Share

Part 127

last update Last Updated: 2025-12-31 16:06:02

Dengan segala pertimbangan dan pemikiran, Shankara akhirnya menerima Raline untuk bekerja di rumahnya. Keesokan harinya Raline kembali datang dengan membawa dua tas besar pakaiannya.

"Pa, itu siapa?" tanya Lengkara sambil menarik ujung baju papanya.

Shankara baru akan menjawab, tapi Raline mendahuluinya. Perempuan muda itu jongkok di depan Lengkara, bibirnya melengkungkan senyum ramah, sedangkan tangannya terulur untuk bersalaman.

"Halo cantik, ini Tante Raline. Namanya siapa, Nak?"

Awalnya merasa ragu, tapi karena keramahan Raline Lengkara membalas uluran tangannya.

"Lengkara, Tante."

"Wah, cantik banget namanya, sama kayak orangnya." Raline tersenyum semakin lebar.

Anak kecil mana yang tidak akan luluh dipuji seperti itu?

"Mulai hari ini kalau Papa kerja, Lengkara tinggal di rumah sama Tante Raline." Shankara menjelaskan. "Oke?"

"Oke, Pa."

"Jangan takut sama Tante Raline ya, Sayang. Tante orangnya baik, nggak jahat kok," timpal Raline 'menjual diri'.

Lengkara mengangguk sambil ters
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Tak Sengaja Mencintaimu   Part 169

    Raline terdiam. Detik pertama, senyumnya masih ada. Detik kedua, sudut bibirnya menegang. Dan di detik ketiga, matanya bergerak cepat seperti mencari jawaban yang aman. “Eh, iya, Bu,” jawab perempuan itu akhirnya disertai tawa kecil yang terdengar dipaksakan. “Lagi proses.” “Proses gimana?” tanya Vanka santai, tapi ia sangat tertarik untuk mengetahuinya. “Udah lamar ke mana aja?” Raline menggaruk tengkuknya. “Ya … ke sana-sini, Bu. Cuma ya … zaman sekarang susah cari kerja. Apalagi yang sesuai.” Vanka mendengarkan sambil menuang adonan ke dalam loyang. “Iya sih, tapi kamu, kan, sarjana. Harusnya peluang kamu lebih banyak daripada yang lain.” “Iya, Bu. Tapi sarjana juga banyak. Yang S2 aja banyak yang nganggur apalagi yang cuma S1 kayak saya," jawab Raline mengemukakan alasannya. Vanka memandang perempuan itu sesaat. Tatapannya tenang, tapi tajam. “Makanya nggak usah terlalu pilih-pilih, Lin. Atau … kamu belum benar-benar nyari?” Raline pun tertawa. “Lho, kok gitu, Bu?” “Ya s

  • Tak Sengaja Mencintaimu   Part 168

    Sama dengan para wanita hamil lainnya, Vanka juga mengalami morning sickness parah yang membuatnya tidak bisa makan nasi. Hampir sepanjang hari Vanka hanya mengonsumsi sesuatu yang asam seperti jus jeruk, mangga muda hingga yoghurt.Alih-alih memakannya, melihat nasi hangat saja sudah cukup membuat perutnya bergejolak. Baru menghirup baunya, tenggorokannya langsung terasa pahit, kepalanya pening, dan rasa mual naik tanpa ampun. Terdengar berlebihan, tapi memang itu yang Vanka rasakan.Pagi itu, Vanka duduk di meja makan hanya dengan segelas jus jeruk di depannya. Ia menyeruput sedikit demi sedikit, wajahnya pucat, tubuhnya juga lemas.“Masih nggak bisa makan?” tegur Shankara.Vanka menggeleng pelan. “Belum bisa, Bang. Bau nasi aja bikin aku mual.”Shankara menarik kursi, duduk di sebelahnya. Ia menatap wajah istrinya lebih dekat. Vanka tampak pucat. Matanya sedikit sayu. “Dari semalam kamu juga nggak banyak minum. Abang bikinin teh hangat ya. Biar nggak jus melulu.”Vanka ingin menol

  • Tak Sengaja Mencintaimu   Part 167

    Pukul lima pagi Shankara terbangun karena perutnya yang lapar. Kemarin malam ia tidak makan. Bermaksud langsung tidur tapi tertunda karena Thalia sakit.Melihat ke sebelah, Shankara tidak menemukan istrinya. Mungkin Vanka masih di kamar Thalia.Turun dari tempat tidur, lelaki itu keluar kamar. Ia bermaksud mengambil air minum dulu, setelahnya baru ke kamar Thalia. Lampu ruang belakang terang-benderang. Ada Raline di sana. Sejak kedatangan Thalia, Raline pindah ke paviliun karena seluruh kamar terisi. Kamarnya dulu kini ditempati Lengkara.Raline sedikit terkejut sekaligus senang melihat Shankara pagi-pagi buta begini. Ia tidak sanggup berkedip melihat presensi pria gagah di hadapannya. Apalagi Shankara hanya mengenakan celana pendek berwarna putih jauh di atas paha. Ia sampai kesulitan menelan saliva karena terlalu mengagumi keindahan tubuh lelaki itu."Pagi, Pak, ada yang bisa saya bantu?" sapanya dengan senyum tipis di bibir.Entah bagaimana, tapi Shankara mendengar suara Raline s

  • Tak Sengaja Mencintaimu   Part 166

    "Gimana hasil pertemuan tadi? Guru Thalia bilang apa?" Shankara menanyakannya setelah pulang kerja malam itu."Oh, cuma soal disiplin aja kok, Bang. Sekolah Thalia ngelarang siswa pake aksesoris. Kemarin Thalia pake kalung ke sekolah," jelas Vanka menerangkan. Ia merasa bersalah karena harus berbohong tapi sudah terlanjur berjanji pada Thalia dan juga tidak ingin menambah beban pikiran suaminya.Shankara terlihat lega. "Abang pikir ada pelanggaran berat.""Nggak kok." Vanka tersenyum meyakinkan. "Syukurlah. Abang kayaknya mau langsung tidur aja, Van. Badan Abang agak nggak enak."Vanka mengangguk. Shankara membaringkan tubuhnya di kasur. Vanka juga bermaksud yang sama."Mama! Mama! Kak Thalia badannya panas!" Lengkara datang memberitahu.Vanka langsung bangkit. Rasa pusing yang sejak tadi mengganggu seolah tak ada artinya dibanding kabar itu. Ia bergegas menuju kamar Thalia. Shankara mengikutinya.Begitu pintu dibuka, Vanka langsung melihat Thalia meringkuk di ranjang. Vanka mendeka

  • Tak Sengaja Mencintaimu   Part 165

    Dulu saat mengandung Lengkara, Vanka menjalani hari-hari yang tidak mudah. Begitu juga dengan kehamilan keduanya ini. Setiap hari Vanka merasa lelah dan khawatir. Mual dan muntah adalah rutinitas baru. Energinya jauh lebih cepat habis dibanding biasanya.Bangun pagi saja sudah butuh perjuangan ekstra. Bahkan sarapan sederhana kadang terasa berat, padahal nutrisi penting untuk bayi di dalam kandungan. Ia pun harus lebih hati-hati dalam bergerak.Di sisi lain, pikiran Vanka tidak pernah benar-benar tenang. Ia sering memikirkan reaksi Thalia, khawatir anak sambungnya akan semakin menolak. Sementara itu, Shankara selalu berusaha menenangkan. Namun Vanka tetap merasa beban itu ada di pundaknya.Meski begitu, ada momen-momen manis yang membuatnya tersenyum sendiri. Saat Lengkara memeluk perutnya dan bertanya apakah adik dalam perutnya itu sudah bisa mendengar suara Mama, atau saat Shankara mengelus dan mengecup lembut perutnya.Semua itu memberi kekuatan tersendiri bagi Vanka. Walau lelah,

  • Tak Sengaja Mencintaimu   Part 164

    "Kita harus kasih tahu anak-anak soal kehamilan kamu," kata Shankara setelah mereka berada di kamar.Vanka menggeleng tidak setuju. "Jangan sekarang, Bang. Thalia lagi sensitif.""Ya nggak sekarang, Van. Besok pagi maksud Abang," lanjut Shankara agar lebih jelas. "Dan soal Thalia, itu anak emang sensitif sepanjang waktu. Jadi tujuan Abang ngasih tahu ke dia lebih awal agar dia hati-hati dan jaga sikap ke kamu karena kamu lagi hamil."Vanka terdiam. Jarinya saling mengait gelisah di atas paha. “Bang, aku takut,” ucapnya lirih. “Takut dia malah makin benci.”Shankara menatap istrinya lekat-lekat. "Van, kamu istri Abang." Lalu Shankara menempelkan telapak tangannya di perut Vanka yang masih rata. "Dan ini anak kita. Kamu nggak salah apa-apa. Dan Thalia harus belajar menerima kenyataan itu."Vanka menghela napas. “Aku cuma nggak mau bikin dia makin sakit.”“Abang yang tanggung jawab,” balas Shankara. “Biar Abang yang ngomong. Biar Abang yang hadapi dia.”***Pagi ini seperti biasa keluar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status