LOGINAura membunuh yang pekat memancar kuat dari tubuh Ethan, membuat udara di sepanjang lorong berlantai marmer itu terasa membeku seketika.Sepasang matanya yang tajam menatap foto Chloe di layar ponsel Marcus tanpa berkedip, mencerna setiap detail tindakan tidak tahu diri dari janda itu. Marcus yang berdiri tepat di hadapannya bisa merasakan dorongan amarah luar biasa yang membakar dada bos besarnya, menantikan perintah pembantaian yang biasanya meluncur tanpa ampun.Namun, keterkejutan melintas di wajah Marcus sewaktu hembusan napas panjang keluar perlahan dari hidung tegap Ethan.Ketegangan di bahu kokoh pria itu mendadak mengendur, digantikan oleh ketenangan dingin yang jauh lebih mengerikan daripada kemarahan yang meledak-ledak. Ethan menegakkan posisi tubuhnya, memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana bahan mewahnya dengan sikap santai yang penuh perhitungan."Tuan, apakah Anda ingin saya membawa tim pengawal sekarang juga untuk menyeret Chloe dan staf rumah sakit itu
Hembusan angin sore yang membawa aroma dedaunan basah bergesek lembut di balik kaca jendela besar ruang keluarga.Tiffany tertidur lelap dalam dekapan erat Ethan, napasnya berembus teratur dengan wajah yang memancarkan ketenangan tiada tara. Ethan mengusap pelan rambut panjang istrinya, memastikan posisi kepala Tiffany tetap nyaman di dada bidangnya tanpa sedikit pun bergeser.Di lantai bawah kediaman megah keluarga Vance, suasana ruang kendali keamanan utama tampak berkilau oleh puluhan layar monitor yang menyala terang.Marcus berdiri tegap di tengah ruangan bercat abu-abu gelap itu, memandangi pergerakan belasan pengawal yang bersiaga di depan pagar dan setiap sudut pekarangan. Ponsel khusus berenkripsi tinggi di dalam saku jasnya mendadak bergetar hebat tiga kali berturut-turut, memecahkan keheningan ruangan dengan nada peringatan darurat yang amat nyaring.Marcus merogoh saku jasnya dengan cepat, menekan tombol layar untuk melihat notifikasi khusus yang terhubung langsung ke
Lina menarik cepat gelang emas berhias berlian itu ke bawah kolong meja loket, menyembunyikannya di dalam saku seragam merah mudanya dengan gerakan jemari yang sangat gemetaran.Pandangan matanya yang panik menyapu lorong di sekitarnya sekali lagi, memastikan tidak ada langkah kaki supervisor yang mendekati bilik loket administrasi sepi tersebut.Dengan napas yang memburu dan jemari kaku, Lina mengetikkan nama lengkap Tiffany Vance pada papan ketik komputer tua di hadapannya secara diam-diam.Layar monitor tabung itu berkedip singkat sebelum menampilkan sebaris data medis singkat yang baru saja diperbarui oleh Dokter Siska beberapa jam lalu dari lantai VIP.Lina membungkuk lebih rendah, membisikkan baris kata di layar monitor itu tepat di depan celah kaca tempat Chloe menempelkan telinganya dengan ketat."Usia kandungannya masuk empat bulan ... dan hasil ultrasound menyatakan beliau hamil anak kembar," bisik Lina dengan nada suara yang bergetar ketakutan setengah mati.Chloe me
Napas Chloe berembus kencang, menyemburkan hawa panas yang membakar tenggorokannya sendiri saat deretan mobil lapis baja milik Ethan lenyap di belokan jalan raya.Ia melempar beberapa lembar uang kertas kusut ke jok depan taksi tanpa menghitung jumlahnya, lalu melompat keluar dari kendaraan biru tua yang berbau remap itu. Langkah kakinya yang menghentak keras di atas lantai semen area parkir membawa tubuhnya menerobos masuk kembali ke dalam gedung rumah sakit swasta tersebut.Rasa iri yang membakar jiwanya menguasai seluruh akal sehat, menuntut kepastian atas alasan apa wanita yang paling ia benci itu mendatangi rumah sakit eksklusif ini.Chloe memoles lipstik merah menyala di bibirnya seraya melintasi lorong utama bercat putih bersih, mengamati setiap sudut dengan mata menyipit tajam. Ia mengabaikan deretan perawat dan dokter spesialis yang lalu lalang dengan langkah terburu-buru, memilih menyusuri lorong samping yang agak sepi menuju area administrasi umum.Di balik meja loket
Ponsel di genggaman Ethan seketika mati saat ia memutus sambungan telepon secara sepihak tanpa menunggu balasan lagi dari sekretaris utamanya.Marcus di kursi kemudi segera mencatat instruksi tegas tersebut, mengetikkan pesan kilat ke seluruh tim manajemen pusat agar membatalkan agenda rapat akbar secara permanen. SUV lapis baja itu melaju makin tenang melintasi jalanan kota yang cerah, membawa pasangan suami istri itu menuju kediaman mereka yang aman.Sementara itu, di seberang area pintu keluar rumah sakit swasta paling eksklusif di pusat kota, sebuah mobil taksi berwarna biru kusam terparkir di pinggir jalan.Hawa panas menyengat dari mesin tua taksi beradu kaku dengan hembusan pendingin udara kendaraan yang mati segan hidup tak mau. Di dalam kabin belakang taksi tersebut, Chloe Belmont duduk bersandar dengan bahu yang menegang kaku dan raut wajah dipenuhi amarah tersembunyi.Chloe merapatkan tubuhnya ke kaca jendela yang kusam, sepasang matanya menatap tajam ke arah deretan m
Isak tangis bahagia Tiffany pecah pelan di dalam ruangan pemeriksaan medis yang berudara sejuk itu.Irama detak jantung ganda yang bergaung nyaring di pengeras suara seolah menjadi melodi paling indah yang pernah menyentuh gendang telinga Ethan. Pria tegap itu mengecup punggung tangan istrinya berulang kali, mengusapkan air mata hangat yang tanpa sadar menetes basah di pelipis Tiffany.Dokter Siska menyapu permukaan perut Tiffany menggunakan tisu medis steril, membersihkan sisa gel bening dengan gerakan perlahan."Kondisi rahim dan kedua janin sangat kuat, Nyonya Tiffany," tutur Dokter Siska ramah seraya menyerahkan selembar foto cetakan ultrasound berwarna hitam putih."Namun karena ini kehamilan kembar, tekanan pada tubuh akan dua kali lipat lebih besar," lanjut sang dokter memberi peringatan penting.Ethan menyambar kertas foto hasil cetakan medis tersebut dengan gerakan cepat namun sangat hati-hati.Sepasang matanya menatap dua siluet mungil di dalam gambar kertas itu, seol
Tiffany berdiri di depan jendela besar kamarnya, menatap hamparan lampu kota yang berpijar layaknya ribuan mata yang mengawasi. Angin malam berhembus pelan, membawa hawa dingin yang menyentuh kulitnya, namun ia tak sedikit pun merasa kedinginan. Pikirannya jauh lebih hangat, dipenuhi oleh kalkulas
"Aku setuju menikah dengan Ethan Vance," ucap Tiffany dengan nada yang sangat tenang, seolah dia baru saja membicarakan menu sarapan pagi.Kata-kata itu meluncur dengan presisi yang mengejutkan, memotong udara tegang dengan ketajaman pisau bedah. Chloe yang baru saja bersiap mengeluarkan rengekan
Beatrice meletakkan cangkir tehnya dengan denting yang halus namun tajam, lalu meraih tangan Chloe yang masih terulur manja ke arah Arthur. Tatapannya tertuju lurus pada suami yang kini tampak bimbang di bawah pengaruh kata-katanya. Dia mengusap punggung tangan Chloe dengan penuh kasih sayang yang
"Christian, hentikan semua kegilaan ini! Buka pintunya!"Tiffany Sinclair menggedor pintu kayu ek ruang kerja suaminya dengan sisa tenaga yang ia miliki. Suara isakan tertahan dari para pelayan yang berkumpul di ujung koridor memenuhi udara yang mendadak terasa mencekik. Mereka gemetar, saling be







