Mag-log in"Tuan Arthur Sinclair adalah pemilik akun utama dari semua kartu kredit Anda, Nyonya. Beliau sudah mencabut semua akses Anda malam ini.""Saya tidak mau mengambil risiko membela klien yang hartanya sedang disita negara. Maafkan saya, Nyonya. Selamat malam," tutup pengacara itu sepihak.Sambungan telepon terputus, menyisakan bunyi nada tut-tut-tut yang menggema menyakitkan di telinga Beatrice.Komandan polisi menarik kembali ponsel itu, lalu mematikannya dan memasukkannya ke dalam kantong plastik barang bukti.Beatrice membeku di jok belakang. Mulutnya terbuka menelan udara kosong.Kenyataan bahwa Arthur benar-benar menelanjanginya secara finansial kini menghantamnya dengan telak.Ia tidak punya uang tunai satu rupiah pun di dompetnya.Semua kartu kredit yang biasa ia gesek untuk membeli tas miliaran rupiah kini hanya menjadi potongan plastik tidak berguna.Ia resmi menjadi gembel di jalanan.Mobil kepolisian berbelok memasuki pelataran markas kepolisian sektor pusat yang ter
Mobil kepolisian itu langsung menyalakan mesinnya, melaju meninggalkan pekarangan luas kediaman Sinclair membelah gerimis malam ibu kota.Di dalam mobil, Beatrice menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya.Borgol di tangannya terasa makin menyakitkan, menggores kulit pergelangannya setiap kali mobil melewati jalanan berlubang.Ia menatap keluar kaca jendela yang berembun, melihat deretan rumah mewah di kawasan elit itu perlahan tertinggal di belakang.Pikirannya berputar sangat cepat, mencari cara untuk menyelamatkan dirinya dari ancaman penjara yang menanti di ujung jalan ini.Ia tidak bodoh. Ia masih memiliki beberapa kartu as di tangannya."Pak Polisi, aku harus menghubungi pengacaraku! Aku punya hak untuk menelepon!" tuntut Beatrice dari kursi belakang dengan nada membentak.Petugas yang menyetir mobil hanya melirik dari kaca spion tengah tanpa mengatakan apa pun."Dengar tidak?! Aku ini Nyonya Besar Sinclair! Aku punya uang miliaran rupiah di bank! Aku akan bayar kalian ma
"Kalung ini kamu beli tadi siang pakai uang curian dari kas perusahaanku. Kamu benar-benar tidak punya rasa malu sedikit pun, Beatrice," cibir Arthur meremas kalung itu di dalam genggamannya.Beatrice menangis meraung-raung meratapi perhiasannya yang dirampas paksa.Ia kini terlihat sangat berantakan, gaun beludru merahnya kotor terkena debu lantai, dan lehernya kosong tanpa perhiasan apa pun.Penampilannya tidak jauh berbeda dengan seorang penipu murahan yang tertangkap basah di pasar malam.Ethan Vance yang sedari tadi menonton proses pengusiran itu melangkah maju memecah ketegangan.Pria penguasa bisnis itu merengkuh pinggang Tiffany, membawa istrinya mendekati Arthur yang masih memendam amarah."Waktu pertunjukannya sudah habis, Arthur. Suruh petugas membawa sampah ini keluar dari rumahmu sekarang," saran Ethan dengan nada bariton yang sangat dominan.Arthur mengangguk setuju, ia memutar wajahnya menatap komandan polisi yang memegang lengan istrinya."Bawa dia pergi, Koman
"Sebutkan satu saja barang di rumah ini yang kamu beli pakai uang hasil keringatmu sendiri, Beatrice," tantang pria tua itu tajam.Beatrice membeku seketika, mulutnya ternganga tidak bisa menjawab tantangan mutlak tersebut.Ia tidak pernah bekerja satu hari pun sejak menikah dengan Arthur.Seluruh tas mewah Hermes, sepatu merek ternama, hingga perhiasan berlian yang menumpuk di lemarinya dibeli menggunakan uang suaminya."Tas kulit buaya yang kamu banggakan itu kubeli seharga lima ratus juta dari lelang di Paris," bongkar Arthur menghitung aset istrinya."Pakaian sutra di lemarimu semuanya dibayar pakai kartu kredit perusahaanku.""Kamu datang ke rumah ini tiga belas tahun lalu hanya membawa satu koper pakaian murah. Dan malam ini, kamu akan pergi dengan tangan kosong," vonis Arthur tanpa ampun.Mata Beatrice membelalak lebar, ketakutan luar biasa merayapi tulang punggungnya.Pergi tanpa membawa apa pun berarti ia benar-benar jatuh miskin dalam sekejap mata."Kamu gila, Ar
Kertas putih berisi gugatan cerai itu bergetar pelan di depan wajah Beatrice Rosewood.Tinta hitam yang tercetak di atas lembaran tersebut seolah berubah menjadi belati tajam yang menusuk langsung ke sepasang bola matanya.Napas wanita paruh baya itu berhenti total selama beberapa detik.Jantungnya serasa diremas kuat oleh tangan kasat mata hingga seluruh aliran darah di tubuhnya membeku.Gelar Nyonya Besar Sinclair, status yang ia puja dan ia pertahankan dengan segala macam cara kotor selama belasan tahun, kini resmi dicabut paksa.Arthur Sinclair menatap istrinya tanpa sedikit pun sisa belas kasihan di sorot matanya yang tajam.Pria tua itu memegang map putih tersebut dengan tangan mantap, membiarkan kenyataan pahit itu menghancurkan sisa-sisa kewarasan Beatrice malam ini."Kamu menceraikan aku?" bisik Beatrice dengan bibir yang gemetaran hebat.Suaranya terdengar sangat parau, nyaris pecah ditelan isak tangisnya sendiri."Aku membuangmu, Beatrice. Aku membuang pengkhianat
Beatrice menggelengkan kepalanya pelan, air matanya berjatuhan ke atas gaun merahnya yang kotor.Pikirannya sudah buntu. Ia tidak bisa menebak hukuman apalagi yang sudah disiapkan oleh suaminya untuk menyiksa sisa hidupnya."Apakah ini surat penyitaan aset pribadiku?" tebak Beatrice dengan suara bergetar nyaris berbisik."Atau ini surat perintah penahanan dari kejaksaan agung? Tolong jangan siksa aku lagi, Arthur. Aku sudah tidak kuat," rengek wanita itu memohon belas kasihan.Arthur mendengus pelan, menatap tajam ke dasar kebodohan istrinya."Surat penahananmu sudah diurus oleh kepolisian. Seluruh hartamu sudah disita oleh negara," jawab Arthur membongkar fakta hukum yang sudah berjalan."Map putih ini tidak ada hubungannya dengan harta atau uang. Ini adalah sesuatu yang jauh lebih penting dari semua perusahaan yang aku miliki," lanjut pria tua itu penuh penekanan.Arthur perlahan membuka sampul map putih tersebut.Suara gesekan kertas di dalam map itu terdengar sangat nyari
"Aku setuju menikah dengan Ethan Vance," ucap Tiffany dengan nada yang sangat tenang, seolah dia baru saja membicarakan menu sarapan pagi.Kata-kata itu meluncur dengan presisi yang mengejutkan, memotong udara tegang dengan ketajaman pisau bedah. Chloe yang baru saja bersiap mengeluarkan rengekan
Beatrice meletakkan cangkir tehnya dengan denting yang halus namun tajam, lalu meraih tangan Chloe yang masih terulur manja ke arah Arthur. Tatapannya tertuju lurus pada suami yang kini tampak bimbang di bawah pengaruh kata-katanya. Dia mengusap punggung tangan Chloe dengan penuh kasih sayang yang
Tiffany menarik napas panjang, menata detak jantungnya agar tetap stabil sebelum melangkah keluar dari kamar. Setiap langkahnya menuruni tangga pualam terasa begitu nyata, membawa ingatan menyakitkan sekaligus harapan baru yang menyala terang. Suara tawa samar dari ruang keluarga terdengar semakin
Kegelapan abadi yang pekat dan menyesakkan menyelimutinya setelah letusan pistol kedua menggema di ruang kerja Christian Ashford. Suara itu seolah merobek ruang dan waktu, meninggalkan keheningan total yang membekukan jiwa Tiffany Sinclair. Dia merasakan kesadaran dirinya perlahan memudar, hancur







