FAZER LOGINShankara tak seketika menjawab pertanyaan dari Ananta. Ia kembali menyesap espressonya."Lo pegang dadanya lagi?" duga Ananta.Shankara spontan mendelik mendengar tebakan Ananta dan langsung menyangkalnya. “Apaan sih, Ta. Otak lo kenapa ke situ?”Ananta menyandarkan punggung, menatap Shankara datar. “Gue cuma nebak. Siapa tahu ada insiden lantai licin lagi."“Ini beda,” bantah Shankara cepat. “Gue nggak ngapa-ngapain. Bahkan jarang ngobrol sama dia.”“Terus kenapa lo bisa kepikiran kayak tadi?” Ananta menatap penuh rasa penasaran.Shankara menghela napas sesaat kemudian mengatakan, “Dia tuh kalo ngeliat gue pasti lama. Pas gue pake celana pendek dan nggak pake baju matanya kayak mau keluar. Makanya sekarang kalo bergerak dikit aja dari kamar mesti pake baju sama celana panjang. Terus perhatiannya terlalu berlebihan. Dan yang paling bikin gue risih ....” Shankara berhenti sebentar. “Dia sering nyari gue. Padahal bisa aja ke Vanka.”Ananta menyipitkan mata. “Lo yakin itu bukan perasaan
"Tadi cerita apa aja sama Raline?" tanya Shankara sambil menjejalkan ke mulutnya satu slice lemon cake yang baru matang. Lelaki itu spontan meringis ketika satu gigitan lolos ke dalam perutnya.Vanka tertawa. "Kenapa, Bang?" "Ini asamnya level 10," keluh Shankara sambil mengusap lehernya. “Kamu ini niatnya bikin kue apa ngetes daya tahan lambung suami?”Vanka tergelak. “Itu justru yang aku butuhin. Kalau nggak asam, aku nggak bisa makan.”Shankara menggeleng-geleng sambil tersenyum pasrah. Ia tetap mengunyah satu gigitan lagi meski masih meringis.Vanka kembali tersenyum menyaksikan ekspresi suaminya. Lalu ia menjawab pertanyaan Shankara tadi.“Cerita sama Raline? Nggak banyak sih. Cuma soal kerja. Aku tanya dia udah cari kerja atau belum.”Shankara mengunyah pelan. “Terus?”“Katanya masih proses,” jawab Vanka. “Tapi jujur aja, Bang, aku kok ngerasa dia kayak menghindar.” “Maksud kamu?”“Entahlah. Perasaanku aja mungkin. Soalnya setiap aku tanya lebih detail, jawabannya berbelit-bel
Raline terdiam. Detik pertama, senyumnya masih ada. Detik kedua, sudut bibirnya menegang. Dan di detik ketiga, matanya bergerak cepat seperti mencari jawaban yang aman. “Eh, iya, Bu,” jawab perempuan itu akhirnya disertai tawa kecil yang terdengar dipaksakan. “Lagi proses.” “Proses gimana?” tanya Vanka santai, tapi ia sangat tertarik untuk mengetahuinya. “Udah lamar ke mana aja?” Raline menggaruk tengkuknya. “Ya … ke sana-sini, Bu. Cuma ya … zaman sekarang susah cari kerja. Apalagi yang sesuai.” Vanka mendengarkan sambil menuang adonan ke dalam loyang. “Iya sih, tapi kamu, kan, sarjana. Harusnya peluang kamu lebih banyak daripada yang lain.” “Iya, Bu. Tapi sarjana juga banyak. Yang S2 aja banyak yang nganggur apalagi yang cuma S1 kayak saya," jawab Raline mengemukakan alasannya. Vanka memandang perempuan itu sesaat. Tatapannya tenang, tapi tajam. “Makanya nggak usah terlalu pilih-pilih, Lin. Atau … kamu belum benar-benar nyari?” Raline pun tertawa. “Lho, kok gitu, Bu?” “Ya s
Sama dengan para wanita hamil lainnya, Vanka juga mengalami morning sickness parah yang membuatnya tidak bisa makan nasi. Hampir sepanjang hari Vanka hanya mengonsumsi sesuatu yang asam seperti jus jeruk, mangga muda hingga yoghurt.Alih-alih memakannya, melihat nasi hangat saja sudah cukup membuat perutnya bergejolak. Baru menghirup baunya, tenggorokannya langsung terasa pahit, kepalanya pening, dan rasa mual naik tanpa ampun. Terdengar berlebihan, tapi memang itu yang Vanka rasakan.Pagi itu, Vanka duduk di meja makan hanya dengan segelas jus jeruk di depannya. Ia menyeruput sedikit demi sedikit, wajahnya pucat, tubuhnya juga lemas.“Masih nggak bisa makan?” tegur Shankara.Vanka menggeleng pelan. “Belum bisa, Bang. Bau nasi aja bikin aku mual.”Shankara menarik kursi, duduk di sebelahnya. Ia menatap wajah istrinya lebih dekat. Vanka tampak pucat. Matanya sedikit sayu. “Dari semalam kamu juga nggak banyak minum. Abang bikinin teh hangat ya. Biar nggak jus melulu.”Vanka ingin menol
Pukul lima pagi Shankara terbangun karena perutnya yang lapar. Kemarin malam ia tidak makan. Bermaksud langsung tidur tapi tertunda karena Thalia sakit.Melihat ke sebelah, Shankara tidak menemukan istrinya. Mungkin Vanka masih di kamar Thalia.Turun dari tempat tidur, lelaki itu keluar kamar. Ia bermaksud mengambil air minum dulu, setelahnya baru ke kamar Thalia. Lampu ruang belakang terang-benderang. Ada Raline di sana. Sejak kedatangan Thalia, Raline pindah ke paviliun karena seluruh kamar terisi. Kamarnya dulu kini ditempati Lengkara.Raline sedikit terkejut sekaligus senang melihat Shankara pagi-pagi buta begini. Ia tidak sanggup berkedip melihat presensi pria gagah di hadapannya. Apalagi Shankara hanya mengenakan celana pendek berwarna putih jauh di atas paha. Ia sampai kesulitan menelan saliva karena terlalu mengagumi keindahan tubuh lelaki itu."Pagi, Pak, ada yang bisa saya bantu?" sapanya dengan senyum tipis di bibir.Entah bagaimana, tapi Shankara mendengar suara Raline s
"Gimana hasil pertemuan tadi? Guru Thalia bilang apa?" Shankara menanyakannya setelah pulang kerja malam itu."Oh, cuma soal disiplin aja kok, Bang. Sekolah Thalia ngelarang siswa pake aksesoris. Kemarin Thalia pake kalung ke sekolah," jelas Vanka menerangkan. Ia merasa bersalah karena harus berbohong tapi sudah terlanjur berjanji pada Thalia dan juga tidak ingin menambah beban pikiran suaminya.Shankara terlihat lega. "Abang pikir ada pelanggaran berat.""Nggak kok." Vanka tersenyum meyakinkan. "Syukurlah. Abang kayaknya mau langsung tidur aja, Van. Badan Abang agak nggak enak."Vanka mengangguk. Shankara membaringkan tubuhnya di kasur. Vanka juga bermaksud yang sama."Mama! Mama! Kak Thalia badannya panas!" Lengkara datang memberitahu.Vanka langsung bangkit. Rasa pusing yang sejak tadi mengganggu seolah tak ada artinya dibanding kabar itu. Ia bergegas menuju kamar Thalia. Shankara mengikutinya.Begitu pintu dibuka, Vanka langsung melihat Thalia meringkuk di ranjang. Vanka mendeka







