LOGINPria itu menyandarkan kepalanya ke bantalan sofa kulit, menatap langit-langit ruangan kerjanya dengan senyuman yang luar biasa tajam.Rencana penghancuran yang ia susun di dalam kepalanya kini telah mendapatkan seluruh bahan bakar utama yang dibutuhkan.Bukti-bukti di dalam map hitam ini bukan sekadar senjata biasa, melainkan sebuah bom nuklir yang akan membumihanguskan nama Beatrice tanpa sisa."Kapan Anda berencana meledakkan bom waktu ini di hadapan keluarga Sinclair, Tuan Vance?" tanya Marcus memecah kesunyian ruangan.Ethan menoleh ke arah Marcus, menopang dagunya menggunakan punggung tangan kanannya yang kokoh."Beatrice baru saja mengusir putri kandungnya sendiri demi menyelamatkan posisinya di mata Arthur," ucap Ethan memulai perhitungannya."Pagi ini, laporannya mengatakan bahwa wanita itu sedang berpesta merayakan kemenangannya dengan memborong perhiasan mewah di pusat kota.""Dia merasa dirinya adalah ratu yang tidak tergoyahkan. Kepercayaan dirinya sedang berada di
"Ternyata selera Nyonya Sinclair cukup buruk," ejek Ethan seraya mengambil lembaran foto itu dan mendekatkannya ke depan wajahnya."Dia rela tidur dengan musuh suaminya sendiri di gubuk perbukitan itu hanya demi mendapatkan janji perlindungan palsu dari Hector.""Berdasarkan informasi tambahan yang saya dapatkan pagi ini, Hector Sterling berencana mengakuisisi paksa perusahaan Arthur bulan depan, Tuan Vance," sahut Marcus."Hector menggunakan dokumen internal yang diserahkan Beatrice untuk menekan para pemegang saham lain agar menjual porsi saham mereka."Ethan mengangguk pelan, meletakkan kembali foto tersebut ke dalam saku plastik, lalu membalik halaman map hitam menuju bukti kedua.Matanya langsung menyorot tajam pada lembaran kertas berisi grafik aliran dana Yayasan Kasih Sinclair yang sengaja ditandai dengan stabilo kuning muda."Satu miliar rupiah setiap bulan ditarik tunai," gumam Ethan seraya membaca rentetan angka tanggal pencairan uang di sudut kiri kertas."Alasan y
Marcus meneruskan langkah kakinya menaiki tangga utama berbentuk spiral yang menghubungkan lantai bawah dengan area ruang kerja pribadi Ethan Vance.Rumah kediaman Vance siang ini terasa amat sejuk, dipenuhi aroma wangi bunga lili segar yang sengaja diganti setiap pagi oleh para pelayan.Marcus tiba di depan pintu kayu jati ganda berukuran raksasa yang menjadi akses masuk menuju ruang kerja penguasa Vance Group.Dua orang penjaga berbadan besar yang berdiri kaku di sisi kanan dan kiri pintu langsung membuka daun pintu tersebut tanpa banyak bertanya.Mereka sudah hafal betul bahwa tangan kanan Ethan ini memiliki akses bebas untuk menemui sang bos kapan saja keadaan mendesak.Marcus melangkah masuk ke dalam ruang kerja yang luar biasa luas, didominasi oleh perabotan kayu berwarna gelap dan jendela kaca memanjang yang menghadap ke arah taman belakang.Ethan Vance sedang duduk santai di atas sofa kulit panjang di tengah ruangan, memegang sebuah gelas kristal berisi air mineral ding
Pandangan mata Marcus beralih pada tumpukan kertas hasil cetakan mesin yang masih terasa sedikit hangat di sudut mejanya.Tumpukan kertas itu memuat seluruh bukti kejahatan finansial dan pengkhianatan menjijikkan yang dilakukan oleh Beatrice Rosewood selama satu dekade terakhir.Ia mengambil lembar pertama, sebuah foto beresolusi sangat tajam yang menampilkan wajah Beatrice sedang mencium pipi Hector Sterling di dalam vila terpencil.Marcus menyelipkan foto kemesraan terlarang itu ke dalam saku plastik bening di halaman pertama map hitam tersebut."Ini akan menjadi kejutan pertama yang menghancurkan senyum angkuhmu, Nyonya Sinclair," gumam Marcus seraya merapikan ujung plastik tersebut.Ia kembali mengambil tiga lembar foto lainnya yang merekam momen Beatrice menyerahkan tas berisi uang tunai dan berkas rahasia perusahaan kepada musuh suaminya.Setiap lembar foto itu disusunnya dengan sangat rapi, berurutan secara kronologis mulai dari kedatangan Beatrice hingga momen mereka be
Beatrice menatap pantulan dirinya di cermin besar butik, merasa bahwa wanita di dalam cermin itu adalah seorang ratu tak tertandingi yang memegang kendali atas takdirnya sendiri.Ia sama sekali tidak menyadari bahwa setiap transaksi kartu kredit perusahaan yang ia gesek hari ini langsung memicu notifikasi peringatan di layar komputer markas Vance Group.Di tempat lain, di dalam ruangan kerja khusus dengan pengamanan tingkat tinggi, suasana terasa sangat dingin, sunyi, dan mencekam.Layar monitor raksasa memancarkan rincian pembelanjaan butik mewah sebesar dua ratus lima puluh juta rupiah yang baru saja dilakukan oleh Beatrice Rosewood.Marcus berdiri tegap di depan meja kerja kayunya, menatap notifikasi transaksi itu dengan sorot mata yang amat tajam dan mematikan.Pria bertubuh kekar itu mendengus pelan, menekan tombol cetak pada komputer untuk memindahkan rincian transaksi tersebut ke atas lembaran kertas putih.Suara mesin pencetak berdesing nyaring memecah kesunyian ruangan
"Terima kasih, Sayang. Aku akan terus menjaga kehormatan keluarga ini dengan seluruh nyawaku," bisik Beatrice tepat di telinga Arthur.Setelah memastikan Arthur menghabiskan sarapannya dan kembali beristirahat di kamar utama, Beatrice melangkah keluar menuju garasi mobil.Suasana hatinya sedang berada di puncak awan, merasa sangat berkuasa dan tidak tersentuh oleh hukum karma apa pun di dunia ini.Ia memerintahkan sopir pribadinya untuk menyiapkan mobil sedan mewah berwarna perak demi menghadiri acara pertemuan sosialita di sebuah butik eksklusif pusat kota.Hari ini ia ingin merayakan kemenangannya dengan membelanjakan uang puluhan juta rupiah untuk membeli tas edisi terbatas keluaran terbaru.Mobil perak itu meluncur mulus membelah jalan raya ibu kota, membawa Nyonya Sinclair menuju kawasan pusat perbelanjaan kelas atas.Setibanya di depan butik mewah berlogo huruf H besar, dua orang penjaga pintu langsung membungkukkan badan menyambut kedatangan Beatrice.Ia melangkah masuk
Mata Tiffany melekat pada laras pistol dingin yang sekarang tertaut kencang di genggamannya. Di kehidupan ini, laras itulah yang baru saja meletupkan nyawa suaminya. Dia menarik napas, dadanya terasa sesak saat dia memaksa dirinya untuk memfokuskan pandangan pada secarik kertas di meja yang kini t
"Christian, hentikan semua kegilaan ini! Buka pintunya!"Tiffany Sinclair menggedor pintu kayu ek ruang kerja suaminya dengan sisa tenaga yang ia miliki. Suara isakan tertahan dari para pelayan yang berkumpul di ujung koridor memenuhi udara yang mendadak terasa mencekik. Mereka gemetar, saling be
Tiffany berdiri di depan jendela besar kamarnya, menatap hamparan lampu kota yang berpijar layaknya ribuan mata yang mengawasi. Angin malam berhembus pelan, membawa hawa dingin yang menyentuh kulitnya, namun ia tak sedikit pun merasa kedinginan. Pikirannya jauh lebih hangat, dipenuhi oleh kalkulas
"Aku setuju menikah dengan Ethan Vance," ucap Tiffany dengan nada yang sangat tenang, seolah dia baru saja membicarakan menu sarapan pagi.Kata-kata itu meluncur dengan presisi yang mengejutkan, memotong udara tegang dengan ketajaman pisau bedah. Chloe yang baru saja bersiap mengeluarkan rengekan







