FAZER LOGIN"Kamu tidak tahu betapa menderitanya aku sejak kamu meninggalkanku dan memilih wanita sialan itu," oceh Chloe lagi seraya memiringkan kepalanya di bahu Ethan."Dia tidak sebanding denganku, Ethan. Dia cuma wanita polos yang kebetulan beruntung mengandung anakmu," tekan Chloe dengan nada penuh kebencian yang mendalam."Biarkan aku menggantikan posisinya malam ini. Aku janji aku bisa membuatmu melupakan wanita itu untuk selamanya," bujuk Chloe seraya mencoba mengecup leher Ethan.Sebelum bibir tebal berlipstik merah menyala itu sempat menyenggol kulit lehernya, Ethan menggerakkan kepalanya secara mendadak ke arah kanan dengan sangat cepat.Sentuhan bibir Chloe meleset sepenuhnya, hanya menghantam udara kosong di balik kerah kemeja hitam yang terpasang amat rapi dan bersih.Pria tegap itu mengetukkan ujung jarinya ke atas meja mahoni, menyebarkan dentuman pelan yang menggema keras di seluruh penjuru ruangan yang sunyi tersebut."Lanjutkan saja aksimu, Chloe. Buat rekaman malam i
Jemari Ethan menari lincah di atas permukaan layar sentuh ponsel pintarnya, mengetikkan beberapa kata singkat sebelum mengirimkannya tanpa suara.Cahaya kebiruan dari layar ponsel itu memantul di sudut matanya yang tajam, mempertegas raut wajah dingin yang sama sekali tak tergerak oleh godaan di depannya.Chloe yang berdiri mematung hanya bisa menahan napas sewaktu melihat ketenangan luar biasa yang dipamerkan oleh pria berkuasa di hadapannya tersebut.Tangan kiri Chloe yang mengambang kaku di udara perlahan ditarik kembali, meremas pinggiran tas genggam mewahnya dengan kuku-kuku yang menekan sangat kuat.Ia mencoba menata kembali sisa-sisa keberaniannya yang sempat porak-poranda disengat oleh tatapan penuh penghinaan yang dilemparkan oleh Ethan."Apa yang sedang kamu lakukan, Ethan? Kenapa kamu malah sibuk dengan ponselmu di saat aku ada di sini?" tanya Chloe dengan nada suara yang sedikit bergetar."Aku membiarkanmu melakukan apa saja yang ingin kamu lakukan malam ini, Chloe,
Sensasi dingin dari marmer dan karpet tebal tak mampu meredam gelombang nekat yang mendidih di dalam dada Chloe.Langkah kakinya memutar perlahan melintasi sisi meja mahoni raksasa, memperpendek jarak dengan pria yang duduk bersandar santai di kursi kulitnya. Setiap gesekan bahan gaun malam hitam ketat yang melilit tubuhnya menimbulkan desis halus, dibarengi aroma wewangian tajam yang makin menyengat ruangan.Sepasang mata Chloe yang terpoles riasan tebal terkunci lurus pada wajah tampan berahang kaku milik sang penguasa dunia bisnis.Ia sengaja meliukkan pinggangnya yang ramping, membiarkan siluet tubuhnya terpampang penuh di bawah pendar redup lampu kristal gantung. Senyum miring yang sarat akan hasrat dan hasutan terpancar jelas di bibir tebalnya yang berpoles merah menyala."Aku tahu kamu hanya berpura-pura bersikap dingin padaku di depan anak buahmu, Ethan," bisik Chloe dengan suara mendesah yang sengaja dibuat serak basah."Di ruangan sepi ini, hanya ada aku dan kamu. Tida
"Jangan pernah berani mengucapkan nama istriku dengan mulut kotormu itu, Chloe," pangkas Ethan dingin tanpa mengubah nada suaranya yang tenang."Satu huruf saja nama Tiffany keluar dari bibirmu di ruangan ini, aku pastikan kamu tidak akan pernah bisa melangkah keluar dengan kedua kakimu sendiri," ancam Ethan tajam.Chloe sedikit tersentak kaget mendengarkan nada bicara Ethan yang tiba-tiba bergeser menjadi begitu pekat oleh aura intimidasi.Namun rasa percaya diri palsu yang membakar jiwanya dengan cepat menutupi celah ketakutan itu, menggantinya dengan kepura-puraan yang lebih nekat.Ia tertawa pelan, sebuah tawa manja yang sengaja dibuat-buat untuk mencairkan suasana membeku di antara mereka berdua."Kenapa kamu harus seformal ini saat kita cuma berdua, Ethan? Apakah kamu takut kalau perasaanmu yang dulu kembali tumbuh saat melihatku dekat?" goda Chloe.Ia memberanikan diri memajukan jari-jarinya yang berpolesan cat kuku merah menyala, berniat menyentuh pinggiran kemeja hitam
Suara klik pelan dari daun pintu jati yang merapat sempurna bergema halus di dalam ruangan berhiaskan panel kayu mahoni tersebut.Chloe melangkah lebih dalam, merasakan kehangatan pendingin udara yang membelai kulit bahunya yang terbuka lebar di balik gaun malam hitamnya.Aroma wewangian kayu cedar yang khas menyergap indra penciumannya, bercampur tipis dengan aroma tajam dari segelas minuman beralkohol tua di atas meja.Di balik meja kayu mahoni raksasa yang tampak kokoh, Ethan Vance duduk bersandar dengan gaya yang teramat sangat santai dan anggun.Pria tampan itu melepas jas mewahnya, membiarkan kemeja hitamnya tergulung rapi hingga pertengahan lengan, menyingkap kesan tegap dan berkuasa yang amat dominan.Tangan kanannya menggenggam pelan sebuah gelas kristal berisi cairan berwarna cokelat keemasan, memutarnya perlahan hingga es batu di dalamnya berdenting halus.Tidak ada Marcus di sampingnya, tidak ada barisan pengawal berbadan tegap yang mengelilinginya, hanya ada Ethan
Dada Chloe bergelombang naik turun menahan rasa tidak sabar yang kian memuncak saat membayangkan detik-detik ia berhasil berdua saja dengan pria idamannya.Ia sengaja meluruskan posisi punggungnya, meliukkan sedikit pinggangnya yang ramping agar gaun hitam ketat itu makin mempertegas keindahan lekuk tubuhnya.Kartu akses plastik hitam yang tadi ia gunakan untuk membuka pintu tangga darurat kini ia selipkan ke dalam celah tas genggam mewahnya dengan gerakan anggun.Ia merasa kartu murah itu telah berubah menjadi kunci takdir yang membawanya kembali ke tahta kejayaan yang sempat terenggut beberapa saat lalu.Setiap desah napas yang keluar dari mulutnya terasa amat hangat, memanaskan tekad bulat di dalam jiwanya untuk melakukan apa saja demi meluluhkan hati Ethan.Ia tahu Ethan adalah pria yang keras kepala, tidak mudah dipengaruhi oleh tangisan atau burayan air mata murahan seperti yang dilakukan wanita biasa.Oleh karena itu, Chloe memilih menggunakan pendekatan yang agresif, me
Tiffany berdiri di depan jendela besar kamarnya, menatap hamparan lampu kota yang berpijar layaknya ribuan mata yang mengawasi. Angin malam berhembus pelan, membawa hawa dingin yang menyentuh kulitnya, namun ia tak sedikit pun merasa kedinginan. Pikirannya jauh lebih hangat, dipenuhi oleh kalkulas
"Aku setuju menikah dengan Ethan Vance," ucap Tiffany dengan nada yang sangat tenang, seolah dia baru saja membicarakan menu sarapan pagi.Kata-kata itu meluncur dengan presisi yang mengejutkan, memotong udara tegang dengan ketajaman pisau bedah. Chloe yang baru saja bersiap mengeluarkan rengekan
Beatrice meletakkan cangkir tehnya dengan denting yang halus namun tajam, lalu meraih tangan Chloe yang masih terulur manja ke arah Arthur. Tatapannya tertuju lurus pada suami yang kini tampak bimbang di bawah pengaruh kata-katanya. Dia mengusap punggung tangan Chloe dengan penuh kasih sayang yang
Tiffany menarik napas panjang, menata detak jantungnya agar tetap stabil sebelum melangkah keluar dari kamar. Setiap langkahnya menuruni tangga pualam terasa begitu nyata, membawa ingatan menyakitkan sekaligus harapan baru yang menyala terang. Suara tawa samar dari ruang keluarga terdengar semakin







