Share

Part 156

last update Last Updated: 2026-01-09 16:22:11

Malam itu juga Shankara membawa Thalia pindah ke rumahnya. Shankara tahu sebelum membuat keputusan itu harus mendiskusikannya lebih dulu dengan Vanka. Tapi saat melihat wajah putrinya yang basah oleh air mata, tubuh yang gemetar dalam pelukannya, dan Calista yang mengusirnya, membuat ia harus mengambil keputusan saat itu juga. Ia tidak bisa menunda lagi.

Di dalam mobil, Thalia duduk sambil memeluk tas. Tatapannya tertuju ke jendela di samping kirinya. Hampir sepanjang perjalanan anak itu menangis.

Shankara hanya membiarkan. Calista benar-benar berhasil menyuntikkan doktrinnya pada sang putri hingga Thalia selalu berpihak padanya.

Vanka yang duduk di belakang juga diam. Sejak tadi ia tidak bicara apa pun. Bukan karena tidak peduli, tapi karena ia tahu suaranya tidak dibutuhkan.

Sesekali Shankara melirik Vanka melalui spion. Wajah istrinya terlihat tenang. Tapi ia tahu Vanka sedang menahan banyak hal.

Sampai akhirnya mobil berhenti di depan rumah.

Thalia tidak mau turun. Tangannya men
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Ayu Ayuningtiyas
sabar Vanka , ini cobaan mu .semoga thalia bisa menjadikan kamu ibunya dan sahabatnya.
goodnovel comment avatar
Tari Emawan
lanjut kk, btw tq ya
goodnovel comment avatar
Yeni Ari
Biasanya yg nyebelin itu ibu tiri ya wkwk... Semangat Van...anak se'barbar gt dihadapi dgn kelembutan dan dibalas kasih sayang...mungkin lama2 Thalia capek sendiri serumah soft spoken,dia ngomongnya pake urat.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Tak Sengaja Mencintaimu   Part 164

    "Kita harus kasih tahu anak-anak soal kehamilan kamu," kata Shankara setelah mereka berada di kamar.Vanka menggeleng tidak setuju. "Jangan sekarang, Bang. Thalia lagi sensitif.""Ya nggak sekarang, Van. Besok pagi maksud Abang," lanjut Shankara agar lebih jelas. "Dan soal Thalia, itu anak emang sensitif sepanjang waktu. Jadi tujuan Abang ngasih tahu ke dia lebih awal agar dia hati-hati dan jaga sikap ke kamu karena kamu lagi hamil."Vanka terdiam. Jarinya saling mengait gelisah di atas paha. “Bang, aku takut,” ucapnya lirih. “Takut dia malah makin benci.”Shankara menatap istrinya lekat-lekat. "Van, kamu istri Abang." Lalu Shankara menempelkan telapak tangannya di perut Vanka yang masih rata. "Dan ini anak kita. Kamu nggak salah apa-apa. Dan Thalia harus belajar menerima kenyataan itu."Vanka menghela napas. “Aku cuma nggak mau bikin dia makin sakit.”“Abang yang tanggung jawab,” balas Shankara. “Biar Abang yang ngomong. Biar Abang yang hadapi dia.”***Pagi ini seperti biasa keluar

  • Tak Sengaja Mencintaimu   Part 163

    Vanka tahu betul menggunakan tes kehamilan lebih efektif jika dilakukan pada pagi hari. Tapi ia tidak sabar menunggu besok. Jadi ia melakukannya saat itu juga. Setelah menampung urinnya dengan wadah yang diberikan Andara, Vanka menyelupkan benda pipih itu ke dalamnya. Ia menunggu beberapa saat dengan degup jantung di atas normal. Lalu ... Vanka mengangkatnya. 'Ya Tuhan ...' Sepasang matanya berkaca-kaca menanggung perasaan haru ketika melihat dua garis biru sejajar di sana. Doanya siang dan malam akhirnya menjadi kenyataan. Hamil. Ia benar-benar hamil. "Van, gimana?" panggil Andara dari balik pintu kamar mandi. Vanka tersentak. Ia cepat-cepat menyeka pipinya. Test pack itu ia genggam erat-erat. “Masuk aja, Ra.” Pintu dibuka perlahan. Andara melangkah masuk, matanya langsung menangkap wajah Vanka. “Gimana, Van?” Andara mendekat cepat. Vanka mengangkat tangan, memperlihatkan test pack itu. "Positif! Selamat ya, Van." Andara langsung memeluk Vanka. Ia ikut bahagia. "Ma

  • Tak Sengaja Mencintaimu   Part 162

    Hari ini Kaivan, anak pertama Ananta dan Andara berulang tahun. Jadi Shankara membawa istri dan anak-anaknya ke sana. Memang bukan perayaan besar-besaran. Hanya kumpul-kumpul keluarga dan makan malam bersama."Thalia mana, Van?" Shankara menanyakannya lantaran sang putri sulung masih belum terlihat."Kayaknya masih di kamarnya deh, Bang," jawab Vanka."Coba kamu panggil dia."Patuh, Vanka mendatangi kamar Thalia.Vanka mengetuk pintu dan tidak ada jawaban. Ia mendorongnya sedikit, mendapati pintu tidak terkunci.“Thal?” panggilnya.Thalia berdiri di depan cermin, punggungnya menghadap pintu. Rambutnya dibiarkan tergerai, eyeshadow gelap membingkai mata, lipstik merah menyala kontras dengan kulitnya. Ia mengenakan crop tee yang membuat perut dan pusarnya terekspos dengan jelas serta rok mini hitam. Sepasang high heels sudah siap di lantai.Vanka tertegun. “Thalia, kamu mau ke mana?”Anak tirinya itu menoleh, menilai pantulan dirinya sendiri, lalu mengangkat dagu. “Ke rumah Tante Andar

  • Tak Sengaja Mencintaimu   Part 161

    Waktu menunjukkan pukul delapan malam lewat sepuluh menit ketika suara motor Shankara terdengar memasuki halaman rumah.Thalia yang sedang main ponsel di sofa langsung menegakkan punggung. Ia mengatur ekspresi dan menata suaranya.Shankara masuk dengan wajah lelah.Thalia melirik sekilas, lalu memalingkan wajah dengan dengkusan kecil.“Papa capek banget hari ini.”Thalia tidak menjawab. Ia malah semakin menenggelamkan fokus pada gadget di tangannya.Shankara lalu duduk di sebelah anak itu. "Main hp terus. Nggak belajar?" tanyanya."Udah," jawab anak itu singkat."Terus kenapa mukamu kayak bete gitu?"Thalia menghela napas panjang. “Nggak apa-apa.”“Kalau nggak apa-apa, kenapa mukanya kayak gitu? Ada masalah apa lagi?”Thalia diam sebentar, lalu mengatakan, “Papa beneran mau tahu?”“Ya.”“Pa, Tante Vanka itu genit.”Shankara mengedip sekali. Lalu tertawa kecil. “Hah?”“Aku serius, Pa!” ujar Thalia cepat, merasa kurang puas dengan reaksi papanya. “Tadi di sekolah dia sok senyum-senyum s

  • Tak Sengaja Mencintaimu   Part 160

    "Mulai hari ini Tante Vanka yang akan mengantar kamu ke sekolah." Shankara membuat pengumuman ketika pagi itu mereka sarapan pagi bersama.Thalia spontan mengangkat wajahnya dan memandang sang ayah dengan tatapan penuh protes. Ia menggeser matanya sesaat pada Vanka tanpa perlu repot-repot menyembunyikan ketidaksukaannya. “Kenapa harus dia?” tanya Thalia ketus. “Kan, biasanya Papa.”“Karena Papa mau buka bengkel lebih pagi.”“Ah, Papa nggak asyik. Aku mau nyetir sendiri aja!" Thalia memberengut dan mengusap bekas susu yang menempel di sudut bibirnya dengan kasar.Lengkara hanya diam memerhatikan. Ia tidak berani bicara. Sudah seminggu Thalia tinggal di situ. Awalnya Lengkara senang memiliki kakak. Tetapi tiap kali dirinya mendekat, Thalia langsung melotot. Lengkara merasa takut dan tidak berani lagi mendekat alih-alih mengajaknya bermain."Kamu belum punya SIM, Thalia. Gimana mungkin mau bawa mobil sendiri.""Papa sih sok-sok-an nyuruh aku putus samaYudha." Gadis itu bersungut-sungu

  • Tak Sengaja Mencintaimu   Part 159 (Mature Content)

    "Jadi kapan kamu balik kerja lagi, Van?""Kalau bisa secepatnya sih. Aku lagi urus SIP-ku. Tapi ya kamu tahulah semua itu nggak gampang dan butuh waktu.""Iya juga sih. Tapi aku nggak bisa bantu banyak, Van. Cuma bisa bantu lewat doa.""Thank's ya, Win. It means a lot to me.""Sama-sama, Sayangku. Semangat!" ucap Wina di seberang telepon, memberi Vanka motivasi."Semangat!" jawab Vanka sambil tertawa lalu menutup panggilan. Sudah sangat lama Vanka tidak berkomunikasi dan bergaul dengan teman-temannya. Dan ia merindukan itu.Vanka buru-buru meletakkan ponsel ketika mendengar suara mobil. Vanka menyongsong ke depan.Shankara yang pulang."Tumben Abang pulang jam segini? Aku baru aja mau ngantar makan siang ke sana," ujar Vanka setelah suaminya turun dari mobil."Abang kangen kamu makanya pulang sebentar biar bisa ngeliat kamu," jawab lelaki itu dengan kuluman senyumnya yang khas, membuat Vanka tersipu malu."Ya udah, aku siapin makan siang dulu buat Abang.""Nanti aja makan siangnya. Ab

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status