyaman.Banyak pria yang selalu mengatasnamakan cinta untuk mengintip, seolah kata-kata penuh kasih bisa menutupi segalanya.Coba bayangkan dari sudut pandang Raisa, pasti akan merasa merinding dan sangat tidak nyaman.Bravi pantas menerima hukuman, maka biarlah dia menerimanya dengan baik.Lagipula dia bukan Raisa, jadi sama sekali tidak perlu menjawab pertanyaan Rey itu.Dan di mata Rey, keheningan Bravi adalah sikap yang sangat egois dan arogan.Karena tidak mendapat tanggapan, membuatnya tampak seperti badut.Apa pun yang dilakukan Rey selalu konsisten, tidak akan menghabiskan energi karena diperlakukan dingin, jadi dia bisa mentolerir tindakan sombong dari lawannya.Jika diganti dengan orang yang sangat membutuhkan perhatian seperti Kevin, itu
Ketika dihadapkan pada sesuatu yang tidak dapat diterima, dari menyadari keberadaannya hingga benar-benar menerimanya, dibutuhkan sebuah proses.Jika seseorang mahir dalam menipu diri sendiri, proses ini dapat berlangsung lama.Sejak awal, setelah mengetahui Raisa dekat dengan Bravi, Kevin hanya men
Winny benar-benar berpikiran terbuka. "Lagipula, aku bukan pacar resminya. Bagi Bobby, aku ini cuma mainan untuk mengisi waktu. Pria itu nggak pernah mencintaiku. Aku cuma patuh menjalani tugas, anggap saja sedang kerja, jadi putus pun nggak masalah. Setelah kami berpisah nanti, dia cuma jadi satu h
Raisa mengajak Dina ke ruangannya dengan isyarat mata.Begitu Raisa berbalik, ekspresi Dina langsung berubah.Berlagak sekali dia!Sialan!…Di ruangan Raisa.Raisa duduk di sofa, memberi isyarat agar Dina duduk di seberangnya.Dina jelas merasa tidak nyaman dengan sikap Raisa yang mendominasi.Baga
Riani meliriknya. "Apa sudah ada janji?" Dina langsung berbohong, "Aku adiknya Raisa, apa perlu janji?" Riani berkata, "Bu Raisa sedang rapat, Anda harus menunggu. Tapi saya nggak bisa memastikan identitas Anda, jadi tolong beri tahu saya nama Anda agar saya bisa melapor kepada Bu Raisa." Dina be







