ログインTangan Arthur membalik halaman terakhir di dalam map hitam tersebut, menemukan sebuah bundel dokumen tebal yang dijepit rapi.Ia membaca judul dokumen itu, dan rasa sakit di dadanya seketika berlipat ganda hingga membuatnya sulit bernapas.Itu adalah akta jual beli tanah seluas belasan hektar di kawasan pinggiran kota yang bernilai triliunan rupiah.Tanah itu adalah aset utama Sinclair Group yang disiapkan untuk proyek pembangunan perumahan mewah masa depan.Namun di dalam akta itu, tanah tersebut telah dijual ke pihak ketiga dengan harga yang sangat murah.Arthur menatap tajam ke arah tanda tangannya sendiri yang tertera jelas di bagian bawah lembar pengesahan akta tersebut."Aku tidak pernah menandatangani surat penjualan tanah ini! Kapan ini terjadi?!" teriak Arthur seraya mengangkat kertas itu tinggi-tinggi."Dua tahun lalu," jawab Ethan tenang menatap pria tua yang sedang hancur di depannya itu."Tepat saat kau terkena serangan jantung dan harus terbaring tidak sadarkan
Dada Arthur terasa panas seperti disiram timah mendidih, rasa sakit yang luar biasa melilit ulu hatinya tanpa ampun."Kenapa ... kenapa dia melakukan ini padaku?" gumam Arthur dengan suara parau yang hampir terdengar seperti isak tangis tertahan."Balik halamannya, Arthur. Penderitaanmu belum selesai sampai di situ," perintah Ethan tanpa memberikan waktu bagi pria tua itu untuk meratapi nasibnya.Tangan Arthur yang masih bergetar hebat perlahan membalik saku plastik pertama, membuka lembaran foto berikutnya yang tersembunyi di baliknya.Foto kedua menampilkan pemandangan yang membuat amarah Arthur mendidih hingga ke ubun-ubun.Beatrice difoto dari sudut samping, sedang menyerahkan sebuah tas kulit besar berwarna cokelat yang resletingnya terbuka separuh.Di dalam tas itu, tumpukan uang tunai pecahan seratus ribu rupiah terlihat sangat penuh dan berdesakan, disodorkan langsung ke tangan Hector Sterling.Tepat di sebelah tas uang tersebut, tergeletak tumpukan dokumen resmi yan
Pria penguasa bisnis ibu kota itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, menatap mertuanya dengan sorot mata sedingin bongkahan es.Tidak ada sedikit pun rasa kasihan terpancar dari wajah Ethan saat melihat kerutan kebingungan di dahi pria paruh baya tersebut."Buka map itu, Arthur," perintah Ethan memecah keheningan yang mencekik ruangan tersebut."Semua jawaban atas kebodohanmu selama belasan tahun terakhir tersimpan rapi di dalam sana," lanjutnya dengan nada suara bariton yang amat datar.Arthur menelan ludah dengan susah payah, merasakan tenggorokannya mendadak mengering.Tangannya yang mulai keriput bergerak pelan, menjulur ragu-ragu melewati permukaan meja mahoni yang mengkilap.Jantung pria tua itu berdebar dua kali lebih cepat, memompa darah dengan ritme yang tidak beraturan ke seluruh tubuhnya.Firasat buruk merayap cepat menyerang dada Arthur, membisikkan peringatan keras bahwa apa pun yang ada di dalam map itu akan mengubah hidupnya selamanya.Ia menyen
Arthur menatap wajah menantunya dengan dahi berkerut tebal, merasakan firasat buruk yang mendadak merayapi hatinya dengan sangat cepat."Apa yang terjadi, Ethan? Apakah ini soal Tiffany? Apakah ada masalah dengan kehamilannya?!" tanya Arthur dengan nada suara yang mulai panik.Ethan menghentikan langkahnya tepat di seberang meja kerja Arthur, menatap mertuanya itu dengan sorot mata yang sulit untuk diartikan.Bukan rasa hormat, bukan pula rasa benci, melainkan rasa kasihan yang sangat dalam melihat betapa buta dan bodohnya pria tua ini di dalam rumahnya sendiri."Tiffany baik-baik saja di rumah. Dia sedang beristirahat dengan tenang," jawab Ethan mematahkan kekhawatiran Arthur dalam satu kalimat singkat.Arthur menghembuskan napas lega, menyandarkan kembali punggungnya ke bantalan kursi kulit seraya memijat pangkal hidungnya yang terasa pusing."Syukurlah. Lalu untuk apa kamu datang kemari dengan gaya seperti orang yang mau mengajak perang?" selidik Arthur berusaha mengembali
"Sampaikan pada majikanmu," lanjut Ethan seraya mendekatkan wajahnya sedikit ke arah Clara."Takhtanya sudah runtuh hari ini. Suruh dia bersiap mengemasi barang-barangnya ke dalam sel penjara," bisik Ethan mematikan.Clara mematung di tempatnya, napasnya tercekat di dada mendengar ancaman langsung yang ditujukan pada Nyonya Besar Sinclair tersebut.Ia tidak bisa berpikir jernih lagi, lututnya terasa lemas hingga ia terpaksa berpegangan pada ujung meja kerja agar tidak jatuh terduduk ke atas lantai.Ethan tidak membuang waktu lebih lama lagi untuk mengurus sekretaris bawahan itu, matanya kini tertuju tajam pada pintu kayu jati ganda di depannya.Pintu itu adalah satu-satunya penghalang yang memisahkan dirinya dari pria yang selalu ditipu mentah-mentah oleh istrinya sendiri selama bertahun-tahun.Marcus segera melangkah ke depan pintu ganda tersebut, memegang kedua gagang kuningan tebalnya dengan cengkeraman yang sangat kuat.Ia menoleh ke arah bos besarnya, menunggu perintah ak
Pintu lift VIP berwarna emas terbuka mulus, menyambut Ethan dan Marcus masuk ke dalam kabin mewah yang ukurannya cukup untuk menampung sepuluh orang.Empat pengawal pribadi tetap berjaga di depan pintu lift lantai dasar, memastikan tidak ada satu pun petugas keamanan gedung yang berani menyusul ke atas.Lift melesat naik dengan kecepatan tinggi, membawa Ethan menembus puluhan lantai menuju area kekuasaan tertinggi keluarga Sinclair.Angka digital di atas pintu lift terus berubah cepat, berhenti tepat di angka empat puluh lima yang merupakan lantai khusus jajaran eksekutif perusahaan.Bunyi denting halus terdengar saat pintu emas itu bergeser terbuka, menampilkan ruang tunggu mewah berdinding kaca yang memperlihatkan pemandangan kota.Suasana di lantai empat puluh lima ini jauh lebih tenang dan sepi dibandingkan lobi bawah, didominasi oleh perabotan kayu berukir dan lukisan mahal.Seorang sekretaris wanita paruh baya bernama Clara duduk di meja kerja yang berada tepat di depan
Mata Tiffany melekat pada laras pistol dingin yang sekarang tertaut kencang di genggamannya. Di kehidupan ini, laras itulah yang baru saja meletupkan nyawa suaminya. Dia menarik napas, dadanya terasa sesak saat dia memaksa dirinya untuk memfokuskan pandangan pada secarik kertas di meja yang kini t
"Christian, hentikan semua kegilaan ini! Buka pintunya!"Tiffany Sinclair menggedor pintu kayu ek ruang kerja suaminya dengan sisa tenaga yang ia miliki. Suara isakan tertahan dari para pelayan yang berkumpul di ujung koridor memenuhi udara yang mendadak terasa mencekik. Mereka gemetar, saling be
Tiffany berdiri di depan jendela besar kamarnya, menatap hamparan lampu kota yang berpijar layaknya ribuan mata yang mengawasi. Angin malam berhembus pelan, membawa hawa dingin yang menyentuh kulitnya, namun ia tak sedikit pun merasa kedinginan. Pikirannya jauh lebih hangat, dipenuhi oleh kalkulas
Kegelapan abadi yang pekat dan menyesakkan menyelimutinya setelah letusan pistol kedua menggema di ruang kerja Christian Ashford. Suara itu seolah merobek ruang dan waktu, meninggalkan keheningan total yang membekukan jiwa Tiffany Sinclair. Dia merasakan kesadaran dirinya perlahan memudar, hancur







